
" Bagaimana hasilnya?" tanya Tae Yang seraya mengancingkan kemejanya.
" Hmm ... kadar timbal sudah 3 µg/100 g ..." jawab Emy tanpa melihat suaminya, karena matanya fokus dengan hasil lab dan X-ray suaminya.
" Artinya?"
" Artinya ... sudah aman. Tapi, aku akan tetap kasih kamu kalsium."
Tae Yang mendekati istrinya, dan menarik serta memeluknya.
" Terima kasih, sayang ..."
Emy tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
" Iya, sayang. Aku yakin kau juga akan lakukan yang terbaik, kalau kau jadi aku."
" Pasti, sayang."
" Ok ... sekarang saatnya ... menjemput si kembar," kata Emy sambil berdiri dan mendorong kursi roda suaminya keluar dari ruang observasi.
Canda tawa terus mereka perlihatkan sepanjang mereka berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
" Tuan Muda! Tuan Muda!" panggil Jung Hyuk dengan nafas tersenggal.
Emy menghentikan kursi roda Tae Yang dan berbalik. Jung Hyuk berlari mendekati mereka.
" Ada apa?" tanya Tae Yang datar.
" Tuan ... sebaiknya ... lewat pintu belakang," kata Jung Hyung sambil menata nafasnya.
" Kenapa?" tanya Emy
" Diluar ... banyak wartawan ... mereka ..." Jung Hyuk melirik Emy, " mereka mau mewancarai Nona Muda,"
Tae Yang melihat sang istri lalu menatap Jung Hyuk dingin.
" Kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan atau masih harus aku dikte?!" sergah Tae Yang.
" Ba-baik, Tuan Muda," jawab Jung Hyuk lalu menundukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
" Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Tae Yang meraih tangan Emy.
" Hmm ... aku tak apa-apa, hanya ... aku takut akan berdampak pada Kimtae," jawab Emy dengan nada cemas.
" Tenanglah, sayang. Aku tadi sudah menyuruh Jung Hyuk untuk mempublikasikan bukti-bukti kalau kau tidak bersalah. Dulu, aku berbaik hati tak mengungkapkan kelicikan dan perbuatan Helena ke publik karena usaha keluarganya sudah kuhancurkan, jadi itu adalah sebagian kompensasiku, agar dia dan keluarganya bisa bertahan hidup, tak kusangka, kakak Helena ... menggunakannya saat ini."
Emy mengusap tangan Tae Yang yang menggenggam tangannya.
" Hmm ... aku mengerti. Luther 3 bulan lalu juga kularang membeberkan bukti ketidakbersalahanku ke publik, karena ... aku pikir sudah cukup di pengadilan saja. Tak kusangka ..."
" Karena itu, aku akan membuka bukti-bukti itu ke publik, sayang. Kau setuju?" tanya Tae Yang
Emy mengangguk dan menatap suaminya, " Baiklah," kata Emy
Hari itu publik Korea kembali dikejutkan dengan semua bukti tentang Helena yang menyembunyikan pernikahannya dari publik demi bisa mendapat keuntungan dengan ketenarannya, lalu bagaimana Helena juga menjebak Tae Yang dan kejahatan lain wanita itu.
__ADS_1
Bukti tentang Emy yang harus mendekam di penjara karena fitnah juga dibeberkan ke publik.
Situasi akhirnya berbalik saat ini. Publik menuntut pihak media untuk meminta maaf pada Emy dan menghujat media elektronik juga media massa lain, karena sudah menyebar fitnah tentang orang yang tak bersalah.
Emy hanya tersenyum membaca berita itu di Ipad yang ditunjukkan Tae Yang.
2 bulan kemudian
Tae Yang bermain play station bersama si kembar di ruang bermain. Emy dengan perut besarnya asyik menonton ketiganya dengan sepiring buah yang ia taruh diatas perut buncitnya.
" Eerghhh ... aauwww" rintih Emy. Perlahan Emy menyingkirkan piring buah di atas perutnya dan menaruhnya di atas meja yang ada di sampingnya.
" Aufff ... apa aku ...sudah mau melahirkan? uufff ..." gumam Emy menahan sakit.
Tae Yang masih asyik bermain dan sesekali beradu mulut dengan si kembar.
" Honeyy!!" panggil Emy. Tapi, sepertinya suaminya tak mendengar karena suaranya terlalu lirih
"Honeyy!!" panggil Emy lagi. Masih sama. Lelaki itu masih asyik bermain game Soccer dengan Mikha.
Merasa tak digubris dan perutnya sudah sangat sakit, Emy mengambil piring buahnya.
Praaanggg ...
Oooppss ... sayang sekali, suara pecahan piring itu tak sebanding suara riuh layar di depan ketiga lelaki di depannya.
Karena kesal, Emy segera berdiri dan bermaksud untuk mencari ponselnya. Tapi, saat ia berdiri, cairan mulai keluar dari bagian intimnya.
