Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Pernikahan Dr.Lee


__ADS_3

" Baiklah, kalau begitu, bayar aku dengan membawa temanmu yang tidak bisa ikut akademi, tapi ingin belajar, bagaimana?"


" Hah?!" Yoo Joon menatap Emy dan mengeryitkan dahinya, berdiri dan beranjak dari belakang meja Emy, lalu bersandar di dinding.


" Iya, bawa teman-temanmu yang ingin belajar, tapi tak ada uang untuk ke akademi, kesini. Kita belajar bersama mulai besok. bagaimana, setuju?" kata Emy lagi, menepuk bahu Yoo Joon lalu duduk di kursinya.


" Mm ... aku ...  baiklah, aku usahakan ... hehehe ..." jawab Yoo Joon


" Tapi, waktu belajar aku tetapkan jam 4-6 sore, waktu kamu break," kata Emy


" Ok, sekarang kamu pergi dulu akademi, ya ... aku mau kerja dulu. Kita mulai belajar senin depan, ok? daaaa...."


lanjut Emy, lalu kembali berdiri dan mendorong Yoo Joon keluar dari ruangannya, dan dengan senyum menyuruh Yoo Joon pergi.


Emy kembali mengerjakan beberapa tugas yang belum ia selesaikan. Menggambar beberapa design dan juga menyelesaikan makalah.


Hari itu, Emy mengambil lembur. Banyak yang harus ia siapkan. Deringan ponsel tak ia hiraukan, karena terlalu fokus pada layar didepannya.


***


Byun Hyuk dibuat kelabakan lagi dengan emosi sang atasan, yang terlihat tidak baik. Sejak datang ke kantor siang tadi, awan gelap menyelimuti ruangan kantor yang indah dan mewah.


Bahkan setiap divisi di perusahaan tersebut, merasakan gelapnya awan yang dibawa pemimpin tertinggi di kantor itu.


" Hyuk, aku mau kau selidiki nomor telepon yang Emy hubungi pagi tadi. Dan, beri aku laporan lengkapnya!" perintah Tae Sang.


" Ba ... baik, bos. Kapan anda membutuhkannya?" tanya Byun Hyuk gugup.


" Tahun depan! ya, sekarang! hari ini! aku mau kau dapat infonya A S A P ... SECEPATNYA!!!"


Byun Hyuk menunduk lalu pergi. Ia menelepon seseorang yang biasa ia pakai untuk mencari informasi.


" Ada apa lagi dengan Tuan Muda ... heh ..." gumam Byun Hyuk.


***


Kembali ke rumah sakit Emerald, seseorang sedang terbuai asmara. Ia terlihat melamun dan tersenyum. Pertemuan yang awalnya biasa saja, menjadi begitu istimewa.


Ya begitulah, ketika hati telah berlabuh, ia pasti akan memikirkan cara agar citnta itu tak kembali lepas dan terbebas. Itulah yang dirasakan dr.Lee saat ini.


Setelah mengenal wanita yang seprofesi dengannya, dan gara-gara seorang sahabat, kini hatinya tertambat pasti pada wanita cantik manis, yang juga adalah asisten kepercayaan sahabatnya.

__ADS_1


Dulu ia tak mau mengenal yang namanya romantika, tapi gadis yang selalu saja ceria itu, memporak-porandakan dinding yang sudah lama ia bangun.


Walau hanya sebulan, kini ia mantap menuju pelaminanan. Undangan sudah tersebar dan Emy pun dibuat terkejut.


" Ya, ampun. Kalian berdua ya ... rapi sekali kalian menyimpannya, .ckckck..." celetuk Emy ketika dr.Lee menyodorkan undangan saat makan siang bersama di balkon.


" Hehehe ... maaf dokter, ini juga karena Kyong. Tiba-tiba saja dia melamar..." ucap perawat Na tersipu.


" Hahaha ... Emy, kamu tahu aku tak suka namanya pacaran. Aku mau langsung menikah saja. Umurku sudah berapa, masa' harus pacaran? eomma juga sudah minta cucu ..." jawab Lee Kyong enteng dan memakan bento yang kali ini, perawat Na buatkan untuk dirinya dan Emy.


" Uhuk...uhuk..." Perawat Na, memukul lengan dr. Lee yang sudah membuatnya kaget hingga tersedak,  karena saat dr. Lee berkata seperti itu, ia sedang minum.


" Eh ... aduh ... kalau minum pelan-pelan saja, sayang!"


Emy tersenyum bahagia melihat orang yang ia sayang begitu mesra.


" Oke ... lovebird... aku masuk dulu, banyak yang sudah menunggu ... operasi pertama, setelah seminggu off ... hahaha ... byeee..." ucap Emy dan berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang melihatnya menjauh.


