
Sekelebat bayangan hitam masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam metalik disusul bayangan lainnya. 2 penjaga segera berlari dan menekan alarm memperingatkan pos jaga.
" Kode 3 ulangi kode 3," ucap penjaga dengan walkie talkienya sambil berlari mengejar mobil yang mereka yakini pasti akan berhenti di depan.
" Kenapa mereka tak membuka gerbangnya? Ish ...." ucap lelaki dengan topi dan masker hitam itu
" Kita tabrak saja!" ucap temannya
" Tidak bisa,"
" Mereka membawa senjata!" seru teman si pengemudi yang hanya memakai jaket hoodie tanpa masker.
" Buka atapnya!" seru lelaki itu kemudian.
Klik ... zeeengg ...
Si pengemudi membuka atap mobilnya
" Hei! kalian minggir dan cepat buka gerbangnya!" seru lelaki berhoodie itu
Seorang penjaga yang melihat seorang laki-laki berteriak dari atap mobil, menyipitkan matanya.
" Siapa itu?" tanya si penjaga
" HEI!!! CEPAT BUKA GERBANGNYAAA BODOOOHH!!!" seru lelaki berhoodie hitam dengan mobil yang semakin mendekat ke arah gerbang tanpa mengurangi kecepatan
" Oh ... sial! OH BOM BUKA GERBANGNYA!!!" seru penjaga yang ada di depan gerbang.
" Tidak bisa, Tuan bisa marah pada kita!" balas penjaga bernama Oh Bom yang berada di dalam pos
" HEI! BUKA GERBANGNYA! ITU TUAN LUTHER!" seru penjaga yang berada diluar. Penjaga Oh Bom terkejut dan segera melihat layar CCTV.
Mobil sudah melaju semakin dekat dengan gerbang tapi pintu gerbang belum juga terbuka
" CEPAT BUKAAAA!!!" seru Luther lalu merunduk dan memejamkan matanya.
1
2
3
Wusss ....
Perlahan Luther menegakkan badannya dan melihat ke depan. Lelaki itu menghembuskan nafas lega dan menepuk dadanya
" Cih ... kau sangat penakut ternyata," ledek si pengemudi
" Hei! kau tak tahu saja bagaimana mengerikannya adikmu itu kalau dia tahu aku merusak barangnya .... hiiii ..." ucap Luther sambil begidik membayang Emy yang akan terus mengomel selama berhari-hari hanya karena satu barangnya yang dirusakkan.
" Ternyata kau takut dengan adikku, ya?" ucap Dennis disertai seringainya dan terus menyetir menembus malam.
" Hei! adikmu itu kalau sudah marah sudah sama seperti singa betina. Bahkan adik iparmu saja takut dengannya. Dia itu seperti bulldog, sekali gigit mangsa ia akan buat si mangsa sampai lemas tak berdaya," ucap Luther
" Hei! Luther!"
" Oh, God!" Luther berjingkat kaget mendengar suara wanita yang memang ia takuti ada di dalam mobil yang sedang ia tumpangi. Lelaki itu menoleh kesana kemari mencari asal suara
" Kau berani sekali menjelekkan aku, ya! akan aku pastikan aku akan jadi Bulldog sesuai harapanmu ... grrr ...!"
Kembali suara itu menggema di dalam mobil
" Apa kau dengar itu?" kata Luther
" Ya, itu suara rasa bersalahmu yang terdengar sangat jelas di telingaku," ucap Dennis dengan tampang seriusnya
" Hah?! hei! jangan membodohiku! aku bukan Mikha dan Micko!" seru Luther
" Kami mendengarmu, Paman!"
Kembali Luther berjingkat kaget. Ia memeriksa ponselnya. Tidak terhubung. Ia juga meraih ponsel Dennis dan mulai membukanya
" Hei! itu ponselku!" seru Dennis dan berusaha mengambil ponselnya yang ada di tangan Luther
" Menyetir yang benar atau kita celaka!" balas Luther dan meletakkan ponselnya. Ia mulai memeriksa dashboard dan monitor yang ada di mobil.
__ADS_1
" Tak ada apapun, dari mana asal suara itu?" gumam Luther
" Bukannya aku sudah bilang itu suara hatimu karena kau terlalu bersalah menjelekkan orang," ledek Dennis
" Ish ... aku bukan orang bodoh!"
" Kau memang bodoh, Paman Luther!" lagi suara Mikha atau Micko kembali terdengar
" Mikha, Micko? bagaimana kalian bisa berbicara dengan kami disini?" tanya Luther tak mengerti
" Karena kami punya mulut, Paman!" balas suara anak kecil itu
" Hei! kalian sama saja dengan Mommymu, suka sekali mengerjai Paman," gerutu Luther
" Hahaha ... karena kami adalah Anak-anaknya, Paman. Kalau kami Anak Paman, mungkin ... kami juga akan mengerjai Paman ... hahaha ..."
" Kalau kalian Anak Paman, yang pasti mata kalian akan seindah mata Paman," jawab Luther tak mau kalah
" Ih ... Paman terlalu pede!"
" Kita sudah sampai!" kata Dennis. Luther mulai menyiapkan senjatanya dan memakai masker juga topi, tak lupa sebuah headset
" Ok, aku siap!" kata Luther.
" Paman, hati-hati!"
" Luther, Dennis, hati-hatilah!"
