
Sepasang kakak beradik itu tinggal dibawah jembatan. Mereka sedang mencari makan di tempat sampah dibelakang restoran, ketika mendengar teriakan ibu dan ayah angkat Emy. Dengan cepat mereka berlari dan mengejar perampok itu. Mereka berdua berkelahi dengan kemampuan mereka seadanya. Beruntung keduanya berhasil mengambil kembali tas milik ibu Emy. Kedua orang tua Emy berterima kasih pada mereka.
Orang tua angkat Emy mengajak keduanya makan disebuah rumah makan, walaupun semua memandang dengan sinis kearah keduanya, tapi orang tua angkat Emy dan juga Emy tak ambil pusing dan memperlakukan keduanya dengan hangat. Dari pembicaraan dengan keduanya, orang tua angkat Emy mengetahui jika kedua anak laki laki itu, lari dari orang tua angkatnya yang begitu kejam, menjadikan mereka sebagai penjual narkoba di sekolah.
Karena mereka sudah lelah dengan amukan dan pukulan yang mereka terima dari sang ayah angkat, keduanya akhirnya memutuskan melarikan diri dan datang ke kota ini. mereka tak memiliki tempat tinggal, dan tidur hanya beralaskan koran di trotoar atau dibawah jembatan. karena tak memiliki uang, mereka mengisi perut dengan mengais di tong sampah, di belakang restoran atau rumah makan. mereka sebenarnya ingin bekerja, tapi tak ada satupun yang menerima mereka.
" nak, kau boleh tinggal dengan kami. kami hanya memiliki 1 anak. ini anak kami, Emy." dr.Sie memperkenalkan Emy dengan senyuman dan Emy pun dengan senangnya mengangguk angguk dan melambaikan tangannya, tak lupa senyuman manis dan imutnya. kedua kakak beradik itu tercengang mendengar penawaran dr.Sie
" iya nak, kalian tinggallah di apartemen kami. memang tempat kami tidak besar, tapi kami masih punya 1 kamar kosong." timpal dr.Han dengan senyuman. kedua kakak beradik saling pandang dan tersenyum canggung.
" mm..Tuan, Nyonya, apa...tak apa kami tinggal dengan kalian? kami gak punya uang untuk bayar sewa.." ucap sang kakak, yang bernama Luther itu dengan sedih dan menundukkan kepala. sang adik, Keanan, mengangguk membenarkan.
" hahaha...nak, kami juga tidak menyewakan kamar. kami mau kalian tinggal bersama kami dan menjadi keluarga kami. bagaimana? Emy tak punya kakak dan teman disini. sedangkan kami, sangat sibuk di rumah sakit. jadi, tak ada yang bisa menemani anak kesayanganku ini." kata dr.Sie seraya mengangkat tubuh kecil Emy kepangkuannya dan membelai lembut kepala Emy. tatapan mata penuh kasih sayang terpancar di mata dr.Sie dan dr.Han untuk Emy.
" hmm...baiklah, kalau memang kalian sungguh bersedia menerima kami. terima kasih banyak Tuan, Nyonya, Nona kecil." sahut Luther dengan senyuman lebar dan mata berkaca kaca, demikian halnya dengan Keanan.
" iya nak, tapi...kalian jangan panggil aku Tuan, dan istriku Nyonya ya...panggil aku appa dan ini eomma, karena kami orang Korea,..dan ini Emy." dr.Sie menatap keduanya dengan senyuman yang membuat matanya menjadi hanya segaris.
__ADS_1
" iya appa...terima kasih banyak." sahut Keanan dan menghapus air matanya.
" waahh...appa, apa aku sekarang punya 2 kakak?" mata Emy begitu bersinar ketika ia mendengar kalau keduanya bersedia tinggal dengan mereka dan memanggil appa dan eomma sama sepertinya pada dr.Sie dan dr.Han
" hahaha...iya sayang, kau senang?" tanya dr.Han sambil mengelus kepala Emy. Emy mengangguk angguk berulang kali dan memperlihatkan lesung pipitnya.
" Luther kalau boleh tahu, umurmu dan Keanan berapa?" dr.Han mencedok Lasagna dan menaruhnya di piring Luther dan Keanan layaknya seorang ibu melayani anak anaknya.
