
Jung Hyuk POV
Aku bersyukur karena akhirnya aku bisa menemukan jejak Nona Sie. Hanya saja, hatiku diliputi kesedihan, karena kabar yang aku dapat tentangnya. Bagaimana dengan bosku, jika ia menerima kabar ini? Sudah hampir 8 bulan dia hidup seperti robot. Selalu bekerja dan bekerja. Sikap dinginnya semakin menjadi. Tak pernah lagi aku melihatnya berkumpul dengan sahabat sahabatnya. Ia hanya datang ke kantor dan pulang kerumahnya.
Tuan Muda juga menghukum Nona Helena tanpa ampun, dan membuat seluruh keluarganya terdepak dari rumahnya sendiri. Bahkan keluarga Shin, juga harus menanggung malu dan kebangkrutan. Aku tak pernah melihat bosku itu melakukan hal sekejam itu. Tapi hari itu, aku melihat kemarahan di matanya.
Alkohol selalu menemani Tuan Muda setiap hari, jika tidak, ia tak akan terlelap. Aku merasa bersalah, seandainya saja aku mengatakan semuanya sejak awal. Maka semua ini tak kan terjadi. Dan kini, setelah penantiannya sekian lama, aku harus mengabarkan berita ini?
Benar dugaanku, Tuan Muda seakan kehilangan kekuatannya dan hampir jatuh, jika bukan karena meja yang menahannya di belakang.
" Siapakan jetku, kita ke sana sekarang juga!" Aku segera melaksanakan perintahnya. Kami segera berangkat ke Berlin. Tuan Muda tak mau beristirahat selama 10 jam kami di atas burung besi.
" Berapa lama lagi, Hyuk?" Tanya Tuan Mudaku dengan wajah cemasnya.
" Masih 5 jam lagi, Tuan Muda." Jawabku.
" Kenapa lama sekali?!"
" Istirahatlah dulu Tuan Muda, nanti saya akan membangunkan anda."
"TIDAK!"
penerbangan komersial biasanya menghabiskan waktu 13 jam 35 menit, tapi karena ini jet, karena itu bisa menghemat waktu 3 jam setengah. Itu sudah waktu tercepat, tapi Tuan Muda sepertinya marah.
Sampai di Berlin, dia memintaku mengantarnya segera ke Charite. Sampai di RS Charite, Tuan Muda berlari tanpa peduli pada mereka yang memakinya, setelah tahu kalau Nona Sie di operasi.
__ADS_1
Aku begitu tak tega melihat kondisi atasanku itu. Sudah 2 hari ia tak tidur atau bahkan membersihkan diri. Makanpun hanya sedikit. Wajahnya sudah ditumbuhi bulu bulu, mata kemerahan, rambut berantakan. Seorang Tae Sang yang bersih rapi dan wangi sudah menghilang.
Sebuah brankar yang di dorong dengan tubuh seseorang yang tertutup kain putih, membuat Tuan Muda seakan berat untuk melangkah. Tangisnya pecah, begitupun aku. Aku tak menyangka, wanita cantik yang begitu baik itu telah menutup mata. Wajahnya sangat kurus dan bibirnya membiru.
Oh Tuhan, bagaimana nantinya hidup Tuan Muda. Setiap hari dia sudah ditemani alkohol karna kepergian Nona Sie, dan sekarang... Apa yang akan terjadi dengan Tuan Muda?
Saat paman Nona Sie menghajarnya, tak sedikitpun ada perlawanan. Sepertinya dia sudah pasrah. Tapi, mengapa mereka menyalahkan semua pada Tuan Muda? Apa mereka tak melihat kalau Tuan Muda juga terpukul?
Hari itu, aku berhasil membawa Tuan Muda ke hotel. Setelah menangis di taman, aku memapahnya, aku mencoba membujuknya untuk makan dan mandi. Tapi pandangannya kosong. Tak sedikitpun ia menjawabku. Kubiarkan ia berbaring di kasur. Tak ingin terjadi apa apa padanya, aku tak pergi ke kamarku, dan duduk di sofa.
Sepanjang malam, Tuan Muda menangis. Ia terus mengutuk dirinya sendiri. Ia bahkan seperti tanpa sadar, mengambil pisau buah dan berusaha mengiris pergelangannya. Untunglah aku melihat itu dan membuang jauh jauh pisau di tangannya.