***


Seminggu kemudian, setelah menyelesaikan operasinya, Emy berlari menuju ruangannya lewat eskalator, karena lift yang tak kunjung terbuka.


Sampai di dalam kantor, Emy segera berganti baju, ia memakai gaun yang pemberian Hannah, memakai sedikit make up dan menyambar tas pesta yang dari Hannah juga, dan yang sudah ia siapkan tadi pagi.


" Aduh ... maaf, Han ... lama ya menunggu?"


" Ya, betul sekali. Sampai berjamur, chagi..."


" Hehe ... maaf tadi ada operasi mendadak ... ayo ..."


Banyak mata memandang Emy kagum. Maklumlah, di hari biasa Emy selalu menutupi kecantikannya dengan kacamata bingkai hitam, rambut ikal yang selalu diikat ekor kuda, kemeja atau kaos longgar serta sepatu kets dan ransel butut.


Emy melihat sekeliling dan bergidik dengan tatapan yang ditujukan padanya. Sudah lama ia tak melihat tatapan itu, karena penampilan yang ia ubah, saat pertama bekerja di sini.


Emy menarik tangan Hannah dengan setengah berlari, Hannah menahan senyumnya melihat wajah Emy yang sudah memerah dan ditutupi tas tangan, karena banyak yang mengambil gambar.


Mereka berdua segera berangkat dari sana menggunakan mobil kesayangan Hannah.


" Fiuhh ... akhirnya..."


" Hahahhaa .... Emy ... Emy ... hahahaha...." Emy menatap kesal Hannah yang tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


" Ish ... kamu! Bahagia sekali lihat temanmu ini menderita?!" gerutu Emy.


" Yeee ... menderita, kamu hanya difoto, Emy. Apanya yang menderita. Bukannya senang bisa jadi ... VIRALLL ..." ledek Hannah, membuat gestur seakan mengelap kaca, dan mata berbinar.


" Spiral yang iya kepalaku, Han..." ucap Emy  kesal dan mengerucutkan bibirnya


" Hahaha ... hei!... tentu saja senang ... siapa tahu kalau sudah terkenal bisa bertemu si ganteng Lee Min Ho ... hahaha," goda Hannah.


"Lee Min Ho? Siapa itu?"


Hannah menepuk jidatnya karena kepolosan temannya itu, juga karena Emy yang selalu saja kuper atau kurang pergaulan, yang tak pernah hilang.


" Dia ... dia tukang bersih-bersih ... ya, tukang bersih-bersih ... hmm," jawab Ha Na sebal.


" Ooo ... untuk apa harus terkenal dulu, kalau hanya mau bertemu tukang bersih-bersih?"


Hannah memandang aneh Emy, sesaat ia tak habis pikir, benarkah wanita disebelahnya ini berasal dari dunia yang sama dengan dirinya?.


" Whatever (terserahlah) ... Chagi ..."


Hotel World dengan lampu-lampu sorot ke langit, terlihat indah di malam hari. Hotel terbaik dan tertinggi di Seoul, kini menjadi saksi pernikahan sahabat Emy.


" Emy ... kau ikut denganku di meja keluarga!" kata Hannah, sesampainya mereka di parkiran Hotel bintang lima itu.


" Hah? Meja keluarga? Kenapa?" Emy melepas sabuk pengaman yang melekat padanya. Hannah hanya mengangguk, tak berusaha menjelaskan.


" Eh ...jelaskan dulu ..." rengek Emy.


Hannah melihat sekilas pada Emy lalu membuka pintu. Emy mengikuti sahabatnya dan keluar dari mobil.


" Hannah ..."


" Karena dr. Lee Kyong itu kakak sepupuku. Dia cucu dari adik halmeoni." terang Hannah. Mereka berdua masuk dalam lift dan menuju ruang resepsi.


Suasana pesta begitu meriah. Kebanyakan adalah dari kalangan medis dan pengusaha. Maklum keluarga besar dr. Lee adalah dokter dan pengusaha.


Emy berjalan bergandengan dengan Hannah. Banyak mata menatap Emy dengan tatapan kagum,suka, iri, dan benci.


Balutan gaun merah panjang dengan garis dada berbentuk V dan tile bertabur permata yang menutupi bagian dada, serta make up natural dan tatanan rambut lurus dan ikal dibagian bawah yang sederhana, menambah aura kecantikan Emy.


__ADS_1


Bahkan seorang laki-laki yang tengah berada diantara rekan bisnisnya, menatap Emy terkejut dan mengikuti kemana Emy melangkah dengan matanya. Seperti de javu.


__ADS_2