Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kegalauan Tae Sang


__ADS_3

" de Ma Vie ... anggaplah itu kompensasi dariku karena sudah mempertaruhkan nyawa untuk menolongku. Mulai saat ini, kita hanyalah orang asing. Mengenai darimana aku tahu ... itu bukan urusan kalian! Good Bye!" jawaban Emy, bagai pisau yang menusuk hati bagi Mike dan Marie.


Mereka menatap kepergian Emy, Evan dan kedua pengacaranya dengan tatapan sedih. Mereka menangis haru. mereka tak menyangka, bahwa Emy tak akan menuntut mereka. Keduanya begitu menyesal karena telah menyakiti Emy yang begitu mempercayai mereka.


Permintaan maaf itu, adalah hukuman yang layak mereka terima. Entah, setelah itu de Ma Vie akan bangkrut atau tidak, mereka akan menerimanya.


" Tuang Howland dan Tuan Olsen, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya permisi dulu." Emy tersenyum dan mengulurkan tangannya pada kedua pengacara yang telah membantunya itu.


" Luther, Jeff...mampirlah ke apartemen Emy, aku akan memasak untuk merayakan kemenangan kita, bagaimana?" Emy terkejut mendengar undangan Evan pada Luther dan Jeff, membuat langkah Emy sempat terhenti ketika hendak menarik lengan Evan, Emy menurunkan kembali tangannya lalu melangkah menjauh meninggalkan Evan dan kedua pengacara itu.


' Paman Evan! kenapa tak bertanya padaku dulu?' batinnya.


" Ahh ... Emy harus ada di kantornya dalam 30 menit. Jadi, jangan tersinggung ya, datanglah nanti malam jam 8! oke?! bye!" kata Evan dengan senyum dan melambaikan tangannya lalu berlari menyusul Emy yang telah duduk manis di dalam mobil Evan.


***


Seoul


Sudah hampir 2 minggu ini, Tae Sang menyibukkan diri dengan pekerjaan, hingga Helena merasa tersisihkan. Setiap kali ia mengajak Tae Sang untuk makan ataupun berlibur, Tae Sang selalu mengatakan dirinya sibuk dan memintanya untuk mengerti.


Pagi ini, Helena sengaja datang ke kantor Tae Sang. Dengan memakai pakaian yang sangat seksi, gaun silver yang menampakkan seluruh punggungnya hingga beberapa centi diatas pantatnya, juga panjangnya yang hanya menutupi separo paha putihnya, menunjukan kaki jenjangnya.


Banyak mata kaum Adam melihatnya dengan nafsu. Helena melenggang masuk ke dalam ruangan Tae Sang, tanpa mengetuk ataupun dipersilahkan Byun Hyuk. Karena saat ia datang, Byun Hyuk sedang pergi mengambil makan siang Tae Sang di lobby, untuk mengambil makanan pesan antar dari restoran favorit Tae Sang.


Helena langsung mendekati Tae Sang yang sedang sibuk dengan komputer besarnya, lalu duduk di pangkuan Tae Sang, membuat sang empunya paha terkaget, karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, sehingga ia tak melihat kedatangan Helena.


" Chagi...apa kau sudah tidak cinta aku lagi? hmm?..." Helena dengan manjanya menggelayutkan tangannya di leher Tae Sang, dan mengerucutkan bibir seksinya.

__ADS_1


Tae Sang mengusap kasar wajahnya, lalu memegang lembut pinggang Helena.


" Helena-a, kamu ini bilang apa? kamu tahu aku cinta sama kamu. Tapi aku sekarang sangat sangat sibuk. Lihatlah! banyak sekali yang harus aku selesaikan!" jawab Tae Sang dengan kesal lalu menyandarkan kepala dan punggungnya dengan malas ke kursi, serta melepas pegangannya di pinggang Helena.


" Iya, tapi ini sudah hampir 2 minggu. Tapi kau selalu sibuk? kenapa kamu tidak bisa menyempatkan waktu kamu buat aku? dirumah juga kamu langsung mandi dan tidur, tak peduli denganku!" Ucap Helena dengan kesal lalu berdiri dan berjalan ke jendela besar yang ada di samping meja Tae Sang.