" Oh, tidak ... ketubanku pecah ..."
" Ya, Tuhan ... Nona Muda!" seru Jung Hyuk saat ia baru masuk ke dalam ruang keluarga lalu menghampiri Nona Mudanya.
Jung Hyuk mengangguk lalu mengalungkan tangan Emy ke lehernya. Sementara tangan Emy satunya sudah ia pakai untuk menahan perutnya.
" Apa ... yang kau lakukan, Hyuk?" tanya Emy,
" Kita ke rumah sakit, Nona,"
" Panggil suamiku,"
" Tidak usah, Nona. Saya aja yang bawa Nona .." kata Jung Hyuk
" Hyuk ..." panggil Emy dingin.
" Aah ... ya, baiklah. Nona ini ... lihat, tuh. Tuan Muda masih asyik aja main game, padahal Nona sudah harus cepat ke rumah sakit,"
" Kalau kau tak segera ... panggil suamiku ..." Wajah Emy sudah memucat dan keringat dingin mulai keluar.
" Baik, baik."
Jung Hyuk segera melepas tangan Emy dari bahunya, lalu berlari memanggil Tae Yang
" TUAN MUDAAAA!!! NONA MAU MELAHIRKAANNN!!!" teriak Jung Hyuk dari balik sofa besar yang menjadi tempat sandaran ketiganya.
Tae Yang terkejut dan segera mematikan layar TVnya.
__ADS_1
" Apa kau bilang, Hyuk?" tanya Tae Yang.
" Haduh ... Daddy! ganteng-ganteng, budeg." celetuk Mikha
" Apa kau bilang?"
" Nona Muda mau melahirkan, Tuan!" jawab Jung Hyuk cepat.
Tae Yang melihat ke arah istrinya lalu berlari mendekatinya.
" Astaga! sayang, kenapa pipis di sini?" tanya Tae Yang ketika ia melihat cairan terus keluar dari dalam rok istrinya. Emy segera meraih tangan suaminya dan menggigitnya.
" Aaaahhhh ...." jerit Tae Yang.
" Tuan! cepat bawa ke rumah sakit!"
" Oh ... iya, benar ... benar."
Tae Yang segera menggendong tubuh Emy yang mulai berat.
" Oh, Tuhan ... kau ... berat ... sekali .." kata Tae Yang seraya berjalan dengan sedikit kesusahan. Emy menatap geram suaminya. Begitulah wanita mana mau dibilang berat ... benar tidak, pembaca?
" Daddy!! huhuhu .... Mommy kenapa?" tangis Micko pecah melihat Mommynya yang kesakitan.
" Huhuhu .... Mommy ..." Mikha memegang celana Daddynya. Pipinya sudah basah dengan air mata. Menatap iba pada Mommynya.
" Hyuk, siapkan mobil!" titah Tae Yang lalu melihat kedua putranya.
" Mommy mau melahirkan, kalian dirumah dengan Ahjumma, ya?"
Tae Yang memasukkan tubuh Emy ke dalam mobil dan mengambil alih kemudi.
" Hyuk! bawa perlengkapan Emy ke rumah sakit!"
Jung Hyuk hanya mengangguk patuh. Tae Yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untunglah malam itu bukan malam minggu dan sudah lewat jam pulang kerja.
" Sayang, jangan pipis di sini, ya ... tahan ya," kata Tae Yang dengan mata sesekali melirik istrinya. Wajah Emy memerah menahan geram.
" Ini ... karena ... anakmu mau .... keluarrrr .... Dadddyyy ...." geram Emy dengan mengigit giginya rapat
" Iya ... tapi jangan pipis." ujar Tae Yang lagi dengan wajah tanpa dosa
" Aaarrrgghhh ...."
Tae Yang menambah kecepatan saat ia mendengar istrinya menjerit. Mengira bahwa perutnya bertambah sakit 😁, padahal karena jengkel dengan tuduhan Tae Yang
20 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit.
" Dokterr!! cepat tangani istriku!" teriak Tae Yang seraya membuka pintu mobil.
Dokter dan perawat dengan sigap mengangkat tubuh Emy ke atas brankar.
" Hei!!! kau! jangan sentuh istriku!!" seru Tae Yang dengan telunjuk menunjuk seorang dokter laki-laki yang membantu mengangkat Emy ke atas brankar.
Emy melotot dan menggeram melihat suaminya masih saja posesif di saat genting seperti ini.
__ADS_1
" Tuan, mereka tak bisa kalau mengangkat sendiri," jelas dokter muda itu sambil menunjuk ke arah para perawat wanita.
" Kau!!" Tae Yang menipiskan bibirnya dan terpaksa mengikuti istrinya yang sudah didorong masuk ke dalam ruang bersalin yang berada di sisi ruang IGD.