
Helena menghembuskan nafasnya dan menatap Tae Yang.
“ oppa, apa kau menerima foto tentangku? Oppa, kamu tahu sendiri, aku begitu terkenal, apa kau tak berpikir kalau itu adalah usaha seseorang untuk menjatuhkanku? Oppa, orang lain boleh tak percaya padaku, tapi kamu...bukankah seharusnya lebih percaya padaku?” Helena dengan kesal melemparkan tangan Tae Yang dan berdiri. Tapi tangan Tae Yang langsung meraih dan memegang pergelangan Helena dan menariknya, hingga Helena jatuh terduduk diranjangnya.
Tae Yang memeluk Helena dari belakang, menghirup wangi tubuh wanitanya dan berkata.:” maafkan aku, aku terlalu cemburu. Maafkan aku. Aku percaya padamu. Tolong, jangan marah lagi ya.” Rayu Tae Yang. Helena tersenyum dan membalikkan badan memeluk dan mencium tunangannya itu.
“ oppa, makan dulu ya...” Helena mengambil mangkok bubur yang tadi ia letakkan diatas nakas
“ apa kau yang membuatnya?” Helena hanya tersenyum dan meniup bubur yang ia sendok dan menyuapi Tae Yang. Tae Yang melahap habis buburnya hingga tak bersisa.
“ apa kau menyukainya?” tanya Helena dan Tae Yang mengangguk semangat sambil tersenyum. Helena tersenyum namun dalam hati, ia mengutuki Emy karena bubur itu bukanlah buatannya tapi buatan Emy.
Tae Yang POV
Aku menghabiskan bubur yang Helena bawa pagi ini. Aku bersyukur, karena ternyata foto yang aku terima tadi malam hanya rekayasa. Aku melihat Helena yang begitu cantik, harum tubuhnya yang begitu kukenal. Tapi, tadi malam apa benar Helena yang merawatku? Kenapa wangi tubuhnya berbeda? Apa Helena memakai 2 jenis parfum?
“ sayang, apa semalam kau yang merawatku?” tanyaku ketika kulihat dia sudah meletakkan mangkok bubur diatas nampan. Helena mengangguk menjawab pertanyaanku. ah..jadi benar Helena yang merawatku. Bahagianya hatiku. Jadi Helena punya 2 jenis parfum. Tapi aku lebih suka yang semalam. Wanginya lembut dan menenangkan.
“ sayang, sekarang kau istirahat ya. Aku akan memasak sesuatu untukmu.” Aku tersenyum mendengar Helena akan memasak untukku. Sungguh calon istri yang sempurna. Cantik, sabar dan pintar memasak. Setelah Helena meninggalkanku, aku kembali berbaring dan pergi ke alam mimpi.
Tae Yang POV end
Setelah Helena mengambil nampan dari tangan Emy, Emy segera pergi ke kamarnya untuk mandi dan berpakaian. Pagi ini Emy ada operasi jadi ia harus segera berangkat. Sampai di Rumah Sakit, Emy segera meminta laporan kondisi pasiennya yang akan dioperasi. Ia mempelajari sekitar 30 menit lalu bersiap masuk ruang operasi. Selesai operasi Emy keluar dan menemui keluarga pasien.
Saat ia selesai berbicara, dan hendak berjalan ke lift untuk kembali keruangannya, ia melihat Helena masuk kesebuah ruangan. Emy mendekati ruangan itu tapi ia tak bisa melihat kedalam karena terhalang seseorang yang berdiri dipintu. Emy berpikir bahwa itu adalah teman Helena yang sakit, jadi Emy tak terlalu memikirkan itu. Emy masuk dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana kantornya berada.
“ eh, tadi aku lihat supermodel Helena datang lho...wihhh...dia sangat cantik.” Kata seseorang suster yang didepan Emy. Emy hanya tersenyum mendengar itu.’ Aku sudah sering melihatnya mbak’ batinnya.
__ADS_1
“ ngapain kesini? Dia sakit?” tanya seorang perawat
“ bukan, tapi yang sakit itu kayaknya sih mama suaminya. Soalnya dia panggil anaknya nyonya itu, nampyeon (suami)” kata perawat didepan Emy lagi. Emy tersentak kaget mendengar itu. ‘nampyeon? Bukannya dia itu tunangannya Presdir Kim?’
