
" Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pelayan setelah Emy turun dari taksi yang mengantarnya pulang dari rumah sakit. Emy tersenyum dan mengangguk.
" Terima kasih. Ah, apa Tae Yang dan Anak-anak sudah pulang?" tanya Emy
" Tuan Mikha dan Tuan Micko ada di kamarnya, Nona. Kalau Tuan, belum kembali," jawab pelayan itu.
" Baiklah, terima kasih. Aku masuk dulu," pamit Emy lalu masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamar si kembar, mata indah Emy membelalak. Kamar mereka sudah seperti kapal pecah dengan kedua bocah sedang tertidur di lantai, padahal ada 2 kasur di dekat mereka. Tangan Micko memeluk kakak kembarnya yang tidur di sebelahnya dengan posisi tengkurap.
Bukk..
Kaki Micko tiba-tiba menindih pinggang Mikha dengan keras. Membuat si pemilik pinggang terkejut dan mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam.
Emy menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua bocah itu.
" Aduh, Anak-anakku ini ... ckckck ..." gumam Emy. Ia mulai membersihkan ranjang putranya dan memindahkan keduanya satu per satu ke kasur. Selepas memberi kecupan papa keduanya, Emy mulai membersihkan kamar si kembar.
Ceklek
Emy mengalihkan perhatiannya dari barang-barang yang ada di tangannya ke arah pintu.
" Sayang, ngapain? Kenapa kamu yang beres-beres?" tanya Tae Yang.
" Sudahlah, ini kan kamar Anak-anakku. Jadi, aku juga mau ikut membereskannya." Jawab Emy
" Iya, tapi kamu baru pulang kerja. Lihat, kamu juga belum ganti bajumu. Ayo, sudah. Taruh itu."
Tae Yang mengambil tumpukan kain dan mainan dari tangan Emy dan menaruhnya asal. Emy menaikan alisnya melihat apa yang Tae Yang lakukan.
" Lho, jangan ..."
" Sudah, ayo mandi dulu," potong Tae Yang lalu menarik tangan Emy keluar dan menutup pintu kamar si kembar. Emy menghela nafas dan mengikuti perkataan calon suaminya.
Sampai di kamar, Tae Yang segera menutup pintu dan menyerang bibir merah muda Emy. Karena kaget, Emy melebarkan matanya dan tak membalas ******* Tae Yang. Bukan Tae Yang namanya, kalau ia tak bisa membuat seorang wanita mendesah karena sentuhan dan buasnya ciuman yang ia beri.
__ADS_1
Mereka hanya berhenti menyatukan bibir hanya setelah kehabisan nafas. Pandangan keduanya bertemu. Senyum seringai muncul di bibir seksi laki-laki idaman wanita di seluruh Korea itu.
Hap
" Aaaa ..."
Tae Yang mengangkat tubuh wanitanya dan membawanya ke kamar mandi. Aksinya bertambah panas seketika. Kamar mandi dengan Jacuzzi (kolam air hangat yang memiliki lubang-lubang kecil yang terus mengalirkan air dengan tekanan tertentu, yang menyembuhkan nyeri otot dan persendian hingga memperlancar aliran darah), kian bertambah riaknya akibat pergulatan keduanya.
3 jam kemudian, Tae Yang keluar menggendong tubuh molek, ibu kedua putranya, kembali ke kamar. Ia meletakkan Emy perlahan ke atas kasur seakan tubuh mungil Emy adalah sebuah porselen yang rapuh. Ia mengambil posisi di samping Emy dan menarik selimut, bersiap menyusul sang calon istri ke alam mimpi.
Beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Emerald dalam pengawasan dr. Lee, Yu Zhen kelihatan membaik. Luka-lukanya mulai mengering. Emy yang tak pernah absen untuk mengunjunginya, merupakan salah satu obat paling ampuh bagi laki-laki ganteng dan manis itu untuk segera pulih.
Tapi, hari ini adalah hari pemotretan Emy dan Tae Yang, sehingga Emy hanya bisa menitipkan makanan sehat untuk Yu Zhen melalui dr. Lee. Tae Yang yang mengetahui Emy mengirim makanan untuk laki-laki lain, melampiaskan amarahnya pada para pelayannya.
Ia juga mendiamkan Emy selama perjalanan menuju Pantai Eurwangni yang terletak di sebelah barat daya dari Pulau Yongyudo dekat Bandara Internasional Incheon.
