Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Cinta Yang Kuat


__ADS_3

Ini adalah hari ke enam Yu Zhen terbaring di rumah sakit. Selama itu, yang ada dalam pikirannya hanya Emy. Ia begitu gelisah bila mengingat wanita itu.


Hari ini yang menjaganya adalah Na Ae Rim, istri dr. Lee. Karna dr. Lee ada jadwal bedah.


" Ae Rim-a, ehm ... bagaimana Emy?" tanya Yu Zhen


Ae Rim tersenyum dan meletakkan puding di meja kecil di bed Yu Zhen.


" Emy sudah ke Bandara 5 jam lalu. Aku rasa dia sedang di awan sekarang ..." ucap Ae Rim berseloroh. Yu Zhen tersenyum kecil.


" Yu Zhen-a, aku tahu kau mencintainya. Dan, aku tahu cintamu sangat besar padanya. Tapi, dia sudah menikah dan memiliki 3 Anak. Dia ..."


" Aku tak peduli. Aku mencintainya bagaimanapun keadaannya," potong Yu Zhen cepat dan menatap datar Ae Rim.


Ae Rim menghela nafas dan mengangguk. Ia mengambil posisi di kursi sebelah Yu Zhen.


" Yu Zhen-a, aku juga menyayangi dan mengaguminya. Dan aku tahu saat ini, ia sedang terpuruk karena suaminya. Tapi ... itu adalah masalah rumah tangganya. Bukankah sebagai seseorang yang tulus mencintainya, kau harus menjadi pendukungnya? menguatkannya? menjadi janda cerai bukanlah status yang bisa dibanggakan bagi seorang wanita walaupun nantinya ia bisa menikah lagi. Yu Zhen .."


" Sebenarnya apa maksudmu?" potong Yu Zhen dingin dan menatap tajam Ae Rim


Ae Rim menghela nafas,


" Aku tahu bagaimana Emy. Dia bukan orang yang mudah menerima cinta yang baru. Apa kau tahu dia bertahan tanpa kekasih selama lebih dari 5 tahun. Bahkan, saat ia tak mengenal siapa dirinya, ia sama sekali tak mau mendekat dengan laki-laki.


Saat ia dihipnotis untuk menjadi wanita malam, ia tak membiarkan dirinya benar-benar disentuh lelaki karena dalam pikirannya ia selalu disuguhkan bayangan mantan kekasihnya. Hatinya selalu terasa sakit bila mendekat dengan pria lain. Saat ini, Emy sudah menerima dan mencintai Tae Yang. 


Yu Zhen-a, apa menurutmu Emy bisa ..."


" ....." Yu Zhen menunduk lalu menatap kosong keluar.


" Yu Zhen-a, kau masih muda. Apa kau masih mau menunggunya?" tanya Ae Rim


" Aku ... akan menunggunya." jawab Yu Zhen kemudian, walau ia mulai ragu apakah ia bisa merebut hati wanita itu.


Ae Rim mengangguk lalu berdiri dan membereskan meja makan Yu Zhen.


" Ae Rim, apa ... kau tahu apa yang terjadi saat Emy Amnesia?" tanya Yu Zhen kemudian.


Ae Rim melipat bibirnya, Emy memang sudah menceritakan semua padanya, tapi ... ia ragu apakah boleh ia menceritakannya pada orang lain.


" Ae Rim-a ..."


Ae Rim menatap Yu Zhen dan menghembuskan nafasnya kasar.


" Baiklah ... Emy hanya tahu dari Tuan Taylor kalau, Tuan Muda kedua keluarga Shin memindahkannya ke klinik biasa di Zurich. Lalu ada seseorang yang memindahkannya ke Jepang. Saat sadar, ia bertemu seorang wanita bernama Kim So Nam, ketika sepupu Tae Yang itu sedang mencari klinik untuk berobat keponakannya.


Wanita itu membawanya ke Las Vegas dan menjualnya pada seorang mucikari. Saat itu, tanpa sengaja ia bertemu keponakan mama angkat Emy yang membookingnya. Tapi, ada seseorang yang menolongnya pergi dan membawanya ke Boston.


Di Boston Emy bertemu Xiao Lan yang saat itu baru pindah dari China. Xiao Lan memergoki Emy akan diperkosa Han Rae Won, tapi berhasil lolos. Ia mengambil kesempatan bertemu lelaki itu dan menawarkan kerjasama, ia akan membantu Han Rae Won mendapatkan Emy sebagai ... pemuas nafsunya.


Lalu ... ternyata juga Kim So Nam tahu, kalau Emy di Boston. Ia meminta Mary, asisten Tuan Taylor yang juga mantan seorang hipnoterapi, untuk bekerjasama dengannya menjadikan Emy wanita murahan." cerita Ae Rim dengan wajah yang begitu sedih.


