
Mahendra menatap langit yang menggelap. Ia sungguh tak menyangka, Emy mengalami kejadian mengerikan sejak ia masih kanak kanak. Hannah menghampiri kakak tirinya itu, menepuk pundaknya dan menghela nafas kasar. Hannah dan Mahendra duduk dibangku taman halaman belakang rumahnya. Karena Mahendra sepertinya serius dengan Emy, karenanya Hannah bersedia menceritakan kisah Emy pada kakak ketemu gedenya itu.
" Oppa, kalau Oppa benar benar serius sama Emy, tolong bahagiain dia ya..." pinta Hannah tulus.
" Iya, aku pasti akan berusaha membahagiakan dia..." jawab Mahendra dan memeluk pundak Ha Na lembut.
" Hannah, lalu Marie dan Mike? bagaimana Emy mengenal kedua orang brengsek itu?" lanjut Mahendra.
Hannah mendengus kesal mendengar nama Marie dan Mike. keraguan tampak terpancar dari matanya. ia tak tahu apakah sudah benar ia menceritakan semuanya pada Mahendra.
"Hmm...aku hanya...tahu sedikit tentang itu. yang aku tahu Mike dan Marie menolong Emy saat Emy dikejar oleh orang orang yang menculiknya." Hannah menitikkan air mata jika kembali mengingat peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa Emy. Mahendra memeluk adik tirinya itu, mengecup lembut puncak kepalanya dan menggosok lengan Hannah
" Tenanglah, jangan menangis lagi...hmm...kalau kau tak bisa cerita sekarang, tidak apa-apa. Nanti aja kalau kamu mau, ya?" hibur Mahendra. Hannah sedikit menaikan ujung bibirnya mendengar Mahendra. ia beruntung memiliki kakak seperti Mahendra, walaupun tak sedarah tapi Mahendra selalu menyayangi dan melindunginya seperti adik kandung.
" Aku tidak apa-apa, oppa. aku harap dengan begini, oppa akan lebih mengerti tindakan Emy. aku tahu bagaimana Emy. ia tak akan menghukum Marie dan Mike walaupun mereka sudah begitu jahat menipu Emy. Emy ke Boston cuma untuk menjernihkan nama L'amour, bukan menghancurkan de Ma Vie (perusahaan milik Marie dan Mike yang dibangun keduanya diam diam dengan uang L'amour)"
" Tapi, kalau mereka tidak dihukum, mereka bisa begitu lagi Hannah..." Mahendra menautkan alisnya memprotes apa yang Emy akan lakukan.
Dengan kasar Ha Na menghembuskan nafasnya. Ha Na melirik sekilas kakaknya itu dan berdiri menatap langit tak berbintang.
__ADS_1
" Saat Emy kembali ke Amerika setelah mendapat gelar MD, Emy bekerja lagi di RS Harvard University. L'amour juga sudah berdiri dengan baik dibawah pengawasan Keanan dan Emy hanya memberikan design baju dan gaun." Hannah memulai kembali menceritakan masa lalu Emy.
Suatu saat Emy harus menangani seorang perempuan yang harus cangkok jantung. perempuan itu punya seorang kakak laki laki yang juga dokter spesialis di RS itu. Emy berhasil mengoperasi perempuan itu, namun saat Emy sedang makan, ia mendapat panggilan code blue (panggilan darurat karena seseorang dalam keadaan kritis). ketika Emy sampai diruangan pasiennya, pasien itu sudah meninggal.
Sehari sesudahnya Emy dipanggil ke ruangan direktur dan...dan dia terkejut melihat hasil otopsi. disana tertulis, penyebab kematian adalah overdosis. Polisi juga menahan Emy. Semua memandang Emy dengan sinis. tak ada yang membelanya. Emy meminta tolong pihak RS untuk tak memberitahu dr. Sie dan dr. Han dan langsung disetujui, karena direktur RS tahu kondisi kesehatan dr. Han.
