
Malam pengantin terpaksa harus terhenti. Deringan ponsel Tae Yang terus berteriak, membatalkan pergulatan bibir mereka.
" Hallo!" Sambut Tae Yang dengan geram
" ........"
" Apa?! Aku ke sana sekarang!"
Tae Yang mematikan ponselnya dan memakai bathrobenya, " Sayang, aku harus pergi dulu, kita lanjutkan nanti, ya? hmm?" kata Tae Yang dan mengecup bibir Emy lalu meninggalkan istrinya untuk berganti baju.
Emy melihat suaminya setengah berlari sambil mengancingkan kemejanya. Ia berhenti sejenak dan mengecup bibir ranum Emy sedikit lama.
" Sayang, aku pergi dulu. Kau tidurlah. Tak usah menungguku," ucapnya setengah berbisik seraya meninggalkan istrinya yang tersenyum tipis di depan pintu kamar mandi.
Emy menyelesaikan mandinya lalu naik ke atas ranjangnya perlahan, agar si kembar tak bangun.
Derap kaki yang melangkah terburu-buru memenuhi lobby rumah sakit pemerintah di Seoul.
" Hyuk! apa yang terjadi?" tanya Tae Yang dengan nafas yang tersengal
" Nona Lucia mencoba mengiris nadinya, Tuan," jawab Jung Hyuk lalu menghela nafasnya.
Tae Yang syok mendengarnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Tangannya mengepal. Pikirannya kalut.
" Tuan Muda, bagaimana dengan Nona Muda? jika dia tahu Anda ke sini maka ..." ucapan Jung Hyuk terhenti ketika melihat tatapan tajam Atasannya.
" Jangan kau katakan apapun padanya. Aku yang akan mengatakan sendiri." kata Tae Yang
Jung Hyuk mengangguk patuh. Tak berapa lama, seorang dokter keluar dari balik pintu kaca.
" Apa Anda keluarga pasien?" tanyanya
" Ah, eh ... i-iya, Dok." jawab Tae Yang. Jung Hyuk terkejut mendengarnya.
' Tuan Muda, jangan Anda sampai Anda melakukan kesalahan lagi,' jerit Jung Hyuk dalam benaknya.
" Pasien sudah tidak apa-apa, lukanya juga tidak begitu parah. Darahnya sudah berhasil dihentikan, tolong jaga agar tidak sampai terjadi lagi, ya?" jelas dokter laki-laki setengah baya itu.
" Baik, terima kasih , Dok!" kata Tae Yang dan bernafas lega.
" Apa saya boleh menjenguknya?"
__ADS_1
" Silahkan!"
Tae Yang segera masuk ke dalam ruang IGD. Di sana, Lucia terbaring dan masih menutup mata. Tae Yang mendekat dan duduk di samping bed IGD.
" Uughh ..." lenguhan Lucia menyadarkan Tae Yang yang sesaat lalu sempat tertidur.
" Oh, kau sudah sadar?" tanya Tae Yang datar.
" Kak, kau ... datang?" senyum sumringah membingkai wajah cantik khas kaukasia itu.
" Hmm ..."
" Kak, kenapa kau dingin sekali padaku?" rajuk Lucia
" Sepertinya kau sudah membaik, sekarang aku pergi dulu. Asistenku yang akan mengurus semua administrasinya. Jadi, jangan khawatir," Tae Yang berdiri dan hendak melangkah. Namun, tangannya berhasil ditahan wanita bertubuh seksi bak gitar Spanyol itu.
" Kak, beginikah cara kakak membalas budiku?" ucap Lucia dengan wajah memelas.
" Lucia, maaf. Maaf karena aku tak bisa menepati janjiku. Aku sudah menikah dan memiliki 2 Anak. Wanita yang kunikahi, adalah ibu kandung kedua putraku dan aku sangat mencintainya." Jelas Tae Yang.
Tangis Lucia pecah. Semua memandang ke arah mereka bertiga. Tae Yang tetap berdiri tanpa ekspresi. Sedang Jung Hyuk sudah mulai berkeringat dingin. Ia takut wartawan mencium berita tentang ini. Belum selesai masalah rumor soal tuduhan Nona Mudanya yang dituduh sebagai pelakor, kini, adalagi masalah.
" Kak, aku bahkan sudah berkata pada orangtuaku, kalau aku akan membawa menantu mereka bertemu. Kak, kenapa kau mengingkari janjimu?" isak Lucia.
