Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Cemburu - Season 2


__ADS_3

" Mommyyyyy .... Mommyyyy ...." Teriak Mikha di lobby rumah sakit. Semua manusia yang ada di sana, tak terkecuali cicak dan tikus mungkin, semua melihat ke arah si kembar yang heboh berlarian kesana kemari sambil berteriak mencari Mommynya.


Emy yang saat itu masih mengobrol dengan Yu Zhen diruangan dokter di IGD, mendengar obrolan para perawat tentang adanya 2 anak kembar yang ganteng dan lucu.


" Aku jadi ingat anak-anak," gumam Emy lirih


" Kenapa? Ada apa?" tanya Yu Zhen seraya memegang pundak Emy


Emy menoleh melihat Yu Zhen, " Ah, aku cuma kangen Anak-anakku aja," jawab Emy dengan senyum


Yu Zhen mengangguk dan tersenyum canggung. Ia kembali melihat hasil CT dan hasil lab yang baru saja diberikan perawat.


" Hmm ..." mata Emy terus mengamati hasil CT. Emy melihat ke arah Yu Zhen yang mengecek hasil Lab," bagaimana hasil Labnya?" tanya Emy


" Ada jejak Propofol (obat bius),"


" Hah?!" Emy menyambar hasil Lab dan memijat pelipisnya.


" Kenapa?" tanya Yu Zhen. Emy melihat Yu Zhen dengan ekspresi yang sulit diartikan


" Gak papa ... aku mau lihat dia dulu,"


Emy keluar dari ruang dokter dan berjalan ke brankar Lucia.


" Sampai seperti itu caramu mencoba mengambil suamiku?" kata Emy pada wanita yang masih menutup mata.


" Siapa dia?" tanya Yu Zhen tiba-tiba. Emy sedikit terkejut melihatnya.


" Ah ... hanya orang yang aku tahu," jawab Emy dan beranjak meninggalkan brankar Lucia. Yu Zhen melihat gelagat Emy dengan curiga lalu menatap wanita yang berbaring di brankar dan mengerutkan alisnya.


" Dokter Sie! Diminta bantuannya untuk membantu operasi mendadak pasien dr. Ma" ujar seorang perawat yang baru saja masuk dengan terengah-engah. Emy mengangguk. Ia segera berlari keluar IGD. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Sang perawat ikut berhenti dan melihat Emy tak mengerti


" Dok, ada apa?"


Emy berbalik kembali ke IGD tanpa menjawab pertanyaan si perawat. Ia bertemu Yu Zhen di pintu IGD.


" A Zhen-a, tolong gantikan aku ..." pinta Emy dengan mata memelas dan berkaca-kaca, belum sempat Yu Zhen menjawab, Emy berlari ke arah lift. Si perawat terbengong melihatnya.


Yu Zhen menghela nafas dan membuangnya kasar.


" Ayo!" ajak Yu Zhen pada si perawat dan ia hanya bisa mengangguk patuh tak mengerti.


Emy menghapus air matanya dan memutuskan untuk Visite pasien.

__ADS_1


Mikha dan Micko terus berlari mencari Mommynya. Saat mereka di lantai 2, mata mereka berbinar. Sosok yang mereka cari terlihat masuk sebuah ruangan.


Mereka berlari meninggalkan Daddynya yang terengah-engah mengejar.


Si kembar berdiri di depan pintu melihat bagaimana Mommynya bekerja. Micko tak pernah mengalihkan perhatiannya bagaimana sang Mommy memberikan instruksi pada perawat dan memeriksa pasiennya.


" Mikha ... Mommy antik kali (cantik sekali), ya?" celetuk Micko.


" Hmm," Mikha bersandar di dinding dan melihat sekeliling ruangan.


" Mommy! Mommy keleeennn (kereenn) ..." puji Micko dengan matanya yang berbinar menatap Mommynya.


Emy mendongak dan terkejut melihat kedua putranya sudah berdiri di depannya.


" Micko, Mikha? Sama siapa, Nak?" tanya Emy dengan senyum bahagia.


" Cama Daddy, tapi Daddy lama lalina (Sama Daddy, tapi Daddy lama larinya) ..." jawab Micko cemberut


" Kalna (karna) Daddy udah tua, Micko." celetuk Mikha enteng dengan tampang tak berdosa.


Emy dan perawat terkekeh mendengarnya. Emy mendekat dan berjongkok mencium kedua putra kembarnya.


" Siapa bilang Daddy tua? Papa masih ganteng gini dibilang tua,"


Mikha Micko berbalik dan melihat Daddynya sudah berjalan masuk mendekati mereka.


