Sang Pemimpi

Sang Pemimpi
Part 62


__ADS_3

Penasaran dengan sosok pria yang terus berceloteh, bercerita sembari terus membayangkan sosok yang dia ceritakan seperti memuja dan menyimpan perasaan untuknya.Nabila, memberanikan diri menoleh secara perlahan-lahan hingga Nabila sempurna menatap pria yang ada di sampingnya.


Tak lagi bisa berkata-kata hanya mata yang membulat dan mulut yang menganga lebar,beruntung Nabila bisa menutup kembali mulutnya yang terbuka lebar sebelum serangga kecil masuk ke dalam mulutnya.


"Pak Mario".Gumam Nabila dengan suara kecil.Pria yang ada di samping Nabila,tak menoleh bahkan tak mendengar ucapan gadis yang ada di sampingnya.Dia terus bercerita tanpa jeda.


"Aku hendak menanyakan kesiapan dia untuk mengikuti lomba menulis novel online,tapi aku belum kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku mang" .Kata Prio itu menutup cerita nya.


Pemilik warung tenda itu, nampak mengerutkan keningnya dan ikut berpikir.Bukan mau membantu pria itu menyelesaikan masalah nya tapi cerita pelanggan setianya seperti sama seperti cerita yang pernah dia dengar dari seorang gadis.


"Mang".Sentak pria itu,sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya mencoba untuk menyadarkan pria tua dari lamunannya.


"Cerita mu seperti sama persis seperti cerita". Pemilik warung itu menjeda ucapannya, pikiran nya lupa-lupa ingat karena termakan usia.

__ADS_1


"Cerita apa?".Pria itu penasaran dengan kelanjutan cerita dari pemilik warung yang menggantung di langit-langit malam yang mulai menampakkan cahaya bintang.


Pria itu,duduk kembali di kursi panjang nya sembari menanti kelanjutan ucapan dari pemilik warung dengan tak sabaran.


Pemilik warung,menoleh kearah gadis yang sedari tadi dia lupakan hanya karena kehadiran dari pria pelanggan setianya.Gadia yang itu juga menatap kearah pemilik warung dengan bergeleng-geleng kepala.


Dalam hati pemilik warung dia bertanya-tanya tentang hubungan pria yang menjadi pelanggan setianya sejak dulu hingga sekarang.


"Jangan kasih tau dia,pak..Saya mohon".Ucap Nabila, dengan suara pelan hingga nyaris tak terdengar.


Tangan Nabila, mengatup memohon agar si pemilik warung itu tak memberitahu pelanggan setianya.


"Biarkan saya pergi tanpa harus memberitahu dia".Mohon Nabila dengan suara pelan.

__ADS_1


Pemilik tenda itu mengangguk,paham.Mungkin ada sesuatu hal yang tak semua bisa di ungkapkan.Nabila di biarkan pergi tanpa sepengetahuan pelanggannya dan menyuruhnya berjalan dengan cara mengendap-endap.


"Jadi bagaimana mang?". Pelanggan nya, mengagetkan pemilik warung yang sedang menatap kepergian gadis yang mampir dan hanya singgah untuk makan secara gratis.


"Mario". Pemilik warung itu,kaget luar biasa dengan pertanyaan pria pelanggan setianya yang di sinyalir bernama Mario putra darmawan.


Pria yang dulu pernah dia tolong dalam keadaan susah, bibirnya pucat, perutnya keroncongan dan dia tak punya banyak uang hanya demi membeli semangkuk mie instan.


Pemilik warung itu menjelma bak pahlawan bagi seorang Mario putra darmawan yang sedang menempuh pendidikan di strata satunya dengan bekal yang kurang dan bahkan seringnya harus menahan rasa laparnya.


"Biasa aja mang,gak usah kaget seperti itu".Sindir Mario,menyadari raut wajah pemilik warung yang kaget akan pertanyaan sederhana nya.


Pemilik warung itu terlihat mengelus dadanya,dan beristighfar beberapakali.Hampir dia ketahuan telah menatap kepergian gadis yang meminta dirinya untuk merahasiakan indentitas nya dan membiarkan dia pergi dengan memohon.

__ADS_1


"Sini duduk,mar".Ajak pemilik warung itu,menyuruh Mario duduk di sampingnya.


__ADS_2