Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Adikku Yang Kuat


__ADS_3

Dr. Lee dan perawat Na saling berpandangan. Mereka ingin bertanya siapa laki laki itu, tapi kelihatannya dia masih sedih melihat kondisi Emy.


" mm... Emy pingsan karena kelelahan aja, jadi jangan khawatir." dr.Lee berusaha menenangkan dua orang yang nampaknya dekat dengan Emy. Tapi ia masih tak bisa mengatakan yang sebenarnya tentang kondisi kesehatan Emy.


flashback on


Emy terbangun dari komanya, Ia terlihat pucat dan lemah. dr Lee dan perawat Na yang melihat keadaan Emy, sungguh merasa tak tega. Dr.Lee menyuruh perawat Na mengambilkan makan Emy. Saat perawat Na telah keluar, dr.Lee mendekat dan menarik kursi penjaga di samping bed Emy.


" bagaimana keadaanmu? apa masih sakit?" tanya dr.Lee lembut.


"mmm... aku tak apa Sunbae. Hanya terbentur, bukan masalah besar, kan?"


" hanya terbentur?! kau tahu, kau hampir aja kehilangan nyawamu!" wajah dr.Lee memerah dan beranjak dari kursi, sambil berkacak pinggang, dr.Lee menatap Emy dan ingin berbicara tapi ditahannya. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


" Sunbae, katakanlah" dr.Lee menyambar botol air mineral di meja disamping ranjang Emy dan menegaknya.


" kau koma 6 hari, dan hasil lab juga CT-mu menyatakan kalau kau... kau..."


" Sunbae, katakanlah..." mata sayu Emy melihat dr.Lee dengan senyum.


" kau... kau... ada tumor di otak..." jawab dr.Lee sembari menahan mulutnya untuk tak mengeluarkan isakannya.


Emy yang sebenarnya sudah mencurigai keadaan tubuhnya beberapa bulan terakhir, àkhirnya mendapat konfirmasi. Bukannya air mata, tapi senyum yang ia perlihatkan.


" Sunbae... aku tak apa apa. Sunbae...." Emy memanggil dan memegang pergelangan tangan dr.Lee lalu menariknya dalam pelukan. Dr.Lee semakin menangis, entah berapa lama ia berada dalam pelukan wanita yang sudah ia anggap adik itu. Ia begitu sedih, karena seseorang yang akhirnya mengisi posisi sang adik, setelah kepergian adik perempuan satu satunya karena leukemia, juga mendapat takdir yang sama. Suatu saat akan kembali pergi darinya.


" Sunbae... oppa... kau bilang kau mau aku jadi adikmu dan memanggilmu oppa, kan? sekarang bolehkah aku memanggil seperti itu?" tanya Emy masih memeluk dr.Lee yang masih terus menangis. dr.Lee mengangguk cepat dan Emy perlahan melepas pelukannya.


" Oppa, kau adalah oppa, bukankah seorang oppa harus menguatkan adiknya bukan sebaliknya?" Emy tersenyum sembari menghapus air mata dr.Lee yang terus saja keluar.

__ADS_1


" iya maafkan aku. Kau memang adikku yang kuat." jawab dr. Lee memaksakan senyumnya.


" oppa, aku akan memanggilmu seperti itu saat diluar jam kerja dan tidak didepan umum. oke?"


" kenapa? apa kau malu punya seorang oppa sepertiku?"


" hahaha...oppa, bukan begitu. Tapi kita harus profesional dan memikirkan perasaan orang lain. oh ya, oppa... boleh aku meminta tolong padamu?" Emy menatap lekat dr.Lee yang masih setia duduk disamping tempat tidurnya.


" apa itu?"


" aku mohon jangan beritahukan keadaanku kepada siapapun. Cukup oppa saja yang tahu. Bagaimanapun keadaanku. Bisakah oppa?" pinta Emy.


" tapi mengapa?"


" oppa, aku tahu keadaanku, aku tak mau menyusahkan siapapun. Aku sayang mereka, aku tak ingin mereka memikirkan aku. Aku juga sudah membuat seseorang tersiksa karena kehadiranku. Aku ingin melihat mereka bahagia, oppa. Aku hanya ingin tenang, sampai saatnya aku pergi. Bisakah oppa berjanji padaku?"


