Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 148


__ADS_3

Nathan masih betah berdiam diri duduk di kelas tidak ikut nongkrong di kantin bersama dengan teman-teman nya,ada hal yang lebih penting dari sekedar nongkrong bersama teman-teman nya yang hanya bisa menghabiskan uang nya saja tanpa bermanfaat.


Nathan, mengeluarkan kertas HVS yang dia rebut dari Nabila,penasaran dengan isi HVS yang terdiri dari beberapa rangkaian kata dengan jumlah banyak.


Nathan, membolak-balikkan kertas HVS itu seperti tengah menyelidiki rahasia yang harus dia pecahkan melalui rangkaian kata demi kata bak peneliti yang menganalisis buku Sansekerta.


Nathan,menjadi mengerti sendiri alasan di balik Nabila terus berusaha membuat dan menempelkan karya fiksi nya melalui kertas HVS yang di sinyalir merupakan cerita bersambung yang bisa di tulus hanya 1 bab saja.


"Nabila,ternyata dia punya bakat terpendam juga".Gumam Nathan,sembari membaca karya fiksi milik Nabila yang isinya menyentuh hati.


Setiap kata,setiap bait kalimat mewakili perasaannya dan juga peristiwa yang sedang atau sudah dia alami.


Nathan,memang selalu bersikap usil terhadap Nabila karena hanya dengan bersikap seperti itu dia bisa mendekatkan diri dengan Nabila yang berkepribadian introvert dan tak mudah untuk di dekati.

__ADS_1


Tak terasa Nathan,sudah membaca seluruh isi kertas HVS yang dia rebut secara paksa dari tangan Nabila,tak memperdulikan dirinya yang berusaha merebut kembali kertas HVS yang di rebut secara paksa oleh Nathan.


Krucut...Krucut...Krucut


Cacing-cacing di dalam perut Nathan, tiba-tiba berbunyi menandakan Nathan yang kelaparan akan bat mengabaikan cacing-cacing nya yang sedari tadi terus berdemo.


"Sial".Gerutu nathan,mengumpati perutnya yang tidak bisa menahan rasa lapar padahal Nathan ingin sekali menyusul Nabila yang sudah bisa tebak keberadaannya,yang tak jauh dari perpustakaan tak mungkin Nabila berkeliling di setiap sudut kelas menawarkan dagangannya.


......................


Sesuai dengan dugaan nathan terhadap keberadaan Nabila yang tak jauh dari ruangan perpustakaan,yah Nabila sedang berada di perpustakaan tengah menulis beberapa rangkaian cerita,yang di selingi oleh Isak tangis nabila yang tengah duduk di pojok perpustakaan.


Nabila, hanya mengeluarkan air mata tanpa mengeluarkan suara sembari duduk menunduk di pulau jok perpustakaan dan laptopnya yang berada dalam pangkuannya,dapat di lihat oleh petugas perpustakaan.

__ADS_1


Keberadaan Nabila yang tengah menitikkan air matanya tak sengaja di lihat oleh petugas perpustakaan yang tengah mengecek buku dan merapihkan sesuai dengan tema dan rak yang ada.


"Nabila".Ucap petugas perpustakaan itu sembari menghampiri Nabila yang susuk di pojok perpustakaan.


Nabila, buru-buru menghapus jejak air matanya."Yah bu".Sahut Nabila,sembari menoleh kearah datang nya petugas perpustakaan.


Petugas perpustakaan itu,ikut duduk di samping Nabila,mengamati dengan seksama keadaan Nabila dan tatapan matanya berakhir pada laptop yang ada di pangkuan nabila.


"Kau,sudah membeli laptop Nabila?".Tanya petugas perpustakaan itu dengan penasaran sekaligus senang.


"Yah Bu, alhamdulilah". Lagi-lagi Nabila menjawabnya dengan singkat dan padat, seakan tengah menyembunyikan sesuatu yang sayangnya sudah di ketahui oleh petugas perpustakaan.


"Syukurlah Nabil,lalu kenapa kau menangis Nabil?". Tanya petugas perpustakaan itu dengan hati-hati dan menatap lekat pada Nabila yang seperti tengah berusaha membuang mukanya.

__ADS_1


__ADS_2