
" Hallo... apa kau sudah menemukannya?" Tanya seorang wanita berpipi chubby, pada seseorang di seberang telepon dalam pelukan seorang laki laki yang juga sibuk dengan pembicaraan bersama seseorang melalui ponselnya.
"......."
" Baiklah, terima kasih." ucap wanita itu lesu. Ia menatap laki laki yang sedari tadi memeluknya. Selesai dengan urusannya, laki laki itu menatap balik kekasih yang menatapnya.
" Honey, aku juga tak mendapat petunjuk apapun." kata laki laki itu lalu mengusap bahu wanita kecilnya.
" Evan, mengapa Emy pergi seperti ini? Aku sangat khawatir...hiks...hiks..." Hannah membenamkan kepalanya di dada bidang calon suaminya itu.
" Aku juga sayang. Tapi kamu tahu kan, Emy itu orang yang sangat kuat... Bagaimana Lee Kyong? Apa dia belum kasih kabar?" Hibur Evan. Hatinya pun sebenarnya sangat mengkhawatirkan anak baptisnya itu, tapi ia tak mau semakin membebani calon istri kecilnya itu.
Hannah hanya menggelengkan kepalanya lemah. Sudah seminggu lebih ia dan Evan mencari Emy, tapi hasilnya nihil. Ia kembali segera ke Korea, setelah baru saja 6 jam ia sampai di New York, ketika mendapat kabar Emy yang menghilang dan kantornya sudah kosong, bahkan dr. Lee juga tak menemukan jejak Emy di rumah Eommanya atau dimanapun. Tanpa peduli dengan klien yang sudah menunggunya, ia menyuruh sekretarisnya segera menukar jadwal kembalinya saat itu juga dan menggantikannya bertemu klien.Untunglah masih ada tempat / seat. Bagai tertimpa tangga, kepala dan hati Emy serasa berat, ketika ia membaca inbox e-mailnya beberapa jam kemudian. Badan yang sudah terasa lelah, tak membawanya tidur dalam pesawat yang begitu nyaman dengan fasilitas First Class.
Evan pun memesan tiket ke Seoul untuk hari itu, ia ingin segera mencari satu satunya keluarga yang ia miliki. Setelah menyerahkan urusannya pada sekretaris, tanpa banyak bicara ia segera kembali ke apartemen Emy yang saat ini menjadi tempat tinggalnya dan mengambil beberapa baju dan keperluannya. Saat dalam perjalanan ke bandara dan selama di bandara menunggu keberangkatan, tak henti hentinya ia menelepon dan mengirim pesan pada anak baptisnya itu. Dan lagi lagi, operator yang setia menjawabnya. Jawaban dari dr.Lee, juga sama, tanpa hasil.
Pertama kali saat ia menginjakkan kaki di Negeri Ginseng itu, ia menggunakan taksi menuju RS Emerald. Ia ingin bertemu dr. Lee.
" Evan!" panggil Dr. Lee saat melihat Evan yang berjalan ke arahnya.
" Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Emy pergi dan kenapa kalian sampai tidak tahu, hah?!" Kemarahan, kekecewaan kekhawatiran terlihat di matanya. Dr.Lee menarik nafasnya berat.
" ikut aku!" dengan langkah lebar dr. Lee berjalan yang diikuti Evan.
" katakan!" sentak Ecan tak sabar.
__ADS_1
" Dengar, aku tahu kamu khawatir, tapi jangan lampiaskan itu padaku!" sentak balik dr. Lee saat keduanya sudah berada dalam ruangan dr.Lee.
" Gak usah banyak omong! katakan apa yang sebenarnya terjadi?!" Evan yang sudah tak sabar mencari alasan kepergian Emy, semakin marah karena Dr.Lee tak kunjung mengatakannya.
Akhirnya dr. Lee menceritakan semuanya. Mulai dari pernikahan kontrak hingga peristiwa terakhir sebelum kepergian Emy.
Brakkk..
" Dan kamu baru cerita padaku sekarang?! Teman macam apa kau? Emy itu satu satunya keluargaku, kenapa kamu ikut menyembuyikan itu semua? katakan!" Dr.Lee hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya berulang kali. Menahan emosi yang sedari tadi di tahannya.
