
Yu Zhen keluar dari balik tenda dan barang-barang didalam truk lalu berjalan tertatih mencari jalan raya. Hingga, ia bertemu orang baik yang mengantarkannya ke rumah sakit.
" Yeol-a, aku...mau minta tolong," kata Yu Zhen pada dr. Lee yang baru saja kembali mengurus administrasi dan perpindahan Yu Zhen.
" Apa itu?" dr. Lee mengambil posisi duduk di sebelah bed rawat Yu Zhen.
" Aku tidak tah... siapa yang menolongku kesini. Apa...kau bisa ber...tanya pada perawat?" Pinta Yu Zhen.
" Hmm..oke, nanti aku tanyakan. Sekarang, lebih baik kamu coba istirahat. Apa kau tahu, wajahmu sudah seperti mayat hidup."
Yu Zhen tersenyum. Ia tahu dr. Lee berusaha mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit yang saat ini terus menyiksanya.
" Iyakah?" Lirihnya.
Beberapa menit kemudian, 2 orang perawat masuk membawa meja dorong berisi obat-obatan.
" dr. Lee," seorang perawat memberikan botol kecil dan suntikan pada dokter tampan beranak satu itu. Mata perawat itu terus saja memperhatikan wajahnya.
" Ehem..tolong Anda oles salepnya," titahnya memutus tatapan intens perawat itu.
" Yeol-a...k-kau minta di-dia?" Tanya Yu Zhen dengan mata melebar.
Yeol mengangkat alisnya melihat Yu Zhen lalu ke perawat itu dan kembali pada Yu Zhen. Ia mengangguk pasti. Yu Zhen menghela nafasnya dan mengeratkan gigi.
" Yeol-a, kau ingin kupukul? Hmm?!"
" Hei! Memang kenapa? Kamu sekarang jadi pasien, Tuan Yu Zhen. Bukan dokter Yu Zhen," kata Yeol menahan senyumnya dan menaik turunkan alisnya sementara tangannya menyuntikkan obat ke selang infus Yu Zhen.
" Yeol-a!!!" Teriak Yu Zhen, " Uff..." Rasa sakit membuatnya meringis tapi memaksakan diri menatap Yeol dengan geram. Bagaimana mungkin sahabatnya ini menyuruh seorang perawat wanita membubuh salep ke sekujur tubuh perjakanya. Tega. Kejam. Itulah yang ada dipikiran Yu Zhen saat ini.
" Oke..oke, bro! Chill, man!" ujar dr. Lee dengan senyum seraya menjulurkan kedua tangannya dengan telapak tangan seperti hendak menghentikan pertengkaran.
" Nona, biar aku saja. Sekarang, Anda boleh pergi. Terima kasih," ucap dr. Lee. Perawat itu mengangguk dan tersenyum canggung lalu meninggalkan bangsal Yu Zhen dengan enggan.
" Baik, sekarang biarkan perawat Lee yang merawat Anda, Tuan Yu Zhen."
Setelah menunggu 1 jam, akhirnya para perawat memindahkan Yu Zhen ke atas brankar dan membawanya ke dalam Ambulans.
Hari ini, Emy berangkat ke RS. Emerald. Tae Yang hanya bisa mengikuti kemauan calon istrinya. Tak dapat dipungkiri, ada rasa cemas yang selalu membayanginya.
Tok...tok...
" Masuk!"
Emy membuka pintu dan menyapa seseorang yang duduk di balik meja di dalam ruangan yang ia masuki.
__ADS_1
" Sela...."
" Ya, Tuhan. Dokter Sie....hahaha...mari masuk...mari masuk. Silahkan duduk," potong laki-laki bertubuh tinggi besar dengan jas hitam yang melekat pas di tubuhnya
" Ehm...hehh...ya, terima kasih." Kata Emy canggung.
" Saya senang sekali Anda kembali, dokter. Bagaimana kondisi Anda saat ini?" Tanya dr. Kang, selaku kepala Rumah Sakit Emerald.
" Ah, saya baik-baik saja, pak." Jawab Emy dengan senyumnya
" Saya sudah dapat telepon dari Tuan Muda. Dan, saya sudah siapkan kantor Anda. Mari, saya antar."
Dr. Kang berdiri dan mempersilahkan Emy mengikutinya. Banyak mata menatap Emy dengan senyum sumringah, namun beberapa mata juga menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
Sampai di ujung lantai 5, dimana kantor para dokter berada, dr. Kang membuka pintunya
Ceklek
" Mari, dokter Sie. Ini ruangan Anda." Kata dr. Kang dan memberi jalan Emy untuk masuk melihat isi kantor barunya
Emy mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sangat bersih dan rapi.
