Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Pengasuh Bayi


__ADS_3

" Tidak, paman. Aku suka nama mereka. Aku hanya akan menambah nama keluarga pada mereka berdua. Micko Kim dan Mikha Kim. Dan nama Korea mereka: Kim Min Jae dan Kim Min Joo... itu nama mereka." Kata Tae Sang sambil menatap kedua buah hatinya dengan penuh cinta.


Evan menganggukkan kepalanya dan melihat kedua cucunya. Sebenarnya ia tak rela menyerahkan kedua anak kembar Emy pada Tae Sang, tapi mungkin itu yang terbaik.


" Baiklah, kami permisi. Aku titip mereka". Evan menghela nafas dan berdiri diikuti Hannah dan Luther.


" ehm... Tung..Tunggu". Reflek ketiga orang itu berhenti dan memutar badannya melihat Tae Sang.


" ada apa?" tanya Hannah menautkan alis. Evan dan Luther juga melihat Tae Sang tak mengerti.


" Bi...bisakah kalian ceritakan tentang kedua bayiku dan Emy? ba..bagaimana bisa Emy.. dia masih mengandung sedangkan dia menjalani terapi dan koma?" Tanya Tae Sang panjang lebar.


Evan mengeraskan rahangnya. Ia tak ingin mengingat itu. Setiap kali mengingatnya, rasanya ia ingin memarahi Emy dan bahkan membuang kedua bayi itu. Tapi ia ingat bahwa Emy saja rela mengorbankan dirinya untuk kedua bayinya, karena sangat mencintai keduanya. Karena itu, Evan berjanji akan mencintai dan merawat cinta dan hidup Emy. Kedua bayi kembar itu.


" Emy tak mau menjalani kemo atau terapi lainnya, dia juga menolak obat untuk tumornya kecuali vitamin dan nutrisi untuk kandungannya". Jawab Evan tanpa basa basi dan langsung pada intinya.


Jederrr...


Bak disambar petir. Tae Sang terduduk dan melihat bayi dalam gendongannya yang asyik mengulum tangannya sendiri. Matanya mulai rabun dan berkaca kaca.


" Di... dia tak mau kemo dan minum obat?" Tanyanya lagi sambil memandang Evan dan menitikkan air mata. Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam dadanya". Jadi... dengan kata lain, seandainya mereka tidak ada, Em... Emy... dia... dia masih hidup?" Lanjutnya setelah menelan salivanya. Ia menganga tak percaya dengan tindakan Emy.


" Kenapa... kenapa dia melakukannya? kenapa dia..."


" Karna begitulah Emy. Dia tak akan bisa membunuh darah dagingnya hanya demi nyawanya sendiri " Sergah Luther. Tae Sang menoleh memandang Luther yang memalingkan wajahnya ke arah lain, karena terus terang, ia masih membenci laki laki yang sudah menghancurkan hidup Emy itu.


Tae Sang terus menggelengkan kepalanya. Air mata semakin deras membanjiri pipinya. Perlahan di taruhnya Micko ke atas sofa, ia memandang kedua bayi itu bergantian. Menakupkan kedua tangannya pada mulutnya, dan berjalan mundur.


Evan, Hannah dan Luther saling pandang. Pikiran negatif mulai muncul di benak mereka. Sementara Byun Hyuk, ia menatap Tuannya dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


' Tidak... tidak... Tuan... jangan kau katakan kau akan membenci kedua bayimu ini...' serunya dalam hati.


" Kenapa kau? Apa kau juga akan menyia nyiakan pengorbanan Emy, hah?! kau belum belum sudah mau menelantarkan bayi yang sudah Emy pertahankan, walau dalam keadaan kesakitannya, iya?!" Sergah Evan.


" Kau tahu, Emy berulang kali hampir kehilangan nyawanya saat ia koma. Tapi selalu saja masa masa itu ia berhasil melaluinya. Kau tahu kenapa? karna mereka! karna Emy punya naluri seorang ibu! Ibu di manapun pasti rela berkorban demi anaknya." Lanjut Hannah.


" Tapi... ji..jika tak ada mereka, Emyku...Emyku pasti masih ada...aaaa..." Tangis Tae Sang pecah. Dengan geram Luther mendekat dan mencengkeram leher Tae Sang.


