
Keberadaan ibu bidan di rumah Nabila,menambah rasa khawatir dan cemas Nabila yang sedari tadi terus menghantui pikiran nya, bahkan dia tak fokus belajar, tatapan matanya kosong dan seringnya melamun hanya karena pikirannya terus tertuju pada orang rumah.
Nabila, langsung menghampiri ibunya yang terbaring lemah,masih tak berdaya diatas kasur usang nya sama seperti kemarin,masih belum ada perubahan.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu,Nabila".Kata ibu bidan.Dia juga ikut masuk ke dalam.
"Bagaimana aku bisa,tenang sedang ibu ku saja masih terbaring lemah tanpa aku bisa menjaganya? ".Sahut Nabila,menyesali keputusannya yang tetap pergi berangkat sekolah.
Ibu bidan,paham dengan keadaan Nabila.Gadis tangguh itu telah di bebankan oleh tanggung jawab dan kewajibannya,apalagi si kecil nisa yang harus rela merawat ibunya di kala Nabila tengah menimba ilmu.
Ibu bidan, mengelus punggung Nabila memberikan ketenangan bagi gadis tangguh yang hebat dan berani seperti Nabila.
"Kalau kau sayang dan peduli pada ibu mu.Belajarlar dengan rajin dan tekun, jadilah anak yang baik dan berbakti".Nasehat ibu bidan untuk Nabila dan Nisa.
Nabila,mengangguk.Dia menoleh kearah ibu bidan yang duduk di sampingnya.Ibu bidan yang sebenarnya masih gadis dengan segudang prestasi dan kebaikan hatinya yang terkadang memberikan pengobatan gratis untuk warga yang di katakan kurang mampu.
__ADS_1
"Terimakasih untuk nasehat ibu,semoga aku menjadi anak yang seperti ibu harapkan".Sahut Nabila, tersenyum pada ibu bidan yang menatapnya iba.
Si kecil Nisa, tiba-tiba ikut duduk diantara Nabila dan ibu bidan seakan tak ingin terlewatkan satu momen pun.
"Aku juga ...Aku juga,ingin seperti ibu bidan".Oceh Nisa, menimpali ucapan Nabila.
Ibu bidan tersenyum dan mengelus puncak kepala Nisa."Kau anak yang baik dan hebat sama seperti ibu mu yang hebat dan tangguh".Puji ibu bidan pada Nisa.
Ibu martinah, meneteskan air mata haru nya.Kedua anaknya menjelma menjadi kekuatan untuk dirinya bisa sembuh dari penyakit lambung yang membuat dia lemah dan tak berdaya bahkan satu suapan nasi pun tak masuk ke lambung nya yang sudah parah.
Ibu martinah, bergeleng-geleng kepala.Bukan karena dia yang tak kuat menahan rasa sakitnya melainkan dia terharu dengan sikap dan perilaku anak-anak nya.
Nabila,di sulung yang tak pernah malu berjualan demi menopang kehidupan mereka dan si kecil Nisa yang harus rela tidak bisa ikut bermain bersama dengan teman-teman nya hanya untuk ikut membantu perekonomian mereka.
"Ibu menangis bukan karena tak kuat, Nabil.Tapi,ibu terharu karena kebaikan mu dan Nisa yang mau menjaga dan merawat ibu".
__ADS_1
Nabila dan Nisa,ikut berbaring di samping kanan dan kiri ibu martinah.Memeluk tubuh kurus tak berdaging itu,saling merangkul dan memberikan kekuatan.
Hal ini, sangat jelas terlihat oleh ibu bidan Najwa Aqila.Bidan desa yang masih gadis berhati mulia dan bidadari nya bagi warga yang kurang mampu.
Tanpa sadar,dia juga ikut meneteskan air mata haru nya melihat kebersamaan ibu dan anak yang jarang dia lihat bahkan dirinya dan sang ibu juga jarang melakukan kegiatan bersama.
"Keluarga ini, mengajarkan ku akan kebersamaan keluarga yang tak bisa di tukar dengan uang dan kebahagiaan tak harus tentang harta".Gumam ibu bidan najwa.
...****************...
***Hi guys, selamat hari ibu untuk wanita-wanita tangguh di luaran sana.Tanggal 22 Desember hanya memperingati saja,tapi setiap hari adalah hari ibu, tanpa mereka kita tak berarti apa-apa....
Terimakasih ibu,karena rahim mu aku hidup di dunia ini, karena tangan mu kami bisa tumbuh dan dengan kasih sayang mu tercipta lah pribadi yang penyayang dan welas asih***
.....
__ADS_1