" Apa dia tahu siapa yang memindahkannya saat itu?" Tanya Yu Zhen. Ae Rim menggeleng.


" Emy saat itu masih koma. Menurut perawat di rumah sakit di Jepang, ia sudah koma selama 1 tahun. Tapi, menurut Emy ia sudah koma lebih dari 1 tahun karena temannya yang dokter bilang ia koma saat terakhir ia melihatnya di Bern, Swiss." jawab Ae Rim


Yu Zhen tak berkata apapun lagi dan menutup matanya. Hatinya terus meneriakan nama Emy dan menolak melepaskan wanita itu. Tapi, otaknya memintanya untuk merelakannya.


Bandara Incheon, Seoul


Seorang laki-laki menangis dalam posisi bersujud di lantai dan memeluk seorang nenek. Dan seorang pria tua berdiri di sisi mereka, ia juga terlihat mengusap air matanya.

__ADS_1


" Nak, sudahlah ... kau susul saja mereka, ya? Gate A1 ke Toronto. Jadi, pasti mereka ke kota itu." kata Nenek itu


" Yeobo! Kau kira Toronto itu kota kecil?" ujar si Makek.


" Setidaknya, dia tahu kemana tujuan istri dan anak-anaknya!" ketus si Nenek sembari terus memeluk Tae Yang. Mereka tak peduli dengan banyaknya orang yang sudah berkeliling dan mengabadikan dalam ponsel mereka.


Sepasang kaki indah berjalan dengan menyeret sebuah tas. Ia dapat melihat dari sela-sela orang-orang yang berkerumun itu, kalau ada seorang laki-laki dewasa tengah menangis dalam pelukan seorang nenek.


Perlahan namun pasti ia berjalan ke arah mereka. Sampai di depan kerumunan, ia dapat melihat dengan jelas siapa lelaki yang tengah menangis itu.


Air matanya menitik. Senyum terukir di wajah cantiknya. Perlahan ia melepas kain yang menutup sebagian wajahnya juga menyingkirkan kacamata yang menghalangi pandangannya. Ia terus berjalan mendekati ketiganya.


" Tae Yang-ssi," panggilnya lirih


Lelaki tua itu menoleh, matanya terus menatap wanita di sampingnya yang berdiri begitu anggun dan cantik. Matanya yang indah sengaja ia perbesar untuk menahan tangisnya.



Wanita itu berjalan mendekat. Si Kakek segera menepuk bahu Tae Yang yang masih menangis di pelukan istrinya.


Tae Yang perlahan melepas pelukan dan menghapus air matanya. Dengan sesenggukan ia berterima kasih pada Nenek itu.


" Ter .. hiks ..rima .. hiks .. kasih ... hiks," ucapnya.


" Tae Yang-ssi,"


Badan Tae Yang membeku. Nenek itu segera menoleh dan melihat gadis cantik dengan mata memerah dan buliran bening mengalir di kedua pipi mulusnya.


Perlahan Tae Yang juga menoleh. Dengan segera ia menghapus air matanya lalu berdiri. Perlahan ia mendekati wanita yang memberikan senyumannya.


" Sa ... yang? be .. benarkah ini? ..." lirih Tae Yang dengan suara seraknya. Emy mengangguk dan menangis. Ya, dia adalah Emy, istrinya.


Evan dan Luther juga Ji An yang berdiri beberapa meter dari mereka juga turut terenyuh dan menitikkan air mata.


" Aku ... sepertinya aku salah mencoba memisahkan mereka. Cinta mereka begitu kuat," ucap Evan. Luther hanya bisa mengangguk. Sebenarnya, dalam hati kecilnya, ia masih tak rela. Tapi, jika Emy sangat mencintai suaminya, ia hanya bisa mendukungnya.


" Tae Yang-ssi, berhentilah menangis," ucap Emy dalam pelukan suaminya. Dengan segera lelaki itu melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Emy pun membantu menyekanya. Tae Yang terus menatap wanita didepannya dengan wajah bahagia dan menahan tangis.


" Kau tahu, Anak-anak akan menganggap cengeng kalau melihatmu seperti ini," lirih Emy. Lelaki itu hanya tersenyum dan terus mencium tangan Emy.


" Maafkan aku. Aku ... aku sangat cemburu. Wanita di dalam foto, aku tak menciumnya. Aku hanya berbisik. Sungguh, percayalah. Hyuk punya buktinya, aku ..."


Emy menempatkan jari telunjuknya di bibir suaminya.


" Aku memaafkanmu. Asal kau berjanji, ini terakhir kali kau melakukannya. Kau boleh marah, tapi jangan sampai pikiranmu dikuasai amarahmu hingga kau tak bisa berpikir jernih, hmm?" ucap Emy.


Tae Yang mengangguk cepat dan kembali menarik istrinya dalam pelukannya.


