Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Seperti Perawan Lagi - Season 2


__ADS_3

" Kroomm ... kalian adalah bayi-bayi Daddy yang sangat menggemaskan. Jadi, Daddy sendiri yang merawat Mikha dama Micko," jawab Tae Yang semangat.


" Dad, kau bohong!" seru Mikha


Tae Yang tertegun. Bola mata coklatnya menatap putra sulungnya itu.


" Daddy kan dibantu Uncle Hyuk"


" Hei! uncle Hyuk cuma bantu waktu di kantor aja. Gak setiap hari," protes Tae Yang


Hati Emy merasa teriris dan menghangat menjadi satu. Ia merasa menyesal tak dapat merawat bayi-bayinya. Tapi, ia juga bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersatu dengan kedua putranya.


" Ck ... tapi Mikha lebih seling sama Uncle Hyuk," oceh Mikha menggoda Daddynya


" Hei! kalian kan selalu Daddy bawa ke kantor Daddy. Daddy juga yang kasih susu, ganti pampers, kasih mandi ..."


" Iya, tapi susunya yang bikin Uncle Yuk (Hyuk)," sahut Micko. Tae Yang tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal


Tok ... tok ...


ceklek


" Maaf, saya mengantar makannya, Nona Muda," kata seorang wanita paruh baya dengan mendorong sebuah meja beroda.


Tae Yang mengangguk dan mempersilahkan wanita itu masuk.


" Sayang, makanlah dulu," kata Tae Yang dan membantu mengatur posisi duduk Emy. Menurunkan kedua buah hatinya dari atas bed Emy dan menata meja lipat yang kemudian ia beri nampan berisi makanan.


"Terima kasih, sayang, terima kasih juga, Ahjumma," kata Emy. Tae Yang tersenyum dan mulai membuka plastik yang menutup makanan istrinya. Ibu setengah baya itu mengangguk dan tersenyum lalu pamit pergi


" Dad, Tante yang pakai liptik (lipstik) melah (merah) kok gak ke kantol (kantor) Daddy lagi?" celetuk Micko sesaat setelah ia melihat Mommynya makan dan Daddynya membuat kopi.


Entah kenapa ketika ia melihat minuman berwarna hitam di tangan Tae Yang bocah pintar itu teringat akan hal itu.


Tringgg ...


Sendok pengaduk kopinya terjatuh. Tae Yang mendelik mendengar ucapan Micko. Susah payah lelaki itu menelan salivanya dan perlahan menatap istrinya. Emy memicingkan matanya melihat suaminya yang salah tingkah setelah Micko bertanya soal wanita berlipstik merah.


" Ehm ... sayang, itu ... wanita itu hanya mantan sekretarisku. Aku ... aku sudah memindahkannya ke bagian perencanaan," jelas Tae Yang dengan senyum dipaksakan.


" Micko-a, tante lipstik merah ngapain aja di kantor Daddy?" tanya Emy dengan mata sesekali melirik tajam suaminya.


" Oh ... tante liptik (lipstik) melah (merah) kasih Daddy kopi, kasih kue telus (terus) bantu Micko sama Mikha belajal (belajar)," jawab Micko dengan wajah polosnya. Tak menyadari asap sudah mengepul di atas kepala Emy. Tae Yang yang melihat perubahan wajah Emy bertambah panik.


" Eh ... eh, sayang. Itu ... itu kan karna waktu itu dia sekretarisku. Kamu mengerti, kan? He ..he ..." jelas Tae Yang dan tertawa hambar serta memalingkan wajahnya.


" Ya ... ya, aku mengerti ... sangat mengerti, Tuan Kim Tae Yang. Karena aku pengertian maka, mulai besok aku tidur di kamar baby Miguel!" rajuk Emy dan melahap rakus makanannya hingga habis.

__ADS_1


Tae Yang terkejut dan langsung menghampiri Emy.


" Sayang ... sayang, jangan begitu. Aku sama sekali tak ada hubungan dengannya, dia...


Tok ...tok...


" Hallooo ..."


Seorang wanita melongok melihat ke dalam setelah membuka pintunya.


" Boleh aku masuk?" tanya wanita itu. Emy tersenyum lebar ketika ia melihat siapa yang datang.


" Ha Naaaa!" serunya bahagia dan mendorong tubuh suaminya menjauh.


" Haiiii ... Buuuuu ..." seru Ha Na dan membentangkan lebar-lebar tangannya menuju bed rawat Emy. Keduanya berpelukan dan cipika cipiki.


" Hei ... kamu kenapa?" tanya Evan yang berjalan masuk sambil menggendong Sean dan menggandeng Emilia.


Tae Yang menatap Evan dan memberi pelukan lelaki pada paman Emy itu.


" Kenapa kamu? apa karena mulai sekarang kamu harus puasa?" bisik Evan menggoda menantunya.


Tae Yang menatap Evan tak mengerti.


