Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Perubahan Emy - Season 2


__ADS_3

" Mommy masih tidur, Nak. Mommy sedikit tak enak badan. Mikha sama Micko makan sama Bibi Ji An dan Bibi Yong Jin, ya?"


Mikha dan Micko mengangguk. Mereka terus memperhatikan saat Daddynya mengambil piring kosong dan mengisinya dengan bubur dan menaruh beberapa lauk dalam mangkok-mangkok kecil.


" Daddy! Itu uat (buat) Mommy?" tanya Mikha sambil terus melihat apa yang Daddynya lakukan.


" Iya, sayang. Mommy harus makan biar cepat sehat," jawab Tae Yang lembut.


Mikha mengangguk mengerti. Micko terus saja menggoda pengasuhnya saat wanita bertubuh pendek itu berusaha menyuapinya.


" Micko, ayo makan. Jangan begitu kalau makan. Kalau makan tidak boleh sambil main. Tidak baik, sayang." Tutur Tae Yang.


Micko cemberut mendengarnya. Dengan terpaksa ia menerima suapan Yong Jin dan mengunyahnya. Tak berani lagi ia berusaha menutup mata Yong Jin atau menutup mulutnya dengan tangan.


Tae Yang tak pernah menaikkan suaranya pada Anak-anaknya jika kenakalan mereka tak terlalu parah. Ia hanya menggunakan peringatan. Tapi, saat Anak-anaknya tidak mematuhinya, maka hukuman akan menanti mereka. Tanpa game selama seminggu dan tak bisa bermain di kantor Daddynya.


Yu Zhen tak mendapati Emy pagi ini. Hari ini adalah pertama ia bekerja di Emerald, hal pertama setelah berkenalan dengan rekan-rekannya adalah mencari Emy.


" Yeol-a ... kau tahu dimana Emy? Kenapa aku tak melihatnya di dalam?" tanya Yu Zhen sesaat setelah keluar ruang meeting para dokter


Dokter Lee menggeleng dan berjalan tanpa menggubris panggilan Yu Zhen. Dokter Lee tahu penyebab Emy tak masuk hari ini. Pikirannya juga kalut karena sejak kemarin, Emy tak mau mengangkat telepon darinya. Bahkan, telepon dari istrinya Na Ae Rim juga tak mendapat jawaban.


Keseharian Perawat Na saat ini hanya menjadi ibu rumah tangga. Karena saat ia mulai hamil Eun Ha 5 bulan, Na Ae Rim sering mudah lelah dan tekanan darahnya drop. Sifat dr. Lee yang overprotektif padanya, membuatnya rela mengundurkan diri demi sang suami. Kini, mengurus putrinya, Lee Eun Ha adalah kegiatannya sehari-hari.


Setelah mengantar Eun Ha ke sekolah SD khusus perempuan, Na Ae Rim melajukan mobilnya ke Mansion keluarga Kim. Para penjaga hafal dengannya karena mereka sering melihatnya bersama Emy untuk memberi terapi Kemo pada Kakek Kim.


" Apa Emy ada di dalam?" tanya Ae Rim ramah. Penjaga itupun mengangguk dan tersenyum


" Sepertinya ada, Nona Perawat. Mobil Tuan Muda belum keluar dari tadi, Silahkan masuk," jawab penjaga itu ramah


Ae Rim kembali menekan gas mobilnya dan masuk menyusuri jalanan menuju Mansion Tae Yang. Walau sudah beberapa kali ke tempat ini, tapi Ae Rim masih saja terkagum dengan indahnya taman di kanan kiri jalan.


__ADS_1



Ae Rim memarkirkan mobilnya dan berjalan ke pintu utama. Setelah menekan bel, seorang wanita muda berpakaian pelayan membuka pintu.


" Mencari siapa, Nona?" tanyanya sopan


" Emy ada?" tanya Ae Rim


" Ada, Nona. Mari, silahkan masuk dulu. Nama Nona?" tanya si pelayan setelah Ae Rim duduk di sofa


" Ah, aku Na Ae Rim," jawab Ae Rim dengan senyum manisnya


" Baiklah, saya akan beritahu kedatangan Nona. Permisi,"


Ae Rime mengangguk. Pelayan itu segera masuk ke dalam dan menuju kamar Emy


Tok ... Tok ...


