Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Foto Lama


__ADS_3

Sementara di sisi lain, seorang laki-laki dengan jas yang khusus dibuat untuk dirinya, memperhatikan Dokter wanita itu dengan mata elangnya.


" Dia liat sapa?" gumamnya. Dengan mata yang tajam, ia mengikuti langkah Dokter wanita itu. Tanpa disadari, ia ikut melangkah mengikuti dokter wanita itu.


Dengan tubuh kecilnya, Dokter itu mendorong pintu darurat tak jauh dari kasir itu berada. Ia masuk dan menuruni tangga darurat lalu berdiri menghadap jendela besar di sisi tangga, setelah melihat kebawah dan keatas tangga, memeriksa apakah ada orang lain di sekitarnya.


Gerak-gerik mencurigakan Dokter itu, tak lepas dari pandangan mata laki-laki tampan yang mengikutinya. Ia melihat wanita itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


Dengan langkah hati-hati, laki-laki itu mendekat agar bisa menguping pembicaraan dokter itu.


" Hei.. apa kau sibuk?" kata Dokter wanita itu sambil memegang tengkuknya.


" ....."


" Aku butuh bantuanmu lagi..."


"......"


" Hahaha... kau benar. Bisakah kau tolong transfer hari ini?"


" ....."


" Jangan kuatir, aku akan kirim uangnya sebentar lagi. Lalu tolong cepat kamu transfer ya ...."


" Atas nama Nyonya Im Bong Sun. Kamar 307."


"......"


" Aku transfer sebentar lagi, plus hutangku bulan lalu, sisanya aku cicil, ya ... hahaha ..."


"....."


" Oke ... makasih ... love you too ... mmuuaahh ..."


Dokter wanita itu mengakhiri percakapan dengan begitu mesra. Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahang. Segera ia pergi dari pintu darurat itu, dan dengan langkah lebar menuju ke lobby rumah sakit, masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir manis didepan lobby, menunggu dirinya.


Semua mata memandang kagum pada laki-laki itu. Wajah tampan dengan sejuta pesona ditambah mobil yang memperlihatkan status sosial yang sulit dijangkau.


Sementara laki-laki itu pergi dengan geram, Dokter wanita itu tersenyum sumringah melihat notifikasi di ponselnya. Tanda transaksi yang ia buat telah berhasil.

__ADS_1


" Hmm ... beberapa hari kedepan aku harus puas dengan kimbab untuk pagi dan malam ... ah ... ya ... sudahlah, tak apa ... hehehe," senyuman tak lepas dari wajah cantiknya ketika ia melangkah dan masuk kembali kedalam gedung utama rumah sakit.


" Dokter Emy! ya, Tuhan, saya cari Anda dari tadi..." seru seorang laki-laki muda berpakaian anak sekolah.


" ah ... oh... bisa saya bantu?" sambut Emy.


" Dokter ... saya sebentar lagi mau ujian, trus ingin seperti dokter menjadi seorang dokter."


" Wah ... bagus kalo begitu." puji Emy sambil berjalan.


" Tapi, bisakah Anda menjadi tutor pribadi saya? saya ... saya ... akan membayar berapapun, asal Anda bersedia mengajari saya ... hehehe ..." Emy berhenti dan melihat laki-laki muda yang umurnya pasti tak jauh beda dengannya.


" Hmm ... saya sangat sibuk di rumah sakit. saya tidak tahu, apakah saya bisa..."


" Ijinkan saja saya pulang sekolah kesini, jadi saat Anda selesai tugas, Anda bisa mengajari saya." potong anak muda itu dengan senyum yang selalu terpatri disana.


" Mmm ... tapi, saya juga kadang juga shift malam."


" Tak apa, Dokter. Kalau shift malam, selesai dari sekolah saya akan langsung kesini, sebelum ke Akademi."


Emy menatap anak laki-laki yang tingginya sudah melebihi dirinya beberapa centi itu, sambil mengeryitkan dahinya. Ia kagum dengan semangat belajar yang laki-laki itu miliki, tapi ia juga tahu, jika sepulang sekolah kesini, berarti, ia akan bolos 2 jam di akademi.


Di Korea, siswa SMA memulai waktu belajar di sekolah sejak pukul 8 pagi, dan baru selesai pukul 7 malam. Bahkan beberapa dari mereka bisa menyelesaikan harinya di sekolah pada pukul 11 malam, setelah melakukanĀ self-study, dan bahkan siswa SMA juga harus mengikuti Hagwon (Bimbel) hingga lewat tengah malam.


