
Tae Sang yang asyik memperhatikan anak anaknya berlari seperti anak ayam, terkejut, karena tiba-tiba saja Mikha terjatuh dan menangis. Tapi belum sempat ia menolong, seorang wanita yang entah dari mana datangnya, sudah menolong Mikha dan menggendongnya. Micko yang juga kaget ketika mendengar kakaknya menjerit, memelototkan matanya, melihat wajah wanita yang menggendong Mikha.
"Mommyyyyyy!"
Langkah cepat Tae Sang terhenti seketika. Ia melihat Micko berlari dan berteriak memanggil wanita yang membelakanginya sambil menenangkan Mikha yang menangis. Hanya tinggal beberapa meter saja, tapi kakinya susah untuk digerakkan.
" Emy? Benarkah dia Emy, istriku?" Mata Tae Sang terus menatap punggung wanita itu.
" Mommyyyy!" teriak Micko lagi. Wanita itu berjongkok dan memeluk Micko. Wajah sumringah terpatri jelas di wajah bocah 4 tahun itu.
Wanita itu melepas pelukannya dan entahlah berbicara apa pada keduanya, karena wajah sumrigah itu berubah sedih dan menundukkan kepalanya. Tae Sang berjalan mendekati mereka perlahan.
" Daddy!" Panggil Micko sambil menahan tangis. Tae Sang memeluk Micko yang mendekap kakinya. Wanita itu berbalik.
Deg
" Em-Emy?... Emy... benarkah itu kau, sayang? Emy..Emy..." Tae Sang segera melepas pelukannya pada Micko lalu berlari, dan memeluk wanita itu. Tangisannya pecah dan tersedu layaknya anak kecil.
" Maaf, maafkan aku, Emy. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi. Jangan tinggalkan kami lagi, sayang...huhuhu..." Tae Sang terus menempatkan dagunya di ceruk leher wanita itu dan menghirup aroma tubuh yang selalu ia rindu.
Wanita itu mengeryitkan dahinya dan berusaha melepaskan pelukan Tae Sang, tapi semakin ia berontak, semakin pelukan itu menjadi erat. Akhirnya, wanita itu pasrah dan membiarkan Tae Sang memeluknya.
Beberapa saat kemudian, Tae Sang melepaskan pelukannya dan langsung mencium lembut seluruh wajah cantik itu. Mata wanita itu membulat sempurna dan mendorong tubuh Tae Sang sekuat tenaga hingga tubuh laki-laki jangkung itu terhuyung dan jatuh.
" Daddy! " pekik si kembar. Mereka berusaha membantu Daddynya berdiri, dengan tangan-tangan mereka yang mungil. Wanita itu membersihkan wajah dan lehernya dengan lengan jaketnya, ia merasa kikuk dengan perlakuan orang asing di depannya itu.
" Maaf, Tuan. Tapi anda sudah melewati batas. Saya Eva, bukan Emy. Maaf... saya permisi." Eva segera memutar tubuhnya dan hendak melangkah tapi lengannya di pegang erat oleh sebuah tangan besar dengan otot-otot yang terlihat menonjol. Dan ujung jaketnya juga ditarik oleh dua bocah menggemaskan.
__ADS_1
" Fiuhh... maaf, tapi anda salah orang. Saya Ivanna Eva Greninger dan bukan Emy." Tandas Eva. Si kembar menatap Daddynya yang belum melepaskan lengan Eva.
Merasa tak mendapat respon dan sulit sekali ia melepas lengannya. Eva akhirnya berjongkok yang membuat Tae Sang melepas pegangannya. Eva menatap Micko dan Mikha, " Nak, nama tante, Eva, jadi panggil saja tante Eva, ya? Apa kalian sedang berlibur di sini?" Tanya Eva lembut. Mikha dan Micko saling berpandangan lalu mengangguk.
" Tante, Micko cama Mikha memang libulan, tapi juga mau cali Mommy. Micko cama kaka Mikha lindu di peluk Mommy. dali dulu Micko cama Mikha gak pelnah liat Mommy...Huhuhuaaaaa...." jawaban dan tangisan Micko, membuat Eva terenyuh.
' Ya, Tuhan... kasian. Masih kecil sudah gak punya ibu.' batin Eva.
"Ehm... ya sudah, Micko sama Mikha boleh panggil tante, Mommy. Tapi jangan nangis lagi, ya?" ucap Eva dengan senyum yang menawan, sama seperti Emy dalam ingatan Tae Sang.
