Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kuatkan Diri Anda


__ADS_3

" Tuan, bisakah kau membuka sebentaaar saja petinya, aku...aku ingin memakaikan cincin pernikahan kami padanya. Sa... saya mohon" Wajah arogan Tae Sang menghilang dan berganti wajah memelas menghadap seorang pekerja kremasi.


Kalev terkejut mendengar permintaan bos besar yang biasanya memasang wajah dingin dan arogan. Ia tahu sosok Kim Tae Sang karena laki laki tampan itu, sering muncul dalam majalah Forbes. Emy memang tak menceritakan siapa ayah dari bayi kembarnya. Tapi bukan Kalev Petrovsky namanya, jika ia tak bisa menyelidiki apa saja yang terjadi dengan Emy dan bagaimana sikap dan perlakuan seorang Kim Tae Sang.


" Saya mohon..." Pengusaha besar itu menundukkan kepalanya memohon, aliran deras air bening turun dari matanya, membuat petugas kremasi terenyuh. Namun belum sempat petugas kremasi menuruti permohonan cucu dari Kim Tae San, pendiri Group Kimtae itu, seorang laki laki menarik kuat leher Tae Sang dan mendaratkan bogem mentah dan menambah bekas lebam di wajah ganteng mantan suami Emy.


" Mau apa lagi kau, hah? mau memberikan cincin? sudah gak ada gunanya?!"


Bug...bug...


Evan memandang cincin yang masih dipegang erat Tae Sang. Tak ada sedikitpun perlawanan dari Tae Sang. Hanya air mata. Dalam hati, Tae Sang merasa pantas mendapatkan semua itu.


" Aku hanya ingin memberikan apa yang menjadi haknya..." ujar Tae Sang lirih. Evan tersenyum getir mendengar ucapan Tae Sang.


" Saat dia masih ada, saat dia sakit kamu ada di mana, kamu yang sudah buat dia semakin menderita! sejak kecil dia gak pernah bahagia, dan kau membuat dia semakin menderita! Kau tahu, dia yang sudah menolongku keluar dari lumpur, tapi...tapi belum sempat aku membuat dia bahagia, kau sudah menghancurkan anakku! KAU MENGHANCURKAN PUTRIKU!!! dia bertahan tanpa memberitahu kami tentang penyakitnya, tapi dia masih terus merawat kakekmu itu...dan..dan apa balasanmu, hah?! kau perkosa dia, kau buat dia depresi dan hampir kehilangan nyawanya! dia membujuk kakekmu supaya kau...kau terbebas, dan kau bisa menikahi wanitamu yang busuk itu, tapi apa..lagi lagi kau rampas masa depannya sebagai dokter bedah!... dan sekarang... sekarang kau mau kasi dia cincin? UNTUK APA?!"


bug...bug...


Evan menghadiahi lagi Tae Sang bogeman di perutnya. Cincin dalam genggaman Tae Sang terlepas. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Evan dan bergegas mencari cincin bertahta berlian kecil dengan inisial nama Emy. Ya, setelah kepergian Emy, Tae Sang selalu berusaha mencari dokter wanita itu dan memesan cincin pernikahan, pada desainer perhiasan terkenal di Korea. Ia selalu membawa cincin itu di kantong jasnya, dengan harapan ia akan bertemu Emy di suatu tempat dan memakaikan cincin itu, sebagai pengikat hubungan mereka.

__ADS_1


aaaaaa.......


Evan berteriak histeris. Tae Sang merangkak, membungkuk mencari cincin itu, ia panik karena tidak ditemukan. Menangis. Menyesal. Hancur.


" Aku... aku... " entahlah apa yang ingin dikatakan Tae Sang, tapi kata kata itu tercekat di tenggorakannya.


" CUKUP! Kau keluar dari sini dan jangan pernah kau mendekati putriku! KELUARRR!!!" seru Evan geram.


Evan menarik paksa Tae Sang keluar dari ruang kremasi. Pembelaan Byun Hyuk tak ada  artinya dibanding tubuh kekar Evan. Tae Sang dan Byun Hyuk menatap pasrah ke arah pintu besar ruang kremasi yang tertutup.