" Daddy ... Daddy halus jujul (harus jujur). Kalo udah tua ya tua ..." jawab Mikha sambil memainkan stetoskop Emy dan memeriksa dada, kepala dan bahu Emy.


Emy mengulum bibirnya menahan senyum, sementara seluruh pasien dan penjaga di bangsal itu tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Mikha.


Tae Yang menipiskan bibirnya dan menggendong Micko


" Kamu sudah selesai?" tanya Tae Yang pada Emy


" Ah, ... ya. Kenapa?"


" Ayo, Anak-anak sudah lapar. Mereka mau makan malam bersama diluar," kata Tae Yang


" Daddy! Daddy boong (bohong)!" protes Micko. Tae Yang mengerutkan alisnya tak mengerti


" Tadi kan, Daddy nang adak jemput Mommy telus mam dilual ( tadi kan, Daddy yang ajak jemput Mommy terus makan diluar)," cerocos Micko dengan wajah polosnya.


" Hmm ... Daddy, dak oleh ya, boong. Kata Mommy kalo suka boong belalti bad boy, dak puna temen (Daddy tidak boleh ya, bohong. Kata Mommy kalau suka bohong berarti bad boy, gak punya temen)," tutur Mikha

__ADS_1


Tae Yang mengalihkan perhatiannya pada Emy. Yang bersangkutan hanya berdehem menahan tawa dan beranjak dari ruangan itu menggandeng Mikha.


Tawa pasien dan perawat mengiringi kepergian keluarga kecil itu.


" Benar-benar apes aku hari ini," gerutu Tae Yang


Saat sudah berada didalam mobil, Micko dan Mikha tak henti-hentinya berceloteh. Emy terkikik setiap kali mendengarnya. Wajah Tae Yang terlihat masam sejak keluar dari bangsal rumah sakit tadi.


" Mommy, anti Micko au dadi dotel (nanti Micko maubjadi dokter) kayak Mommy," ucap Micko pada Mommynya.


" Jadi Dokter? Kalau gitu, Micko harus rajin belajar, ya?" tutur Emy lembut. Micko mengangguk dan tersenyum lebar.


Sejenak pikiran Emy dapat melupakan yang terjadi padanya. Kebersamaan keluarga yang utuh adalah kebahagiaan yang ia idamkan dari dulu. Yang tak pernah lagi ia rasakan sejak ia berumur 6 tahun.


Mata Tae Yang berkali-kali menatap dan mencuri pandang istrinya. Tapi, seakan ia menjadi manusia tak kasat mata di mata wanita cantik itu.


Dalam perjalanan pulang, Micko dan Mikha tertidur. Dengan Mikha dalam dekapan Emy dan Micko dalam gendongan Tae Yang.


" Ehm ... sayang, apa ... kau sudah dapat hasil ... wanita itu?"


Emy menoleh melihat Tae Yang berpura-pura tak mengerti.


" Eh, itu tentang Lucia. Apa ... apa benar dia sakit?" tanya Tae Yang ragu.


" Kalau dia benar sakit memang kenapa?" tanya Emy balik, " Apa kau sudah mengambil keputusan siapa yang kau pilih?"


" Karena itu aku ... bertanya padamu. Apa benar dia ... dia kena kanker?" tanya Tae Yang dan menatap ragu istrinya.


" Ya, benar. Sekarang, apa rencanamu?" tanya Emy


Tae Yang menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Ia mengusap rambut putranya.


" Aku ... aku akan tetap memulangkannya ke Inggris. Semua biaya perawatannya akan kutanggung,"


" Kenapa kau tak mengabulkan saja permintaannya untuk kau nikahi?"


Tae Yang menoleh dan melihat istrinya yang tampak begitu tenang.


" Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu? apa kau tak mencintaiku?" mata Tae Yang berkaca-kaca menatap istrinya. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Emy. Begitu mudahnya mulut sang istri mengatakan itu.


" Bukankah saat ini kau merasa berat melepasnya dan terpaksa memulangkannya hanya supaya aku tak marah dan meninggalkanmu?"


Telinga dan hati Tae Yang memanas. Ia memalingkan wajahnya dari Emy dan diam seribu bahasa hingga sampai ke mansion.

__ADS_1


Tae Yang segera mengangkat tubuh Micko dan keluar mobil. Lelaki itu melangkah lebar menuju lantai 2 kamar si kembar dan membaringkannya di sana.


Netranya menangkap Emy dan sopir yang menggendong Mikha di belakang istrinya sedang menaiki tangga.


__ADS_2