Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Saya Hamil


__ADS_3

" Ah maafkan aku, aku tidak tahu kalau ..."


Langkahnya terhenti dan memandang tajam ke arah Emy.


" Aku benci dan muak melihat wajahmu!" jawabnya sinis.


" Saya berjanji, Anda tidak akan melihat wajah memuakkan saya lagi. Dan maafkan saya, karena saya sudah membuat anda sangat membenci saya."


Emy segera meninggalkan laki-laki itu, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti.


hoek...hoek...


Emy berlari ke toilet. Laki-laki itu memandang Emy curiga. Ia mengikuti Emy dan menunggu Emy di luar toilet. Setelah menumpahkan semua isi perut, Emy keluar dari toilet.


Tapi tangannya dicekal dan ditarik oleh seorang laki laki. Emy mencoba melepas pergelangan tangannya yang terasa sakit karena kuatnya laki-laki itu mencengkeram.


" Buka!" perintah laki-laki itu, setelah sampai di depan ruang kerja Emy. Emy dengan tenang membukanya dan mendapat dorongan dari laki-laki itu untuk masuk.


" Katakan padaku, apa kau hamil?!" selidik laki-laki itu. Emy diam menatap laki laki yang sudah membuatnya seperti ini.


" Katakan padaku! apa kau hamil?! Jawab!" bentak Tae Sang. Emy menatap balik tatapan tajam Tae Sang


" Iya, saya hamil! " jawab Emy tenang. Tak ada rasa takut disana.


Tae Sang mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas kasar.


Tae Sang mengeluarkan cek dari dalam saku jasnya dan menanda tanganinya.


" Aku tak bisa menikahimu. Aku sangat mencintai Helena. Aku tak bisa meninggalkannya. Ini, gunakan untuk mengugurkan bayi itu ..." Tae Sang menyodorkan cek kosong dan hanya mendapat lirikan dari Emy.


Seringai muncul di wajah Emy. Hatinya terasa sakit dan penuh amarah. Diredamnya emosi yang seakan siap meluap dan menatap lekat laki-laki tanpa ekspresi di depannya itu.


" Simpan uang anda! Saya sama sekali tidak butuh! Apa yang akan saya lakukan, bukan urusan anda!"

__ADS_1


Tae Sang mengeraskan rahangnya. 'sungguh wanita keras kepala' batinnya.


" Dengar, aku tak bisa menjadi ayah anak itu dan..."


" Dan saya tidak meminta anda untuk menjadi ayahnya. Seperti yang saya katakan, apa yang akan saya lakukan pada janin ini, bukan urusan anda!" Potong Emy tanpa memutus tatapannya pada laki-laki yang telah begitu kejam menyuruhnya membunuh darah dagingnya sendiri.


Tae Sang dengan geram, menatap Emy lalu berbalik dan keluar ruangan Emy. Emy menghela nafas lega setelah melihat Tae Sang pergi.Tapi kemudian ia teringat pembicaraannya dengan Kakek kemarin.


Flashback on


Selesai sarapan, Emy beranjak dari meja makan. Hannah hanya bisa mendesah dengan perubahan Emy. Emy sudah kembali bisa berkomunikasi lancar saja sudah membuatnya bersyukur.


Selama 2 bulan terakhir, dengan bantuan psikiater, sahabat Appa Emy, kondisi Emy membaik. Bersedia makan, menjawab bila mau, mandi dan bahkan berolah raga.


Emy telah berganti baju dan berdandan. Tanpa basa-basi, ia mengambil kunci mobil Hannah


" Aku pakai mobilmu." kata Emy tanpa ekspresi. Hannah mengangguk patuh dan terus memandang Emy hingga mobil miliknya itu tak lagi tampak.


" Maaf, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang penjaga dengan keramahannya.


" Saya dr. Emy Sie. Ingin bertemu Ketua." Jawab Emy datar tanpa senyum.


" Kartu Identitas?" Emy merogoh tas dan memberikan Paspornya.


Penjaga itu memberi kode melalui radio dan tak lama kemudian mempersilahkan Emy masuk.


Setelah memarkirkan mobilnya, dengan anggun wanita bertubuh langsing dengan tinggi 163cm dan sepatu heel setinggi 7 cm, turun dan melangkah masuk mansion mewah bergaya eropa itu.