" Hahaha...syukurlah kalau Anda menyukainya. Baiklah, saya harus kembali. Permisi dan selamat bekerja kembali, dr. Sie." Ucap dr. Kang dan menjabat tangan Emy.
Setelah dr. Kang pergi, Emy tersenyum melihat ruangan barunya. Sederhana tapi bersih. Itu yang ia suka.
Hari itu, Emy memulai harinya dengan melihat jadwal tugas. Bertemu kepala divisi bedah dr. Lee Yeol. Emy tersenyum.
" Hmm...oppa, kau jadi kepala divisi bedah rupanya," gumamnya, " Baiklah, sebaiknya aku ke ruangannya.
Emy melepas sepatu bootnya dan mengganti dengan sandal crocs yang sudah disediakan disitu dan menyambar jas dokter yang tersampir di tiang gantung yang disediakan di ruangannya.
" Permisi. Ehm...ruangan dr. Lee dimana ya?" Tanya Emy pada seorang perawat yang ia temui di koridor.
" Silahkan lurus lalu belok kiri. Tapi, dr. Lee saat ini tidak ada di tempat. Apa Anda mau konsultasi?" Tanya perawat itu dengan ramah.
Emy masih memakai atasan rajutnya dan jas dokter ia pegang di balik badannya,
" Ah, tidak. Saya hanya mau bertemu dengannya. Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, ya?" Sahut Emy dengan senyum
" Sama-sama," jawab perawat itu dan kembali berjalan menjauh.
__ADS_1
" Hmm...aku telepon aja deh." Gumam Emy. Ia menekan panggilan cepat di ponselnya. " Tidak diangkat. Huff...apa dia enak-enak sama istrinya, ya? Ck...dasar, oppa!" lanjutnya dengan senyum merekah.
Emy berjalan kembali ke kantornya. Tapi, suara panggilan Code Blue menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan berlari menuju lift.
Di dalam lift ia bertemu dr. Ma yang memiliki tujuan yang sama dengannya.
" dr. Sie!" Panggilnya. Emy menoleh dan melihat seorang pria dengan jas dokternya tersenyum sumringah ke arahnya.
" Ah..i-iya. Ehm...Anda adalah?"
" Wah, Anda sungguh tega melupakan saya. Saya dr. Ma. Kejadian Nona Kim So Hee dan dr. Cha?" Kata dr. Ma berusaha membuat Emy mengingatnya.
" Ah, maaf...maafkan saya. Apa kabar, dokter?" Kata Emy berbohong. Ia tak mengenali laki-laki itu.
" Baik. Apa Anda kembali bekerja disini?"
" Hehehe...iya per hari ini, dok." Jawab Emy
" Hmm..baiklah. Jadi, Anda ke bagian penyakit dalam?" Tanya dr. Ma membuat Emy mengeryit tak mengerti
" Bagian.. Penyakit dalam?" Ulang Emy
" Iya. Bukannya tangan Anda..." dr. Ma melihat tangan Emy dan Emy pun mengikuti arah pandang dr. Ma.
" Maksud Anda?"
" Ahhahaha...sudah sampai. Permisi," pamit dr. Ma tiba-tiba dan melangkah keluar lift.
' Apa dr. Sie mengalami amnesia? Bagaimana mungkin dia lupa dengan hal itu dan...ah, sudahlah, nanti aku tanya dr. Lee, dari pada aku salah sebut. ' Batin dr. Ma
Emy terus memikirkan perkataan dr. Ma. Ia melihat kedua tangannya dan mulai menggerakkannya.
" Tanganku...baik-baik saja kok. Tapi...memang agak kram dan sedikit ngilu. Ada apa sebenarnya dengan tanganku?" Gumam Emy.
" dr. Sie!" Panggil seseorang. Emy melihat ke asal suara. Seorang perawat senior berlari kearahnya dan memeluknya erat dan menangis.
" Dokter, saya kira...saya tidak akan bertemu Anda lagi. Bagaimana kabar Anda? Anda masih ingat saya, kan?" Tanya perawat itu
" Maaf...tapi...saya baik-baik saja." Jawab Emy tertunduk.
Perawat itu mengerti. Ia mendengar tentang penyakit Emy dari dr. Lee 5 tahun yang lalu saat Emy pergi.
" Tidak apa-apa, dokter. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal lagi sekarang," katanya dengan ceria.
Emy mengangguk pasti dan tersenyum.
__ADS_1
" Dok, saya butuh bantuan Anda di IGD. Apa bisa?"