" Tae Yang-ssi ..." Panggil Emy. Tae Yang hanya meliriknya tanpa menjawab. Matanya masih memandang keluar jendela mobil Van, yang sama seperti milik girlband SNSD itu.
Emy mendesah dan tak lagi mencoba berbicara pada lelaki disebelahnya. Bersama dengan si kembar, Emy bermain dan menjawab setiap pertanyaan kedua putranya. Merasa tak dipedulikan, kekesalan Tae Yang bertambah.
" Daddy! Daddy iyat (lihat) apa?" tanya Micko sembari berjalan mendekati jendela dan ikut melihat keluar, saat mobil Van mereka berhenti di sebuah lampu merah.
Micko terus memperhatikan banyaknya manusia yang lalu lalang diluar.
" Daddy! Daddy! Lihat! Om itu mau makan tante!" seru Micko.
Emy dan Mikha mendekat ke jendela. Tae Yang mengerutkan alisnya. Sebuah pemandangan tak layak untuk bocah seumuran keduanya.
Emy yang sadar apa yang Putra-putranya lihat, reflek menutup mata mereka dengan tangan ia rangkulkan dari belakang. Matanya menatap tajam Tae Yang.
Sadar dengan tatapan wanitanya, Tae Yang menelan salivanya.
" Sa--sayang, aku kan tidak tahu kalau ada ..." penjelasan Tae Yang terpotong saat melihat mata Emy yang semakin melotot.
Mikha dan Micko melepas paksa tangan Emy. Untunglah lampu sudah kembali hijau, sehingga mobil itu sudah mulai berjalan menjauh.
" Mommy! Om tadi mau makan tantenya!" seru Mikha lagi dengan mata membulat.
__ADS_1
" Gak papa, Nak. Kan tantenya mau," jawab Tae Yang
Thas..
" Auwww ..." Jerit Tae Yang. Ia melihat Emy yang melotot padanya.
" Sayang, sakit. Kamu keras sekali pukulnya. LihatĀ nih! merah ..." rengek si bos Kimtae.
" Makanya, tolong perhatikan kata-katamu. Ada Anak-anak," jawab Emy sambil kembali ke posisi semula dengan ekspresi tak bersalahnya.
" Mommy! Kenapa pukul Daddy?" tanya Mikha tak mengerti
" Oh, ada nyamuk tadi di tangannya Daddy," jawab Emy tersenyum canggung.
Cup
Mata Mikha dan Micko membulat melihat Daddynya mencium sang Mommy. Emypun tak kalah kaget.
" Daddy! dangan tium-tium (jangan cium-cium) Mommy!" seru Mikha
" Daddy! Itu Mommy Micko tama Mikha( itu Mommy Micko sama Mikha)!" seru Micko
" Daddy cuma terima kasih ke Mommy, sudah bantu Daddy bunuh nyamuknya," jawab Tae Yang enteng.
Mikha dan Micko mendekati Mommynya lalu naik ke pangkuannya. Mereka memeluk posesif sang Mommy dengan mata memicing pada Tae Yang.
" Mikha, Micko, Mommy juga punya Daddy. Daddy juga sayang sama Mommy," protes Tae Yang
" No No No! Mommy puna Mikha tama Micko ( Mommy punya Mikha sama Micko)!" Protes Mikha dan diangguki Micko
" Tapi, kalau gak ada Daddy, Mikha sama Micko juga gak ada," jawab Tae Yang tak mau kalah.
" No! Mikha tama Micko dali cini! Bukan titu (Micko sama Mikha dari sini! Bukan situ)!" Seru Micko seraya menepuk perut Emy dan menunjuk perut Daddynya.
" Iya, tapi Daddy yang masukin punya Daddy kesana ..." Jawaban Tae Yang membuat mata Emy mendelik. Ia kembali menatap Tae Yang tajam. Namun, laki-laki itu hanya mengangkat alis dan tersenyum tipis. Emy menipiskan bibirnya dan menarik nafas lalu menghembuskannya kasar.
" Sayang, kan harus jujur ..." Kilah Tae Yang dengan senyum yang menyebalkan untuk Emy.
__ADS_1
" Mommy, punya Daddy mana nang matuk ke Mommy ( punya Daddy yang mana yang masuk ke Momny)?" tanya Mikha