Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Menguak Kebenaran (1)


__ADS_3

Seorang perawat tiba-tiba keluar dan berteriak, "Keluarga Nona Sie!"


" Saya suaminya!" Seru Tae Sang.


" Tuan, Nona Sie membutuhkan transfusi darah. Bank darah kami sedang kosong untuk stok darah A. Apa ada anggota keluarga punya golongan darah sama?" Tanya perawat itu dengan sekali nafas karena tergesa-gesa.


" Saya! Saya A!" Seru Luther. Tae Sang menoleh dan melihat Luther.


" Luther, terima kasih!" Ucap Tae Sang tulus.


" Emy, juga adikku, jangan kau lupa itu!" Luther segera mengikuti perawat masuk dalam ruang tindakan.


" Sayang, ada apa sebenarnya dengan Emy? Katakan cepat!" Teriak Hannah tak sabar. Air mata terus mengalir di pipinya.


" Emy... dia... Keracunan. Ada seseorang yang... berusaha membunuhnya." Jelas Tae Sang sambil menutup mata. Evan dan Hannah kaget mendengar itu.


" A-apa? Ada... yang mau membunuhnya?" Tanya Evan. Sorot matanya tajam menatap Tae Sang. Anggukan kepala Tae Sang membuat Evan mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya.


" Siapa? Siapa yang berani mau membunuh putriku? Katakan! Siapa?!"


Tae Sang berjongkok dan mendekap si kembar. " Daddy... Daddy..." rengek si kembar.


" Daddy, Micko takut.." Dengan lembut Tae Sang mengusap kepala kedua putranya. Evan dan Hannah berhenti bertanya dan memperhatikan interaksi ayah dan kedua anaknya itu.


" Sayang, Daddy di sini. Jangan takut, ya. Gimana kalau kalian makan Tacos, hmm?"


(Makanan khas Meksiko berbahan dasar tortilla dengan isi daging berupa daging ayam, daging sapi atau seafood dengan tambahan sayuran dan buah. Diberi saus pelengkap seperti saus salsa dan berbagai saus yang disesuaikan dengan selera)


" Mauu!" serentak keduanya berteriak senang. Tae Sang segera memanggil dua orang bodyguardnya yang sangat terlatih untuk menjaga buah hatinya.


" Bawa dan jaga mereka.." Kedua bodyguard itu mengangguk dan membawa tuan-tuan kecil mereka ke cafe yang juga ada di bagian selatan rumah sakit ini.


Setelah kepergian anak-anaknya, Tae Sang mengalihkan perhatiannya pada Evan dan Hannah.


" Aku sudah minta anak buahku mencarinya, paman."


Evan mengangguk lalu segera mencari ponselnya. Berlalu dari sana lalu menekan nomor-nomor di sana.


" Hallo, ini aku, Komandan Seal Alfa, Admiral (Jabatan perwira Navy SEAL setara Jenderal) Evan Taylor! Aku mau minta bantuanmu."


"........."


" Ada yang ingin membunuh putriku di RS Boston Med Center. Lacak siapa dia!"


"........."


" Thanks!"


Evan mengakhiri panggilannya. Sorot mata elang penuh kemarahan terpancar di sana.


" Kalian berani mengusik putriku. Aku akan buat kau menyesal!" Ponsel hadiah dari Emy itu digenggamnya erat. Suara pintu terbuka karena seorang perawat yang masuk membuyarkan pikirannya.


" Honey! Dari mana?" Tanya Hannah lembut meraih tangan kasar Evan.


" Hanya meminta bantuan temanku, sayang." Sahut lembut Evan.


Berselang 1 jam kemudian, Luther berjalan mendekati mereka dengan segelas susu di tangannya. Wajahnya pasi, jalan pun sempoyongan.


" Luther!" Evan dan Tae Sang bersamaan memapah tubuh Luther yang lemah.

__ADS_1


" Apa ada kabar dari Emy?" Tanyanya lemah. Keduanya menggeleng.


Seorang perawat tiba-tiba ada di dekat mereka berkacak pinggang.


" Tuan Howland, kenapa Anda disini? Anda harus beristirahat kalau Anda masih sayang nyawa Anda!" Ucapnya tegas


" Nona... Wilson, saya tidak apa-apa." Dalih Luther.


" Tuan, Anda baru saja kehilangan 700 L lebih darah dan Anda bilang tidak apa-apa?" Sergah perawat itu dan memaksa Luther duduk di kursi roda.


" 700 Liter? Apa kau gila, Luther?" Seru Evan.


" Paman, kalaupun Emy butuh semua darahku, aku bersedia!" Jawaban Luther membuat yang mendengarnya terharu. Cinta yang luar biasa. Bersedia memberikan nyawanya demi orang yang ia cintai.


" Luther..." Hannah berdiri dan memeluk Luther.


" Terima kasih... terima kasih..." Evan menepuk nepuk lembut punggung istrinya.


" Biarkan Luther istirahat, sayang." Hannah melepas pelukannya dan mengangguk menuruti perkataan suaminya.


