
Paman Ji hanya menggelengkan kepala melihat kekonyolan asisten pribadi Tuan Mudanya itu.
" Tuan Muda, saya permisi dulu," pamit Paman Ji
" Hmm,"
Setelah Paman Ji pergi, Jung Hyuk memberitahu bahwa tim foto telah datang.
" Suruh mereka tunggu sebentar," perintah Tae Yang
" Baik, Tuan."
Di hotel, Emy telah selesai di make up. Sesuai permintaan Tae Yang, ia memakai gaun tertutup.
" Emy-a ... sudah selesai, belum?!" Teriak Ha Na dari luar kamar ganti.
" Bentar! Masih pasang anting!" Balas Emy berteriak.
" Terima kasih semuanya untuk hari ini," ucap Emy pada tim periasnya.
" Sama-sama, Nona. Kami juga senang sekali merias Anda. Karena, tak usah banyak menggunakan shading dempul apa segala macam. Jadi, kami bisa cepat dan hasilnya ... kami sangat senang," kata Miss Lancy, nama panggung perias itu. Namun, nama aslinya adalah Lance.
" Hahaha ... baiklah. Jangan lupa nanti, ya ..."
" Tentu, Nona Muda," jawab mereka.
Emy keluar dari kamar ganti. Ha Na dan Evan yang sedang duduk menunggu Emy, tercengang melihat penampilan Emy
" Wow!!! Kau ... kau benar Emy, kan?" pertanyaan konyol keluar begitu saja dari bibir Ha Na.
" Wah ... sayang, kau cantik sekali, Nak?" Seru Evan. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia segera memeluk Emy dengan erat
" Nak, akhirnya aku bisa mengantarmu ke Altar," ucap haru Evan.
" Paman, kau tahu, aku sangat bersyukur punya Paman seperti Paman Evan. Aku sangat menyayangimu, Paman!" Kata Emy. Evan mencium pucuk kepala Emy.
" Paman lebih menyayangimu, Nak. Kau juga Anakku. Kau penyelamatku," kata Evan.
" Paman! Aku melakukannya karna memang itu adalah takdir buat Paman. Jadi, jangan lagi berbicara seperti itu," ucap Emy.
" Hei! Aku juga mau peluk Emy!" protes Ha Na sambil mengerucutkan bibirnya.
Evan dan Emy terkekeh dan melepas pelukan mereka. Ha Na pun memeluk Emy dengan erat lalu menangis tersedu.
Emilia melihat mamanya dan Emy menangis, menjadi ikut menangis.
" Hahaha ... lihatlah, kau buat anak babtis dan adikku menangis, Ha Na!"
" Ck ... kamu mau bilang kalau aku sekarang ibu babtismu, gitu?"
__ADS_1
" Bukankah begitu?"
" Ya, baiklah. Resiko menikahi Pamanmu," ucap Ha Na berpura-pura sedih sambil menatap suaminya yang sedang menenangkan Emilia
" Pam ..mmphh"
Ha Na membungkam mulut Emy dengan tangannya dan melotot ke arah Emy
" Jangan bikin aku bertengkar dengan suamiku, Anakku. Kau tahu, kau bisa jadi anak durhaka!" kata Ha Na dengan senyumnya
" Mmmppphhh ...." Emy menggeleng dan mengangguk entah apa maksudnya.
" Ah, kamu bilang apa, aku gak mengerti. Sudahlah, ayo berangkat. Bisa-bisa suamimu membakarku hidup-hidup kalau kau tidak sampai tepat waktu di sana," kata Ha Na dan melepas tangannya dari mulut Emy
" Na, makasih ya. Maaf aku belum bisa kasih kamu ..."
" Kau teruskan atau aku kembali ke Amerika sekarang juga!" Ancam Ha Na dengan mata sipitnya yang melotot
Emy kembali memeluk sahabatnya itu. Hatinya sungguh sedih dan bahagia. Momen yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya
" Kau tahu, Na. Aku ... sebenarnya bukan pernikahan seperti ini yang aku mau. Tapi, mungkin ini jalanku ..." Ungkap Emy
" Maksudmu? Apa ... kau menyesal? Kalau begitu, kita balik ke Boston," kata Ha Na cepat seraya menarik Emy, Evan melihat keduanya tak mengerti
" Dad, kenapa Mom tarik-tarik Emy?" tanya Emilia
" Entahlah, sayang." Evan menggendong Emilia dan menghampiri kedua sahabat itu.