" Dengar Evan, aku nyembunyikan itu, karena Emy yang minta. Aku juga mau cerita sama kamu waktu itu. Tapi gimana Emy nanti? dia pasti marah, kamu kan tahu sendiri sifatnya kayak apa!"
" Kenapa waktu dia depresi kamu gak cerita semua sama aku? Kamu cuma bilang kalo dia sudah diperkosa tapi gak bilang siapa si ******** itu? Kenapa?! apa kamu takut aku balas dendam sama orang yang bisa bikin kamu dipecat? iya?!" Mata Evan menatap tajam dr. Lee.
" Jangan asal ngomong kamu, Evan! aku gak mau bilang, supaya Emy sama kamu gak dapat masalah lebih banyak. Kamu ingat Evan, ini Korea, bukan Boston, bukan New York!"
" Evan, dia anakmu tapi dia juga adikku! kamu jangan lupa itu!"
" Kalo kamu anggap dia adikmu, kenapa kamu diam aja waktu dia dilecehkan terus terusan, hah?!"
Tak ada jawaban dari dr.Lee, Evan segera keluar mencari taksi. dr. Lee tak ingin mengejar laki laki yang perawakannya sedikit lebih besar darinya itu. Ia juga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Sejak kepergian Emy, dr. Lee semakin menjadi dingin dan pendiam. Rumah yang Emy berikan padanya dan perawat Na, tak sekalipun ia datangi. Ia hanya menyuruh orang untuk merawat dan membersihkannya. Walau saat ini ia dan istrinya tinggal di apartemen yang tak begitu luas, tapi ia tak ingin pindah dan menempati rumah Emy. Ia dan Perawat Na yakin, suatu hari nanti, Emy pasti kembali.
Evan sampai di depan gedung pencakar langit yang berdiri megah. Ia melangkah dan memasuki lobby.
" Paman!" Evan menghentikan langkahnya dan melihat seseorang yang ia sangat kenal.
__ADS_1
" Kau?!" mata Evan memicing, dan laki laki itu sedikit menunjukkan senyumnya dan mengangguk.
" Mau apa kamu di sini?" tanya Evan menatap laki laki itu.
" Seperti halnya paman, aku mau bertemu si brengsek itu. Tapi sayang, dia gak ada di tempat." jawab laki laki itu datar.
" Gak ada?" Ia melihat anggukan pasti laki laki di depannya itu. " baiklah. Apa kamu tahu rumahnya?" lanjut Evan.
" Aku tahu. Tapi, sebaiknya kita ke rumah Hannah dulu. Dia sudah nunggu." Laki laki itu berjalan meninggalkan Evan yang masih ragu akan perkataan laki laki itu.
" Paman... Hannah sudah nunggu paman." bujuk lagi laki laki itu, setelah ia merasa tak ada langkah kaki paman Emy itu, di belakangnya. Ia terpaksa berbohong, karena ia tak mau terjadi keributan yang nantinya akan membawa dampak negatif pada L'amour, karena posisi Evan saat ini yang menjadi Wakil Direktur L'amour.
Dengan langkah berat dan ekspresi dingin, Evan mengikuti langkah laki laki di depannya.
" Luther, apa ada yang kamu sembunyikan dari paman?" ia melihat Luther yang sedari tadi tampak gelisah.
" gak ada kok, paman." elak Luther dengan sedikit senyuman.
" Jangan bohong, Luther. Aku tahu gimana kamu."
Luther menarik nafasnya. Ia tahu sebagai seorang pengacara profesional, ia tak bisa membuka rahasia kliennya. Tapi, ia juga tak bisa tak mengatakan pada laki laki yang sedang duduk di sebelahnya itu. Karena ini menyangkut Emy.
" Paman, sebenarnya...."
Hai say...makasih ya buat yang udah mampir di novel aku. hehehe...
__ADS_1
Jangan lupa VOTE, LIKE, KOMEN ya sayang... kasi kritik saran dll boleh kok say... ditunggu malah...makasih sekali lagi ya...