" Iya ... iya ... terima kasih, sayang. Terima kasih. Aku akan berusaha. Tolong terus ingatkan aku. Terima kasih, sayang." Emy kembali mengangguk


" Daddyyy!!"


" Mommyyy!!"


Teriak si kembar. Keduanya menoleh dan tersenyum. Tae Yang melepas pelukannya dan berjongkok serta membuka lebar tangannya bersiap menyambut si kembar.


Syutt ...


Si kembar berbelok dan memeluk Mommynya lalu melihat Daddynya.


" Daddy nakal! Daddy bohong! katanya gak pergi lama lagi, tapi Daddy pergi lagi!" kata Mikha marah

__ADS_1


" Iya! Daddy jahat! Daddy jelek!" tambah Micko


Senyum Tae Yang menghilang. Ia menatap sendu dua putranya.


" Maafkan Daddy, ya sayang," ucap Tae Yang


" Nak, Daddymu kemarin banyak kerja, jadi tidak bisa pulang. Jangan marah, ya. Tidak baik kalau suka marah sama orang tua, sayang." tutur Emy lembut.


Tae Yang mendongak melihat Emy dengan senyum dan tatapan yang seolah berkata terima kasih karena membantunya. Emy hanya mengangguk lalu berjongkok dan meminta kedua putranya memeluk Daddynya.


" Sayang, sekarang peluk dan minta maaf sama Daddy, ya?"


Si kembar mengangguk patuh lalu berjalan mendekati Daddynya dan memeluk lelaki itu. Baru beberapa detik, Mikha menarik dirinya diikuti Micko


" Daddy bau!" kata Mikha polos. Tae Yang tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya tak gatal.


" Ehm ... maaf, Daddy tidak sempat mandi tadi," ucap Tae Yang menampakkan gigi putihnya.


" Nak, syukurlah kalian sudah bersama lagi. Ingatlah, sayangi keluargamu dan jadilah kepala keluarga yang baik, ya?" nasehat si Kakek.


Tae Yang menoleh lalu berdiri. Ia segera memeluk Kakek dan Nenek itu bergantian dan mengucapkan terima kasih.


" Kalau kau mau berterima kasih, jadilah keluarga yang bahagia, ya?" tutur Nenek dengan senyuman khasnya yang membuat matanya hanya seperti garis.


" Ah, sampai saya lupa. Halmeoni (nenek), Hal-abeoji (kakek), ini istri saya, Emy Sie dan ini Anak-anak saya. Ini yang sulung namanya Mikha, ini adiknya Micko dan bayi kami ..." Tae Yang melihat kanan kiri mencari bayinya


" Mana baby Migu, sayang?" tanya Tae Yang. Emy tersenyum dan menunjuk ke arah belakang mereka.


" Ah, itu dia Anak ketiga kami, masih bayi. Namanya Miguel." kata Tae Yang sambil menunjuk ke arah Ji An dan Evan juga Luther berdiri


" Kalian sudah punya anak 3. Kalau ada masalah bicarakan baik-baik. Jangan main kabur saja, ya?" lagi nasehat keluar mulut Kakek


" Iya Hal-abeoji. Terima kasih banyak buat bantuan dan nasehatnya. Sebagai ucapan terima kasih, ijinkan saya mengundang untuk makan di rumah kami," ucap Emy dan diangguki Tae Yang


" Hahaha ... tidak usah. Kami masih harus pergi. Anak kami sedang sakit, sebetulnya cucu, tapi dia maunya kami jadi orangtuanya, Jadi ya ... begitulah hahaha ... " ujar lelaki tua itu


" Tidak, tidak jangan begitu. Kalau begitu, kami akan mengantar Halmeoni dan Hal-abeoji ke rumah sakit,"


" hahhh ... baiklah. Tolong antar kami ya, Nak," ucap Kakek.


" Terima kasih, ya, maaf kami jadi merepotkan kalian, " timpal Nenek


" Tidak, Nek. Sama sekali tidak," kata Emy


" Rumah sakit apa, Nek?" tanya Tae Yang


" Emerald Hospital," jawab Kakek


Tae Yang dan Emy mengangkat alisnya lalu tersenyum


" Kenapa?" tanya Nenek


" Hahaha ... tidak, Nek. Hanya saja, istriku bekerja juga disitu. Tapi, sekarang sedang cuti melahirkan." jelas Tae Yang


" Benarkah?" mata sipit Nenek berbinar. Emy mengangguk dan tersenyum


" Baiklah kalau begitu ... hahaha ... sangat kebetulan," kata Kakek. Emy dan Tae Yang ikut tersenyum.


" Oh, ya. Siapa nama anak Kakek?" tanya Tae Yang.


" Yu Zhen," jawab Nenek

__ADS_1


__ADS_2