Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Saya Tidak Peduli


__ADS_3

2 orang wanita tak dikenal datang dan mencibir Emy.


" Hei, jangan sembarangan kalian kalau bicara!"


Tak tahan dengan perkataan kedua wanita itu, dr. Lee segera berdiri dan menghampiri keduanya. Matanya yang tajam menatap lekat keduanya.


" Yooo ... sang pahlawan menyelamatkan si cantik..." sindir seorang laki-laki tiba-tiba.


Mata dr. Lee mengarah ke sumber suara. Seorang laki-laki dengan rambut diikat rapi ke belakang mengenakan setelan jas maroon dan kemeja hitam, berjalan diantara kerumunan dengan gelas wine di tangannya.


Tatapan licik dan seringai nampak jelas, mengolok sikap dr. Lee membela Emy. Emy ikut melihat ke arah laki-laki itu.


Wajah dingin tak acuh diperlihatkan Emy. Tak ada keterkejutan, ketakutan atau kepanikan di mata indah dokter wanita itu. Laki-laki itu dan temannya yang mengikuti dari belakang, merasa aneh dengan sikap Emy.


" Dengar, kalo kalian tidak tahu duduk perkaranya, jangan asal bicara! katanya kalian berpindidikan tinggi. PIKIR PAKAI OTAK KALAU TERIMA BERITA!" emosi dr. Lee sudah tak terbendung.


Emy segera berdiri dan meraih lengan dr. Lee. Gelengan kepala dan tatapan menenangkan dari Emy, membuat dr. Lee menyurutkan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.


" Wah ... wah patuh sama pelakor, ya... kasihan istrinya ditinggal dirumah, disini dia asyik dengan pelakor." Lagi-lagi wanita dengan gaun kurang bahan yang menampakkan separo buah dadanya, serta belahan rok yang menampakkan sebagian besar pahanya, menyindir Emy.


" Hei! kamu tahu tidak, dokter jadi-jadian ini, dengar-dengar dia juga mau merebut Presdir Kim dari Nona Helena ..." kata wanita satunya lagi.


" Hah?! Heloooo ... mana mau Presdir Kim dengan muka plastik seperti ... dokter palsu ini!"


Dokter Lee sudah mulai kembali tersulut kemarahannya. Emy mengelus lembut punggung dr. Lee. Bukannya dia tak mau membalas, tapi ia tak mau ribut dan merusak acara Kakek Kim.


" Kita ambil makan saja, yuk,.." ajak Emy dan diangguki dr. Lee.


Keduanya berjalan meninggalkan kerumunan. Semua mata melihat mereka berdua. Bisik-bisik tetangga kian santer, saat Emy dan dr. Lee berjalan mendekati meja yang menyajikan banyak makanan.


Tengah asyik menikmati makanan, Emy yang berdiri seorang diri karena dr. Lee sedang ke toilet, sambil memegang sebuah piring kecil berisi Mousse cake, datang seorang laki-laki menghampirinya.

__ADS_1


Laki laki berpotongan cepak dengan anting di sebelah kiri itu mendekat dan berbisik pada Emy.


" Sepertinya akan ada yang menangis malam ini,"


senyum seringai ditunjukkannya pada Emy setelah ia berbisik pada Emy.


Emy hanya terdiam dan terus menikmati kue kesukaannya itu. Walau hatinya sudah mulai memberontak ingin menampar mereka semua, tapi akal sehat masih menahannya.


" Benarkah?" kata Emy tenang menjawab kata-kata laki-laki, yang Emy tahu adalah salah satu teman Tae Sang. Emy menaruh piring kecilnya di meja yang ada di sisinya.


Laki-laki itu mengeryit, ia tak menyangka reaksi Emy.


" Ryung Sik, kau di sini?"


Suara yang Emy kenal dan membuat tubuhnya terasa lemas, mendekat dan menatap Emy dengan pandangan yang sulit diartikan. Emy hanya berdiam mematung dan tak ingin melihat laki-laki itu.


Laki laki itu mendekat dan mengambil posisi di antara Cha Ryung Sik dan Emy.


