Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Mansion Kim


__ADS_3

Yu Zhen dan Dennis memapah Yason masuk ke dalam mobilnya. Lienda dan Emy ikut masuk setelah melihat Yason sudah duduk di dalam mobil. Dennis duduk di jok depan.


" Kak!" panggil Emy


" Ya?"


" Mana kak Tiara?" tanya Emy tiba-tiba. Wajah Dennis seketika muram. Bahkan, kedua orang tuanya pun tak lagi tersenyum.


" Kami ... kami sudah berpisah, Em," kata Dennis kemudian.


Emy menatap kakak dan kedua orangtuanya tak mengerti. Setahunya, kakaknya dan Tiara sangat dekat sejak kecil. Perbedaan umur Emy dan kakaknya adalah 6 tahun. Jadi, ia masih ingat, kala Emy ke Korea, Kakaknya yang duduk di bangku SMP sudah berpacaran dengan Tiara, anak kepala desa Meranti


" Berpisah? tapi ... kenapa?" tanya Emy


" Kakak tak mau membicarakannya dulu, Em," kata Dennis dan memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Emy hanya mengangguk dan terus bertanya-tanya dalam hati


Lienda memegang tangan Emy dan mengusapnya.


" Jangan kau tanyakan lagi soal Tiara pada Dennis, ya? itu adalah pengalaman terburuk dalam kehidupan kakakmu," lirih Lienda dengan menahan tangisnya. Emy mengangguk patuh


Sampai didepan gerbang, seorang penjaga memberhentikan mobil Yu Zhen. Emy menurunkan kacanya, ketika penjaga melihat Emy, ia menunduk hormat dan segera membuka gerbangnya. Emy juga menunduk dan tersenyum saat mobil mulai masuk dan melewati pos jaga.


" Kita kemana ini, Emilia?" tanya Dennis


Emy hanya tersenyum dan tak menjawab. Lienda, Yason dan Dennis kagum melihat keindahan taman dan lampu-lampu yang menghiasinya. Sunggh indah.


5 menit kemudian, mereka melihat bangunan bergaya Eropa dengan pilar-pilarnya yang besar dan kokoh juga air mancur di tengah-tengahnya dan garasi mobil yang panjang berada di sebelah kiri.


" Emilia, dimana ini?" tanya Yason


" Nak, kita tak butuh hotel. Kita kerumahmu saja," ucap Lienda sambil menatap sekelilingnya dengan mata dan mulut terbuka lebar


Emy dan Yu Zhen tersenyum melihat keterkejutan orangtua dan kakak Emy. Yu Zhen berhenti tepat didepan pintu utama Mansion Kim


" Ayo, Pi Mi, kita turun," ajak Emy.


" Hah?! ini dimana, Emilia?" seru Dennis


" Ayo, turun dulu," kata Emy dan segera membuka pintu dan turun. Ia meminta tolong Yu Zhen membantu Yason turun.


Dengan terpaksa, Dennis juga membantu. Walau sebenarnya ia masih belum mengerti dimana mereka saat ini.


Ceklek ...


" Nyonya Muda, Anda sudah datang?" sapa Paman Min dengan sopan.


" Ah, Paman. Iya, aku baru pulang. Ehm ... kenalkan, Paman, Ini adalah orangtua dan Kakakku," ucap Emy


Paman Min terperanjat lalu segera membungkuk dan memberi hormat pada orangtua dan kakak Emy.


" Maafkan kelancangan saya, Tuan-Tuan dan Nyonya," ucap Paman Min dalam bahasa Korea. Yason, Lienda dan Dennis terkejut melihat seorang laki-laki yang berumur sama dengan Yason membungkuk pada mereka.


Karena tak mengerti mereka bertiga juga reflek membungkuk


" Paman Min, tak perlu seperti itu. Lihatlah, Pamanmembuat orangtuaku tak nyaman. Bersikap biasa saja, Paman," ucap Emy dengan senyum dan keramahannya.


" Oh, ya ... Bisa tolong siapkan kamar di lantai 2. Yang dekat kamar Anak-anak, ya." pinta Emy


" Baik, Nyonya Muda," jawab Paman Min


Dennis segera menarik tangan Emy sedikit menjauh

__ADS_1


" Emilia, ini dimana? mengapa dia membungkuk seperti itu?" tanya Dennis


Emy menghela nafas dan kembali menarik tangan kakaknya untuk bergabung dengan orangtuanya.