" Hahaha... bilang aja paman cemburu... hehehe" Kekeh Luther. Perawat Wilson hanya menggelengkan kepalanya dan mendorong kursi roda yang dinaiki Luther.


" Kau itu..." Decak Evan kesal.


Kriiingg... kriiingg..


" Hmm!"


" Baiklah. Thanks!" Evan menutup ponselnya, ia melihat Tae Sang dan mengangguk.


" Sayang, ada yang harus aku kerjakan. Aku antar ke kamar, ya?" Hannah mengerti jika suaminya sedang dalam mode tak ingin diganggu. Ia bersedia kembali ke kamarnya.


" Terima kasih. Senangnya aku dikelilingi pria tampan...hehehe..."


Evan melotot mendengar perkataan istrinya. Benar, bodyguard Tae Sang semuanya berwajah tampan khas asia. Ada rasa tak suka di hatinya dan membuatnya enggan beranjak dari kamar istrinya.


" Paman!" Panggil Tae Sang.


" Ah.. ehm... " Kebingungan Evan terpancar jelas di wajah laki-laki itu. Tae Sang menahan tawanya melihat ekspresi suami Hannah yang tak lagi muda.


" Paman, tenanglah... Mereka bukan tipe Hannah, percaya padaku!" Bisik Tae Sang dan menepuk bahu kekar laki-laki yang dulunya berpangkat tinggi di militer elit AS itu.


" Kau yakin?" bisik Evan balik, matanya masih menatap sangsi istrinya yang tengah bercanda dengan si kembar.


" Iya, paman. Tenanglah. Bodyguardku juga terikat tidak boleh menjalin cinta selama kontrak." Sahut Tae Sang dan berlalu dari sana sambil menahan tawanya. Seorang mantan SEAL yang kaku kini terlihat cemas hanya karena bodyguard.


Akhirnya Evan mengikuti Tae Sang dan sesekali menoleh ke arah ruangan istrinya.


" Paman, paman... Segitu takutnya, ya...hahaha..." Evan memelototi Tae Sang meledeknya. Tae Sang tertawa lepas melihat tingkah paman dari ibu anak-anaknya.


" Kita kemana, paman?"


" Ikut saja!"


Evan mengendarai mobilnya menuju sebuah rumah bergaya Amerika kuno. Tanpa basa basi, Evan menuju ruang bawah tanah rumah itu.


" Fowler!" Panggil Evan


" Komandan!" Salut seorang laki-laki berkaca mata. Berdiri tegap dan memberi hormat.

__ADS_1


" Hmm! Hasil?"


Evan menuju banyak monitor yang terpasang di sana. Tae Sang melihat sekeliling ruang bawah tanah yang dipenuhi peralatan canggih seperti milik militer.


" Wanita yang berada di ruang Nona Sie, berdasar hasil pemetaan wajah (aplikasi yang dimiliki pemerintah AS), adalah Mary Wright, asisten Anda di L'amour."


Evan membulatkan matanya menatap wajah di layar monitor yang ditampilkan Lucas.


" Dari rekeningnya, di hari yang sama Nona Sie dirawat, menggebung dana $250 ribu. Lalu kemarin tengah malam menjadi $500 ribu."


" Kau tahu siapa yang membayarnya?" Evan kembali bertanya. Tae Sang memasang matanya melihat monitor.


" Kim So Nam dari Korea Selatan." Jawab bawahan Evan itu. Rahang Tae Sang mengeras. Wajahnya mulai memerah. Evan pun memandang pucuk pimpinan Kimtae Group yang terlihat menahan amarahnya.


Ponsel Tae Yang berdering. Melihat pemanggilnya, Tae Sang segera mengangkatnya.


" Hyuk!"


" ........"


" Apa kau yakin?"


"......."


" Baiklah. Pecat Kim So Nam dan blacklist namanya. Cabut saham Kimtae dari Nami Hotel & Resort. Dan kurung laki-laki ******** itu di ruang bawah tanah mansion kakek!" Kegeraman dan amarah menguasai Tae Sang. Simpati telah hilang dari hatinya terhadap saudara sepupunya itu. Ingin rasanya ia segera kembali ke Korea dan menghajar habis laki-laki yang telah mengubah kehidupan Emy.


Percakapan Tae Sang berakhir setelah 15, menit. Evan mendekati Tae Sang dan menepuk bahunya.


" Ada apa?"


-


-


-


Ada yang masih ingat Kim So Nam?


Siapa laki-laki itu yang dimaksud Tae Sang?


Apa yang akan dilakukan Tae Sang terhadap laki-laki itu?


Ada banyak rahasia belum terungkap tentang Eva dan Emy.


Rahasia apa itu?


**Jangan lupa LIKE, RATE, VOTE n KOMEN ya...


Terima kasih.


☘️☘️☘️


Jangan lupa terus jaga kesehatan diri dan lingkungan. Biasakan Cuci Tangan, Minum air putih hangat , makan makanan bergizi dan tidur yang cukup.


Happy Ied Mubarak 🙏🙏🙏


Mohon Maaf Lahir & Batin


🤗🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2