Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Ke Indonesia


__ADS_3

Emy menyiapkan keperluan mereka selama di Indonesia ke dalam koper. Dengan antusias si kembar juga membantu.


Kriiing .... Kriiingg ...


" Mom! Mikha saja!" seru Mikha lalu berlari meraih telepon yang ada di dekat meja belajar Micko.


" Hallo," sapa Mikha


" Hai ... ini Mikha atau Micko ini Eun Ha. Kata Eomma kamu mau ke Indonesia?"


" Ini Mikha. Iya, kenapa?"


" Lalu, bagaimana sekolahmu?"


" Mommy, kalau ke Indonesia terus sekolah Mikha bagimana?" tanya Mikha berteriak pada Mommynya dan gagang telepon masih di pegangnya.


" Mommy sudah ijin, sayang. Mommy juga sudah tanyakan kamu belajar apa saja. Nanti Mommy yang kasih belajar Mikha sama Micko," jelas Emy


" Oh ... Eun Ha, Mommy sudah minta ijin. Nanti Mikha belajar sama Mommy," kata Mikha mengulang perkataan Mommynya


" Oh, gitu. Ehm ... Mikha, bisa tanyakan apa Paman Luther nantinya juga ke Indonesia dengan Mommymu?"


" Sebentar ... eh ... kenapa kamu tanya Paman Luther?" tanya Mikha dengan alis bertaut seperti Daddynya


" Karna Eun Ha sudah kangen Paman Luther. Kalau Eun Ha besar, Eun Ha akan menikah dengan Paman Luther,"


" Tidak boleh! Kalau kamu sudah besar harus menikah sama Mikha!"


Emy menoleh dan menatap Mikha dengan mata sedikit membesar dan tersenyum lucu.


" Tidak mau! Eun Ha maunya sama Paman Luther!"


" Tidak boleh! Harus sama Mikha!"


" Tidak! Huaaaaa ...."


" Huaaaaa ...."


Emy meraih gagang telepon dari tangan Mikha dan mencoba berbicara dengan Eun Ha tapi ternyata telepon sudah terputus.


Emy berjongkok dan mengangkat tubuh Mikha lalu mendudukkannya di atas kasur.


" Sayang, Mikha masih kecil. Tidak boleh menikah dulu," ucap Emy lembut


" Mommy, nanti ... hiks ... kalau ... Mikha sudah ... hiks ... besar ... mau ... menikah ... hiks ... sama ...Eun Ha ...." pinta Mikha sesenggukan


Emy menghela nafas dan mengusap lembut kepala putranya. Micko mendekat dan merangkak naik ke atas kasur lalu duduk melihat saudaranya yang menangis. Tangan kecilnya membantu menghapus air mata saudara kembarnya.


" Kalau Eun Ha tak mau, Micko akan menikah sama Mikha," hibur Micko


" Sayang, laki-laki dengan laki-laki tidak boleh dan tidak bisa menikah," tutur Emy


" Tapi Mom, di TV kemarin Micko lihat ada," jawab Micko


" Di TV?"


Micko mengangguk, " Iya, kemarin waktu ke kantor Daddy, Uncle Yuk nonton itu. Jadi, Mikha sama Micko juga."


Emy mengeratkan giginya dan memejamkan matanya.


" Sayang, menikah itu, hanya boleh antara laki-laki dan perempuan saja. Bukan laki-laki dengan laki-laki." tutur Emy


" Baiklah, Mom. Kalau begitu, Mikha kalau sudah besar menikah dengan Mom saja. Tapi, nanti Micko menikah dengan siapa?"


Mata Micko mulai berkaca-kaca, bibir mulai ditarik kebawah.


" Oh, boy ..." Gumam Emy melihat perubahan wajah adik kembar Mikha


" Huaaaaa ...."


" Huaaaa ..."

__ADS_1


Paduan suara pun dimulai. Emy memegang keningnya dan menghembuskan kasar nafasnya.


" Haduh ... bentar lagi pasti yang di sebelah," gumam Emy. Benar saja tak lama setelah mengucapkan itu


Oekkk .... Oekkkk ...