" Tuan Muda! Tuan, jangan seperti ini. Aku yakin, Nona Sie tak mau anda seperti ini. Tuan..." Aku tak kuat menahan tubuh Tuanku itu. Ia terus memberontak dan berteriak histeris.
" Aaaa.... Kenapa, kenapa kau menghukumku seperti ini? Aaaa.....hukuman ini terlalu berat untukku....uuuu...aaaa....Emy- aaa...." Tangisan Tuan Muda membuatku turut menangis. Ia terus menangis terisak, tak mau dihibur. Karena lelah, sempat ia tertidur, tapi tak lama ia berteriak memanggil nama Nona Sie.
Pagi saat aku terbangun, kulihat Tuan Muda masih tertidur. Aku tahu ini adalah hari di mana tubuh Nona Sie akan di kremasi. Tapi aku tak tega membangunkan Tuan Muda. Aku menunggu setengah jam lagi. Dan ternyata Tuan Muda terbangun. Ia duduk dengan matanya yang memandang kosong.
" Tuan Muda, saya antar ke kamar mandi ya? Setelah itu sarapan dan kita pergi." Bujukku. Aku senang karena dia bersedia menurutiku. Aku membantu Tuan Muda masuk kamar mandi, menyiapkan sikat gigi dan handuk serta pakaiannya.
Lama atasanku itu di dalam kamar mandi. Ah..pasti dia melamun lagi. Belum sempat kugedor pintu kamar mandinya, Tuan Muda sudah keluar dan berganti baju. Tapi lagi lagi, ia tak mau sarapan, walaupun sudah kubujuk.
Dengan lemah ia berjalan dengan bantuanku, menuju ke mobil yang akan membawa kami ke tempat kremasi. Untunglah tidak telat. Dan Nona Sie belum di kremasi.
Aku begitu kaget ketika Tuan Muda menghentikan petugas kremasi. Perkataan Tuan Muda membuatku terenyuh. Air mataku kembali menetes.
__ADS_1
"Emy, aku tahu semasa hidupmu, aku selalu menyakitimu. Aku tak pernah sedikitpun memberi perhatianku padamu. Maafkan aku... kumohon maafkan aku. Jika ada kehidupan lain setelah ini, aku mohon, jadilah istriku. Aku berjanji akan mencintaimu dan setia padamu. Emy... Kau adalah satu satunya istriku dan akan tetap begitu selamanya. Tak ada yang akan menggantikan posisimu di hatiku dan kehidupanku."
Tuan Muda memeluk peti mati Nona Sie, seperti sedang memeluk seseorang. Oh Tuhan... tidak adakah mujizat untuk Tuan Mudaku?
" Tuan, bisakah kau membuka petinya, aku ingin memakaikan cincin pernikahan kami padanya. Saya mohon"
Permohonan Tuan Muda dengan wajahnya yang begitu memelas, membuatku semakin menitikkan air mata. Ternyata Tuan Muda sangat mencintai Nona Sie.
Tapi tangan paman Nona Sie yang mencengkeram leher Tuan Muda membuatku panik, lebih lagi saat tangan orang kaukasia itu mendarat lagi di wajah dan perut Tuan Muda. Sudah 3 hari Tuan Muda tak makan, aku takut terjadi sesuatu dengannya.
Aku melihat cincin di tangan Tuan Muda terlepas saat paman Nona Sie, menghajarnya. Aku tak pedulikan itu, yang kupedulikan sekarang adalah keadaan Tuan Muda, tapi belum sampai aku menolongnya, Tuan Muda sudah mendorong mundur paman Nona Sie lalu mencari cincin itu. Cincin yang secara khusus dipesan Tuan Muda beberapa bulan lalu, untuk Nona Sie.
" Tuan Muda, biar saya yang cari, anda duduk saja ya..." Tapi perkataanku tak dipedulikannya. Ia terus mencari dan mencari seperti orang gila.
***
Haiii... maaf telat update say...
jangan lupa Rate 5, Like sama Komennya ya say... oh iya...vote dong say...
Makasih ya...sudah setia menunggu dan membaca novel aku.
Selalu jaga kesehatan ya... banyak minum air putih, cuci tangan dan makan makanan sehat.
Semoga Virus Corona segera berlalu dari negeri kita tercinta, Indonesia. Amiinnn...
__ADS_1
😘🤗