
Cobaan ataukah ujian untuk Nabila?,semua kejadian itu datang silih berganti menghantam jiwa dan raga Nabila yang di Landa kecemasan.
Nabila masih betah duduk di samping kasur usang tempat ibunya terbaring lemah tak berdaya dan di samping kanannya Nisa, terlelap tidur sembari memeluk tubuh ringkih ibu martinah.
Di kala seperti ini,ingin rasanya Nabila mengakhiri hidupnya tapi teringat pada si kecil Nisa.Mau mengadu?,pada siapa.Hidupnya selalu di berikan kejutan bertubi-tubi oleh sang Pencipta tanpa tau jalan keluarnya.
Ibu martinah, sempat siuman dan beberapa warga memanggil bidan desa sebab dokter di pedesaan belum lah ada.Dari keterangan bidan itu,ibu martinah terkena penyakit lambung dan masuk angin belum lagi benturan keras di kepalanya akibat terpeleset di kamar mandi.
Nabila,tak henti-hentinya mengeluarkan setetes demi setetes air mata tak kuat menghadapi badai cobaan hidup yang datang silih berganti memaksa dirinya untuk tetap kuat.
Malam ini,angin berhembus begitu kencang.Nisa dan ibu martinah yang sudah terlelap tidur tapi dapat merasakan dinginnya malam akibat selimut yang di gunakan terlalu tipis
Sekali lagi,itu membuat Nabila menangis sejadi-jadinya dengan rentetan cobaan hidup yang silih berganti datang menghantam Jiwanya.
__ADS_1
Malam ini pula Nabila tak punya ide untuk merangkai cerita di buku diary nya yang dia sulap menjadi buku novel tempat dia menuangkan segala ide, perasaan dan juga pengalaman hidupnya.
Pikirannya buntu, hatinya menjerit dan batinnya tak lagi kuat menghadapi badai cobaan hidup yang silih berganti.Nabila yang di temani oleh cahaya lilin,tanpa sadar tubuhnya melorot ke bawah dan terlelap tanpa di sadari di samping ibunya.
...----------------...
Waktu seakan berjalan dengan cepat,malam telah berganti siang dan siang yang telah membuat ayam berkokok nyaring.
Nabila,terbangun dengan kondisi perut yang perih teramat perih hingga dia harus memegangi perutnya.Nabila menoleh kearah ibunya dan Nisa.Keduanya masih terlelap tidur.
"Aw".Pekik Nabila kesakitan di bagian perut nya.
Nabila baru teringat akan perutnya yang belum sempat di isi setelah seharian penuh berpuasa dan tidak sempat untuk di isi barang sedikitpun nasi atau makanan yang masuk ke dalam perutnya.
__ADS_1
Nabila,bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa aktivitas semalam yang menangis sesenggukan tiada henti.
Tak butuh lama bagi Nabila untuk membersihkan diri.Mandi cepat dia lakukan di karenakan waktu yang terus maju tak terasa apalagi bisa di hentikan.
Menangis dalam waktu lama membuat mata Nabila bengkak dan kepala pening.Pagi ini pula Nabila tak bisa membuat makaroni balado untuk dia jual begitupun dia tak bisa masak nasi di sebabkan beras yang tak ada.
Nabila hanya sarapan dengan roti yang tetangganya kirimkan untuk dia, ibunya dan juga nisa.Kalaupun ada hanya mie instan saja,Nabila tak begitu menyukainya.
Selesai sarapan yang hanya dengan sepotong roti saja.Nabila bergegas ke kamar lagi, berpamitan pada sang ibu dan Nisa yang terpaksa harus menjaga ibunya di usianya yang terbilang masih kecil.
"Dek,bangun dek".Nabila membangunkan Nisa yang masih terlelap tidur.Bocah itu masih enggan membuka matanya.
Nabila,tak putus asa dia masih mencoba membangunkan adiknya yang masih terlelap tidur sembari memeluk ibunya begitu eratnya.
__ADS_1