" Dengar baik baik. Apa kau tahu kenapa Emy mau mempertahankan mereka? Karena Emy mencintai anak anaknya, dan ia tahu kalau harapannya sudah tidak ada. Dan karena kamu juga, dia tak bisa lagi menjadi seorsng dokter bedah. Jangan katakan kalau kedua bayi Emy adalah penyebab kepergian Emy. Tapi ingat, KAULAH YANG MEMBUAT EMY PERGI DARI KAMI! JANGAN PERNAH TIMPAKAN KESALAHAN PADA ORANG LAIN, SUPAYA KAU MERASA LEBIH BAIK! DASAR BRENGSEK!!!" Luther mengeratkan giginya mengingatkan Tae Sang dengan suara pelan tepat di depan wajah Tae Sang, dan mengeraskan suaranya di akhir perkataannya lalu mendorong tubuh Tae Sang dan membuat bos Kimtae itu sempoyongan.


Tae Sang menunduk dan menangis, kemudian ia melihat kedua bayinya yang saat ini dalam gendongan Hannah dan Byun Hyuk. Perlahan ia mendekat dan mengambil Mikha dari Byun Hyuk. Hannah sempat khawatir, tapi Byun Hyuk mengangguk melihat Hannah, seakan mengatakan " Tidak apa apa, jangan khawatir." lewat matanya. Hannah akhirnya menurut dan kembali memperhatikan Tae Sang.


" Maaf... maafkan Daddy sayang. Maaf... Daddy janji, Daddy akan jaga kalian seperti Mommy... tugas Mommy sudah selesai, sekarang tugas Daddy..." Katanya sambil menghapus air mata dari pipinya lalu mencium kedua bayi kembar itu.


Byun Hyuk, Evan, Luther dan Hannah bernafas lega. Akhirnya Luther memutar tubuhnya dan pergi tanpa pamit, mendahului Evan dan Hannah.


" Baiklah, kami pergi. Kami akan datang dan melihat mereka sesering mungkin. Jaga mereka!" Pamit Hannah lalu pergi dan melangkah dengan Evan memeluk bahunya.


" Baik, Tuan Muda. Oh ya...bagaimana dengan Tuan Besar?" Tanya Byun Hyuk.


" Siapkan mobil, kita akan ke tempat kakek. Di mana Bibi Nam?"


" Bibi Nam ada di belakang Tuan. Apa perlu saya panggil?"


" Tidak usah. Cukup kau suruh bibi belanja keperluan bayi. Dan biarkan Ahjussi mengantar bibi belanja. Oh... tapi bagaimana aku bisa gendong mereka berdua ya, kalo kamu yang setirin aku?" Wajah Tae Sang yang bingung dan tampak mencari cari sesuatu membuat Byun Hyuk tersenyum dan terasa geli.


" Tuan, kita pakai Van saja. Nanti kita bawa kereta bayi, jadi Tuan bisa menjaga mereka di belakang."


" Hah? kereta bayi? tapi aku belum beli." Wajah cemas Tae Sang membuat Byun Hyuk kembali harus menahan tawanya.

__ADS_1


" Tuan... kereta bayi Tuan Tuan kecil sudah ada. Itu di belakang anda." Jawab Byun Hyuk dengan senyumnya.


" oh..itu ya...oke. emm, tolong bantu aku. Apa saja yang harus siapkan."


Byun Hyuk begitu cekatan mempersiapkan semua keperluan kedua bayi Tuannya.


' Tambah lagi tugasku. Jadi pengasuh bayi. Tapi gak apa apalah... asal Tuan Muda bahagia.' gumam Byun Hyuk


Tuan Besar Kim begitu bahagia melihat kedua cicitnya. Penerus perusahaan mereka. Hari hari berlalu. Gruo Kimtae kembali berjaya, dan menjadi perusahaan terbaik di Korea dan asia. Dan tepatnya 2 tahun setelah bangkitanya Kimtae Grup dan hadirnya kedua buah hati Tae Sang, Tuan Besar Kim, menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tersenyum.


Flashback off


**Swiss


zeenggg...zeeeng**...


Suara mesin jahit tanpa henti memenuhi seisi ruangan. Hanya sebentar saja berhenti, dan kembali lagi terdengar.


Seorang wanita begitu serius menatap kain yang ia pegang, tengah dijahit oleh mesin yang ia injak pedalnya.


***


**Hai para pembaca novel : Serpihan hati cukuplah sudah.


Terima kasih sudah setia menunggu updatenya. Jangan lupa kasi LIKE, RATE, VOTE, KOMEN ya... biar aku semangat say nulisnya.


Oh ya... Selamat Berbuka Puasa, jangan lupa banyak minum air putih hangat, makan makanan bergizi dan tidur yang cukup. Supaya selalu sehat dan bisa menjalankan ibadah puasa hingga selesai.


😘😘🤗🤗

__ADS_1


Salam dari aku


Rie**


__ADS_2