Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Meratapi Kebodohan


__ADS_3

Tae Sang membaca setiap lampiran berkas dan melihat foto foto yang tersusun rapi yang terlampir. Menelan salivanya dengan berat, Tae Sang berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak.


' Emy, kau... maafkan aku. aku... aku akan berusaha untuk menerimamu.' gumam Tae Sang dalam hati.


flashback off


Hari hari dan bulan terus berjalan, hubungan Emy dan Tae Sang mulai membaik. Emy sering mendapat traktiran makan siang dari Tae Sang, yang terkadang membuat dr. Lee Kyong jengkel, karena bento yang ia bawa, seringkali tak termakan.


Perlakuan Tae Sang terhadap Emy jauh berbeda dari bulan bulan sebelumnya, ketika ia awal menikah kontrak dengan cucu tunggal pemilik Kimtae Building Corp itu. Kini Tae Sang sering bersikap lembut dan mengajak Emy bercanda. Hingga sedikit demi sedikit hati Emy yang tertutup mulai sedikit terbuka.


Layaknya pasangan yang sedang pacaran, Tae Sang bahkan beberapa kali menjemput Emy di rumah sakit sambil membawa buket bunga, kadang ia juga memberi hadiah yang menurut Emy, harganya terlalu mahal.


" apakah ia sudah menerimaku? dan apakah ia akan terus bersikap manis seperti ini padaku?" gumam Emy dalam hati. Ia takut terluka ketika kini ia mulai membuka hatinya pada manusia yang berjenis kelamin laki laki, yang tinggal bersamanya dan berstatus sebagai suami sahnya. Ia masih ingat kalau Helena dan Tae Sang adalah pasangan. Tapi pertanyaan yang selalu melayang di pikiran dan hatinya tak berani ia ungkapkan.


Emy hanya ingin menikmati hidupnya di Korea selama masih terikat kontrak disini, lalu ia akan kembali pada kehidupan lamanya. Tapi sikap dan tatapan Tae Sang, sedikit banyak mengubah pandangannya akan masa depannya kelak.


Kebimbangan selalu muncul bak 2 malaikat kecil diatas kedua bahu Emy. Seorang Malaikat berbaju putih dengan wajah lembut yang selalu meyakinkan Emy untuk melangkah pasti dan menerima kebaikan Tae Sang serta membuka hatinya, dan seorang malaikat berbaju merah dengan tanduk dikepalanya yang selalu membuat Emy menahan rasa di hatinya.


Emy sering merasa takut dianggap sebagai orang ketiga penyebab kehancuran hubungan kasih Tae Sang dengan Helena. Ia tak ingin menyakiti hati sesama wanita.


Kegalauan Emy tersisihkan berkat sebuah panggilan telepon dari laki laki yang kini sering memenuhi pikirannya. Tae Sang mengajak Emy berlibur dan disanggupi dengan gembira oleh Emy, karena ia memang butuh refreshing untuk menjernihkan pikirannya dan merilekskan badannya yang lelah, karena tumpukan pekerjaan yang harus ia kerjakan setiap harinya.


Dengan hati yang gembira, Emy pulang ke Villa setelah shift malamnya. Sebuah mobil, terparkir rapi di depan pagar batu Villa Tae Sang. Mobil asing yang membuat Emy bertanya siapa pemiliknya.

__ADS_1


Emy masuk kedalam Villa besar yang dominan dengan kaca dan furniture futuristik itu. Seorang wanita berambut ikal berwarna pirang, duduk membelakangi Emy. Tak ada satupun didalam rumah itu, bibi Nam tak nampak di "kantor"nya.


" mm..maaf, permisi... " Emy mendekati wanita yang duduk di ruang TV itu, dengan hati hati dan keraguan.


Wanita itu menengadahkan wajahnya melihat Emy.


" oh... apa kau yang bernama Emy Sie?" tanyanya dengan nada sinis dan seringai dibibirnya.


