
" Paman! Dimana Emilia?" Luther sama sekali tak melihat gadis kecil yang selalu manja padanya itu. Evan terhenyak.
" Oh my God! Aku lupa! " Evan segera berdiri dan hendak beranjak tapi Luther memegang pundaknya dan menyuruhnya duduk.
" Paman, aku saja. Paman jaga disini." Luther segera berlari keluar RS dan berangkat menjemput Emilia.
Luther segera menancap gasnya menuju sekolah Emilia. Sampai di sana, sekolah telah sepi dan tak ada siapapun. Luther menggedor pintu tapi tak ada yang membukakan. Hingga seorang security datang mendekatinya.
" Selamat malam, pak. Bisa saya bantu?" tanya security dengan sopan.
" Ah, iya. Saya mau menjemput Emilia Taylor. Mamanya tadi masuk RS jadi maaf kami baru sempat menjemput. Tapi..." Luther menunjuk ke arah sekolah yang sudah gelap.
" Oh, Emilia. Karena tadi lama tidak ada yang menjemput, akhirnya miss Hill membawa dia pulang kerumahnya. Ini nomor ponsel Ms.Hill. Anda bisa menghubunginya." Security memberikan secarik kertas bertuliskan nomor ponsel guru Emilia. Luther mengangguk dan berterima kasih. Ia segera masuk kedalam mobilnya dan menelepon Ms.Hill.
" Hallo? Maaf saya pamannya Emilia." Sapa Luther dalam telepon, ketika panggilannya dijawab.
" oh, ya. Silahkan datang ke 80 Seaport Boulevard, saya membawa Emilia pulang."
Jawab guru Emilia.
" Baiklah, terima kasih."
Tak lama, Luther telah sampai di depan apartemen di pinggir kota Boston. Bukan apartemen mewah tapi cukup bersih. Emilia berada dalam gendongan Ms.Hill ketika Luther selesai memarkirkan mobil mewahnya dan berjalan mendekati keduanya.
" Emilia!" Panggil Luther. Mendengar namanya dipanggil, Emilia segera mencari asal suara. Senyum merekah menampakkan gigi susunya. Ia meronta turun dan segera berlari kearah Luther
" Luther!!!" serunya (Orang barat lebih suka dipanggil nama tanpa embel-embel)
Luther berjongkok dan menyambut putri Evan yang sudah ia anggap sebagai putrinya juga.
" Apa Daddy maci kelja?" Tanya gadis kecil itu polos. Luther tersenyum dan mengangguk lalu menciumi Emilia.
Miss Hill mendekati mereka sambil tersenyum.
" Maaf, tadi Emilia sudah sangat lama menunggu dan tidak ada yang menjemput, jadi saya bawa pulang. Dia sudah makan dan mandi." Lapor ms.Hill tersenyum sambik memandangi Emilia dan mengelus rambutnya. Luther ikut tersenyum dan berterima kasih.
' Manis sekali senyumnya.' Batin Luther.
" Baiklah, sekali lagi terima kasih, Ms. Saya pergi. Emilia, say bye, darling.." kata Luther.
__ADS_1
" Bye, Miss..." pamit Emilia tak lupa senyum menggemaskannya.
Luther masih belum menjalankan mobilnya, matanya masih tertuju pada wanita muda yang berdiri di depan apartemen.
" Ah, sudahlah. Aku harus segera ke RS."
Setelah mobil Luther menghilang, Ms.Hill baru kembali ke apartemennya.
Di RS, Evan sudah duduk di sebelah istrinya yang masih saja memejamkan matanya. Hannah lagi-lagi harus melahirkan anak keduanya secara caesar. Ketubannya pecah karena kondisi ibunya yang terlalu stress.
" Istri Anda jika belum bangun nanti malam, maka... bisa dipastikan ia koma." Perkataan dokter kandungan Hannah bagai vonis mati baginya. Dunianya seakan hilang lenyap seketika.
Bahkan sejak putra yang mereka nantikan lahir, belum sedetikpun ia melihat atau menggendongnya. Ia masih terpaku melihat istrinya yang terpejam.
" Sayang, bangunlah. Bagaimana Sean nanti jika tanpa kamu, sayang? Ia masih butuh air susumu, kasih sayangmu, belaianmu, sayang. Emilia juga masih sangat membutuhkan. Aku tak bisa merawat mereka kalau kamu tidak ada disisiku. Honey, kamu dan anak-anak adalah hidupku. Kumohon, bangunlah sayang, kumohon..." Evan terus mengecup tangan mungil istrinya. Matanya tak lepas dari wajah pucat sang istri.
Di Jakarta, Eva masih tak percaya dengan kenyataan yang ia dapat.
