
" Mereka masih kecil. Sudah, ayo kita pergi," Jawab Tae Yang lalu merangkul Emy dan membantunya masuk ke dalam mobil.
" Tae Yang-ssi, ini makan siangmu. Nanti aku ke pulang telat. Aku harus nyiapkan Disertasi (paparan diskusi yang menyertai sebuah pendapat atau argumen/tesis)." kata Emy
Tae Yang mengerutkan alisnya," Kapan Disertasinya?"
" Ehm ... 3 hari setelah pernikahan kita," jawab Emy sambil menguyah keripik kentang kesukaannya, Pringles
" Hah?!"
Emy menoleh melihat Tae Yang dengan kripik kentang masih belum sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya.
" Kok teriak? Kenapa?" tanya Emy
" Sayang ... tapi ... kan itu waktunya kita bulan madu ..." Protes Tae Yang
Emy menghela nafas dan membuangnya kasar, " Tae Yang-ssi, kita bisa pergi setelah aku selesai. Aku janji," ucap Emy. Dengan terpaksa Tae Yang mengangguk.
Di rumah sakit, Emy mulai dengan rutinitasnya. Pergi ke Poli dan memberikan konsul untuk rawat jalannya.
" Dokter Sie!" panggil seorang perawat ketika Emy baru selesai dengan konsul terakhirnya.
" Ya?"
" Dokter, tolong. Ada pasien kanker mengalami Hematemesis (Muntah Darah)," ucap si perawat. Emy berdiri dan melangkah cepat.
" Pasien siapa?" tanya Emy
" Dr. Seo Ji Min, tapi ia sedang di luar negeri karena ada seminar dan berangkat tadi pagi,"
Langkah Emy terhenti. Ia melihat ke arah si perawat meminta penjelasan
" Ah, semalam dr. Seo menjaga Tn. Ok Sun Jae dan ia baik-baik saja setelah pembedahan." Jelas perawat itu. Mereka kembali berjalan, "Tapi, 1 jam lalu, Tn. Ok tiba-tiba mengalami Hematemesis (muntah darah) lalu tidak sadar dan ... tadi pagi ada Melena (tinja menghitam), Dok," lanjutnya
Srek...
Pintu otomatis ICU membuka dan Emy segera masuk
" Status!" Ucap Emy
" BP (tekanan darah) 80/57, Nadi lebih dari 130, Dok!" lapor perawat yang bertugas di sana.
" Siapa yang bertugas?" Tanya Emy
" Saya, Dok!" Seru seorang laki-laki di sebelah Emy
" Cepat lakukan Irigasi (pemberian cepat sejumlah besar larutan untuk menyiram seluruh saluran pencernaan)!" Titah Emy
" Ba-baik, Dok!" Jawab dokter residen bernama Yoo Yeong Sik
__ADS_1
" Perawat Min, cek level Hemoglobinnya (Hb)!" Titah Emy seraya memelankan laju infus.
" Baik, Dok!"
" Kamu! Apa yang kamu lakukan? Kenapa lama sekali?" Tanya Emy dingin saat ia melihat dokter residen itu gemetar dan kesulitan membuka plastik segel Tabung Nasogastrik (tabung plastik dengan selang panjang untuk memasukkan obat ke dalam perut melalui mulut).
Emy menyambar tabung itu dengan kesal, " Siapkan Endoskopi (prosedur melihat, mendeteksi, dan mendiagnosis jaringan dan organ dalam secara detail dengan alat Endoskop yaitu alat berbentuk pipa kecil dan bersifat lentur) darurat!" titahnya pada dokter residen itu.
" Ba-baik, Dok!" sahut dokter laki-laki berusia sama dengan Emy itu dan segera berlari keluar.
" Ambilkan aku LEG (Latex Examination Gloves - sarung tangan lateks)!" Titah Eny lagi.
Beberapa kali saat Emy berkonsentrasi memasukkan selang itu, tangannya terasa kebas. Beberapa kali pula Emy harus memeriksa tangannya dan berusaha melakukan tugasnya hingga akhirnya berhasil juga.
Selesai dengan tugasnya, Emy beranjak pergi dari ICU tanpa pamit dan ekspresi yang susah diartikan. Para perawat dan dokter residen merasa aneh dengannya.
Masuk ke dalam kantornya, Emy terus memperhatikan tangannya.
" Tanganku ... kenapa tiba-tiba seperti ini?" gumam Emy. Ia terus menggenggam dan membuka telapak tangannya. Ia juga mengambil pisau bedah dari lacinya dan mencoba memegangnya. Tangannya sedikit bergetar kemudian terasa kebas.
" Tanganku ..."
Emy meraih teleponnya dan menekan tombol ruangan dr. Lee.
" Sunbae ... Sunbae - a ... Aku ..."