" Oh, boy ... bisa cepat tua aku ..." omel Emy


" Mommy tidak boleh cepat tua. Kalau cepat tua nanti Mommy mati. Mikha gak mau ... huaaa ..."


Emy melotot mendengarnya,' ya, ampun ... sempat-sempatnya nangis komentar ...' batin Emy.


" Ji An, tolong jaga Mikha sama Micko sebentar," pinta Emy


" Baik, Nona,"


Emy segera berlari ke kamar sebelah dan menggendong baby Migu. Menimang dan memberi bayi kecil itu ASI.


" Hallo, permaisuriku ..." sapa Tae Yang dan mencium kening istrinya


" Lho ... sudah pulang?"


" Iya, aku sudah kangen," kata Tae Yang tersenyum


" Kalau begitu, cepatlah cuci muka dan tanganmu, Mikha dan Micko menangis. Kasihan kalau terlalu lama," ucap Emy


" Baik, Permaisuri," jawab Tae Yang dan segera pergi ke kamarnya untuk mencuci muka dan kakinya juga berganti baju. Tak lama, lelaki itu sudah berjalan ke kamar si kembar.


Kedua pria kecil itu masih sesenggukan walaupun sudah memegang robot.


" Daddy ..." panggil Mikco sesenggukan. Mikha hanya melihat Daddynya sekilas dan menyeka air matanya


" Kenapa Anak-anak hebat Daddy ini?"


" Daddy ... kalau ... kalau ... hiks .. Mikha menikah ... hiks .. dengan Mommy, Micko ... hiks ... sama siapa? hiks ... hiks ..."


Tae Yang menaikkan alisnya dan tersenyum.


Huaaaaa ..... Huaaaaa ...


Belum selesai Tae Yang mengucapkan kata-katanya, si kembar sudah meraung-raung. Tak kehabisan ide, Tae Yang merogoh ponselnya dan membuka mbah google, setelah beberapa waktu mencari dan melakukan sesuatu di ponselnya, Tae Yang memperlihatkannya pada kedua putranya



" I-ini sia ... hiks .. siapa, D-dad ... hiks," tanya Micko


" Cantik, kan? nah, Mikha sama Micko bisa menikah dengan 2 anak cantik ini. Kalau Mikha sama Micko nanti besar menikah sama Mommy, ( Tae Yang menggeser ponselnya dan menunjukkam foto Mommynya yang sudah ia edit) Mommy wajahnya seperti ini. Mau?"



Mikha dan Micko mendelik. Kedua tangan kecil mereka menutup kedua pipinya dan mulut terbuka.


" I-ini Mommy, Dad?" tanya Mikha


Tae Yang mengangguk. " Ya, ini Mommy kalau Mikha sama Micko sudah besar seperti Daddy," kata Tae Yang


Kedua putranya begidik dan membayangkan Mommynya dengan wajah seperti itu di depan altar, menikah dengan mereka. Tapi keduanya kemudian tersenyum geli ketika membayangkan Daddynya yang berada di samping Mommynya.



" Hii ... iya, sudah. Mommy sama Daddy saja," jawab Micko


Mikha juga mengangguk," Iya, Mikha maunya sama anak itu saja,"


Tae Yang memejamkan matanya dan bernafas lega.


" Baiklah, sekarang kita makan dulu, ya. Ini sudah malam. Besok mau pergi, jadi Anak-anak Daddy harus istirahat, ya?"


" Ya, Dad," jawab keduanya serempak lalu berbalik badan untuk turun dari kasur mereka.


Keesokan paginya, Tae Yang sudah duduk di sofa dengan santai dengan mata menggoda melihat istrinya sedang bersiap-siap.

__ADS_1



Emy yang merasa diperhatikan menoleh dan melihat suaminya


" Kenapa, sayang?" tanya Emy


" Kau cantik bahkan lebih cantik," ucap Tae Yang dan mengubah posisinya dengan membungkuk dan menopang dagunya dengan kedua tangan besarnya


" Ck ... kau itu. Gombal terus. Eh ... kenapa kami pakai baju itu?" tanya Emy ketika ia melihat suaminya memakai setelan jas resmi dan bukan pakaian santai


" Aku mau ke kantor sebentar saja. Ada utusan NASA datang dan meminta bertemu denganku." jawab Tae Yang


" Oh, baiklah. Jam berapa?"