" Mami Papi, Kak Dennis. Ini adalah Mansion keluarga suamiku. Saat ini, keluarga kecil Emy tinggal disini. Dan ini, ini adalah Paman Min (sambil merangkul Paman Min) yang membantu mengurus Mansion ini," jelas Emy


Mata Yason, Lienda dan Dennis membulat sempurna. Ketiganya mematung tak bergerak


" Mommyyyy!"


" Mommyyyy!"


Dua suara anak kecil menggema. Tampak 2 orang anak kecil dengan wajah dan baju sama, berlarian dengan tawa menampakkan deretan gigi putih mereka.


Emy menoleh dan tersenyum lalu berjongkok membuka lebar kedua tangannya.


" Hallo, Anak-anak Mommy yang hebat!" seru Emy


Emy memeluk dan mencium kedua putranya di pipi dan leher keduanya.


" Mommy, kenapa lama sekali?" gerutu Mikha


" Ada yang harus Mommy lakukan di rumah sakit, sayang. Oh, Ya. Mikha Micko, kenalkan ini Opa dan Oma, orangtuanya Mommy dan ini Paman Dennis, kakak Mommy," ucap Emy seraya menunjuk satu per satu pada 3 orang yang masih berdiri tak begerak di ambang pintu


Mikha dan Micko mengerjap dan menatap Mommynya. Emy tersenyum dan mengangguk


" Mom, Opa kan kakak? Oma kan ibu?" tanya Micko dengan polosnya.


" Hahaha ... iya betul, sayang. Tapi dalam Bahasa Indonesia, Opa artinya Kakek dan Oma artinya Nenek, karena Opa dan Oma orang Indonesia, jadi panggilnya seperti itu," jelas Emy


Mikha dan Micko mengangguk mengerti lalu berjalan mendekati Yason, Lienda dan Dennis


" Hello, Opa. I'm Mikha," sapa Mikha


Tak lupa senyum menggemaskan keduanya menyertai sapaan mereka


Yason dan Lienda menitikkan air mata. Keduanya berjongkok lalu dan memeluk kedua cucu mereka. Mencium dan menggendong keduanya.


" Nyonya Muda, saya ke dalam dulu," pamit Paman Min


" Baiklah, Paman," sahut Emy. Wajah cantik Emy tersenyum melihat kedua buah hatinya dalam pelukan kedua orangtuanya


" Apa kalian tidak mau menyapa Paman Dennis?" kata Dennis dengan cemberut dan dalam bahasa Inggris.


" Oh, Hi Uncle Dennis, I'm the most handsome, Mikha, (Oh, hai Paman Dennis. Saya Mikha, yang paling ganteng)," sapa Mikha


" And I'm the loveliest, Micko, ( Dan saya Micko, yang termanis)," sapa Micko


Semua terpingkal mendengar si kembar memuji dirinya sendiri


" Baiklah, Mikha sama Paman Dennis dulu, ya? Opa sedang sakit, jadi tidak bisa lama-lama gendong Mikha," ucap Dennis dan mengulurkan tangannya pada Mikha. Dengan senang hati, Mikha menyambut uluran tangan Pamannya dan berganti dalam gendongan Dennis.


" Baiklah, ayo masuk," ajak Emy.


Orangtua Emy dan Dennis terus melihat sekeliling, terkagum-kagum dengan mewahnya rumah Anak dan menantunya


" Nak, apa kau tak capek mengurus rumah sebesar ini?" tanya Lienda sambil duduk di ruang keluarga


" Hahaha ... bukan Emy yang mengurus, Mam. Paman Min dan pelayan yang mengurusnya. Ini bukan rumah Emy. Ini rumah keluarga Kim. Karena Tae Yang, suami Emy anak tunggal, jadi kami tinggal disini. Adik-adik Kakek Tae Yang, mereka tinggal di tempat lain," jelas Emy


Yason, Lienda dan Dennis mengangguk mengerti. Mikha dan Micko mengajak Dennis ke kamar mereka. Tak lama Evan turun dengan Baby Migu dalam gendongannya

__ADS_1


" Paman," sapa Emy dan menghampiri Evan, " Biar kugendong, Paman," ucap Emy. Evan memberikan baby Migu pada Emy.


" Mereka ..."


" Ah, Paman, ayo aku kenalkan," Emy menarik tangan Evan dan berjalan mendekati Yason dan lainnya


" Paman Evan, ini orangtua kandung Emy, dan kakakku ada di kamar Mikha dan Micko. Mi,Pi ini Paman Evan yang selalu mengurus Emy selain Appa Sie dan Eomma Han," ucap Emy dalam bahasa Inggris


Evan dengan begitu enggan menyambut uluran tangan Yason dan Lienda. Ia masih ingat, bagaimana Ha Na bercerita tentang keluarga kandung Emy, dan itu masih membuatnya geram.


