Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Wanita Matre?


__ADS_3

Mata Emy memandang sosok pria dengan wajah yang dipahat luar biasa sempurna oleh sang Maha Kuasa. Tapi tatapan Emy bukanlah tatapan kagum seorang wanita, ia hanya menatap heran pria yang berdiri di tangga, dengan kedua tangan tersimpan di kantong celana pendeknya.


" Ya, Presdir. Saya sudah pulang. Saya berganti baju dulu, baru saya nanti akan masak. Permisi," ucap Emy datar dan berlalu menuju kamarnya.


Senyum Tae Yang mulai terukir diwajah tampannya, ketika tubuh mungil Emy sudah berlalu dari hadapannya.


Setelah mengganti baju dan mencuci bersih tangannya, Emy mulai memasak dengan bahan bahan yang ia dapatkan dari dalam kulkas. 30 menit kemudian bebepa masakan sudah tersedia diatas meja makan nan luas itu.


Tae Sang yang berada di ruang TV, berdiri dan menghampiri meja makan.


" Hmm ... wow ... harum ... pasti enak ..." katanya dengan senyum dan memandang Emy.


Emy membalas dengan senyuman dan anggukan kecil. Tae Sang sudah bersiap duduk, tapi Emy masih berkutat di dapur, membersihkan dapur serta membereskan sis- sisa bahan masakan dan mencuci peralatan masaknya.


" Ehem ... Emy, makanlah bersamaku. Makanannya banyak sekali. aku tifak bisa kalau harus mengahabiskan sendiri," Emy melihat Tae Sang sekilas lalu kembali meneruskan pekerjaannya.


" Saya sudah makan malam, Presdir. " jawab Emy tanpa melihat wajah Tae Sang yang mulai berubah kesal.


" Baiklah, mulai besok, kau hanya boleh makan malam dirumah ini. Titik."


Emy terkejut mendengar perintah Tae Sang. Dengan menghela nafasnya kasar, Emy melempar lap ditangannya lalu melenggang kembali ke kamarnya.


Didalam kamar, Emy bergelut dengan laptopnya. Sesekali ia mendesah gelisah. Sementara Tae Sang, ia terus mondar-mandir didalam kamarnya.


" Apa yang harus aku lakuka ya, supaya dia mau memaafkan aku? Aarghhh ... ada denganku? Apa mungkin aku benar-benar menyukai wanita itu? Tapi ... kenapa hatiku terasa tak enak kalau tak melihat dia sebentar aja? Aarrghhhh ...." Tae Sang meremas rambutnya dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang kingsize miliknya.


kediaman kakek Kim


Kesehatan kakek Kim menurun sejak kepulangannya dari pulau Elleungdo. Pak Man Ho sudah memanggil Emy kemarin, dan seharian menyuruh Emy untuk memperhatikan Tuan Besarnya itu. Dan hari ini, Emy setelah dari rumah sakit, memang sengaja tak ia panggil karena larangan kakek.


" Man Ho... apakah Tae Sang masih bersikap dingin pada Emy?" Dengan suara lemahnya, kakek Kim bertanya pada pak Man Ho.


" Setelah menerima amplop itu, sepertinya ada sedikit perubahan, Tuan Besar."

__ADS_1


" Hmm... baiklah... aku tak mau dia berakhir menyesal."


" Iya, Tuan Besar. Hanya saja, Tuan Muda sepertinya masih belum sepenuhnya bisa menerima Nona Sie."


" Hahaha ... itu tak kan lama, Man Ho. Dan aku harap, anak itu jadi bijak."


Setelah mengatakan itu, kakek Kim memejamkan matanya dan beristirahat. Pak Man Ho keluar dari kamar kakek Kim dengan wajah sendu.


" Aku tak yakin, Tuan Besar. Tuan Muda bukan orang yang gampang jatuh cinta. Aku harap Nona Sie, mampu bertahan ... fuhhh ..." lirih Pak Man Ho seraya berjalan santai ke kamarnya.


 


 


flashback on


Kakek Kim menerima kabar dari utusannya, bahwa cucunya itu, menelantarkan Emy dan membuat Emy menjadi penyatu cucunya dengan Helena yang sempat terputus karena terbongkarnya identitas Emy sebagai istri cucunya.