Pak Man Ho menyambut Emy di pintu masuk. Tak bertemu 2 bulan lebih, membuat Pak Man Ho melihat Emy heran karena perubahannya.


Masih dengan keramahannya, Pak Man Ho mengantar Emy ke ruang keluarga, di mana Kakek Kim sedang adu mulut dengan seseorang.


" Kakek ... aku mohon. Aku sungguh tidak bisa!" Emy mengenali suara itu. Badannya mulai bergetar. Sorot matanya berubah tajam dan sedikit memerah. Emy memejamkan matanya sesaat dan menghembuskan nafasnya perlahan.

__ADS_1


" Pak Man Ho, sebentar." kata Emy lirih.


Pak Man Ho mengangguk patuh dan menunggu Emy yang mengeluarkan sebuah botol seperti obat dan menegaknya, disusul dengan air mineral dari botol kecil yang dibawa Emy.


" Kau anak kurang ajar! aku tidak mau tahu, kau harus datang dan melakukannya! uhuk


..uhuk... " kembali terdengar suara, kali ini suara kakek.


Emy mengangguk pada Pak Man Ho, pertanda ia sudah siap. Dengan tangan terulur ke samping, pak Man Ho mempersilahkan Emy masuk.


" Kakek Kim!" sapa Emy, membuat kedua laki-laki beda generasi itu menoleh ke arahnya.


Mata Tae Sang membulat dan mulutnya sedikit terbuka, sedang kakek tersenyum sumringah dan melebarkan lengannya.


" Emy-a ... sini ... sini ..." sambut kakek Kim. Senyuman tipis tersungging di bibir ranum Emy dan melangkah menyambut pelukan kakek Kim.


"Ayo duduklah, kau kapan kembali?" tanya kakek sesaat setelah melepas pelukannya.


Emy duduk di sofa di sebelah kanan kakek berhadapan dengan Tae Sang yang terus menatapnya, situasi yang sama seperti saat pertama kali mereka berdua bertemu.


" Kakek, bolehkah aku berbicara dengan kakek?" Tanya Emy tanpa memandang laki-laki berwajah datar yang terus menatapnya.


" Ehm ... baiklah. Tae Sang pergilah dulu!" usir kakek lembut. Tae Sang memicingkan matanya melihat Emy, tapi wanita itu bahkan tak meliriknya sedikitpun.


Setelah Tae Sang keluar, Emy melihat kakek. Laki-laki tua yang hangat dan baik, juga yang telah menjadi pasiennya yang baik dan menuruti setiap permintaan Emy.


" Kakek, Kemo kakek sudah tinggal 3 kali lagi. Setelah itu, bisa di ambil tindakan pengangkatan dan juga transplant. Seperti yang Emy sudah katakan dulu. Kakek akan sembuh." kata Emy. Kakek tersenyum dan mengangguk-angguk.


" Iya, Emy sayang. Semua karena kamu, Nak. Nah sekarang kamu mau bicara apa?" Tanya Kakek masih dengan senyumnya.


" Kakek .... aku tahu kakek sayang padaku... Tapi, tolong dengarkan aku..." Kata Emy sambil menatap Kakek. " Kek, aku tahu kalau kakek memintaku menikah dengan Tae Sang, sebenarnya karena kakek tahu kalau aku putri dari Han In Na. Cucu dari mantan kekasih kakek yang kakek tinggalkan karena perjodohan ...." kata Emy lembut. Ia tak mau membuka luka lama kakek. Kakek begitu terkejut karena Emy mengetahui semuanya.


" Kek, apa kakek merasa bersalah pada halmeoni? Kek, halmeoni pasti sudah memaafkan Kake. Kakek jangan lagi merasa bersalah. Dan ... Kakek sudah tahu betapa sakitnya perjodohan. menikah tanpa rasa cinta. Lalu, kenapa Kakek memaksa cucu Kakek menikah denganku? Kek... jangan biarkan sejarah terulang... aku dan Tae Sang, kami tidak saling mencintai, dan kami tidak bisa bersama Kek...." Emy memperhatikan ekspresi kakek yang berubah sendu. Emy memegang tangan Kakek dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


__ADS_2