" Holeeee... Tante, Micko cama Mikha gak nakal kok, benel deh... Micko juga janji gak angis agi... ya, Mikha hyung, ya..( Horeee... Tante, Micko sama Mikha gak nakal kok, bener deh. Micko juga janji gak nangis lagi)" kata Micko dan diangguki Mikha cepat. Tae Sang tersenyum melihat interaksi ketiganya.
' Aku yakin, kamu adalah Emy. Aku bakal cari tahu.' gumam Tae Sang dalam hati. Lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya.
" Iya, Mommy percaya. Nah, sekarang Mommy pergi dulu, ya? Mommy masih harus kerja..." pamit Eva.
" Micko juga!"
Eva melihat Tae Sang meminta bantuan. Tapi hanya senyuman dan tatapan hangat dan seperti siratan kerinduan, yang Eva lihat di mata lelaki dewasa yang begitu tampan.
" Ehm... bagaimana kalo nanti Mommy pulang kerja, kita main. Tapi Micko sama Mikha di sini dulu sama Daddy , gimana?" bujuk Eva.
" Gak mau!" protes keduanya serempak. 'Bener-bener kembar' gumam Eva dalam hatinya.
" Ehm... Tuan..." Eva melihat Tae Sang dan mengangkat alisnya.
" Tae Sang, namaku Kim Tae Sang. Panggil saya Tae Sang."
__ADS_1
" Saya harus ke klinik, Tae Sang. Saya tidak mungkin membawa mereka berdua, jadi..."
" Ah... Kau juga dokter? Baiklah, aku akan ikut denganmu ke klinik. Jadi, kau bisa bekerja dan anak-anak juga bisa melihatmu. Mereka sangat senang berjumpa denganmu." Potong Tae Sang.
" Iya..iya, Mommy, nanti Mikha cama Micko dicaga Daddy. Mommy kelja celecai telus main, ya? ( Iya.. iya, Mommy, nanti Mikha sa Micko dijaga Daddy. Mommy kerja selesai terus main, ya?)" ujar Mikha dengan mata berbinar. Mikha yang biasanya pendiam kini begitu semangat untuk berkata-kata.
Eva tersenyum tapi matanya menatap tajam Tae Sang. Tae Sang menunduk dan tersenyum geli, melihat lucunya ekspresi Eva.
Akhirnya dengan terpaksa, Eva bekerja di bawah tatapan tiga manusia, yang terus memandanginya intens. Sesekali ia harus berpura-pura menegak minuman dalam botol yang ia bawa dari rumah.
ruang IGD yang sepi, membuat ketiga laki laki tampan itu bebas untuk duduk dikursi di ruang IGD yang berhadapan dengan meja Eva.
" Ehm... Clara, bisa tolong kau buatkan kopi untuk Tuan di sana, dan camilan juga jus untuk kedua bocah kembar itu?" Pinta Eva.
" Tentu saja, Sebentar ya." Setelah Clara beranjak, Eva memberanikan diri mendekat dan berjongkok di depan si kembar yang tersenyum menampakkan jajaran gigi susu mereka.
" Sayang, bagaimana kalo kalian jalan jalan dulu. Di depan sana ada taman bermain lho..." Bujuk Eva. Tapi, ya... Eva harus menelan kekecewaan karena kedua bocah tampan itu tak mau meninggalkannya. Eva menyerah dan melanjutkan pekerjaan dengan sangat terpaksa dan tak fokus.
" Oh, Tuhaan... Aku bisa gila kalo mereka lihat aku terus kayak gini." gumamnya, Clara yang sudah kembali setelah mengambil dan memberikan kopi, jus serta camilan, terkekeh mendengar gumaman Eva.
" Dokter, mereka tampan-tampan. Kalo saja aku punya sedikit saja kecantikan dokter, sudah kuajak papanya ke gereja dan memaksanya menikahiku." celetuk Clara.
Uhuk..uhuk...
Ketiga manusia tampan langsung mendekati Eva, dan berupaya membantu Eva yang tersedak salivanya sendiri. Mikha menepuk-nepuk punggung Eva, dan Micko membantu mengambil tissue. Sementara Clara, matanya menatap lekat pria bermata coklat dengan lengan yang kekar, terbalut jaket yang pas di tubuhnya, yang sedang membantu Eva minum.
' Ya, ampun. Pasti di sana ada perut yang datar berkotak kotak dan lengan berotot... haduh...' batin Clara, hingga tanpa sadar mulutnya sudah menganga. Tae Sang mendapat tatapan itu, merasa risih dan menarik tissue lalu melemparkannya tepat di wajah Clara.
__ADS_1
" Eva, sayang!"