
Kepanikan semakin membayanginya. Sosok laki-laki cuek, dingin dan berwibawa menghilang dari wajahnya. Emy tersenyum mendengarnya. Ia berjalan mendekati Tae Yang yang masih duduk di sofa kamar.
" Tae Yang-ssi, aku mau sarapan dulu. Kita bicara nanti," ucap Emy tanpa ekspresi.
Tae Yang mengangguk-angguk dan berjalan di belakang Emy seperti anak anjing.
Saat di meja makan, Tae Yang menarik kursi untuk Emy. Ia juga meletakkan piring di depan wanitanya.
" Sayang, mau sama apa? Aku ambilkan," kata Tae Yang tak peduli dengan tatapan bingung, heran, kagum, iri dari para pelayan yang berdiri di sekitar meja makan.
" Aku mau Stamppot," kata Emy. Tae Yang mengangguk dan segera mengambilnya. Ia bahkan menyuruh pelayannya pergi karna dia yang akan melayani calon istrinya.
Stamppot adalah makanan khas Belanda yang berisi olahan kentang ditumbuk dengan sayuran endive atau kubis kale Belanda dan disajikan dengan sosis asap.
Makanan ini memberikan rasa yang menenangkan dan sangat cocok di lidah Emy. Nutrisinya sangat banyak untuk memenuhi asupan gizi orang dewasa dan anak-anak.
" Tae Yang-ssi. Apa kau tidak ke kantor?" Tanya Emy di sela-sela sarapannya.
" Aku hanya mau menemanimu, sayang," jawab Emy. Wanita itu hanya mengangguk dan tak ada lagi yang ia katakan setelah itu.
" Maaf. Permisi, Tuan Muda," salam paman Ji
Tae Yang menoleh, wajahnya berubah tanpa ekspresi saat berhadapan dengan orang lain.
" Hmm, ada apa?"
" Ada tamu yang ingin bertemu Nona Muda," jawab Paman Ji.
" Siapa?"
" Paman, bisa tolong suruh dia masuk? Aku yang suruh dia datang," kata Emy dengan senyum pada paman Ji. Lelaki tua itu tak segera beranjak, ia melihat ke arah Tuannya.
" Suruh dia masuk!" Titah Tae Yang. Emy menipiskan bibirnya.
' Aku beneran gak dianggap di sini..huh..' batin Emy.
" Sayang, sayang kenapa?" Tanya Tae Yang saat mendapati istrinya melamun dan menghela nafas.
__ADS_1
" Gak papa. Ehm, ayo ikut aku ke ruang tamu," Ajak Emy. Tae Yang mengangguk dan mengikuti dari belakang.
Di ruang tamu, seorang laki-laki dan perempuan sudah duduk dengan beberapa map yang ia taruh di meja. Ketika mereka melihat Emy dan Tae Yang, mereka segera berdiri dan membungkuk.
" Tuan Muda, Nona Muda," Sapa mereka bergantian.
Tae Yang mengangguk dan Emy mengangguk serta tersenyum manis, membuat laki-laki yang sejak ia masuk tadi menatapnya, semakin terpesona.
" Ehem..hem.." Deheman Tae Yang menyadarkan laki-laki itu. Ia melihat ke arah Tae Yang dan mendapat tatapan tajam membunuh.
" Eh..eh...Nona...ini..ini saya membawanya. Silahkan dipilih," kata wanita di sebelah laki-laki tadi.
" Hmm, baiklah. Namamu siapa?" Tanya Emy
" Aku rasa gak penting, sayang," celetuk Tae Yang. Emy menyikut Tae Yang tepat di perutnya.
" Auuwww...sakit, sayang." Keluh Tae Yang.
" Diamlah, kita akan sering berurusan dengan mereka. Jadi, kita harus tahu nama mereka," Tukas Emy setengah berbisik. Tae Yang mengangguk patuh.
Emy kembali tersenyum dan menaikkan alisnya. Kedua tamunya terperangah. Tak menyangka melihat kejadian langka di depannya. Dimana, seorang Chairman atau pemimpin tertinggi perusahaan yang terkenal dingin dan cuek serta terkesan menjauhi kaum hawa, terlihat tak berdaya terhadap seorang wanita.
" Nama kalian?" Tanya Emy lagi.
" Oh, ah..nama saya Gu Su Jin, Nona Muda," jawab wanita itu gugup.
" Saya Jeong Min Ki, Nona."