" Helena, aku tidur karena aku sudah terlalu capek. Karena pekerjaanku di kantor tidak ada habisnya ... tolonglah mengerti Helena!"


" Terserah kamu saja, Tae Sang. Aku besok ke Amerika. Aku dapat pekerjaan disana. Kau sibuk, bukan berarti aku tidak?"


Setelah mengatakan itu, Helena pergi dan meninggalkan Tae Sang, yang memandangnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.


Sebenarnya, Tae Sang sendiri tak mengerti dengan dirinya sendiri. Semenjak Emy pergi dari rumahnya, ada perasaan tak nyaman di sudut hatinya. Setiap kali pulang ke Villanya, ia selalu saja mengintip kamar Emy, untuk melihat apakah wanita itu sudah pulang. Terbersit perasaan takut, kalau seandainya Emy tak kembali.


Ia ingin menghilangkan perasaan tak enak itu dengan pekerjaan. Ia berharap, dengan pekerjaan, perasaan itu akan hilang. Ia tak ingin berkutat dengan perasan itu. Ia tak ingin mengecewakan pujaan hatinya, tapi saat ini, ia terlanjur membuat proyek yang harus ia kerjakan agar tak melewati batas waktu.


Kringgg....kriiinggg....


" Hallo" jawab Tae Sang datar setelah mengangkat telepon di mejanya.


" Tuan Muda, kita mendapat masalah. sub kontraktor yang kita pakai, memutus kontrak kerjasama dengan kita dan mengembalikan semua dana yang kita beri beserta dendanya, dan berpihak pada saingan kita, perusahaan Sterling dari Inggris."


" Apa?? kenapa bisa? proyek ini harus segera selesai dan mereka memutus kontrak sepihak? darimana mereka dapat uang sebanyak itu untuk membayar denda?" Tae Sang menggenggam erat pegangan teleponnya, wajah dan matanya memerah menahan marah.


" Saya tidak tahu Tuan Muda. Tapi sepertinya ini direncanakan. Beberapa proyek kita di Jeju juga bermasalah. Jika seperti ini maka...."


" Kau urus saja proyek kondomunium, dan minta bantuan Manager Seo!" Tae Sang memutus sambungan teleponnya sebelum menerima jawaban dari seberang telepon.

__ADS_1


Tae Sang meremas rambutnya, dan melepaskannya setelah mendengar suara ketokan pintu ruangannya.


tok...tok...


" Masuk!"


Seorang laki-laki kurus masuk kedalam ruangannya, menenteng bungkusan lalu meletakkannya di meja di sisi kiri Meja Tae Sang lalu menata piring dan sendok.


" Apa kau beli itu di pulau Jeju?!"


Pertanyaan sarkas Tae Sang yang keras, membuat Byun Hyuk terkaget dan menutup matanya menata denyut jantungnya yang berdetak cepat.


" Maaf, Tuan Muda. Tadi saya bertemu nona Helena, ia menyuruh saya untuk mengambilkan mobilnya di parkiran bawah tanah," jawab Byun Hyuk sambil menunduk setelah ia berbalik menghadap Tae Sang.


" Kau adalah asistenku bukan dia! hanya perintahku yang boleh kau jalankan! mengerti!" Tae Sang berjalan dan duduk di meja makannya setelah membentak Byun Hyuk lagi.


' Ya Tuhan, Tuan Muda, mana berani aku menolak calon nyonya besar...fiuhh...salah lagi... salah lagi...' gerutu Byun Hyuk dalam hati.


Kriiingg....krringg...


Ponsel Byun Hyuk berdering dan langsung mengangkatnya. belum sempat memberi salam, sang penelepon langsung berseru disana.


" Cepat kau bawa Tuan Muda ke Villa Pulau Ulleungdo, sekarang!"


tut..tut..tut


Byun Hyuk memandang ponselnya sebentar dengan heran, ia menatap Tae Sang yang sedang makan dengan elegan.

__ADS_1


" Tuan... Tuan Muda... maaf tapi... anda harus segera ke Pulau Ulleungdo." ucap Byun Hyuk dan mendapat sambutan mata tajam Tae Sang dan membuat Byun Hyuk menelan salivanya dengan berat.


__ADS_2