
"Apa kabar nathan?".Entah kenapa pikiran Nabila terarah pada seorang Nathan anumerta padahal tadi dia tak lagi memikirkan sosok yang mengganggu kehidupan nya baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah sekaligus sebagai rival debatnya.
Nabila, bergeleng-geleng kepala sekuat tenaga dia tak lagi memikirkan Nathan dan segala kehidupannya setelah seharian penuh tak mendapatkan gangguan dari Nathan.
Nabila,beranjak ke kamar tidurnya untuk mencoba memejamkan matanya dan mengenyahkan segala pikiran tentang Nathan.
"Ayo mata,bekerja sama lah".Bujuk Nabila pada anggota penglihatannya yang masih tidak mau diajak kompromi di perparah oleh pikiran nya yang terus memikirkan Nathan,tak lagi Mario yang jauh tertinggal.
Sekuat tenaga,Nabila memejamkan matanya tapi tak kunjung juga terpejam barang sejenak pun kalau pun terpejam, pikirannya yang tidak mau bekerjasama dan malah terus semakin memikirkan Nathan.
"Bismillah".Nabila sekali lagi berusaha untuk memejamkan mata dan matanya yang menyerah akhirnya terpejam juga hanya pikirannya yang terus bekerja tiada henti.
Nabila,tidur menghadap ke kanan tapi pikiran Nathan terus ada,kini Nabila tertidur menghadap ke kiri tapi terus saja pikiran itu masih ada hingga Nabila bergulung-gulung sendiri menghadap kesana-kemari tiada menemui titik kecocokan.
__ADS_1
Pikirannya terus mengarah pada Nathan yang entah kenapa pikirannya malah memikirkan keadaan Nathan dan segala ucapan beserta dengan tingkah lakunya.
"Jangan membeli gadis sombong".
"Gadis miskin kau tidak cocok sekolah disini".
"Nabila punya hubungan dekat dengan Mario".
Nabila terperangah, segala ucapan Mario terngiang-ngiang dalam pikirannya hingga dia terbangun dengan napas yang terengah-engah.
"Apa kau tidak mau memberikan ku semangat motivasi?". Kata-kata itu yang di minta oleh Nathan sebelum dia berangkat lomba.
Nabila, bangun tidur dan pergi ke dapur untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba merasa gatal.
__ADS_1
Di tuangkan nya air dari cerek ke dalam gelas dan dalam sekali tegakkan air itu telah tandas masuk ke dalam mulutnya dan membasahi kerongkongannya.
"Mimpikan aku atau aku yang terlalu memikirkan Nathan?".Nabila,jagi bertanya-tanya sendiri dengan apa yang barusan dia dengar dan alami.
Yah, kata-kata Nathan seakan-akan masih tersimpan dengan begitu jelasnya di dalam memori otaknya dan terekam dengan jelas.
Nabila, menenangkan diri terlebih dahulu dari rasa keterkejutannya atas apa yang sudah memori otaknya putar untuk di rekam kembali dan di ingat-ingat kembali.
"Nathan".Sekali lagi Nathan beserta dengan seluk-beluk nya telah menguasai pikiran Nabila yang entah kenapa harus memikirkan Nathan padahal tidak bertemu dan mendapatkan gangguan dari Nathan baru sehari ini saja.
Nabila, memutuskan untuk kembali ke tempat tidur dengan harapan dia tak lagi memikirkan Nathan dan segala tingkah lakunya yang bahkan itu menyakiti hatinya terutama ucapannya yang semakin di perhatikan malah semakin membunuh semangat dan juga motivasi hidupnya.
Nabila,tidur telentang sembari menatap langit-langit dinding dan mengenyahkan pikirannya tentang Nathan yang sekali lagi dia telah menguasai alam bawah sadarnya.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti mata Nabila mulai tertutup seiring pikiran tentang Nathan telah redup termakan angin malam yang membawa penyakit dan Nabila bisa tertidur dengan damai nya tanpa bayang-bayang Nathan.