“ masa sih? Aku kira dia single.” Kata perawat satunya. Emy tak bisa mendengar lagi pembicaraan mereka, karena ia harus keluar dari lift saat lift membuka pintunya dan nampak tulisan besar lantai 4 tertera disana.
Emy berjalan gontai memikirkan pembicaraan kedua perawat tadi. Sesampainya di ruangan, Emy membuka komputernya dan mencari nama pasien yang ada di kamar tempat Helena tadi masuk.
‘ kenapa marga suami nyonya yang sakit itu, Shin? apa benar Helena sudah menikah? lalu Presdir Kim? apa Helena selingkuh?'
Tok...tok...
Ketukan dipintu Emy membuyarkan lamunan Emy.
“ delivery untuk profesor cantik...” dr.Lee masuk dan meletakkan kotak bento di meja Emy. Emy menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Sore hari, Emy menyudahi pekerjaannya. Ia harus segera kembali dan mengecek keadaan Tae Yang. Setelah keluar dari taksi, Emy segera masuk dan berganti pakaian, lalu membawa peralatannya ke kamar Tae Yang.
***Tok...tok..
Ceklek***...
Tae Yang menautkan kedua alisnya begitu ia membuka pintu, dan melihat Emy didepan kamarnya, membawa sebuah tas yang entah berisi apa
“ mau apa kau kesini? Dan siapa yang mengijinkanmu naik ke lantai 2?” tanya Tae Yang kasar
“ maaf, saya hanya mau memeriksa kondisi anda, Predir.” Jawab Emy sambil tersenyum
__ADS_1
“ tak perlu!”
Brakkk...
Tae Yang membanting pintu didepan wajah Emy. Emy menelan ludahnya, matanya berkaca kaca, lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, setelah menyiapkan sarapan seperti biasa, Emy membersihkan dirinya, berpakaian rapi lalu menarik kopernya dan menggendong ransel bututnya, lalu pergi meninggalkan Villa Tae Yang. Ia juga mengirim pesan pada bibi Nam, kalau ia harus pergi dan meminta bibi Nam untuk sampai ke rumah Tae Yang sebelum makan malam. Bibi Nam sudah memberitahu Emy seminggu yang lalu, kalau segala urusannya sudah selesai, dan akan kembali ke Seoul minngu ini, setelah ia mendapat pesan singkat dari Emy, kalau dirinya harus pergi karena ada urusan penting.
Incheon Airport
Emy sudah berada di bandara dengan Ha Na.
“ chagiya...kau yakin bisa sendiri? Gimana kalau ditunda 2 hari lagi..hmm? “ bujuk Ha Na tanpa melepaskan pegangan manjanya di lengan Emy.
“ yaa...Ha Na-a, aku harus segera pergi sekarang, aku sudah beli tiket, aku juga harus ketemu pengacara. Kalo 2 hari lagi, aku gak akan ada waktu buat cek lapangan sama ketemu pengacara.” Tolak Emy.
Ha Na mengerucutkan bibirnya dan hanya bisa mengangguk lemah dan menghela nafas.
“ huhh...gara gara kedua orang brengsek itu, aku jadi pisah lagi sama kamu..” gerutu Ha Na
“ aku kan sudah ngajak kamu, nona Kang.”
“ ceh...kamu ngajak tapi gak kasi tiket, nggak tulus kamu!” cibir Ha Na.
“ hei...yang banyak uang itu kamu, kok malah mintanya ke orang miskin kayak aku...ishhh...”
“ hei...itu bukan uangku. Aku juga kerja disana. Eomma hanya kasi uang gaji aja ke aku. Dan itu pasti udah habis dalam seminggu...” dalih Ha Na mengeraskan suaranya lalu mengecilkan voulumenya ditengah bicaranya hingga akhir, karena banyak orang yang memandangnya.
__ADS_1
“ hahahaha....” Emy tergelak mendengar ocehan Ha Na. Ia tahu sifat ibu Ha Na, ia tak akan memberi Ha Na lebih daripada yang layak ia dapatkan. Karena menurutnya, hanya orang yang bekerja yang menerima upah.