
pintu kamar Emy didobrak. Sepasang mata dengan pandangan tajam dan deraian air mata, mendekati Rae Won yang terduduk disamping Emy menelan liurnya.
"Yu...Yu Ri-a...i..ini...ti..tidak seperti yang kau lihat. di...dia menggodaku, iya...dia menggodaku Yu Ri-a..." Rae Won bangkit dan mendekati Yu Ri.
Plakk...
" kau pikir aku bodoh? hah?! wajahnya penuh bekas tamparan dan air mata. apa itu yang kau namakan menggoda??!!" Yu Ri berteriak histeris, ia tak menyangka suaminya begitu jahat dan bejat.
" Yu..yuri-a dengarkan aku..." Tangan Rae Won ditepis saat ia berusaha memegang tangan Yu Ri.
" jangan kau pegang aku dengan tangan kotormu! kau sungguh manusia sampah! brengsek! anak kecilpun mau kau makan! kau brengsekkk!"
" YA! Aku memang brengsek! tapi aku suamimu! kau sudah 3 bulan tidak memenuhi kebutuhanku, istri macam apa kau? hah?!" amarah Rae Won kembali tersulut.
" Kau brengsek! kau tahu kenapa aku tak bisa, aku hamil anakmuuu!!!"
Rae Won memakai celana boxer dan celana rumahnya lalu pergi dari kamar Emy dengan marah dan membanting apa yang dilihatnya.
Brakk...
Pyarr...
Glodakk...
Yu Ri perlahan mendekati Emy yang masih tak sadarkan diri. memeriksa wajah Emy dan mengambil pakaian Emy lalu memakaikannya. ia menangis tersedu mengingat perbuatan suaminya yang begitu bejat. Yu Ri menelepon polisi, ia melepas ponselnya begitu saja dan kembali menangis tersedu sedu. Ia tak menyangka suaminya yang dulu begitu baik dan lembut berubah menjadi seperti kesetanan. Yu Ri mengelus perut buncitnya dan terus menangis
__ADS_1
Polisi datang dan langsung masuk rumah Yu Ri karena pintunya yang terbuka.
" permisi...apa ada orang didalam?" teriak seorang polisi, namun Yu Ri masih saja menangis.
tok tok..
" Nona...nona, apa kau tak apa apa?" Yu Ri mengangkat wajah sembabnya dan melihat kearah polisi yang mendekati dengan waspada dan sesekali melihat kearah Emy yang wajahnya berantakan.
" Nona...apa kau yang menelepon kami?" Yu Ri hanya mengangguk. ia menunjuk kearah Emy.
" tolong bawa...keponakanku itu ke Rumah Sakit. dia...dia baru saja...hiks..hiks..." Yu Ri tak dapat melanjutkan perkataannya. Polisi itu menghampiri Emy dan meminta rekannya diseberang memanggil ambulance lewat radionya.
" Nona, apa kau bisa menceritakan pada kami, apa yang terjadi dengan nona kecil ini?" tanya seorang polisi lagi seraya berjongkok didepan Yu Ri.
Yu Ri melihat polisi bertubuh tambun itu dan mengangguk pelan.
" Brian, kita harus bawa juga dia ke rumah sakit.." temannya mengangguk dan melihat Yu Ri dengan mata sendu lalu berjalan keluar menunggu ambulance. 10 menit kemudian ambulance datang dan membawa Emy. Yu Ri juga ikut namun masuk dalam mobil polisi.
hasil pemeriksaan Emy, Emy mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, namun sepertinya sang pemerkosa gagal menyetubuhinya. Kepolisian bertindak cepat dan menahan Han Rae Won. Yu Ri dan Emy dirawat di Rumah Sakit.
Keanan dan Evan yang mendengar apa yang Emy alami, segera datang ke rumah sakit. Keanan meninggalkan kelasnya, Evan meninggalkan rapatnya dengan dewan kota. sampai di pintu ruangan Emy, Evan langsung masuk dan mendekati Emy yang masih tak sadarkan diri.