" Kau tahu, sepertinya usahamu sia-sia, karena kekayaan Kakek jatuh ke tanganku. Dan kau ... tak akan mendapat apapun!" mata tajam Tae Sang menatap sisi wajah Emy.


Emy menarik nafas lalu berbalik menghadap Tae Sang. Wajah keduanya hanya tinggal berapa centi saja. Dengan keberanian Emy menatap mata Tae Sang, yang membuat Tae Sang sedikit tak nyaman.


" Saya tidak peduli, kepada siapa Kakek akan memberikan kekayaannya. Karena itu bukan urusan saya! Dan sekali lagi saya katakan, SAYA...TIDAK... PEDULI!"


Tatapan mata Emy yang tajam menyiratkan kesungguhan tanpa kebohongan, semakin menggelitik hati Tae Sang dengan rasa bersalah.


' Apakah aku memang sudah salah sangka pada wanita ini?' batinnya.


Tak lama, suara MC mengumumkan kedatangan Kakek Kim. Emy pun segera beranjak menjauh dari Tae Sang dan temannya. Demikian pula Tae Sang, ia kembali ke depan panggung.


Dengan dibantu pak Man Ho, Kakek Kim yang duduk di kursi roda, mendekati panggung. MC segera membantu Pak Man Ho untuk membantu Kakek Kim naik dan berdiri di belakang mimbar.

__ADS_1


" Selamat malam semuanya, saya Ketua Kimtae Building Corporation and Group." Sapa kakek Kim lalu sedikit membungkuk.


" Malam ini adalah ulang tahun perusahaan Kimtae yang kubangun sejak 45 tahun lalu. Saya tidak akan berlama-lama. Malam ini ..." pidato kakek menggantung, ia menatap cucunya yang tengah duduk bersama kekasih nya. Rahang Tae Sang mengeras dan menatap balik kakeknya.


" Malam ini saya mengumumkan bahwa saya akan turun dari jabatan saya. Saya tidak akan ikut campur urusan perusahaan. Saya akan kembali ke Pulau, tanah kelahiran almarhum istri saya."


Grrrrr .... seluruh ruangan menjadi heboh. Tae Sang menatap kakeknya tak percaya. Sementara Helena, dia tersenyum senang.


" Dan saya tidak akan mendikte cucu saya lagi, dengan siapa dia akan menikah. Karena saya ... sudah melepaskannya..." lanjut Kakek menatap cucu satu-satunya. Mata kekecewaan terpancar jelas di sana.


Grr r....lagi-lagi semua yang hadir dibuat heboh dan bertanya-tanya dengan maksud Ketua Kimtae Building Corp, itu. Tae Sang juga terhenyak mendengar pernyataan Kakek. Ia menunduk bingung dan tak mengerti.


" Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih. Selamat malam." Kakek duduk kembali di atas kursi roda, memutar roda kursinya dan dibantu pak Man Ho, kakek turun dari panggung.


Tae Sang segera berdiri dan menghampiri Kakek Kim


" Kakek!" panggilnya. Kakek Kim hanya melirik sekilas cucunya itu. Tae Sang merasa frustasi. Ia menarik nafas dan melihat Kakek Kim.


" Kek, bisakah kita bicara? Aku mohon ... Kek..." pinta Tae Sang dengan memelas. Sementara Helena hanya menunduk di sebelah Tae Sang.


" Baiklah... tapi, kau! jangan ikuti kami!" ucap kakek ketus pada Helena. Dan wanita seksi itu mengangguk patuh.


***


" Apa yang ingin kau katakan?" tanya Kakek setelah mereka sudah berada di dalam ruangan yang ada di sisi hall itu.


" Kek ... apa maksud Kakek kembali ke pulau dan melepaskanku?" dengan wajah memelas, Tae Sang melihat Kakek yang dulu sangat memanjakannya itu.


Kakek Kim memandang tajam anak peninggalan dari putra semata wayangnya itu.


' Apa aku harus berkata yang sebenarnya tentang Helena?' batin Kakek. Ia mulai bimbang antara berkata jujur atau tidak. Karena hingga kini, Tae Sang tak belum mengetahui kalau dia memiliki seorang adik.

__ADS_1


__ADS_2