" Ck ... kau itu. Maksudku, kamu tidak bisa minta jatah lagi sama istrimu mulai sekarang," jelas Evan


" Hah?! Memang kenapa?" tanya Tae Yang lagi bertambah bingung dan melihat istrinya.


" Ishh ... kau itu bodoh atau pura-pura bodoh, sih ... ck," kata Evan


Tae Yang mendengus kesal mendengar perkataan Evan. Ia menipiskan bibirnya dan hendak bertanya, tapi suara ketokan pintu menghentikannya.


Tok ... Tok ...


" Permisi," kata orang itu


" Oh, dr. Han. Mari masuk," kata Emy ramah.


" Dokter Sie, saya cek dulu, ya," kata dr. Han. Emy tersenyum dan mengangguk.


" Maaf, tolong menunggu diluar sebentar, Tuan Muda, Tuan dan Nyonya," pinta perawat dr. Han dengan sopan. Tae Yang, Evan dan Ha Na mengangguk. Tae Yang mengajak kedua putranya keluar dan membujuknya.


" Mikha mau sama Mommy,"


" Micko juga,"


" Mikha, Micko, dokter mau periksa Mommy dulu. Jadi, kita semua harus tunggu diluar." jelas Tae Yang.

__ADS_1


" Tapi Mommy juga doktel (dokter), kenapa di peliksa (periksa) doktel (dokter)," tanya Micko


" Karena Mommy baru melahirkan adik Miguel, sayang," jawab Tae Yang


" Apa itu melahilkan (melahirkan)?" tanya Mikha


" Ya, mengeluarkan adik bayi dari perut Mommy," kata Tae Yang


" Adik bayi kelual (keluar) dali (dari) mana, Dad?"


Ah, pertanyaan itu muncul lagi. Tae Yang kelabakan dan mencari pertolongan pada istrinya. Tapi sayang, Emy masih ingat tentang wanita berlipstik merah, jadi pertolongan pun tak didapat lelaki malang itu.


" Anak-anak, Aunty periksa Mommy dulu, ya? Biar Mommy bisa cepat pulang ke rumah. Mikha sama Micko mau kan, Mommy cepat pulang?" bujuk dr. Han. Mikha dan Micko mengangguk lalu berjalan keluar diikuti Tae Yang.


" Maaf, saya baru bisa datang karena tadi ada pasien PROM (premature rupture of membranes / pecah ketuban sebelum waktunya)," jelas dr. Han seraya membuka baju pasien Emy dan memeriksa dada dan perut Emy.


" Tak apa, Dok," kata Emy dengan senyum.


Selesai dengan pemeriksaanya, Emy memberanikan diri bertanya pada dokter bertubuh pendek dan berisi itu.


" Dokter Han, sayatan Episiotomi saya ( sayatan yang dibuat pada perineum /jaringan di antara jalan lahir bayi dan anus, pada saat proses persalinan) di tahap berapa?" tanya Emy


" Second Degree Perineal Tear (Robekan tahap 2 pada ****** yaitu robekan lebih dalam hingga merobek otot dan kulit.), Dok," jawab dr. Han.


Emy mengangguk dan mengigir bibir bawahnya. Dokter Han tersenyum melihatnya.


" Saya menjahitnya sangat amat rapi dan tetap menyisakan ruang untuk suami Anda. Jadi, jangan kuatir .... hasilnya silahkan Dokter Sie buktikan setelah masa nifas, ya," goda dr. Han dengan berbisik di bagian akhir kalimat. Emy tersipu malu mendengarnya. Dokter Han terkekeh melihatnya.


" Hahaha ... saya paham, dr. Sie. Jadi, jangan malu. Saya menjahit Anda lebih sempit, persis seperti perawan lagi," goda dr. Han dengan tawanya lagi. Wajah Emy semakin memerah mendengarnya.


Merasa sudah puas menggoda istri Bos Kimtae itu, dr. Han pun pamit.


" Baiklah, saya rasa, saya tidak perlu menjelaskan cara perawatan dan obat yang harus minum dr. Sie. Jadi, saya permisi dulu,"


Emy mengangguk. Dokter Han keluar ruangan Emy dengan tawa yang tertahan.


Di luar Tae Yang dibuat pusing dengan pertanyaan Mikha dan Micko. Evan dan Ha Na terpingkal dibuatnya.


" Mikha, Micko. Bagaimana kalau main dengan Emilia?" bujuk Evan kemudian karena merasa kasihan dengam suami anak babtisnya.


" Daddy, apa boleh?"


Tae Yang dengan sumringah dan mantap mengangguk menyetujui.


" Tapi ... Grandpa Evan, apa Emilia bisa bermain PS?" tanya Mikha


" Tentu bisa, sayang," jawab Evan

__ADS_1


" Apa Emilia juga bisa seperti Mommy bikin adik bayi?" tanya Micko


Gubrak


__ADS_2