***


Dalam perjalanan menuju Rügen Cliff, tak seorangpun yang berkata kata. Perjalanan selama hampir 3 jam itu, seakan begitu cepat.  Rügen Cliff adalah bukit yang dibawahnya terdapat area  yang terkenal sebagai destinasi wisata karena pantai pasir putihnya yang cantik, landscape alami yang berbeda, serta arsitektur resort yang memukau, akan menjadi tempat ditaburkannya abu Emy. Pulau dengan bukit kapur dan hutan alami yang indah,


Emy sendiri yang memilih bukit itu, karena ia jatuh cinta dengan keindahan alamnya dan udaranya yang segar.


" Sebenarnya, tempat ini adalah tempat yang di impikan Emy, sebagai tempat bulan madu jika nanti ia menikah...srrtt...srtt.. " Ucap Evan tiba tiba, sesaat setelah ia turun dan melihat papan nama tempat itu dan berdiri di atas bukit dengan melihat indahnya pasir putih di bawah.


Hannah memeluk erat guci tempat abu Emy di tempatkan. Air matanya tak henti henti mengalir. Mengenang masa indah kala mereka masih bersama. Tawa, tangis dan candaan Emy serta wajah marah Emy, terus saja berputar di benaknya.

__ADS_1


Tak jauh halnya dengan Hannah, Evan mendekap erat foto Emy di dadanya. Wajah cantik Emy menggunakan seragam dokter, dengan rambut tergerai terpasang apik dalam sebuah pigura.


" Dan Aku bermaksud membawa serta dia kesini, saat aku dan Hannah berbulan madu nanti, tapi... aaaaaaarrrghhhhh....aaaaa..." Evan berteriak keras. Yang paling terpukul memanglah Evan di sini. Satu satunya keluarga yang ia miliki telah pergi lagi meninggalkannya. Walau tak memilki ikatan darah, tapi Emy dan Evan saling mengasihi, layaknya ayah dan anak. Ia bahkan rela melakukan apa saja, demi anak babtisnya itu.


" Kenapa...kenapa, kau pergi, nak...kenapa... aaa... kenapa bukan aku saja.... aaaa..." dr.Lee menghampiri Evan dan memeluk bahu laki laki kekar yang masih belum bisa menerima kepergian Emy. Tak ada kata yang dapat dr.Lee katakan untuk menghibur lelaki itu. Karena kata apapun itu, rasa kesedihan di tinggal seseorang yang kamu sayangi, sangatlah berat.


Hannah semakin menangis dalam dekapan Luther. Jas mahal Luther basah dengan air mata Hannah. Ia juga merasakan kesedihan yang sama. Ia sangat mencintai Emy, tapi belum sempat ia mengungkapkannya, wanita cantik itu lebih dulu meninggalkannya untuk selamanya.


Tae Sang berdiri jauh di belakang, bersama Byun Hyuk. Pandangannya masih kosong. ia hanya sejenak melihat ke arah Evan, ketika Evan mengatakan tentang tempat ini. Setelah itu kembali lagi, matanya yang berair kembali menatap kosong ke depan. Senyum manis Emy dan keramahannya, terbayang jelas di kepalanya.Tetesan air mata, tak ia pedulikan mengalir bebas di pipinya.


Byung Hyuk terus memegangi tubuh Tae Sang yang lemah, karena tak ada sedikitpun asupan makanan yang masuk. Kalev hanya menunduk dan sesekali melihat Tae Sang.


' kenapa kau memaksakan diri? dulu kau begitu membenci Emy dan memperlakukan Emy layaknya sampah, dan sekarang... kau terpukul? laki laki macam apa sebenarnya kau ini, Presdir Kim?' gumam Kalev dalam hati.


" Evan, kita harus menabur abunya..." lirih dr. Lee lalu memandang Kalev dan menarik nafasnya.


" Tuan Taylor... saya mohon, kuatkan diri anda, karena Emy masih membutuhkan anda." kata Kalev setengah berbisik. Ia memandang mata Evan lekat.


" apa maksudmu?" Tanya Evan tak mengerti.

__ADS_1


😷😷😷


Selamat Berpuasa ya, bagi yang menjalankannya... Semoga Puasanya lancar dan selalu sehat...Amiinnn...


__ADS_2