
Kakek Kim menarik nafasnya pelan dan menutup matanya lalu berkata lagi
" Man...Ho...bang..kai..ti...dak...a..kan...bi...sa...ter...tu...tup...bau...nya...wa...lau....de...ngan...ba...nyak...we...wa...
ngi...an..."
" Iya, Tuan Besar. Hanya saja, saya jadi gemas dengan Tuan Muda, karena mau dibodohin si rubah itu!"
" Haha...hahah...ha..."
" Ba...iklah, Man...Ho...kau...te...tap...ja...ga...E...my...dia...ber...ha..ti...lem...but...dan ..ter...la...lu...ba...ik..ke se...mua...o...rang...ja...ngan...biar...kan...orang...me...nya...kiti...nya, ya? se...ka...li...pun...i...tu...Tae...Yang..."
" Baik, Tuan Besar!"
Pak Man Ho membantu kakek Kim menata selimutnya dan berlalu pergi ketika dilihatnya mata kakek sudah tertutup.
Setiap perkataan atasan yang ia ikuti selama kurang lebih 35 tahun itu, masih tergiang di benaknya. ' apa yang Tuan Besar maksud kalau mereka berdua akan menyesalinya ya?' Gumamnya.
Ia berpikir keras tapi belum menemukan jawabannya dan memutuskan untuk membantu Butler Ji, untuk mengecek segala pembukuan, dan membereskan ruang belajar tuannya setelah tadi siang beberapa buku biografi yang kakek Kim cetak untuk dipajang di toko-toko buku datang.
Dikamar, Emy masih berkutat dengan segala kesibukannya menulis hasil operasi yang ia rekam sendiri melalui mini kamera berbentuk liontin, yang selalu ia pakai ketika akan berangkat ke manapun terlebih ke RS.
Bukan tanpa alasan Emy menggunakan kamera tersembunyi, setelah peristiwa yang hampir membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan lisensi dokternya, Emy akhirnya menjadi lebih waspada.
Selain mini kamera berupa liontin yang ia pasang di kalungnya, ia juga memiliki perekam suara berbentuk pulpen yang ia simpan dikantong jas dokternya, serta mini kamera juga yang berbentuk anting atau bando jika memakai kalung atau membawa perekam suara tidak memungkinkan.
Kecekatan Emy menggunakan laptop tak diragukan lagi, 10 jarinya menari diatas gadget berlogo apel yang tak utuh itu.
Emy benar-benar menggunakan waktunya untuk mengurus banyak hal, termasuk urusan perusahaan fashion miliknya yang sekarang dipegang Marie karena ia lebih suka dibalik layar.
" Ah, aku sebaiknya pulang rumah dulu, aku tak mau melihat manusia es itu bercumbu didepanku. Hiih ...ya, ampun, ampuni mata perawanku ya, Tuhan ... aduh ...apes sekali aku tadi...fiuhh.." gumam Emy ketika ia sudah selesai membuat design baru untuk brand clothing ( merk baju) nya.
Kali ini ia membuat design unik untuk gaun malam dengan memakai batik sebagai bahan utamanya.
Ia mengabadikannya dengan ponsel untuk dikirim ke Marie, setelah diberinya trademark dan tanda tangan pada designnya yang asli dan pada file fotonya agar tak tercuri pihak lain.
__ADS_1
Setelah membereskan mejanya, Emy mengambil tas, topi dan sweater rajutnya juga tak ketinggalan sarung tangan putihnya yang baru ia beli dan melangkah pergi.
Walau cuaca malam ini begitu dingin, tapi ia sudah bertekad untuk segera pergi dari rumah mewah itu, ia tak ingin membuat Tae Sang bertambah marah, jika ia tanpa sengaja memergoki mereka bermesraan lagi.
Dengan langkah pasti dan bersenandung kecil Emy berjalan keluar dari gerbang rumah mewah itu dan sebuah taksi sudah menunggunya diluar gerbang.
45 menit kemudian, Emy sampai dirumahnya yang ia beli dari ibu angkatnya, karena ibu angkatnya itu tak memiliki uang untuk mengobati penyakitnya dan sebagai biaya tinggal di sanatorium.
