Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 149


__ADS_3

Nabila, memalingkan wajahnya dari tatapan intens petugas perpustakaan yang selalu berbaik hati menolong dan memberikan dia upah atas pekerjaannya yang membantu petugas perpustakaan dalam mengerjakan tugas kuliah nya.


Petugas perpustakaan itu terlihat menghela napasnya,sedari dulu memang Nabila orangnya tertutup dan tak pernah membagi masalah nya pada orang lain termasuk pada dirinya sendiri.


Petugas perpustakaan itu yang bernama melati,duduk sembari bersandar pada tembok dan menyilangkan kakinya,hapal betul dengan sikap Nabila yang tak mudah membagi masalah nya.


"Aku tau kamu memiliki masalah,tapi bukan berarti kau memendam sendiri dan menyimpan nya hingga kau tak kuat lagi menyimpan masalah mu".Gumam ibu melati, seakan merasakan apa yang di rasakan oleh nabila."Berbagilah Nabila". Ucapnya lagi sembari menoleh kearah Nabila sedang Nabila masih membuang mukanya.


Ibu melati,merubah posisi duduknya menjadi berhadap-hadapan dengan Nabila, seakan ingin memposisikan dirinya sebagai ibu,kakak,teman dan sahabat bagi nabila.

__ADS_1


"Aku tau kamu,aku pun sudah menganggap kamu sebagai adik ku.Berbagilah Nabila, kalaupun kamu tidak mau berbagi tak apa.Asal kamu jangan murung dan mengeluarkan air mata berharga mu".Nasehat ibu melati,masih terus berusaha membujuk Nabila untuk jujur dan membagi masalah nya dengan dirinya.


"Apakah gadis seperti tak pantas untuk memiliki mimpi".Lama keduanya terdiam, akhirnya Nabila mengutarakan isi hatinya pada guru yang selama ini sudah baik terhadapnya di samping pak Mario yang menaruh iba terhadapnya.


"Apa orang miskin seperti ku tak pantas sekolah tinggi dan meraih cita-cita ku?" .Tanya Nabila sembari menoleh kearah ibu guru melati dan menitikkan air matanya.


Ibu guru melati,terdiam mencerna pertanyaan Nabila dengan seksama dan berpikir sebelum dia menjawab pertanyaan Nabila.Takut itu bisa menyinggung perasaan Nabila yang kembali terluka apalagi setelah kepergian pak Mario yang mendadak dan tanpa alasan.


Ibu guru melati, menyentuh tangan Nabila."Setiap orang berhak bermimpi, setiap orang punya hak untuk meraih cita-citanya dan setiap orang memiliki hak atas kebebasan berpikir dan kau memiliki hak itu". Dengan hati-hati ibu guru melati menjelaskan.

__ADS_1


Nabila, terlihat mendengarkan dengan seksama setiap ucapan yang keluar dari mulut petugas perpustakaan yang sudah berbaik hati padanya, dialah tempat dia mencurahkan seluruh perasaan dan masalah terlepas itu memang terdapat paksaan dari ibu guru melati.


"Kau berhak memiliki impian yang harus kau wujudkan dengan cara mu,aku tau kau murid pintar dan rajin, Nabil.Maja,terus lah bermimpi sampai impian mu tercapai".Nasehat ibu guru melati,menyemangati Nabila yang sering nya down dan tak percaya diri.


Nabila,menarik tangan nya yang berada dalam genggaman tangan ibu guru melati dan kembali memalingkan wajahnya dari hadapan ibu guru melati.


"Ibu bisa berbicara seperti itu,tapi bagaimana dengan diri ku yang berasal dari keluarga miskin dan bahkan masuk ke sekolah ini saja karena beasiswa bukan karena harta dan pangkat orang tua ku.Berbedq dengan murid yang lainnya,berbeda dengan ibu sendiri yang berasal dari keluarga berada dan berpangkat".Ucap Nabila,memelas.


Ibu guru melati terlihat menghembuskan napasnya secara kasar,memang tak mudah menjelaskan pada orang yang bahkan secara materi dan strata sosial saja jauh berbeda.

__ADS_1


__ADS_2