" saya sekarang 21 tahun, dan Keanan 15 tahun Eomma." dengan hati yang begitu bahagia, karna bertemu dengan keluarga yang baik, Luther menjawab pertanyaan dr.Han dengan antusias.
dr.Han dan dr.Sie melihat itu dan mengerutkan dahinya.
" ada apa? apa kalian tak mau sekolah?" dr.Sie bertanya sambil menyuapi Emy.
keduanya menggeleng. " kami...kami tak punya uang dan kami juga banyak ketinggalan pelajaran. " Keanan mengeratkan pegangannya pada garpu dan pisaunya. sebenarnya alasan ia tak mau sekolah, karena ia selalu dibully.
" sayang, jangan pikirkan soal itu ya...yang penting kalian sekolah..hm?" dr.Han memegang tangan kedua kakak beradik itu dengan lembut dan mata yang penuh kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
" hiks..boleh...bolehkah aku memelukmu?" Dr.Han mendelik namun dengan senyuman, lalu melebarkan kedua tangannya, tanda kesediaannya.
" ta..tapi...aku kotor dan bau, nan..." belum selesai Keanan berbicara, dr.Han sudah menggeser tempat duduknya dan memeluk Keanan dan membuat Keanan terkaget lalu memeluk dr.Han dengan erat dan terisak. Dr.Han membelai rambut Keanan yang kotor, namun tak ada rasa jijik yang dr.Han rasakan. Luther pun terisak, ia menghapus air matanya dengan jaket dekilnya, karena sudah beberapa minggu tak mandi dan berganti pakaian. Emy melihat Luther juga menangis, ia turun dari pangkuan sang appa, lalu mendekati Luther, memeluk pinggang kakak angkatnya itu dengan tangan kecilnya.
Luther begitu kaget melihat gadis kecil yang putih bersih dan cantik memeluknya, dr.Sie pun juga tersenyum melihat itu.
" nah...sekarang cepat selesaikan makan malamnya, lalu kita pulang ya...ayoo...makan sampai kenyang ya..eomma tadi gak sempat masak, jadi perut kalian itu diisi disini sampai kenyang.ok?" mendengar itu, Luther dan Keanan melepas pelukan dan mengangguk lalu menyantap makanan di hadapan mereka dengan lahap.
" hahaha...pelan pelan sayang, nanti tersedak...kalau mau tambah kita bisa order lagi...ok?" Luther dan Keanan mengangguk pasti. mereka berlima menikmati makan malam dengan senyuman tak peduli dengan bisikan bisikan tak sedap disekitar mereka.
akhirnya Luther dan Keanan, tinggal bersama di apartemen sewaan keluarga dr. Sie. setelah berbincang, dr.Sie memutuskan keduanya untuk home schooling dan mempersiapkan Luther untuk masuk universitas dan Keanan ke SMA. Keanan sangat menikmati pelajaran matematika dan hobi dengan komputer. Luther ia lebih senang membaca sejarah dan hukum.
3 tahun berlalu, Keanan menjadi seorang yang pintar dalam bidang matematika dan hancker handal walau masih SMA, ia tak pandai bergaul dan cenderung pendiam, tak ada bullying yang dulu ia alami di sekolah yang lama, karena Keanan sekarang berubah menjadi tampan dengan mata yang tajam namun tanpa ekspresi. Luther dengan kepiawaiannya, sekarang sedang magang di sebuah firma hukum di New York, dan mempersiapkan kuliah S2nya di New York.
dr.Sie dan dr.Han memberi kebebasan keduanya untuk memilih universitas. dan Luther, ia tak ingin terus membebani appa dan eomma, jadi tanpa sepengetahuan appa dan eomma, Luther mendaftar magang di firma hukum di New York yang menjanjikan upah yang lumayan besar. awalnya appa dan eomma khawatir ketika Luther memberitahu mereka, kalau ia diterima di New York.
" nak, itu terlalu jauh, bagaimana nanti kamu disana? kenapa tidak cari disekitar sini aja?" kata dr.Han dengan sedih. Luther memeluk ibu angkatnya itu dengan lembut dan mengelus punggung eommanya. Luther melonggarkan pelukannya dan memegang kedua tangan ibu yang sudah merawat dan menerimanya selama 3 tahun ini.
__ADS_1