Pembukaan L'amour di Jakarta dengan siaran langsung melalui TV, adalah rencananya untuk menunjukkan kesuksesan Emy dan untuk membuktian bahwa Emy bukanlah anak bodoh seperti julukan yang selama ini disematkan pada Emy oleh Yason dan Kakaknya.


Yason dan Lienda tampaknya merasakan keengganan dan rasa tak suka Evan pada mereka. Tak ada pembicaraan yang saling mereka lontarkan. Lienda mengambil alih baby Migu dan menimangnya. Yason pun tak mau kalah dan menimang cucu ketiganya.


Emy sadar bahwa Evan tak menyukai orangtuanya. Malam itu, Emy membujuk Evan, walau tak berjanji, tapi setidaknya Evan menyanggupi untuk berusaha berdamai dengan hatinya dan menanggalkan rasa sakit dan kecewanya terhadap orang yang telah melahirkan putri babtis yang sangat ia sayangi.


Hari berikutnya, Pengacara Oh sudah datang berbarengan dengan Jung Hyuk ke Mansion Kim. Mereka berbincang sebentar dengan Evan, lalu berangkat.


Pengacara Oh dan Luther juga Jung Hyuk telah berada di ruang interogasi Kejaksaan. Tae Yang tetap terlihat tenang. Hanya kemejanya saat ini sedikit ia buka karena gerah semalaman tak membersihkan diri.


Luther menatap datar Tae Yang. Tanpa banyak bicara, Luther langsung menyodorkan sebuah map berisi barang bukti dan sebuah kertas terselip disana. Tae Yang menatap Luther balik, sepertinya bos Kimtae itu mengerti. Ia mengangguk dan menutup mapnya


" Aku tahu. Hyuk, lakukan apa yang harus kau lakukan," titah Tae Yang yang dipahami Jung Hyuk dan 2 pengacara tersebut. Sementara, 4 orang Jaksa yang mengawasi mereka dari balik kaca, saling memandang.


" Terus awasi. Mereka sepertinya akan melakukan sesuatu," kata Jaksa ketua Yong Il Kook pada Jaksa junior disebelahnya.


" Siap, Pak,"


" Apa kau sudah tahu bukti-bukti apa yang mereka ajukan?" tanya Jaksa Il Kook lagi


" Sudah, Pak. Tapi, Hakim Roh Hyun Suk menolaknya," ucap Jaksa junior bermarga Park


Il Kook tersenyum sinis dan mengusap dagunya.


" Bersiaplah untuk kemenangan kita, Park! Hahaha ..." Jaksa berusia 40 tahunan itu tertawa dan meninggalkan ruang pengawas.


Sementara, Jaksa Park menatap sendu dan melipat bibirnya lalu mengalihkan perhatiannya pada 2 orang Jaksa lain yang juga sedang berbincang senang karena merasa menang.


" Hahaha ... akhirnya dia jatuh juga, hahaha ..." kata Jaksa A


" Iya ... hahaha ... kita berpihak pada yang benar sepertinya, hahaha .." ucap seorang lagi dan meninggalkan Jaksa Park sendiri yang kembali menatap 4 orang di sisi lain kaca di depannya.


" Baiklah, aku menyerahkan semuanya pada kalian. Aku akan menunggu disini," kata Tae Yang tenang dan datar


" Kami akan berusaha semampu kami, Tuan Muda. Kami permisi dulu. Jaga kesehatan. Anak-anak sudah menanyakan Anda," ujar Jung Hyuk sedih.


Senyum Tae Yang muncul mendengar kata Anak-anak.


" Tolong jaga mereka sementara ini. Aku tak bersalah, jadi aku yakin aku akan berhasil," kata Tae Yang yakin


" Kau sangat yakin, Tuan Kim?" sindir Luther sambil melirik dan dengan tangan membereskan map yang sempat ia beberkan isinya di hadapan Tae Yang.


" Hahaha ... tentu saja. Bukannya aku punya 2 Pengacara handal yang akan membelaku, hmm?" balas Tae Yan


" Cih ... kau percaya diri sekali," ucap Luther dengan kekehannya


" Ya, itulah aku, Tuan Howland," sahut Tae Yang dan ikut tertawa


" Kami permisi dulu, Tuan Muda. Kami akan segera memrosesnya," sela Pengacara Oh


" Hmm ... baiklah. Aku tunggu kabar baiknya," kata Tae Yang.

__ADS_1


" Tuan Muda, jaga diri Anda," pamit Jung Hyuk dan segera menyusul 2 pengacara Tuannya pergi.


__ADS_2