Emy, tak habis pikir dengan laki-laki muda seumurannya itu.


" Hmm ... namamu siapa?" tanya Emy sambil menyodorkan tangan kecilnya.


" Ah ... namaku Kang Yoo Joon!" Yoo Joon menyambut tangan Emy dengan senang.


" Apa kamu tidak lelah? bukankah kau setiap hari sudah belajar sampai 16 jam, belum lagi di Akademi?"


" Hei ... kalau soal itu saya bisa atur. Saya tidak akan mengambil self study. Saya hanya akan belajar dengan Anda, Dokter. Setelah itu saya akan ikut Akademi, bagaimana?" tanya Yoo Joon dengan mata berbinar.


" Hahaha ... baiklah, Anda mau belajar apa?"


" Sains, Matematika, dan Bahasa Inggris. Saya ingin kuat di bidang itu. Karena saya juga ingin masuk Harvard, seperti Anda."


" Hahaha ... baiklah saya akan membantu sebisa saya. Jangan kecewa, ya?" goda Emy.

__ADS_1


" Jahaha ... saya yakin tidak akan kecewa. Tapi, bisakah kita memakai banmal saja? saya dan Anda tidak jauh berbeda umur, kan? saya sekarang 20 tahun, tapi hitungan Korea. Jadi, saya 19 tahun kalau ikut hitungan global."


" Hmm, kita beda 1 tahun. Saya 21 tahun kalau di Korea, dan 20 global."


" Noona ... aku boleh ya panggil begitu?"


Emy menatap heran pada Yoo Joon karena sudah memakai bahasa informal padanya.


" Baiklah, suka suka kamu ... hahaha"


Keduanya berjalan sambil mengobrol, dan akhirnya sampai di kantor Emy.


" Nah, sekarang kamu pulang aja, ya. Aku harus kerja lagi." kata Emy sambil tersenyum, ketika mereka sudah sampai di pintu ruangannya.


" Hei ... Noona ... apa gak bisa undang aku masuk kedalam? aku kan mau lihat kantormu, kantor Dokter termuda dan paling jenius !" kata Yoo Joon dengan gayanya seakan memuja Emy.


" Hahahaha... ada-ada aja kamu. Baiklah, ayo masuk."


Mata Yoo Joon bersinar mendengar persetujuan Emy, untuk membiarkannya melihat ruangannya.


" Wahh ... keren ... aku sukaa ..." Yoo Joon berlari dan duduk menyandar di kursi Emy.


Emy hanya tersenyum melihat kelakuan Yoo Joon yang bebas. Yoo Joon melihat setiap sudut ruangan Emy dengan senyum sumringah.


Pandangannya terhenti, ketika ia melihat foto di atas meja Emy



" Hei ... Noona, kau sangat cantik lho, kalau kaca mata sama ikatan rambutmu dilepas!" seru Yoo Joon seraya mengambil foto Emy. Ia melihat kearah Emy dengan senyum dan matanya yang selalu saja cerah.


" Ah ... aku lebih suka begini. Itu foto lamaku dulu." kata Emy, senyum paksa terukir disana, mata yang indah itu, walau terlihat baik-baik saja, tapi Yoo Joon dapat melihat, disana, mata itu, menyimpan kesedihan.


' Hmm ... Noona, sepertinya foto ini berarti untukmu. Apa mungkin pacarmu yang mengambil fotonya?' batin Yoo Joon, ketika ia memperhatikan Emy, yang berusaha mengalihkan pandangan matanya, dengan berpura-pura mengambil buku di rak.


" Tapi ... aku lebih suka Noona polos begini, tanpa make up. Ini keliatan lebih tua dari umur ... hahaha" ucap Yoo Joon berusaha mengubah suasana.


" Hei... kau ini! hahaha..." akhirnya tawa itu terdengar lagi. Yoo Joon lega mendengarnya.


" Noona, aku harus pergi. ah, iya... soal biaya, aku akan bayar, 750 ribu Won, bagaimana?" tanya Joo Won dengan senyum

__ADS_1


" Tidak usah, pakailah untuk yang lain." jawab Emy.


" Hei ... tidak bisa begitu!"


__ADS_2