" Bukan. Bukan begitu maksudku. Aku ... aku dulu menginginkan pernikahan bersama Keanan, tapi takdir lebih dulu mengambilnya. Lalu, aku tiba-tiba punya Anak dari sebuah pernikahan yang terpaksa. Sekarang aku ..."
" Terima kasih," lirihnya. Evan dan Ha Na menjawabnya dengan pelukan.
Emy dengan bantuan Evan, turun melalui lift dan masuk ke dalam sedan Bentley Tae Yang yang sudah dihias dengan bunga-bunga di depan dan belakangnya.
Evan hendak menutup pintu Emy, ketika sebuah suara menghentikannya.
"Emy!" panggil seseorang. Emy menoleh, di atas kursi roda, duduk seseorang yang sangat Emy kenal.
" Yu Zhen?" gumamnya. Emy hendak turun menyapa temannya itu
" Jangan turun, biar saja begini. Kalau kau turun, aku ... pasti ... tak akan membiarkanmu pergi.
" Ooohh ... cemburu nih ceritanya? Hmm?" goda Emy
Yu Zhen tersenyum paksa. Hatinya begitu sakit melihat wanita yang ia cintai akan menjadi milik orang lain.
" Selamat, ya," ucap Yu Zhen
" Makasih ... ah ... apa aku sudah cantik, hmn? hmm?" tanya Emy seraya berpose memperlihatkan wajahnya.
__ADS_1
Yu Zhen terkikik dan mengangguk, " Kau selalu cantik, Emy."
" Aww, benarkah? hehehe ... ah, apa kau sudah baikan? bagaimana luka-lukamu?" tanya Emy
" Aku sudah lebih baik, tenanglah. Sekarang, pergilah," kata Yu Zhen
" Baiklah aku pergi dulu, ya. Kalau kau bisa ke pestaku, aku pasti senang. Tapi, yang penting kau sehat. Kalau masih belum baikan dan memaksa datang, aku sungguh akan marah padamu," Kata Emy serius.
" Hehehe ... iya, aku janji. Kalau aku fit nanti, aku akan datang." jawab Yu Zhen.
" Emy-a, pergilah. Jangan kuatir. Aku yang akan menjaganya, nanti aku bergantian dengan perawat Min," kata dr. Lee. Emy mengangguk
" Ehm! Makasih, Sunbae! Jangan telat nanti, ya!" Ucap Emy seraya menutup jendela dan melambai.
Banyak mata memandang kagum akan kecantikan Emy. Evan begitu bangga melihatnya. Ha Na tersenyum sambil menggandeng Emilia, putri pertamanya. s
Sedangkan Sean, bayi bongsor itu terlelap di dalam stroller yang didorong pengasuhnya.
Dalam sebuah ruangan yang remang-remang, seorang laki-laki sedang berdiri dan melihat keluar jendela dengan ponsel di tangannya.
" Dengar! Aku mau kau gunakan informasi itu, dan hancurkan reputasinya,"
" ........ "
" Lakukan dengan baik, maka kau akan mendapatkan yang kau mau. Kalau gagal, ingat satu hal! Perjanjian kita batal dan bersiaplah mendekam di jeruji besi. Hahahaha ...."
Ia menutup kasar ponsel jadulnya, lalu melemparnya ke lantai dan menginjaknya. Ia mengambil simcard di dalam ponsel yang sudah tak lagi berbentuk itu dan membakarnya.
" Tae Yang! Silahkan nikmati kebahagiaanmu yang sementara ini. Aku mau lihat, bagaimana kau akan menghadapi mereka nanti, hahahahah....." Tawa gila itu memenuhi seluruh ruangan.
Tok ... Tok ...
Tawa laki-laki itu seketika berhenti. Ia berbalik dan menatap tajam ke arah pintu
" Siapa?" serunya
" Saya, Paman!"
Lelaki tua itu berjalan dan membuka pintu. Seorang wanita langsung masuk ke dalam dan duduk di sofa.
" Paman, aku sudah siapkan semuanya. Kita tinggal menunggu pertunjukannya nanti. Aku yakin, mereka akan malu," ucap wanita itu seraya menyilangkan kakinya.
" Hmm ... aku harap begitu."
" Paman, apa kau tidak ikut ke sana?"
" Buat apa? Toh, semua sudah tertangani dengan baik," kata laki-laki itu tenang
Wanita itu mengangguk-angguk menanggapinya," Ah, tapi Paman harus tepati janji, ya? Kalau berhasil, aku yang jadi Nyonya Kim, hm?"
__ADS_1
" Hahaha ... kau bisa pegang kata-kataku."
Keduanya tersenyum. Lelaki itu memberikan gelas wine dan ber-tos ria.