Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Penghukuman (1)


__ADS_3

' Salah sendiri, sudah tua masih beringas! Anak kecil dihamili sampai 2 kali! Hahaha...' kikik Tae Sang dalam hati.


Si kembar yang merasa terganggu tidurnya akhirnya bangun dan merengek. Dengan sigap Emy menggendong Mikha yang lebih dulu terbangun, sedang Micko diangkat Tae Sang dan dibuainya hingga kembali tertidur. Emy menatapnya hangat. Senyuman penuh kasih tanpa sadar ia arahkan pada hot daddy itu.


" Ehem..hem..." Deheman seseorang membuat Emy sadar dan salah tingkah. Tae Sang kembali tersenyum melihatnya.


" Tae Sang, kau istirahatlah dulu di sini. Aku mau keluar urus sesuatu." Kata Evan.


" Aku ikut, paman, " sahut Tae Sang. Ia segera menurunkan Micko ke sofa dan mengambil Mikha dari pelukan Emy dan meletakannya juga bersama Micko.


" Baiklah. Luther? " Pandangan Evan beralih pada Luther yang masih berdiri di pintu.


" Iya. Aku ikut, paman." Jawab Luther.


Evan mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang terus memandangnya sedari tadi.


" Sayang, aku harus mengurus sesuatu. Kamu di sini sama Emy, ya. " Pamit Evan mengecup kening dan bibir istrinya serta memeluk dan mencium Emilia dan baby Sean. Ha Na mengangguk patuh.


Evan juga berpamitan pada Emy dan mengecup kening putrinya itu lalu menarik tangan Tae Sang keluar ruangan.


Di dalam ruang rawat Emy


" Han, aku mau gendong bayimu." Hannah mendekat dan memberikan babynya pada Emy.


" Oh, ya. Princess namanya siapa, sayang?"


" Emilia." Jawab gadis kecil itu dengan suara khas anak kecil yang lucu.


" Wah, nama kita sama, ya.."


" Aunty, namanya tuga (juga) Emilia?" Tanya Emilia polos.


Emy mengangguk. " Iya, sayang. Nama Aunty Emilia tapi mommymu panggil Aunty, Emy." Jelas Emy. Si kecil Emilia mengangguk mengerti. Hannah terus tersenyum melihat interaksi Emy dan putrinya.


' Terima kasih, Tuhan. Kau masih memberiku kesempatan bersama lagi dengan adik kesayanganku.' Lirih Hannah dalam hati.


Kalev yang baru saja kembali dari ruangan dr. Madeline, melihat Evan serta Luther dan Tae Sang keluar dari ruang VVIP Emy.


" Anak buahku sudah menangkap mereka.  " Ujar Evan pada Luther dan Tae Sang.


" Paman!" Panggil Kalev.


" Ah, Kalev. Aku titip istri dan anak-anakku juga Emy dan si kembar, ya. Kabari aku kalau ada apa-apa. " Pinta Evan. Kalev hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


" Kalev, jaga istriku. Tapi, jangan macam-macam, ya?" Kata Tae Sang serius.


" Ck... Sudah sana pergi!" Usir Kalev.


Ketiganya segera masuk ke dalam mobil Evan. 45 menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah rumah yang berada di tengah hutan.


" Woww! Paman! Dimana ini?" Luther mengedarkan pandangannya ke sekeliling antah berantah itu.


" Rahasia! Diamlah!"


Luther akhirnya menutup mulutnya dan mengikuti langkah Evan.


" Jangan coba-coba berjalan diluar yang aku tunjukan tadi!" Sergah Evan ketika melihat Luther dan Tae Sang hendak berpencar.


Keduanya patuh dan mengikuti Evan. Sebuah kayu dilemparkan Evan ke sembarang arah di belakangnya, lalu..


Duaarrr..


Luther dan Tae Sang berjingkat kaget.


" Ya, Tuhan, Paman. Untung aku tadi gak sempat melangkah kesitu. Bisa-bisa jadi Luther cincang aku tadi. " celetuk Luther.


" Ayo!" Ajak Evan. Saat pertama masuk, ruang itu seperti ruang tamu biasa. Tapi, ketika Evan menekan salah satu lantai kayunya dan bersamaan menekan tombol kecil pada sebuah buku...


Sebuah pintu rahasia terbuka. Evan melangkah turun diikuti keduanya. Lalu sebuah pintu lagi yang harus dibuka dengan sidik jari Evan dan memindai wajahnya.


Zeennnnggg...