" Di-di ruanganku ..."
Tut ... Tut ...
Dokter Lee memutus sambungan teleponnya. Emy melihat kembali tangannya yang masih memegang gagang telepon.
Air mata Emy mulai menetes. Pikirannya mulai melayang kemana-mana.
Tok ... Tok ...
Ceklek
" Sun-sunbae ..." Emy menatap dr. Lee lalu beralih ke tangannya yang masih gemetar memegang gagang telepon. Dokter Lee mengikuti arah pandang Emy. Matanya membulat dan menelan salivanya berat.
" E-Emy a ...kamu kenapa?" tanya dr. Lee berusaha menormalkan ekspresinya.
" Ta-tanganku, Sunbae. Ke-kenapa tanganku ..."
" Emy-a ... tenanglah, mungkin kamu kecapekan aja, jangan terlalu dipikirkan, ya?" Kata dr. Lee cepat.
" Kecapekan? Benar, mungkin begitu ..." Ucap Emy.
" Iya, kamu jangan gendong Mikha sama Micko lagi. Aku tahu, kamu ingin menebus waktumu yang hilang bersama mereka, tapi, kamu juga harus sadar, mereka sudah besar," kata dr. Lee
__ADS_1
Emy mengangguk. Ia kembali mencoba menggenggam dan membuka tangannya. Dokter Lee menatapnya sendu.
' Bagaimana aku harus mengatakannya padamu, Emy-a. Aku bersyukur kau melupakan masa lalumu, tapi, aku juga tak bisa melihatmu begini, adikku ...' lirih dr. Lee dalam hati
" Sunbae, setelah ke Poli sore, aku akan USG dan EMG (elektromiogram ; teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot ke komputer)
" Hah?! Ah ... Emy-a, sebaiknya lain kali aja, atau setelah acaramu selesai. Pikiranmu jangan terlalu memikirkan yang negatif, hmm?" Bujuk dr. Lee dengan nada ia buat senormal mungkin.
" Ta-tapi, Sunbae. Aku takut kalau aku kena CTS (Carpal tunnel syndrome atau sindrom terowongan/lorong karpal merupakan kondisi yang memengaruhi tangan dan jari), Aku harus cepat menanganinya sebelum terlambat. Saat aku masak dan memegang sesuatu, tanganku selalu kebas dan kadang nyeri, apalagi kalau malam. Ibu jari, telunjuk dan jari tengahku apalagi." Jelas Emy dengan mata yang tak beralih dari tangannya sendiri
' Aku sungguh tak menyukai kejeniusanmu kalau dalam keadaan begini, Emy. Kau sungguh membuatku mati kutu!' gerutu dr. Lee dalam hati
" Sunbae?"
" Ah? Oh, kenapa?" Tanya dr. Lee mencoba tersenyum
" Sunbae, kenapa? Ada masalah di rumah? Dari tadi sepertinya bengong," ujar Emy.
' Oh..hufft! Kau juga terlalu peka, Emy-a!' teriak dr. Lee dalam hati.
" Sunbae!" Seru Emy
" Kkamjagiya! Emy-a, aku gak tuli!" protes dr. Lee.
" Aku sudah panggil Anda dari tadi, Pak Dokter???"
" Oh, maaf ... kenapa?" Tanya dr. Lee
" Sunbae dari tadi bengong. Ada apa?"
" Ah ... hahaha...gak papa.."
" Sunbae, apa kau sudah tak percaya lagi padaku?" Tanya Emy dengan mata memicing
" Bukan begitu ..."
" Lalu?"
" Ah, aku ... kangen istriku, dia sudah 3 hari di Busan," cetus dr. Lee sekenanya. Berbohong agar Emy tak memikirkan tangannya
" Memang kenapa sampai lama di sana? Apa ada saudara atau orang tuanya yang sakit?" tanya Emy
" Bukan, ... dia ... dia ..."
" Oh, apa Sunbae selingkuh, ya? Makanya dia pergi?!" Tuduh Emy. Dokter Lee menggeleng cepat, " Sunbae! Awas kau, ya. Kalau sampai Sunbae berani selingkuh dari Ae Rim, aku pastikan akan menyunat Sunbae sampai habis! Mengerti!" Ancam Emy dengan wajah seriusnya. Yang membuatnya menyeramkan adalah mata tajam dan bibirnya yang dibuat tipis sambil menatap area terlarang dr. Lee dan memperagakan gerakan memotong dengan kasar
' Duh, kok aku jadi kena?' jerit dr. Lee dalam hati dan menutup area terlarangnya dengan kedua tangannya lalu bergegas keluar dari ruangan Emy.
Setelah mengatur nafas, dr. Lee menelepon Tae Yang dan Ha Na. Ia menceritakan semuanya pada kedua orang itu.
__ADS_1