Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Belum Selesai - Season 2


__ADS_3

Sebulan kemudian


Emy sedang menyusui baby Miguel di kamar bayi tampan itu, ketika Tae Yang baru saja datang dari kantor. Seperti biasa, ia langsung mencari keberadaan istrinya.


Hatinya terasa hangat melihat istri dan ketiga anaknya berkumpul. Si kembar bermain lego dan baby Miguel dalam dekapan sang Mommy. Tae Yang segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Jika ia langsung masuk dan bertemu Anak-anak, otomatis dunia akan bergejolak karena teriakan perang sang istri.


Setelah bersih, ia kembali ke kamar babynya.


" Hallo kesayangan Daddy semuanyaaa ...." sapa Tae Yang dengan berjongkok di depan pintu dan membuka lebar kedua tangannya.


" Dadddyyyy ....!!" teriak Mikha dan Micko.


Baby Miguel yang sedang menyusu terkaget dan melepas isapannya. Bola matanya bergerak kesana kemari seakan mencari Daddynya. Emy tersenyum melihatnya.



Tae Yang mengangkat kedua bocah kembarnya dan mencium keduanya.


" Daddy, sudah selesai kerjanya?" tanya Micko


" Daddy, gak pergi lama lagi?" kali ini Mikha bertanya.


Tae Yang tersenyum dan mengangguk.


" Iya sayang. Mikha sama Micko kangen Daddy?"


Si kembar pun mengangguk. Tae Yang kembali mencium kedua putranya hingga membuat mereka kegelian.


" Nah, sekarang Daddy juga harus menyapa baby Miguel dan Mommy, ok?" kata Tae Yang seraya menurunkan kedua putranya.


Emy menyambut dengam senyumnya yang menawan.


" Hai, sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Tae Yang lalu memeluk Emy dari samping dan mencium pucuk kepala istrinya dan juga keningnya.


" Aku baik saja, sayang," jawab Emy dengan senyumnya.


Mikha dan Micko mulai banyak berubah sejak kehadiran baby Miguel. Mereka sekarang tak lagi cadel dan mau menerima saat Daddynya mencium sang Mommy. Semua berkat Emilia dan paman Evan yang memberi mereka contoh.


Setelah Emy melahirkan, Paman Evan dan Ha Na tinggal di Korea selama 2 minggu. Si kembar banyak bermain dengan Emilia dan Evan. Si kembar melihat bagaimana Emilia membiarkan Evan mencium ibunya.


" Emilia, kenapa kamu diam? Itu Mommymu dicium," tanya Mikha


Emilia melihat ke arah kedua orangtuanya dan tersenyum.


" Ooh ... itu tandanya Daddy sayang sama Mommy, seperti aku sayang sama Daddy dan Mommy," jawaban sederhana Emilia itulah yang akhirnya membuat Mikha dan Micko belajar untuk menerima dan tidak marah lagi, saat Daddynya mencium bunda mereka.


" Hallo jagoan, Daddy. Ayo gendong Daddy sekarang ..."


Tae Yang mengambil alih baby Miguel dari tangan Emy. Sepertinya bayi itu juga sangat merindukan Daddynya. Ia tersenyum saat berada dalam dekapan sang Ayah.

__ADS_1



" Wah ... baby Miguel senang ya, digendong Daddy ..." kata Tae Yang lembut dan dibuat bersuara seperti anak kecil.


" Hahahaha .... Daddy! Gak cocok ... suara Daddy jadi aneh .... hahaha  ..." olok Mikha


" Hahahaha ..." Micko pun tergelak


Tae Yang mencebik dan mendengus. Emy hanya tersenyum mendengarnya.


" Eh ... sudah ngantuk ya, babynya Daddy?" ucap Tae Yang ketika ia melihat baby Miguel mulai menguap.


" Sayang, Mikha sama Micko juga udah saatnya tidur. Aku antar antar mereka tidur dulu, ya?" pamit Emy


" Hem ... Mikha, Micko. Waktunya bobok sekarang. Kiss Daddy dulu, sayang," kata Tae Yang seraya berjongkok.


Mikha dan Micko segera menghampiri Daddy dan adiknya lalu mencium keduanya bergantian


" Good Night, Dad. Good night baby Miguel,"


" Good Night, Dad. Good night baby Miguel,"


Ucap Mikha dan Micko lalu berjalan menggandeng tangan Mommynya.


" Wahh ... tinggal baby Miguel ini belum bobok. Sekarang, baby bobok, yaa ...."


Tae Yang mulai menggerakkan tubuhnya dan bersenandung, walau suaranya seperti radio rusak, tapi sepertinya baby Miguel menyukainya. Buktinya, tak berapa lama bayi itu tertidur dengan pulas dalam gendongan Daddynya.