Ceklek


" Tuan Muda, ada seorang wanita datang mencari Nona Muda," jawab pelayan itu sambil menunduk


" Siapa?"


" Namanya Nona Na Ae Rim, Tuan"


" Hmm, ya sudah. Pergilah,"


Tae Yang segera menutup pintu kamarnya dan menghampiri Emy masih betah berdiam diri dan meringkuk di atas ranjang.


" Sayang, ada perawat Na  mencarimu," ucap Tae Yang lirih


Emy hanya membetulkan letak selimutnya dan tak menjawab.

__ADS_1


" Apa aku suruh Ae Rim kesini, hmm?" Tae Yang mengusap kepala Emy lembut.


Tetap saja tak menjawab. Namun, tak lama Emy duduk dan membuka selimutnya lalu turun dari ranjang dan menuju kamar kamar mandi.


Tae Yang menghela nafas melihat perubahan sang istri.


" Segitu kecewanyakah kau, sayang? Sampai kau tak mau berbicara padaku?" lirih Tae Yang. Air mata kembali menetes di pipi dan rahangnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


Hari ini ia tak pergi ke kantor dan memerintahkan sekretarisnya untuk membawa berkas-berkas yang harus ia tanda tangani ke Mansionnya. Ia ingin menemani istrinya dan berusaha untuk rujuk.


Hatinya masih terlalu kacau untuk bekerja. Klien yang seharusnya ia temui, terpaksa ia undur jadwalnya demi mendapat maaf istrinya.


Emy keluar dari kamar mandi lalu menuju ruang ganti dan berganti baju. Beberapa saat kemudian, Emy sudah berjalan keluar kamar dan menuju ruang tamu.


Tak ada senyuman manis seperti biasa, ketika ia melihat Ae Rim. Emy berjalan melenggang dan duduk di sofa agak jauh dari Ae Rim dan menatap mantan asistennya itu datar.


" E-Emy .." sapa Ae Rim canggung. Wajah datar dan tanpa senyum Emy tak asing buatnya, tapi, selalu saja ia takut melihatnya.


" E-Emy k-kau tak ke ru-rumah sakit?" tanya Ae Rim ragu


" Untuk apa?" tanya Emy dengan nada yang begitu dingin dan datar


" Ah ... ah, pa-pasienmu, masih membutuhkanmu,"


" Aku sudah tak bisa jadi dokter mereka lagi, apa kau sungguh tak tahu itu?"


Tae Yang yang berdiri tak jauh dari keduanya begitu terkejut mendengar perkataan Emy dan nada bicara Emy yang begitu dingin.


" E-Emy a, jangan begitu. Kau tahu, kau masih bisa menjadi Dokter Penyakit Dalam dan Dokter Konsul, masih ba ..."


" Dokter Penyakit Dalam? Kau pikir dengan tanganku ini aku masih bisa memegang alat Endoskop dengan benar? Kau pikir, dengan tanganku ini aku masih bisa memberi suntikan pada pasienku? Kau pikir dengan tanganku ini, aku masih bisa melakukan Kolonoskopi (prosedur yang dilakukan untuk memeriksa kondisi usus besar dan bagian akhir dari usus besar (rektum) guna mendeteksi adanya ketidaknormalan pada usus besar dan rektum, seperti jaringan usus yang bengkak, iritasi, luka, polip, atau kanker), dan sebagainya sebagai seorang dokter? Kau pikir dengan tanganku ini aku masih bisa melakukan tugasku sebagai dokter?!" suara Emy kian lama kian meninggi.


Ae Rim terdiam tak berkutik. Matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Emy. Hatinya terasa perih. Ia juga merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Emosi Emy begitu tersulut dan membanting vas di sebelahnya. Ae Rim terkejut dibuatnya. Lebih-lebih Tae Yang. Ia masih belum bisa mencerna dengan baik maksud perkataan Emy.

__ADS_1


" Sa-sayang ..." panggil Tae Yang seraya berjalan perlahan menuju sofa tanpa melepas tatapan bingungnya pada istrinya itu.


" Sayang, apa ... maksud perkataanmu? Kenapa ... kenapa kau tak bisa lagi menjadi dokter?"


__ADS_2