" Katakan, apa kau mengajakku kesini, karena kau sudah tahu tentang ini?" Selidik Eva. Tae Sang menghela nafas dan tersenyum tipis.
" Kalau aku tahu, aku pasti akan mengajakmu menginap di hotel itu." Jawab Tae Sang. Eva menatap mata coklat Tae Sang. Tak ada kebohongan di sana.
" Baiklah, antarkan saya kesana." pinta Eva. Tae Sang melebarkan matanya.
" Tidak! Anda jangan kuatir."
" Hmm... baik. Aku siapkan mobilnya. Kau pakai baju dulu. Aku permisi." Tae Sang segera kembali ke kamarnya. Eva memandang tubuhnya, ia sangat malu, ternyata ia masih memakai kimono mandi.
" Bi, bibi disini saja, ya?! Aku akan pergi menemuinya."
" Iya, nak. Tapi jangan terbawa emosi, ya.." Ucap bibi Sofia. Eva tersenyum dan mengangguk. Ia segera berganti baju dan menguatkan dirinya.
15 menit kemudian, Tae Sang dan Eva telah siap dengan pakaian formal mereka dan naik kedalam mobil.
" Aku hanya akan mengantarmu sampai di depan. Selanjutnya pakailah ini, kalau kau mau masuk." Tae Sang mengulurkan sebuah undangan dan diterima Eva dengan berat. Ia tak mengerti tulisan di sana. Tapi dengan foto yang ada, ia tahu bahwa semuanya adalah fakta.
Di depan sebuah hotel berbintang yang biasa dipakai sebagai tempat resepsi pernikahan para artis, Eva melangkahkan kakinya dengan berat. Banyak foto-terpampang di sana. Hatinya serasa diremas-remas. Baru saja ia mulai mencintai laki-laki itu, dan kini, ternyata semua ucapan yang ia dengar adalah bualan dan tipuan semata.
__ADS_1
Eva memandang ke arah pelaminan. Laki-laki yang berjanji akan menjaganya hingga tua, bersanding dengan wanita lain. Eva menghapus air matanya dan merapikan riasannya di kaca toilet. Ia segera keluar dan menarik nafas dalam-dalam.
" Eva, jangan menangis dan jangan emosi." Gumamnya selama ia berjalan mendekati pelaminan. Mahendra tak melihat kehadirannya. Karena Eva menyembunyikan wajahnya dibalik badan para tamu yang juga hendak menyalami mempelai.
" Congratulations, sir, mam" Ucap Eva pada orang tua mempelai wanita. Dan kini, ia sudah mendekat pada mempelai pria. Eva menarik nafasnya dalam-dalam dan menguatkan dirinya, walaupun hatinya meronta.
Dengan senyum yang begitu cantik, Eva mendekat dan menatap Mahendra. Setelah menyalami tamu di depannya Mehendra melihat tamu berikutnya. Matanya membulat sempurna ketika ia melihat wanita di depannya.
" Selamat, ya. Mahendra!" Kedua mata mereka bertemu. Eva yang pertama memutuskan tatapan mereka. Mempelai wanita menggandeng posesif Mahendra.
" Sayang, dia siapa?" Tanya Wulan, sang mempelai wanita dalam bahasa inggris. Mahendra tak menggubris istrinya itu.
" E-Eva, nanti aku jelaskan, tolong tunggu aku nanti di lobby depan, ya?" ucap Mahendra dalam bahasa Perancis agar istrinya tak mengerti.
" Maaf, saya rasa semua sudah jelas. Ini cincinmu. Jangan pernah hubungi saya lagi." Tegas Eva dengan raut wajah dingin dan mulai berlalu. Tangan Mahendra mencekal lengan Eva. Wulan menatap Eva geram karena mengacaukan pernikahannya. Banyak tamu sudah melihat kearah mereka.
" Tuan Mahendra, tolong segera lepaskan tangan Anda!" Eva menatap tajam ke arah Mahendra. Wulanpun menarik tangan Mahendra. Eva berjalan ke arah Ayah dan Ibu sambung Mahendra yang memandang Eva tak percaya.
" E-Emy! Kau masih hidup?" Ucap ibu tiri Mahendra dan juga ibu dari Ha Na sambil memeluk Eva erat. Eva segera melepas pelukan itu, dan berlalu dari sana.
Mahendra tak lagi dapat berkonsentrasi menyalami para tamu. Ia masih terus memandang Eva yang beringsut menghilang di tengah keramaian para tamu yang hadir.
" Kita berangkat malam ini saja, Tuan Kim."
-
-
-
-
-
hai...mana nih Vote, Like, Komennya?.... jangan pelit-pelit dong say.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutan kisah Tae Sang dalam mencari kebenaran tentang Emy?
Ikutin terus ya...