Tae Yang masih menggendong baby Miguel, ketika Emy kembali ke kamar babynya.


" Dia sudah tidur, kenapa gak kamu taruh aja?" tanya Emy.


" Aku masih kangen, sayang," kata Tae Yang dengan terus menatap baby Miguel.


" Baiklah, aku ke kamar dulu. Aku gerah belum mandi, soalnya dari siang si kembar sama Miguel rewel terus. Sepertinya mereka kangen sekali sama kamu, sayang," kata Emy dengan tangannya mengusap lembut kepala babynya.


" Oh, ya? Masa' iya karna aku memang dari siang tadi, sudah gak sabar ketemu Anak-anak," kata Tae Yang.


" Mungkin aja, sayang."


" Oh ya, sayang. Bulan depan ada pembukaan L'amour di Jakarta. Kata Paman Evan, sebetulnya bulan lalu, tapi dia mau kamu juga datang. Jadi, dia undur bulan depan."


Emy mengerucutkan bibirnya dan berpikir," Baiklah, aku akan datang. Aku juga sudah lama belum ke Indonesia," kata Emy lalu menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca bila mengingat tempat kelahirannya.


Tae Yang segera meletakkan baby Miguel ke dalam box bayi dan menutupnya dengan selimut karena udara yang masih dingin walau sudah ada penghangat ruangan.


__ADS_1


Tae Yang segera kembali dan memeluk istri kecilnya. Emy semakin terisak dalam pelukan sang suami. Hatinya pedih dan perih bila mengingat orangtua dan kakaknya yang seakan telah melupakannya.


" Sayang, jangan menangis lagi, ya. Nanti kita coba lihat ke sana, ya?" kata Tae Yang. Tangannya terus mengusap punggumg Emy dan mencium puncak kepalanya.


" Iya. Aku kangen sekali sama mereka, sayang,"


" Aku tahu, sayang. Aku tahu kamu juga sering minta tolong orangku buat kasih laporan kegiatan mereka, kan?" kata Tae Yang. Emy reflek mendongak melihat suaminya.


" Ka-kau tahu?"


Tae Yang mencolek hidung mancung istrinya dan tersenyum.


" Sayang, mereka kan orang-orangku. Jadi, mereka juga lapor ke aku. Lagipula, apa yang gak aku tahu tentang kamu, hmm?"


Emy kembali masuk dalam pelukan suaminya. Hatinya sungguh bahagia. Karena suaminya sangat memperhatikannya.


" Aku akan atur jadwalku, kita ke Indonesia tanggal 5, jadi kita bisa istirahat dulu. Karna, acaranya tanggal 7. Setelah itu, kita ke Meranti, gimana? kamu setuju, sayang?"


" Tapi, apa mereka masih ingat aku?" lirih Emy.


" Menurutku, gak ada orang tua yang lupa sama Anaknya. Kalau Anak sering lupa dengan orangtua, tapi tidak dengan orangtua. Jadi, berpikir positif dulu, ya?" hibur Tae Yang


Emy mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya. Tiba-tiba Tae Yang merunduk dan


Hap


Aaaa ...


Emy mengatup mulutnya dengan kedua tangan, karena saat Tae Yang menggendongnya tiba-tiba ia reflek berteriak. Tae Yang tak menghiraukan istrinya memukul-mukul punggungnya.


" Sayang, Tae Yang-ssi! Aku bukan karung beras!" protes Emy.


Pok


Tae Yang menabok pantat bundar isinya. Emy terhenyak dan reflek mencubit punggung suaminya, tapi, tak berhasil. Karena, tubuh lelaki itu terasa keras.


Tae Yang perlahan menurunkan istrinya diatas ranjang dan mulai mencium dan ******* bibir manis istrinya. Emy berusaha memberontak. Tapi, tangan kekar Ayah 3 anak itu menangkapnya dan meletakkanya di atas kepala Emy.


Nafas Emy tersengal ketika suaminya melepas pagutannya.


" Sa ... yang ... aku ... aku belum ... mandi," kata Emy


Mata Tae Yang terus menatap dan sesekali mengecup bibir kecil Emy.


" Kau masih wangi, sayang," kata Tae Yang dan lelaki itu mulai mencium lehet jenjang istrinya.


Aahhh ... desahan Emy menjadi penyemangat bagi Tae Yang.


" Ehm ... Ho-ney ... aku ... belum selesai," lirih Emy dengan mata terpejam menikmati cumbuan suaminya.

__ADS_1


Tae Yang terdiam mendengar kata-kata istrinya.


" Belum selesai?"


__ADS_2