Emy mengangguk. Lalu mengulurkan tangannya meminta map yang mereka bawa. Emy membuka map itu, alis Tae Yang bertaut.
" Tae Yang-ssi, mana yang bagus?" Tanya Emy tanpa melihat lelakinya yang kini terbengong.
Emy memiringkan badannya melihat Tae Yang dan mengangkat alisnya.
" Un-undangan?" Tanya Tae Yang dengan wajah bingung
Emy mengangguk. Ia mengambil beberapa contoh undangan yang menarik perhatiannya lalu bersandar dekat dengan posisi Tae Yang. Jantung laki-laki itu berdegup kencang. Baru kali ini Emy berinisiatif menempel dekat padanya.
" Sayang, undangan untu pernikahan kita bagusnya yang mana menurutmu?" Tanya Emy lagi. Tae Yang seketika membeku.
__ADS_1
' Sayang? Emy memanggilku "sayang"? Pernikahan? dia juga bilang pernikahan?' Tanyanya dalam hati.
" Sa-sayang, pernikahan? Pernikahan kita?" Tanya Tae Yang tak percaya. Bola mata coklatnya menatap lekat wajah Emy yang masih menunduk melihat design undangan. Emy mengangguk.
" Mau pernikahan siapa? Mikha sama Micko masih kecil, masa' mereka yang menikah?" Jawab Emy menahan senyumnya. Sepertinya kejutannya berhasil.
" Em-Emy-a...aku..aku gak sedang berhalusinasi, kan?" Tanya Tae Yang. Emy berdecak dan mengangkat kepalanya lalu...
Cup
" Sekarang, tahu jawabannya, kan?" Kata Emy lalu kembali pada posisinya semula, duduk di pinggir sofa dan mencondongkan tubuhnya melihat design undangan. Tae Yang masih mematung. Perlahan dipegangnya bibirnya.
' E-Emy menciumku duluan...dia menciumku. Jadi...jadi aku gak berhalusinasi..dia..diaa...'
Gumam Tae Yang dalam hati
" Emy-a..sayang...benarkah? Hahahaha....Emykuuu...I loooveeee youuuuu," teriak Tae Yang dengan senangnya. Segera ia memeluk Emy lalu mengangkatnya dan memutar tubuh kecil Emy dan tertawa lepas.
Wajah Emy merona. Ia tak menyangka dengan reaksi ini. Jika tahu Tae Yang akan bersikap berlebihan seperti ini, ia tak kan membuat kejutan ini.
Kedua tamu Emy ikut terkejut melihatnya. 'Ternyata Tuan Muda tak tahu...romantisnyaaa, ' batin mereka dan saling menatap haru.
Paman Ji dan para pelayan berlari ke dalam ruang tamu...langkah mereka terhenti melihat apa yang dilakukan Tuan Muda mereka.
Tae Yang menyadari kehadiran Kepala Pelayannya dan beberapa pelayan serta bodyguardnya.
" Semuanyaa...aku dan Emy akan menikaaaahhh...hahahaha..." Teriak Tae Yang dengan bahagianya.
Emy menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia yakin wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini.
" Tae Yang-ssi! Turunkan aku! Tae Yang-ssi!" Pinta Emy seraya memukul bahu Tae Yang. Netra coklat itu menatap balik Emy. Ia terus tersenyum dan membawa Emy ke sofa lalu mendudukkannya di pangkuannya. Emy berusaha melepas pegangan Tae Yang, tapi lelaki itu semakin mengeratkannya. Emy menghela nafas dan pasrah.
" Tae Yang-ssi! Kita harus pilih undangannya.." kata Emy. Tae Yang terus tersenyum seperti orang bodoh dan mengangguk.
" Baiklah, aku aja yang pilih," kata Emy. Lagi-lagi Tae Yang hanya mengangguk.
" Nona Gu, saya pilih yang ini saja. Untuk Venuenya saya mau di halaman belakang mansion ini saja, bernuansa bunga tapi jangan terlalu mewah,"
" Baiklah, bisa beri kami tanggal, waktu, dresscode dan nama lengkap Nona Muda dan Tuan Muda dan orang tua?" Kata pemilik EO terkenal di Korea itu.
__ADS_1
Emy mau menulis di kertas yang diberikan Nona Gu. Tapi, Emy tak juga berhasil turun dari pangkuan Tae Yang. Karena itu, ia menulis menggunakan bantal sofa sebagai alas