
Lucia semakin ketakutan, ia terus memberontak dan berusaha mendorong tubuh kekar lelaki yang menindihnya dan terus meremas gundukan kembar miliknya.
" A-aku sungguh tak ta-tahu namanya ... ta-tapi ..."
" Lam!"
Bodyguard itu pun mengerti dan menghentikan aksinya.
' Ah ... padahal tinggal sedikit lagi ... hufftt ...' batinnya kesal.
Jung Hyuk menahan senyumya melihat wajah bodyguard itu. Tapi, ia juga harus mengorek informasi demi Atasannya.
" Tapi apa?"
" Di-dia be-bekerja di Mansion," jawab Lucia
Jung Hyuk terhenyak mendengarnya. 4 bodyguard yang menyertai perjalanan itu, saling menatap.
" Apa kau bilang?" Jung Hyuk menatap lekat wanita didepannya yang terus menangis seraya menutupi bagian-bagian tubuhnya yang terekspos.
" Di-dia be-bekerja di Mansion," jawab Lucia lagi
" Bekerja di Mansion?" Jung Hyuk mengulang dan semakin berpikir keras.
" Bagaimana kau tahu?"
" A-awalnya aku tak tahu dan curiga saja karena ia tahu jadwal Tae Yang dan gerak-geriknya serta situasi di dalam Mansion. Dan, saat pernikahan Tae Yang, a-aku melihatnya saat di pernikahan Tae Yang. Di-dia memakai pakaian pelayan,"
Jung Hyuk mengeraskan rahangnya, " Rupanya banyak tikus di Mansion Tuan Muda," gumamnya.
" Lalu siapa yang membawamu ke Korea?"
" Se-seorang laki-laki muda. Aku ju-juga tak tahu na-namanya. Dia hanya bilang namanya He-Henry..." jawab Lucia dengan menunduk dan meringkuk di atas kursi.
" Henry?" ulang Jung Hyuk
Lucia mengangguk. Jung Hyuk menghela nafas lalu berdiri. Ia memperhatikan Lucia dengan mata memicing.
" Kau tahu, saat aku tahu kau berbohong, aku pastikan ke-4 bodyguard ini akan melahapmu habis!"
" A-aku berkata se-sebenarnya. Per-percayalah," mata Lucia kembali berkaca-kaca. Nada memelasnya sedikit meyakinkan Jung Hyuk.
__ADS_1
" Hmm ... Baiklah, aku akan menyelidikinya," kata Jung Hyuk
Jung Hyuk melempar selimut ke arah Lucia. Dengan cepat Lucia meraih selimut itu dan menutupi tubuhnya lalu memegangnya erat. Seakan takut ada seseorang yang akan merebut selimutnya.
" Beri dia minum!" titah Jung Hyuk. Seorang bodyguard segera mengambil botol mineral dan melemparnya pada Lucia sambil mendegus.
Di tempat lain, seorang laki-laki tua yang saat ini sedang dicari Jung Hyuk, marah tak karuan dan membuang semua buku dan perkakas.
" Aarrghhh ... awas saja kau wanita sialan! Bodoh sekali dia ... Eeerrghhhh!!!"
Pyarrr
Gelas ditangannya pecah berkeping-keping setelah ia banting dengan brutal ke lantai.
Drrrttt .... Drrrtt ....
" Hallo!" jawabnya ketus, tanpa melihat nomor pemanggil.
" .........."
" Oh, maaf Tuan. Saya kira anak buah saya."
" ........."
" .........."
" Tapi Tuan, apa Anda yakin dia tak kan buka mulut?"
" ........"
" Baiklah, kalo begitu saya bisa tenang dan membuat rencana B,"
" ........."
Lelaki tua itu melihat layar ponselnya. Panggilan sudah terputus.
" Dasar tak tahu sopan santun!! Kalau bukan karena aku butuh bantuanmu, sudah kulumat habis kau, bocah tengik!!" geramnya lalu membanting ponsel jadul itu ke lantai dan meremukkannya seperti biasa. Ia juga mengambil Sim Cardnya dan membakarnya.
Brukk ...
Lelaki tua seketika berbalik, " Siapa itu?!" Teriaknya. Tak ada jawaban. Ia segera berlari menuju pintu dan membukanya dengan cepat. Tak ada siapapun. Perlahan ia berjalan dan melihat kesana kemari dan memicingkan matanya. Gelap. Sepi. Tak ada siapapun. Hanya suara dentangan jam dinding kuno yang mengingatkan bahwa hari sudah jam 3 pagi.