" ah.. iya. saya Emy, anda..."


" hahaha... aku adik Tae Sang oppa..."


Emy menatap bingung wanita dihadapannya. Yang ia tahu, Tae Sang adalah anak tunggal dan ayah Tae Sang juga anak tunggal, jadi...


" mm... maaf tapi, setahu saya ia adalah anak tunggal." tegas Emy namun dengan suara lembut.


Emy mengangguk dan meninggalkan wanita tak sopan itu, lalu kembali ke kamarnya. tubuhnya sudah terasa lelah, semalam ia harus menangani pasien emergensi yang lumayan banyak, karena musibah tabrakan beruntun di jalan tol.


Setelah membersihkan tubuhnya dan meminum obatnya, Emy membaringkan tubuhnya dan masuk ke alam mimpi.


***tok...tok...tok..


tok...tok...tok***

__ADS_1


gedoran pintu kamarnya yang bertubi tubi, membuat Emy terbangun. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya yang mungkin belum genap dan mengerjapkan matanya menatap pintu kamarnya.


Dengan langkah gontai dan rambut acak acakan, Emy menghampiri pintu kamarnya dan membuka pintu.


ceklek


" ah, Presdir? ada apa?" tanya Emy dengan suara parau khas bangun tidur. Emy tak menyadari tatapan mata Tae Sang yang tajam dan memerah karena ia sedang menguap.


" kau! seenaknya saja kau tidur, dan kau tidak peduli kalau adikku kelaparan, huh?!" bentak Tae Sang membuat Emy berjingkat kaget.


" huh?! tapi nona tadi yang menyuruh saya pergi dan tidak menganggunya." bela Emy sambil menatap Tae Sang kesal.


" apa kau bilang? seenaknya saja kau mengalihkan kesalahan pada orang lain, huh?! apa karna aku sudah terlalu baik padamu, jadi kau anggap bisa berbuat seenaknya, huh?!" Kembali bentakan Tae Sang memekakkan telinga Emy.


'apakah ini laki laki yang mengajakku berlibur tadi pagi? apakah ini laki laki yang sudah begitu baik memperlakukanku?' batin Emy, matanya menatap Tae Sang dengan penuh tanda tanya.


Tae Sang begitu geram mendapat tatapan tak berdosa Emy. Ia menyeret tangan Emy dengan kasar, lalu membawanya ke lantai 2 dan membuka kasar pintu di sebelah kiri tangga. Disana seorang wanita sedang berbaring dengan infus ditangannya.


Emy mengeryitkan dahinya. Ia tak mengerti dengan maksud semua ini, hingga tak sadar, badannya sudah dihempaskan Tae Sang kedepan dan membuat Emy tersungkur. Karena begitu tiba tiba, hempasan kasar Tae Sang membuat kepala Emy terbentur ujung tempat tidur yang terbuat dari kayu, dan membuat dahi Emy berdarah.


Emy memandang Tae Sang tak percaya, baru tadi pagi ia mendapat telepon dari Tae Sang, dan perlakuan manis dari laki laki itu, tapi kini, sikap dan tatapan itu berubah 180°.


Tak ada raut penyesalan diwajah Tae Sang. Ia hanya melihat Emy sekilas lalu berjalan dan naik keatas tempat tidur wanita itu, tanpa mempedulikan Emy yang masih tersungkur dan meringis kesakitan di lantai.

__ADS_1


Emy meratapi kebodohannya, tak mungkin seorang Tae Sang mau menerima dirinya begitu saja, bahkan bersikap manis padanya. 3 bulan perlakuan manis Tae Sang, sudah berakhir.


Emy berusaha berdiri, tapi kepalanya begitu pusing. Pandangannya gelap. Tubuh kecil itu akhirnya terjatuh tergeletak tak berdaya dan darah mengalir bebas disisinya.


__ADS_2