
Malam itu ruang bersalin menjadi lebih gaduh dan ramai. Jung Hyuk terus berdecak kesal dan duduk berpangku kaki di ruang tunggu.
Yu Zhen, Nona Na, Eun Ha dan dr. Lee juga menunggu.
" Ya, Tuhan ... yang melahirkan siapa, yang heboh siapa .... haduh ...." Keluh dr. Lee. Nona Na ketawa mendengarnya.
" Aaaaaaaaa .... Aaaaa....."
Jeritan suara lelaki terus terdengar. Dokter Lee sudah berdiri hendak menerobos masuk ruang bersalin, tapi berhasil dicegah Na Ae Rim dengan senyum wanita itu yang tertahan.
Di dalam ruang bersalin
Dokter dan perawat terpaksa harus bertahan mendengarkan teriakan yang memekakkan di telinga dan menahan tawa mereka
" Aaaaaaa ..... Aaaaaa ...." lagi Tae Yang berteriak dengan keras.
" Nona Muda ... dorong terus ..." kata dr. Han
" Eeerrggghhh ....." Emy terus mengejan. Tangannya meremas rambut Tae Yang sekuat tenaga.
" Aaaaaa ...."
Wajah bos Kimtae yang malang itu sudah terlihat kelelahan. Tapi, sepertinya istri kecilnya itu belum mau melepaskan cengkeramannya.
" Nona Muda, sedikit lagi ... dorong yang kuat, ya. 1 ... 2 ... 3, dorong ..." Emy mengikuti instruksi dr. Han.
" Aaaaaa ..... huft huft huft ... Aaaaa ...." teriakan Tae Yang semakin kencang.
" Sayang, keluar dari sini ... aku bisa botaaaaaaakkkk .....aaaaaaaa....."
Emy meremas dan menarik rambut Tae Yang sekuat tenaga tanpa aba-aba.
" Eeerrrrghhhh ...."
" Oekk ... Oekkk .... Oeekk ..."
Perlahan cengkeraman Emy melonggar. Tae Yang mencoba berdiri tegak, matanya menatap bayi yang baru saja dilahirkan Emy untuknya.
" Selamat Tuan Muda, Nona Muda. Bayinya laki-laki," kata dr. Han
Air mata Tae Yang jatuh ketika bayinya diletakkan di atas dada istrinya, melupakan rasa sakit ketika rambutnya dijambak sang istri. Tak jauh beda dengannya, air mata Emy deras mengalir.
" Welcome to the world, my baby boy," lirih Emy dan mengecup babynya itu. Tae Yang memeluk dan mencium istri serta anaknya.
" Sayang, terima kasih. Terima kasih ... baby boy ... selamat datang, sayang," lirih Tae Yang.
" Honey, gendonglah. Aku tahu, kau ingin menggendongnya, kan?" kata Emy lembut. Tae Yang mengangguk antusias dengan air mata terus mengalir. Tae Yang menggendong bayinya dengan hati-hati dan tak henti-hentinya menatap bayi imut dalam gendongannya.
__ADS_1
" Baiklah, Tuan Muda. Kami akan membersihkan Nona Muda. Untuk bayinya, Anda bisa lihat di ruang Baby. Silahkan tunggu diluar dulu," kata dr. Han kemudian
" Baiklah, terima kasih,"
Tae Yang berjalan keluar dari ruang bersalin setelah menyerahkan bayinya pada seorang perawat. Ia keluar dengan mata sayu dan merah dengan lingkaran seperti panda, wajah berkeringat dan rambut acak-acakan, tak terkecuali kaos oblong yang dipakainya sangat kusut. Sungguh, penampilannya mirip korban tsunami.
Ceklek
Dokter Lee, Jung Hyuk, Na Ae Rim juga si kecil Eun Ha tertegun melihatnya. Pipi mereka menggembung. Dokter Lee dan Na Ae Rim memalingkan wajahnya menahan tawa.
" Hahahahha .... Paman kayak zombie, hahaha .."
celetuk Eun Ha dengan tawa yang keras.
Akhirnya tawa Yu Zhen, Dokter Lee dan istrinya, Na Ae Rim juga Jung Hyuk pecah. Tae Yang menatap kesal pada sahabat Emy dan Asistennya itu.
" Hyuk! Mulai besok gantikan aku ke kantor," titah Tae Yang datar dan terus berjalan
Wajah Jung Hyuk berubah masam. Dokter Lee dan Yu Zhen kian terbahak melihatnya. Kimtae saat ini berbeda dengan yang dulu. Saat ini, Kimtae menjadi perusahaan yang paling banyak dicari oleh banyak perusahaan lain dan negara-negara untuk diajak kerjasama. Sehingga, pekerjaan seakan tiada hentinya mengalir.
" Yu Zhen dan dr. Lee, kalian lembur seminggu," sambung Tae Yang sebelum ia berbelok dan menghilang dari hadapan mereka menuju ruang rawat Emy yang sudah ia pesan, untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Dokter Lee dan Yu Zhen menipiskan bibirnya, merasa kesal mendengar perintah Tae Yang.
