Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Masa Lalu (2)


__ADS_3

" Mm..aku takut kalo orang tuamu mengira, aku menculikmu." Jawab Evan sedih.


" Paman, papa mamaku orang baik. Mereka mau berterima kasih sama paman."


" O..benarkah? Sudahlah tidak usah. Kamu juga sudah kasi aku makanan waktu itu...hehehe"


Emy meraih tas bekalnya dan menyodorkannya pada Evan.


" Paman, ini makanlah." Evan menggelengkan kepalanya.


" Nak, ini bekalmu, kamu makan saja ya, paman gak lapar." Kata Evan sambil tersenyum menampakkan giginya yang tak terawat.


" Paman, aku sudah makan, kalo aku lapar, aku tinggal pulang, itu rumahku" Emy menunjukan satu bangunan bergaya Eropa diujung jembatan.


Evan masih terlihat tak enak hati mengambil makanan itu. Tapi Emy menangkap tangan Evan dan menaruh kotak makanannya di tangan Evan.


" Paman, aku akan kembali lagi besok untuk bertemu paman disini ya. Nah ini uang, paman mandi sama hilangkan ini ya." Dengan polosnya Emy meraba brewok Evan setelah memberi uang Evan dengan memasukkannya langsung di kantong jaket Evan. Evan begitu terkejut, ia mau mengembalikan uang Emy yang sudah ada dikantongnya.


" Paman, apa paman tidak suka padaku?" Mata Emy mulai berkaca kaca, Evan bingung dengan maksud Emy.


"Paman, kalau paman mengembalikan uang itu, berarti paman tidak mau berteman denganku. Kalau memang paman tidak suka Emy, paman bisa kasi uang itu ke orang lain..hiks...hiks.." Emy berlari sambil menangis tak memperdulikan Evan yang memanggilnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, saat Emy melewati jembatan itu lagi, ia tak melihat Evan.


Seseorang datang dan memberi Emy bunga mawar yang akan layu. Emy terkejut melihat bunga itu, seseorang kemudian berjongkok dan melihat Emy dengan senyumnya yang manis.


" Nak, bagaimana kabarmu?" Tanya orang itu, Emy menekuk lehernya ke kiri dan mengerjapkan matanya. Senyum mengembang muncul diwajah cantik Emy.


" Pamaaaannn!!" Seru Emy dan memeluk leher Evan erat dengan tangan kecilnya. Evan memeluk Emy dan menggendong Emy kecil.


" Paman, paman ganteng.hehehe.." senyum terus terukir di wajah Emy. Evan tertawa mendengar celetukan lucu Emy.


" Terima kasih nak, kau yang sudah bikin paman jadi ganteng begini." Jawab Evan sambil satu tangannya menunjuk pakaian yang dipakainya.


" Paman, aku sudah mengumpulkan uang untuk paman. Nanti aku ambil ya dirumah. Paman jangan tidur disitu lagi." Kata Emy sambil menunjuk jembatan tempat Evan biasa tinggal.


" Paman, paman adalah paman Evanku. Paman mau jadi pamanku, kan? Emy gak punya paman." Emy menunduk dan mengerucutkan bibir mungilnya. Evan terharu mendengar kata kata Emy. Ia tak menduga, seorang gelandangan sepertinya, mendapat kasih sayang seorang anak kecil yang baru dikenalnya.


" Paman, kenapa paman menangis? Apa paman tidak mau jadi pamanku? Baiklah paman, tapi jangan menangis ya...hiks..hiks..." Emy menangis ketika ia melihat air mata Evan. Evan begitu terkejut mendengar Emy salah paham terhadapnya dan menangis.


" Nak...Emy, dengar paman menangis bukan karena sedih dan tidak mau jadi paman Emy, tapi paman menangis bahagia, karena Emy mau jadi ponakan paman.." Evan menghapus air mata Emy dan memeluk gadis mungil itu. Emy mengerjapkan matanya tak percaya. Emy sedikit mendorong dada Evan dan melihat Evan yang masih tersenyum padanya.


" Sungguh paman?" Evan mengangguk dan mencium pipi Emy.