" Nona, sebaiknya Anda menyerah. Tuan Muda sangat mencintai istrinya. Dia takkan pernah menjadi milik Anda," saran Jung Hyuk
Lucia mendongak dan menatap Jung Hyuk tajam, " Akan kupastikan, Tae Yang meninggalkan istrinya! Dia akan jatuh cinta padaku!" kata wanita itu dengan lantang dalam bahasa inggris dengan aksen inggris British yang kental.
" Anda akan menyesal tidak mengikuti saran saya, permisi," Jung Hyuk meninggalkan Lucia dengan geram. Ia menjadi yakin, bahwa wanita kaukasia itu akan berbuat nekad.
Tae Yang kembali ke mansion saat waktu menunjuk jam 3 dini hari. Ia segera membersihkan diri lalu berbaring dan memeluk pinggang istrinya menyusul ke alam mimpi.
2 hari berlalu, sikap Tae Yang membuat Emy bertanya-tanya. Laki-laki itu sering keluar setiap kali mendapat telepon. Ia akan kembali ketika malam menjelang.
" Tae Yang-ssi, apa ada masalah di kantor?" tanya Emy saat keluarga kecil itu berkumpul menikmati sarapan.
" Ah ... oh, tidak sayang, tidak apa-apa." kata Tae Yang yang sejak tadi melamun
" Mikha Micko Appa! aku istrimu, katakan padaku kalau ada masalah. Aku akan membantumu, hmm?" kata Emy dengan lembut dan senyum yang begitu menawan.
" Iya, sayang. Terima kasih. Tapi, aku masih bisa mengatasinya kok, jangan kuatir, ya?" ucap Tae Yang menggenggam tangan kecil Emy dan mengecupnya.
__ADS_1
" Oh ya, aku besok ke Boston. Disertasiku di sana,"
" Sayang, kau kan sudah MD, lalu Disertasi untuk apa ini?"
" Hehe ... sebenarnya aku ikut kuliah online melanjutkan studyku dulu saat masih di Boston sama Chicago. Aku juga ingin bisa jadi dokter hewan .."
Glodak
Tubuh Tae Yang oleng seakan ingin jatuh dari kursinya dan tanpa sengaja menyenggol Ipad terbaru miliknya.
" Tae Yang-ssi ..."
" Daddy! Daddy antuk (ngantuk)" tanya Micko
" Daddy atit (sakit)?" tanya Mikha
" Ehm ... Daddy baik-baik saja, sayang," jawab Tae Yang tersenyum canggung. Ia menatap Emy yang melihatnya dengan wajah polos.
Tae Yang menggosok keningnya dan dan menghela nafas.
" Berapa hari?"
" Ehm, mungkin seminggu. Aku berangkat sama Ha Na dan Paman Evan," kata Emy semangat.
" Sayang, kenapa mau jadi dokter hewan segala?" tanya Tae Yang frustasi. Ia tak habis pikit tentang istrinya itu.
" Lho, apa salahnya, kan? waktu aku jadi residen di Harvard University Hospital, aku sering lewat Pet Shop. Aku jadi ingin juga bisa mengobati hewan. Jadi, aku daftar kuliah online dan sekarang tinggal Disertasi dan selesai deh,"
" Haduh ..." Tae Yang melihat Emy tanpa semangat. Sementara Emy hanya nyegir kuda. Sebenarnya, Disertasi kali ini adalah untuk Psikiatri yang ia diam-diam tekuni setelah apa yang ia alami.
Keesokan harinya, Emy dan kedua putranya yang tak mau ditinggal, berangkat menuju Boston bersama Evan dan Ha Na serta kedua anak mereka menggunakan Jet pribadi Tae Yang. Laki-laki itu tak ikut berangkat karena banyak yang harus selesaikan.
1 bulan kemudian
" Jadi, dia adalah Lucia? gadis kecil penjual bunga? gadis yang kau cari selama ini?" tanya Emy menatap tajam suaminya.
Tae Yang mengangguk. Tubuh Emy menegang. Nafasnya terasa sesak. Emy berdiri dan berjalan ke arah balkon. Air matanya menetes.
" Lalu ... apa yang akan kau lakukan?" tanya Emy menahan isakannya.
Tae Yang berjalan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Dikecupnya puncak kepala wanitanya itu lama. Pikirannya terus berputar. Ia menopang dagunya dibatas kepala Emy. Sementara Emy hanya terdiam dan sesekali menghapus air matanya
__ADS_1
" Aku ... ," bulir air mata menetes membasahi puncak kepala Emy.