Giliran Jung Hyuk menertawakan kedua dokter di sebelahnya.
" Sudahlah, terima nasib. Dia bosnya," kata dr. Lee lalu menarik istri dan anaknya pulang. Yu Zhen mengangguk pasrah dan mengikuti langkah dr. Lee untuk pulang karena shiftnya juga sudah lama usai. Toh, malam ini, mereka tidak akan bisa bertemu Emy.
Sebelum pergi, mereka menyempatkan diri melihat bayi yang baru dilahirkan Emy, sahabat sekaligus adik mereka
Tae Yang menatap haru bahkan menangis tersedu melihat putranya yang baru saja dilahirkan Emy untuknya.
Ini adalah momen pertama, ia dapat menyaksikan dan menemani istrinya hamil hingga melahirkan.
Momen pertama ketika ia melihat bayinya lahir. Tak peduli dengan imejnya yang mungkin akan rusak, Tae Yang tersedu layaknya anak kecil. Bayinya menggeliat lucu di atas bed di ruang bayi.
" Ehm ... Suster, apa aku boleh menggendongnya?" tanya Tae Yang pada seorang perawat di ruang bayi.
" Tentu, Tuan Muda," jawab perawat itu lalu mengambil bayi laki-laki itu dan menempatkannya di tangan besar Daddynya. Air mata Tae Yang kembali menetes. Matanya tak bosan menatap wajah mungil di tangannya. Bayi laki-laki dengan wajah mirip dengannya dan bola mata seperti Emy.
" Nak, terima kasih, kau membuat Daddy merasa lengkap menjadi seorang ayah. Terima kasih, terima kasih, sayang," ucap Tae Yang dan menciumi bayi ganteng itu.
" Tuan Muda, maaf ... bisa tolong beritahu nama bayinya?" tanya perawat.
" Ah ... namanya Kim Min Kyung atau Miguel Kim," kata Tae Yang dengan mata yang tetap menatap bayi mungilnya.
" Nama yang bagus, Tuan Muda. Baiklah, saya akan buatkan datanya. Permisi,"
__ADS_1
Tae Yang hanya mengangguk dan terus menggendong baby Miguel.
Emy sudah dipindahkan ke ruang rawat. Matanya sudah terpejam karena terlalu lelah. Saat Tae Yang masuk, ia melihat wajah istrinya yang terlihat lelah. Hatinya sedih bercampur bahagia. Perlahan diciumnya kening Emy dan menata selimutnya.
" Thanks, Honey. Kau membuatku menjadi sempurna," lirihnya.
Beberapa saat lamanya, lelaki itu terus menatap wajah istrinya. Senyuman tak lepas dari wajah ganteng bos Kimtae itu.
Keesokan harinya
Semalaman Emy terlelap. Tae Yang sudah terbangun lebih dulu. Dengan sabar ia duduk dan menanti istrinya bangun. Saat, perawat masuk membawa putranya, Tae Yang melarangnya membangunkan Emy dan mengambil alih menggendong putranya.
Wajah imut, mata sedikit sipit, hidung mancung. Sungguh duplikat seorang Kim Tae Yang.
Tok ... tok ...
Ceklek
Sebuah kepala kecil muncul dibalik pintu dengan matanya yang bulat dan lucu, disusul dengan sebuah kepala dengan wajah yang sama.
" Daddy?"
" Daddy?"
Panggil Mikha dan Micko setengah berbisik. Tae Yang tersenyum dan menempatkan satu jarinya di bibir. Mikha dan Micko mengangguk dan berjalan masuk dengan mengendap-endap seperti maling.
Tae Yang dan Jung Hyuk terkikik melihatnya. Kedua bocah itu melongok melihat adik lelakinya.
Tae Yang merendahkan tubuhnya agar kedua putranya bisa melihat adiknya.
" Daddy, apa adik punya ***** sepelti (seperti) Mikha?" tanya Mikha seraya mencoba membuka kain penutup bagian bawah adiknya.
" Daddy, apa adik bisa main PS?" tanya Micko dengan wajah polosnya.
Tae Yang kembali terkekeh geli mendengar pertanyaan si kembar.
" Iya, sayang. Adiknya Mikha kan cowok, jadi punya ***** seperti Mikha. Terus, adik Miguel juga bisa main PS, tapi nanti kalau sudah besar seperti kakak Mikha dan Micko." jelas Tae Yang lembut.
Kedua bocah kembar itu mengangguk-angguk mengerti.
" Oh, adik namanya Miguel, ya? ini kakak. Nama kakak Mikha dan ini kak Micko. Jangan lupa, ya?" cerocos Micko. Tae Yang semakin gemas dibuatnya.
" Daddy ... adik bayi keluarnya dari mana?" tanya Mikha
Glup
Tae Yang menelan salivanya
__ADS_1