Tae Sang bahkan membiarkan Emy sendiri saat dokter sekaligus cucu menantunya itu, berulang tahun.


setelah Kim Tae Sang sampai di pulau Elleungdo, Kakek Kim menyuruh pelayannya segera masuk kedalam kamarnya.


" Katakan padaku, bagaimana kau dan Emy?" begitu cucu kesayangannya itu masuk kedalam kamarnya dan baru saja terduduk, Kakek Kim dengan matanya yang tajam, menatap lekat Tae Sang.


" Kakek, apa kau memanggilku jauh jauh kesini, hanya untuk bertanya hal ini?" jawab Tae Sang kesal dan hendak berdiri. Namun hentakan tongkat kakek membuatnya terdiam lalu kembali duduk.


" Kau anak kurang ajar! Jawab pertanyaanku! huk... huk..." karena paksaan kakek untuk bersuara keras, pernafasan kakek menjadi tak teratur dan membuatnya terbatuk dan tersengal.


Tae Sang panik lalu mendekati kakeknya dengan khawatir, namun tangannya yang hendak memegang tangan kakek, ditepis keras oleh tangan keriput kakek.


" Jawab!"


" Baiklah kek, aku jawab. fiuh... aku tak menyukainya. Dia juga, aku yakin tak menyukaiku." jawab Tae Yang tenang.

__ADS_1


plakk...


Tae Sang menatap heran kakeknya. Ia tak percaya kakek yang begitu menyayanginya itu, sekarang menamparnya.


" Apa karena kau tak menyukainya, lalu kau ...  uhuk ... uhuk ... berbuat seenaknya... uhuk... uhuk... padanya...huh?" Pak Man Ho mengelus punggung kakek Kim dan memberinya air minum hangat.


" Apa maksud kakek? Aku tak berbuat apapun pada wanita matre itu?!"


plakk


" Kau benar-benar anak bodoh! kau bilang dia matre? Darimana kau dapat pikiran picik seperti itu? uhuk ... uhuk ... uhuk ... uhu k..." kali ini batuk kakek tak mau berhenti. Pak Man Ho memberikan obat kakek lalu menuntunnya ke ranjang.


" Man Ho..." tatapan mata kakek ditanggapi pak Man Ho dengan anggukan.


" Tuan Besar, istrahatlah dulu. Saya akan berbicara dengan Tuan Muda."


Kakek memejamkan matanya tanpa mempedulikan Tae Sang, yang dari tadi berdiri melihatnya dengan sendu.


" Tuan Muda. bisakah anda ikut dengan saya sebentar?" tanya Pak Man Ho sopan. Tae Sang dengan ragu menganggukan kepalanya, tapi dengan mata tetap pada kakeknya yang kelihatan begitu rapuh dan lemah.


Pak Man Ho mempersilahkan Tuan Muda keluarga Kim, majikannya itu, duduk di kursi di taman belakang, tempat favorit Nyonya Besar, istri kesayangan Tuan Besarnya.


" Tuan Muda, apakah anda begitu membenci Nona Sie?" tanya Pak Man Ho sambil menatap keindahan alam didepannya.


" Hahah a... kau bisa katakan seperti itu. Aku tak menyukainya. Dia wanita matre, dia juga penyebab keretakan hubunganku dengan Helena..."


" Tapi Nona Sie juga yang sudah membantu Nona Helena kembali pada anda, bukan?"


Tae Sang melihat pak Man Ho sekilas, lalu kembali menatap kedepan pada keindahan air terjun dibawah sana.


" Tuan Muda, Nona Sie... jika dia matre, mengapa dia yang menanggung biaya rumah sakit beberapa pasiennya?"


Pertanyaan pak Man Ho membuat Tae Sang menautkan alisnya. Pak Man Ho mengambil amplop besar cokelat yang tadi ia bawa dan letakkan di meja disisinya, lalu memberikannya pada Tae Sang.

__ADS_1


Tae Sang yang tak mengerti, membuka amplop ditangannya, dan mengeluarkan isinya. Melihat isi amplop itu, mata Tae Sang membulat sempurna. mulutnya menganga tak percaya.


ia melihat pak Man Ho, dan mendapat anggukan sebagai konfirmasi atas pertanyaan yang ada di benaknya.


__ADS_2