__ADS_1
Lelaki tua itu kembali ke kamarnya, namun sesekali ia akan melihat ke belakang dengan curiga. Setelah pintu kamar tertutup, seseorang berpakaian serba hitam keluar dari balik jam dinding kuno.
Matanya tajam menatap pintu kamar yang tertutup.
" Sebentar lagi ... tamatlah riwayatmu, Pak Tua ..." seringai muncul dibalik masker hitamnya. Ia segera berjalan mengendap-endap dan pergi keluar berbaur dengan gelap dan dinginnya cuaca dini hari.
Sang Surya terbangun di ufuk timur. Keluar malu-malu menyapa penghuni bumi. Suara burung begitu merdu menyambut hari, tak terasa kini sudah hampir di penghujung tahun.
Salju putih tebal terhampar menyelimuti jalanan dan pepohonan. Hawa dingin membuat malas siapapun untuk terbangun dan menyibak selimut si penghangat tubuh.
Emy menggeliat saat sang Fajar menciumnya hangat dengan sinarnya yang masuk di sela-sela korden.
" Aaaarrghhh ..." rintih Emy saat ia berusaha bangun.
" Sayang, apanya yang sakit?"
Emy terkejut mendengar suara Tae Yang yang begitu dekat di telinganya.
" K-kau ..."
" Iya, sayang. Kau pingsan setelah lelah menangis tadi malam," jawab Tae Yang lembut, " Sayang, maafkan aku, ya. Aku mohon ... Aku tidak bisa jauh darimu," Tae Yang berusaha memegang tangan Emy, tapi ditepis wanita itu.
Perih rasa hati Tae Yang. Terlebih ketika dilihatnya sang istri kembali tidur tanpa menjawabnya. Ia mencoba memeluk Emy, tapi tangannya selalu dilempar Emy.
" Sayang ... aku mohon, jangan seperti ini. Aku tahu, aku bersalah. Tapi, semuanya kulakukan karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan pada wanita itu. Aku merasa bersalah karena aku mengingkari janjiku, tapi aku sama sekali tak ada keinginan untuk bersatu dengannya atau bersama dia. Karena dipikiran dan hatiku hanya ada kamu. Sayang, aku mohon .... maafkan aku, huhuhu ..." Tanpa malu, bos Kimtae itu menangis tergugu tak berdaya lalu ikut berbaring dan memeluk istrinya dengan paksa.
Emy terdiam. Sejujurnya, ia merasa kecewa dan cemburu. Tanpa bertanya padanya, suaminya memberikan fasilitas pada wanita lain dan sering menemani wanita itu. Ia tahu, bahwa janji harus selalu ditepati, tapi bukankah saat ini dia istrinya? Kenapa tidak berterus terang dan berbicara padanya dengan baik-baik untuk menemukan solusi? Kenapa sembunyi-sembunyi dan ia harus tahu dari orang lain? Dimana harga diri seorang istri di mata suaminya?
Belum lagi, ia juga belum menerima kenyataan bahwa ia tak bisa lagi menjadi seorang dokter bedah. Betapa hancur saat ini hati Emy. Ingin rasanya ia berteriak menolak takdirnya begitu pahit. Tapi, apa mau dikata. Semua sudah terjadi.
Waktu tak dapat diulang. Ia harus bisa menerimanya, tapi bagaimana? Pikiran Emy sungguh kacau saat ini.
" Sayang ... srrt ..srrtt," Tae Yang menghapus air matanya dan menghapus leleran di hidungnya, " kita sarapan dulu, ya? Anak-anak pasti sudah menunggu kita," bujuk Tae Yang
Emy tetap diam tak bergeming. Tae Yang mengecup kening Emy dan memeluknya.
" Baiklah, mau makan di sini saja? Aku ambilkan makan sebentar, ya? Tunggu ya, sayang," Tae Yang menguatkan hatinya dan turun dari ranjang setelah sekilas mencium bahu istrinya.
" Daddy! Mommy mana?" tanya Mikha saat ia melihat Daddynya berjalan tanpa sang Mommy
" Mommy masih tidur, Nak. Mommy pusing, Nak. Mikha sama Micko makan sama Bibi Ji An dan Bibi Yong Jin, ya?"
__ADS_1