3 hari sudah Emy mendekam di penjara dan di interogasi selama itu, hanya Evan dan Keanan yang datang. Keanan menelepon Luther dan akhirnya Luther yang menjadi pembela Emy. Semua bukti mengarah pada Emy. Luther sudah memeriksa CCTV RS dan ternyata saat kejadian, CCTV sedang tak berfungsi. Evan dengam teman temannya di rumah singgah, berusaha mencari bukti dengan banyak cara.
Selama sebulan tak ada hasil, bahkan saat sidang pertama kali, Luther terpaksa hanya mengulur waktu dan meminta bukti yang dikatakan menunjuk pada Emy. Emy akhirnya menyerah. Tapi Luther, Evan dan Keanan terus berusaha, karena mereka tahu, Emy tak akan pernah salah memberi obat, apalagi melebihi dosis.
Setelah 2 bulan Emy dipenjara, tepatnya sehari sebelum sidang putusan final, Keanan mendapat titik terang ketika ia membuka situs hacker. Disana ada permintaan seseorang untuk merecoki CCTV RS Harvard di tanggal dan bulan yang sama, pasien cangkok jantung Emy itu, meninggal.
" Got it!" seru Keanan. Evan dan Luther bergegas mendekati Keanan dan melihat monitor besar didepannya. Mata Evan memerah dan tangannya mengepal. Giginya mengertak demikian halnya dengan Keanan dan Luther. Mereka sungguh tak menduga dengan hasil yang mereka dapat.
Keanan segera mencetak hasil temuannya dan memberikannya pada Luther. Mereka bertiga bersiap dan menghadiri sidang. Emy sudah tak lagi menangis, tapi badannya terlihat kurus dan tak bersemangat. Keanan dan Evan menyemangati Emy dari kursi audiens dan ditanggapi dengan senyuman lemah Emy. Sedang Luther, dia memegang tangan Emy.
" Emy, percayalah ... kamu tidak bersalah!" Luther memandang mata Emy lurus dan hanya senyuman lemah itu lagi yang ia dapat.
Aku tak bisa datang dan menyemangatinya, yang aku bisa lakukan hanya menelepon karena saat itu, aku juga di rumah sakit karena kecelakaan.
__ADS_1
Luther menyatakan tak bersalah pada hakim, dan meminta ijin memberikan bukti yang baru ia dapat. Jaksa tampak tak senang dan marah tak mau menerima, dengan alasan ia belum mendapat kabar dari pihak tergugat sebelumnya.
Tapi, bukan Luther namanya kalau ia tak bisa berdebat dan akhirnya bukti itu diterima Hakim dan tim Juri (di Amerika putusan diberikan oleh Juri yang terdiri masyarakat awam dengan berbeda latar belakang)
Dalam bukti tersebut, tampak seseorang meminta untuk merecoki CCTV RS di lorong ICU, tepat di tanggal dan bulan yang sama pasien itu meninggal.
Lalu, akun berinisial HealerX juga merinci permintaannya, untuk merecoki CCTV di pintu masuk dan parkir. Dan akun hacker "Warrior98" juga membenarkan tentang transaksi itu.
Dari Warrior98, akhirnya dapat ditelusuri pemilik akun HealerX dan rekening yang digunakan untuk membayar Warrior98. Dan rekening itu ternyata atas nama dari kakak si pasien sendiri yaitu dr. Sebastian Rodriguez.
Emy begitu terkejut dengan bukti itu. Reflek Emy melihat dr. Sebastian yang ada di kursi penggugat. Jaksa melihat dr. Sebastian dengan kesal bercampur kemarahan.
Dokter Sebastian menatap tajam Emy dengan mata merah penuh kemarahan. Akhirnya, atas perintah hakim, dr. Sebastian ditangkap dan para juri memutuskan Emy tak bersalah.
Sebelum dr.Sebastian dibawa masuk ke tahanan, Evan menghadiahinya 2 buah tonjokan yang cukup kuat, untunglah aksi itu terjadi setelah hakim keluar ruangan, jadi Evan tak ditahan.
ahh...sekian dulu ya...update beruntunnya ato kerennya mass release-nya...😁
LIKE, KOMEN dan klik ♥️ya say....
__ADS_1