Namun, tentu saja ia membeli tanpa sepengetahuan ibu angkatnya. Ia tak mau rumah yang menyimpan banyak kenangan manis kedua orang tua angkatnya itu, jatuh ketangan orang lain.
brass....
Sebuah bola-bola salju mengenai wajahnya, ketika ia baru saja masuk pekarangan luas miliknya. lalu
brasss....
Lagi sebuah bola salju menghempas wajah cantiknya dan dengan reflek Emy menutup mata dan mulutnya rapat, lucunya, tangannya bukannya menutup wajahnya tapi kedua pipinya yang merona karena dinginnya cuaca.
brasss...brasss....
Bola salju kembali menghujani tubuhnya dari samping. Emy menghela nafas kesal dan membalikkan badannya cepat. Seorang wanita yang sangat Emy kenal cekikikan dan memakai jaket tebal hitam,
bersama seseorang yang sedang membawa payung di belakangnya, entah siapa itu.
" HANNAH KANG!!!!" teriak Emy kesal.
Akhirnya, terjadilah perang bola salju diantara 2 sahabat, seperti di masa mereka kecil dulu.
Puas bermain dengan bola buatan mereka sendiri itu, mereka segera masuk kedalam rumah, berganti baju lalu menghangatkan diri dengan coklat panas dan cemilan buatan Hannah, melupakan seorang laki-laki yang sedari tadi hanya bisa berdiri melihat mereka bersenang-senang.
__ADS_1
" Emy-a ... sepertinya aku melupakan sesuatu ... tapi ... apa, ya?" celetuk Hannah.
Emy hanya mengangkat kedua bahunya karena tidak mungkin ia bisa membaca pikiran Ha Na.
" Ehemm..hem..."
Akhirnya lelaki itu berdehem, mengingatkan 2 gadis yang sudah tega-teganya melupakan keberadaannya sedari tadi.
Hannah tersentak kaget dan menoleh, ia melihat lelaki yang ia ajak untuk datang bertemu dengan Emy, berdiri di pintu masuk disamping tangga, seorang diri dan memicingkan matanya pada Hannah.
Hannah perlahan menyusut dibalik sofa tempat ia dan Emy duduk. Sementara Emy hanya mendelik kaget dan menunjuk kearah lelaki itu dan Hannnah secara bergantian tanpa bisa berkata apa-apa.
" Ah ... hahaha ... Emy, kenalkan ini kakakku. Ya, em .... kakak tiriku anak dari ayah sambungku, Mahendra Gunawan namanya ... hehe, " kata Hannah canggung sambil berjalan dan menarik kakak tirinya itu untuk duduk bersama di ruang TV.
" Ah ... hahaha ...maaf, ya ... hehe ... nama saya, Emy Sie .. .hehe ..." Emy mengulurkan tangannya pada kakak Hannah itu dan tersenyum canggung, karena malu atas perbuatan Hannah sahabatnya itu, juga dirinya.
" Ah, tak apa ... begitulah kalo sahabat biasanya berkumpul, mereka akan melupakan yang tidak penting buat mereka," sarkas Mahendra dan menyambut uluran tangan Emy dengan hangat.
Mendengar itu, Ha Na dan Emy hanya bisa menipiskan bibirnya dan mengangkat alisnya tanpa berkata apapun.
Tanpa terasa mereka telah berbincang lama dan melepaskan kecanggungan. Dari obrolan itu, Emy akhirnya tahu jika Mahendra juga seorang dokter spesialis di Indonesia.
Ia datang ke Korea, karena ibu tirinya adalah orang Korea dan kebetulan neneknya dari ayah juga adalah asli orang Korea jadi ia datang ingin bersilahtuhrahmi.
Hubungan antara saudara tiri inipun seperti layaknya saudara kandung. Saling menggoda dan mengejek tapi juga saling membantu.
Semua karena ibu Hannah adalah orang yang sangat baik dan sabar, ia tak pernah membeda bedakan antara anaknya sendiri atau anak tirinya.
**Tolong jangan lupa Like ya...kalo bisa komen dong hiks...hiks...
Terima kasih,
Rie**
__ADS_1