Luther dan Dennis tersenyum mendengar ada orang yang mengkhawatirkan mereka
" Siap Anak-anak! siap, adikku sayang," kata Luther tersenyum Dennis hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
" Luther kau lewat pintu itu, aku akan panjat temboknya," bisik Dennis dan diacungi jemari Luther yang membentuk huruf O dengan telunjuk dan ibu jari ditekuk
" Aku siap di posisi!" lapor Luther beberapa saat kemudian
" Aku juga siap!" kata Dennis
" Oke, Pengacara Oh ada di ruang tengah. 2 orang di ruang arah jam 10, 2 orang di lantai atas arah jam 3, 2 orang di ruang depan arah jam 6," info Evan yang didengar baik oleh Luther dan Dennis
" Oke!"
Dennis mengambil ancang-ancang dengan mundur beberapa langkah
" Fiuhh ... oke, pasti bisa." gumamnya
Dennis berlari sekuat tenaga dan
Hap
Dennis mendarat apik diatas tembok pembatas dan turun dengan mulus. Berjalan mengendap-endap dan merapatkan diri ke dinding, Dennis mendekati 2 orang yang berjaga
Berjalan dengan ujung kakinya, lalu
Hap
Dennis membekap mulut si penjaga dan dengan cepat ia menyuntik leher lelaki itu
**Cuss ...
Brukk**
Penjaga itu terkapar tak sadarkan diri
Dalam sekian detik pula, Dennis menggunakan gerakan memutar dan menendang perut seorang penjaga yang memergokinya
Bugh ...
Belum sempat orang itu berteriak
Jleb
Dennis menancapkan pisaunya di bagian perut dan menghindari daerah yang vital
Bukk ..
__ADS_1
Tangan kekar Dennis memukul tengkuk penjaga itu
Brukk
Dennis melempar tubuh penjaga yang pingsan begitu saja ke tanah.
" Clear!" lapor Dennis dan segera membuka pintu pagar
" Kau lama sekali!" gerutu Luther sambil berbisik
" Hish! cerewet!"
Keduanya mengendap-endap untuk masuk ke dalam rumah. Dennis memberi kode pada Luther dengan menunjuk dirinya dengan telunjuk dan menunjuk ke arah atas. Luther mengangguk dan membentuk huruf O dengan jarinya
Hap
Dennis menggunakan saluran pembuangan atau paralon untuk memanjat lalu perlahan meraih jendela untuk pijakan kakinya dan tangannya memegang bagian atas jendela yang sedikit menjorok dan perlahan merambat. Tak ada lagi yang dapat ia pakai untuk memegang akhirnya ia memutuskan untuk melompat.
Bekh ..
Tangannya berhasil meraih lantai balkon. Di bawah, Luther perlahan membuka jendela dan masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar. Kamar itu terlihat sangat berantakan. Untunglah lampu kamar itu dalam keadaan mati
Luther mengendap-endap dan merapatkan dirinya di dekat pintu. Mata elangnya mengintip di balik pintu. Ada 2 orang yang sedang mencari sesuatu di sana. kertas-kertas berserakan
' Aku akan merekamnya,' pikir Luther
Klik
Luther menyalakan kamera pulpennya yang ia taruh di leher Hoodienya.
" Disini juga tak ada, apa kau sudah mencari di kamar lainnya?" kata orang yang bertato
" Sudah, tapi sama saja. Hanya buku bacaan Anak-anaknya," kata seorang lagi
" Brengsek! kita harus segera mendapatkannya, kalau tidak, nyawa kita taruhannya," geram laki-laki tinggi bertato
" Apa ada kabar dari kantornya?"
" Disana juga tidak ada,"
" Hmm ... kita harus segera lapor Tuan Yong,"
Pak
Tangan lelaki bertato itu mendarat tepat di kepala temannya
" Dasar bodoh!" kata lelaki bertato itu sambil melihat kanan kiri
" Kenapa kau menyebut namanya? kalau ada yang dengar, matilah kita!" lanjut laki-laki bertubuh tinggi dan bertato di tangannya itu dengan geram
" Tidak ada siapapun, aku sudah memeriksa semuanya,"
" Tapi kita tetap harus waspada," kata laki-laki bertato itu dan berlalu dari sana dan diikuti temannya
Luther membuka sedikit pintu itu dan melihat sekeliling, merasa aman Luther berjalan mengendap-endap menuju ke ruang tengah
" Stop! Luther kembali ke tempat semula, musuh arah jam 9," terdengar suara Evan di telinganya. Dengan segera Luther kembali ke dalam kamar yang ia pakai untuk mengintai tadi.
" Kau ke kamar itu, aku ke sana. Aku yakin penyusup itu masuk kemari," kata lelaki itu.
ceklik klik ...
Kedua orang itu mengokang pistolnya dan mulai berjalan perlahan dan membuka kamar-kamar lalu menodongkan pistolnya. Kosong
Seorang laki-laki bertato memberi kode ke arah kamar yang terletak diujung, dimana tadi Luther bersembunyi dan diangguki temannya. Dengan senjata yang siaga , kedua orang itu mendekati kamar yang ada di ujung ruangan itu
Luther semakin merapatkan tubuhnya ke dinding dan mengatur nafasnya
Tap
Tap
Klek ...
" Hei! looking for me (mencariku)?"
__ADS_1