Emy tersenyum dan memegang tangan dr.Lee


" Oppa, yang aku minta, hanya oppa saja yang tahu. bisakah?" Emy tak ingin menjawab pertanyaan dr.Lee. Tak mungkin ia mengatakan bahwa selama ini ayah dan kakaknya tak menyukai kehadirannya dan bahwa eommanya juga membencinya, kalau bukan karena Alzheimer, pasti eomma yang dulu mencintainya itu sudah mengusirnya dari sanatorium, saat ia berkunjung. Bahkan laki laki yang kini menjadi suaminya diatas kertas, tersiksa karena kehadirannya hingga kebencian timbul dalam hati laki laki itu.


" Baiklah! apapun yang kau minta." jawab dr Lee dan kembali memeluk Emy.


" Terima kasih, oppa ku sayang. Aku sayang oppa Lee....hehehe" jawab Emy dalam pelukan erat dr.Lee.


" Aku juga menyayangimu, dongsaeng!"


flashback off


" katakan padaku, kenapa dia pingsan?" tanya laki laki itu dalam bahasa inggris dan korea yang berantakan.

__ADS_1


" Dia harus mengoperasi seorang pasien selama 32 jam tanpa jeda, padahal sebelumnya ia baru selesai mengoperasi pasien selama 4 jam." jawab dr.Lee jujur, karena ia melihat raut menyeramkan laki laki itu, ia yakin akan bertambah runyam, jika ia berbohong. ya... walaupun ia sudah berbohong soal kesehatan Emy tadi, tapi setidaknya jika ia mengatakan penyebab Emy pingsan, maka laki laki itu dapat membujuk adik keras kepalanya itu untuk tak terlalu lelah. Karena jelas, laki laki itu seperti seorang tetua.


" Apa?! Apa kalian tidak punya dokter bedah lain, sampai memforsir dia seperti itu?!" bentaknya pada dr.Lee dan berhasil membuat dr.Lee geram. Ia tak begitu fasih bahasa inggris, tapi ia mengerti apa yang laki laki itu ucapkan.


" Tuan! karena itu adalah tugas kami! Emy memang terlalu forsir, tapi kami tidak punya pilihan!" Sergah dr.Lee tak mau kalah, ia meninggikan suaranya. Ia kesal karena seakan ia yang membuat Emy memforsir tenaganya.


Laki laki itu memandang tajam dr.Lee seakan hendak menerkamnya. Tangannya yang besar mulai terkepal dan rahangnya sudah mengeras. Hannah yang melihat itu, meraih tangan laki laki itu dan mengelus punggungnya.


" Cukup, jangan saling menyalahkan. Sebaiknya kau pulang dulu, oppa. Aku akan menjaga Emy dengan Evan. Ae Rim unni, kelihatan lelah. kalian pulang aja dulu, ya?" bujuk Hannah. dr.Lee mengangguk dan menggandeng tangan perawat Na.


" aku pulang dulu. ada apa apa segera hubungi aku. Kapanpun itu. oke?" pamit dr.Lee pada Hannah tak menghiraukan Evan yang tengah duduk dan memegang tangan Emy. dr.Lee dan perawat Na pun pergi dan Hannah menutup pintu ruang rawat Emy.


" Evan, itu tadi sepupuku. dia sama sepertimu, khawatir tentang Emy. Ia sudah menganggap Emy seperti adiknya. Jangan bersikap seperti itu lagi, ya? aku mohon." ucapan Hannah tak dihiraukan Evan yang kini mengusap lembut wajah pucat anak babtisnya itu.


Hannah yang kesal karena merasa di abaikan, akhirnya memilih membersihkan diri lalu berbaring di sofa, tak menunggu lama, ia sudah tertidur. Evan tetap pada posisinya, namun karena mengantuk ia tertudur juga di samping tempat tidur rawat Emy.


Ceklek...


Tap...tap...tap...


***


**hai...readers! makasih sudah mampir ke novelku. tolong dukung terus ya say...


LIKE, KOMEN, dan klik ♥️ ya....


Jangan lupa jaga terus daya tahan tubuh, jaga kebersihan, dan tetap dirumah, supaya terhindar dari COVID-19.


Buat Tim Medis dan keluarga, doa kami menyertaimu. Tetap kuat dan tetap sehat! Amiiinnn**...

__ADS_1


__ADS_2