__ADS_1


" Hahahaha...horeeee....aku punya pamaannn....hahaha..." Evan menurunkan Emy dan berjongkok senang melihat Emy yang melompat seperti mendapat mainan baru.


" Paman, ayo ikut aku. Aku akan ambil uangnya. " Emy menarik tangan Evan dan berjalan ke apartemen sewaan orang tuanya.


Evan enggan untuk masuk, tapi setelah dipaksa Emy, akhirnya ia bersedia dan duduk di sofa ruang tamu Emy.


Emy berlari ke kamarnya dan mengambil kotak bekas biskuit, tempat ia menyimpan sebagian uang jajannya untuk Evan. Ia tak tega melihat Evan sejak pertama kali ia bertemu. Apalagi setelah Evan menolongnya mencari orang tua angkatnya. Emy bertekad membantu Evan dan menyisihkan uang jajannya untuk Evan. Ia juga menerima pekerjaan membuatkan thesis dan membuat formula untuk senior seniornya di kampus. Emy masih kecil tapi dengan IQ nya yang mencapai 200 dan ingatan fotografi yang ia miliki, membuatnya lebih mudah menyerap informasi dari setiap buku dan apa pun yang terciduk matanya.


Emy tak tahu cara lain untuk menghasilkan uang, hanya setelah seorang senior meminta tolong padanya soal Thesis yang ia kerjakan, Emy mengambil peluang itu untuk mencari uang sekaligus menambah pengetahuannya, karena ia setiap hari harus bergelut dengan buku buku sains tebal.


Emy berlari dan mendapatkan Evan yang masih duduk di sofa ruang tamu. Dengan sumringah, Emy mendekati Evan dengan kotak ditangannya.


" Paman, ini uang untuk paman yang aku kumpulkan. Paman pakai untuk cari tempat tinggal ya..." Kata Emy polos dan menyodorkan kotaknya. Evan menerima dengan senyuman tulus dan anggukan. Evan membuka kotak biskuit Emy dan terperanjat ketika melihat isinya.


" Emy, ini..." Evan tak menyangka isi dalam kotak yang diberikan Emy. Uang yang digulung Emy dengan karet bukan hanya 1 tapi ada 3 gulung dan koin yang tersusun dalam plastik.


Evan melihat Emy yang tersenyum lebar kearahnya.


" Paman itu sebagian dari uang jajanku dan hasil membuat thesis. Hehehe...paman apa itu masih kurang untuk beli tempat tinggal?" Evan begitu tak percaya dengan yang didengarnya.


" Nak, ini hasil uang jajan dan kerjamu? Lalu kenapa kau berikan untuk paman nak, paman bisa cari uang. Paman akan bekerja. Kamu simpan ya." Evan memberikan kembali kotak itu pada Emy dan membuat mata Emy berkaca kaca.

__ADS_1


" Mm..Emy..Emy...baiklah, paman terima. Paman akan cari tempat tinggal. Oke? Jangan menangis ya!" Emy akhirnya tersenyum mendengar ucapan Evan. Emy mengangguk senang. Evan melihat Emy dengan tatapan bingung tak percaya. Ia seorang yang membuang hidupnya, mendapatkan seorang yang begitu menyayanginya.


Dari sejak saat itu, Evan memiliki tempat tinggal, yang walaupun sangat sederhana, dan tidak berada didaerah yang bagus tapi setidaknya tempat tinggalnya itu layak huni. Ia juga melamar pekerjaan sebagai satpam di Universitas Harvard, dengan tujuan agar bisa menjaga teman kecil yang sudah ia jadikan anak baptisnya. Hari harinya dijalani dengan baik karena Emy yang ceria. Emy terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Ia belajar membuat software dari internet. Ia ingin mendapat uang untuk membantu beberapa gelandangan yang ia temui. Tak semua dari mereka memiliki hati jahat, bahkan ada sepasang kakak adik yang menolong Emy, saat Emy dan orang tua angkatnya mengalami perampokan ketika kembali dari rumah sakit universitas. Karena keseharian orang tua angkat Emy adalah sebagai dokter di universitas Harvard, mereka memilih pindah ke Amerika, karena mereka tak ingin berpisah dari Emy. Dan untunglah RS universitas Harvard menerima mereka sebagai dokter kontrak.


__ADS_2