Pintu baja itu terangkat. Nampak di sana ruangan yang penuh senjata dan monitor. Beberapa orang yang duduk segera berdiri dan memberi hormat pada Evan. Dengan anggukan mereka kembali bekerja, entah apa yang mereka kerjakan. Evan kemudian mengajak mereka masuk ke sebuah ruangan lagi setelah menekan beberapa nomor di kusen pintu.


" Wow, Paman! Aku tak menyangka kau punya ini semua." Ucap Luther kagum.


" Semua karena Emy. Mereka adalah tentara buangan. Tentara yang tak dipakai lagi oleh negara karena cacat. Aku merekrut mereka untuk melindungi L'amour dan orang-orang yang ada di rumah singgah. Aku juga memperkerjakan mereka sebagai tentara bayangan untuk membantu pertahanan negara. Tapi, terkadang aku juga menerima order dari pemerintah negara lain untuk mencari kriminal.


" Woww... Luar biasa! Pamanku hebat..hehehe..."


Evan dan Tae Sang menggelengkan kepala melihat tingkah Luther yang kekanakan. Tae Sang tak terkejut dengan ini semua. Karena dirinya pun memiliki markas yang hampir sama dengan Evan.


Evan masuk dalam ruangan yang lembab. Disana ada seorang wanita dan seorang laki-laki dengan tangan terikat rantai keatas.


" Lepaskan aku! Kau akan kulaporkan polisi!" Teriak wanita itu marah, berbeda dengan mata laki-laki disebelahnya yang mulai ketakutan melihat 2 orang yang sangat dikenalnya.


" Tu-tuan Taylor..." Laki-laki itu gemetar dan terbata menyapa Evan.

__ADS_1


" Hmm... kau masih ingat aku. Sepertinya kamu kangen, ya sama aku." Dengan begitu entengnya Evan berbicara pada laki-laki di depannya itu.


" Tu-tuan. Sa-saya tidak ta-tahu ka-kalau Emy masih de-dengan Anda, sungguh!" Ucap laki-laki itu gemetar. Tatapan tajam Evan membuat laki-laki itu semakin ketakutan.


" Tu-tuan, waktu i-itu saya ber-bertemu dia di lokalisasi. Ja-jadi sa- saya..."


" Stop! Apa kau bilang? Lokalisasi?" Tanya Evan dan laki-laki itu mengangguk cepat.


" Benar, Tuan. Sungguh. Ka-karena itu, sa-saya berani... membookingnya.."


Crashhh...


" Aahhh!" Pekik laki-laki itu. Wanita di sebelahnya gemetar. Kakinya terasa lemas untuk berdiri tapi ia tak bisa duduk, karena rantai yang mengikatnya membuatnya harus berdiri agak berjinjit.


Darah segar mengalir di dada laki-laki itu. " Han Rae Won... kau bilang apa? membooking?!" Kata Evan dengan nada tinggi dan dingin.


" I-iya, Tuan. Ta-tapi percayalah, Tuan. Saya tidak sempat melakukannya karena ti-tiba-tiba ada orang yang mem-membawanya lari..."


Luther mengeryitkan dahinya. Mereka saling menatap.


" Ceritakan dari awal. Jangan ada yang kau sembunyikan. Sekali kau berbohong, satu sayatan mendarat di tubuhmu. Mengerti!"


Han Rae Won mengangguk cepat. Anak buah Evan memasang alat deteksi kebohongan pada kepala dan jari telunjuknya.


" Mulai!" Perintah Evan.


" 2 tahun lalu, saya sedang berjalan-jalan di Las Vegas. Tanpa sengaja, saya bertemu E-Emy di sana sedang berdiri menunggu pe-pelanggan. Saya kemudian membookingnya. Tapi, waktu saya mau bawa ke hotel, ada seseorang yang membawanya pergi saat saya sedang membeli rokok. Dan, saat saya kembali ke Boston, saya melihatnya lagi di cafe Tatte. Setelah itu, saya selalu menunggu di sekitar situ. Dan, terakhir 6 hari lalu. Tapi dari 3 pertemuan itu, yang terakhir yang berbeda. Emy di awal bertemu dan kedua bersikap seperti ja-******, tapi yang terakhir dia seperti Emy yang dulu." Jelas Han Rae Won.


" Sekarang, giliranmu. Nona Wright!" Sorot mata tajam Evan beralih pada wanita muda berambut merah yang juga sekretaris Evan di L'amour.


-


-


-


-


🍁🍁🍁


Ada yang ingat Han Rae Won gak, ya?


Waduh apa Evan, Luther dan Tae Sang berhasil menemukan dalang di balik kejadian yang menimpa Emy?

__ADS_1


__ADS_2