" Jam 10.40," jawab Tae Yang enteng


Emy mendongak melihat jam di dinding. Matanya membulat


" Ya ampun. Sayang! Kita berangkat sekarang. Ini sudah jam 10.20, kau bisa telat," ucap Emy dan berlari masuk ke kamar ganti mengambil dasi suaminya dan tas yang akan ia bawa.


" Hah?!" Tae Yang tersentak kaget ketika istrinya berkata 10.20


" SAYAANGG!! AKU TUNGGU DI BAWAH!" teriak Tae Yang dan sedikit berlari menuju kamar baby Migu


" Ji An! bawa baby Migu ke mobil. Barang-barang sudah masuk mobil?" tanya Tae Yang pada pengasuh baby Migu


" Sudah, Tuan,"


" Ok, bawa baby Migu. Aku sudah telat," titah Tae Yang sambil berlalu ke kamar si kembar yang ternyata disana sudah kosong.


Tae Yang berlari turun ke ruang keluarga. Disana, si kembar sudah asyik bermain Ipad dan robot-robotan.


" Anak-anak, ayo masuk mobil. Kita berangkat," seru Tae Yang


" Mommy?" tanya Micko


" Mommy sebentar lagi turun. Mikha sama Micko masuk mobil dulu, ya?"


" Baik, Dad."


Si kembar segera berlari ke luar menuju mobil Van yang sudah terparkir cantik di depan pintu utama


" Paman Min!" panggil Tae Yang


" Ya, Tuan?" jawab Paman Min dengan sedikit membungkuk hormat


" Tolong jaga rumah dulu. Aku dan Emy juga Anak-anak akan kembali seminggu lagi. Hubungi aku segera atau Hyuk kalau perlu apa-apa, ya?" Kata Tae Yang


" Baik, Tuan Muda. Selamat jalan, hati-hati," sahut Paman Min


" Hmm .."


" Paman, aku pergi dulu. Jaga kesehatan Paman dan rajin minum suplemennya, ya?" pamit Emy segera setelah turun dari tangga


" Hahaha ... Baik, Nona. Anda tak usah khawatir," jawab Paman Min


" Paman itu juga keluarga kami, bagaimana aku tak kuatir? Baiklah ... daaa, Paman. Jangan lupa pesanku, ya?" ucap Emy sambil melangkah dan meraih lengan suaminya


Paman Min melambai dan mengikuti majikannya hingga naik ke mobil yang akan membawa mereka ke bandara.


Setelah Ji An naik dengan baby Migu dalam gendongannya, pintu Van tertutup dan melaju pergi.


Selama di pesawat, Emy terlihat gelisah. Jantungnya terus berdegup kencang. Tae Yang yang menyadari hal itu, segera memeluk tubuh istrinya dari samping dan menggenggam tangan kecil istrinya lalu mengecup keningnya.


" Tenanglah, sayang. Ada aku, hmm?" ucap Tae Yang lembut


" Aku, aku takut Ayah tak mau menerimaku. Bagaimana, bagaimana kalau dia mengusirku dan kakakku dia, dia membenciku?" tanya Emy dengan cemas dan gugup.


Tae Yang mempererat pelukannya. Hatinya terasa teriris mendengar seorang Anak merasa takut saat akan bertemu dengan keluarganya setelah sekian puluh tahun tak bertemu. Seharusnya yang ada adalah perasaan bahagia, tapi ... istrinya malah ketakutan karenanya. Rasa takut akan penolakan keluarga yang dialami istrinya, sepertinya sangat mendarah daging dengan istrinya.


' Sebenarnya sampai separah apa, sehingga kau sampai begitu ketakutan seperti ini, sayang?' batin Tae Yang menatap sedih istrinya yang terus meremas tangannya.

__ADS_1


Ya, bayangan-bayangan saat Ayahnya memukuli dan memarahinya terus terngiang di benak Emy. Kakaknya yang selalu memandangnya rendah, juga terus menghantuinya. Namun, ia juga sangat merindukan keluarga kandungnya itu.


__ADS_2