" Emy...Emy, nak...kenapa kau jadi seperti ini? nak...hiks hiks...ini pamanmu...paman Evan." Evan menangis dan mencium tangan Emy.
tak lama Keanan juga berlari masuk tanpa mengetok pintu. ia melihat seorang pria menangis di sisi Emy.
__ADS_1
" siapa kau?" tanya Keanan ketus. Evan masih tak menghiraukan Keanan.
" aku tanya, kau siapa!!!" karna tak ada jawaban, Keanan menyentak Evan dan menarik paksa tangan Emy, agar tak digenggam Evan.
" dan kau siapa? kenapa kau ada di kamar ponakanku? hah??" Evan dengan geram berdiri dan memelototi Keanan.
" paman? apa kau paman Evan?" selidik Keanan. ia menjelajah tubuh Evan. postur yang sama tinggi dengannya, tapi Evan memiliki otot lengan dan dada yang besar. Keanan menelan liurnya paksa.
" iya, aku Evan. dan kau siapa? apa kau yang telah berani menyentuh anak babtisku ini, hah?!" Keanan mendelik dan mengangkat kedua tangannya menyerah sambil menggeleng.
" bukan, bukan paman. aku dengar dia sudah ditangkap. dan dia adalah Han Rae Won, ponakan eomma." jawab Keanan dengan takut.
" aku akan membuat dia membayar perbuatannya!" geram Evan. Evan kembali duduk dan melihat Emy dengan mata sendu. membelai rambut Emy lalu melihat wajah cantik yang kini berubah menjadi menyedihkan.
" sayang, paman akan membuat orang yang sudah menyakitimu menyesal. sekarang bangunlah nak, buka matamu...Emy..." air mata terus membanjiri kedua pipi Evan. ia laki laki dewasa dengan otot yang membuat orang bergidik takut, tapi ia tak malu menitikkan air mata didepan Keanan dan Emy. hatinya terasa perih, karna orang yang ia sangat sayangi seperti anaknya sendiri terbaring lemah tak sadarkan diri karena perbuatan orang bejat. ia marasa gagal melindungi. perasaan bersalah menghantuinya.
" Emy...maafkan paman, maafkan paman tak bisa melindungimu saat kau membutuhkan paman...hiks..hiks..." Keanan terenyuh mendengar perkataan Evan, ia memberanikan diri mendekati Evan dan menepuk bahunya.
" paman, Emy selalu bercerita kalau dia punya paman yang baik dan hebat. paman, jangan salahkan diri sendiri, semua yang terjadi bukan salah paman." hibur Keanan
" hiks...hiks..." Evan terus tersedu dan menggenggam tangan Emy. ia melihat Emy dan mencium kening Emy lembut. digosoknya tangan kecil Emy yang dingin ke pipinya. Keanan juga menangis lalu duduk di sisi lain bed Emy dan memegang tangan Emy. kedua laki laki itu menjaga Emy hingga Emy diijinkan pulang 4 hari kemudian. Evan membawa Emy untuk tinggal di rumah singgah dan Keanan tetap di asrama. sedangkan Yu Ri, ia menjual rumah kecilnya lalu pergi meninggalkan Massachussets. Emy tak lagi mendengar kabar Yu Ri setelah kejadian itu. sementara Rae Won, ia harus mendekam dipenjara selama 5 tahun.
Hari, bulan dan tahun berlalu, Emy yang telah berhasil menjalani masa residensinya dan meraih gelas spesialisasinya, memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Oxford.
sebelum ia terbang ke negara Ratu Elisabeth itu, ia menyempatkan diri untuk pergi ke China, atas undangan salah satu temannya yang menjadi kepala rumah sakit swasta di China.
__ADS_1
Rumah sakit tempat temannya itu bekerja, bukanlah di kota besar, tapi di sebuah kota kecil. Emy menikmati hari harinya disini. ia bahkan membantu sementara di rumah sakit itu. teman Emy, dr. Xue Mei Xiang, tak dapat menemani Emy saat weekend datang karena harus ke Shanghai atas panggilan mendadak kakeknya. Emy terpaksa harus tinggal sendiri di apartemen Mei Xiang.