
“ Apa bisa tolong kau tambah bodyguard untuk menjaga Yu Zhen? Aku takut orang yang menusuk Yu Zhen akan kembali lagi karena ia melihat Yu Zhen belum mati,” pinta Emy. Dengan berat hati Tae Yang mengangguk menuruti permintaan istrinya. Tapi, sepertinya tindakannya tak sia-sia
CUP
Emy memberi ciuman di pipi lelaki itu. Tae Yang membulatkan matanya tak percaya. Perlahan ia menoleh dan melihat istrinya melihatnya dengan senyum menawannya.
“ Terima kasih, sayangku,” ucap Emy dan bergelayut manja pada lengan kekar suaminya. Tae Yang tersenyum malu-malu seperti seorang ABG yang baru saja mendapat ciuman dari wanita incarannya.
Ae Rim tersenyum bahagia melihatnya. Ia bersyukur karena keduanya tak jadi berpisah.
Ting
Pintu lift terbuka, Tae Yang segera keluar dengan Emy yang masih bergelayut pada lengannya, diikuti Ae Rim yang menggendong Micko. Lelaki itu berjalan dengan gagah dan bangga.
“ Baiklah, Ae Rim. Terima kasih, ya. Maaf merepotkanmu,” ucap Emy setelah Ae Rim meletakkan Micko di kursi penumpang.
“ Hei! kau seperti dengan siapa saja,” jawab Ae Rim dan menepuk bahu Emy lembut. Emy dan Ae Rim tertawa. Emy segera masuk ke dalam mobil dan menempatkan kepala Micko di atas pahanya. Micko yang mencium aroma yang sangat ia kenal, menelusup lebih dekat pada Emy. Emy tersenyum melihatnya.
“ Sayang, taruh kepala Micko di pahaku aja, ya,” pinta Tae Yang dengan manja
“ Kenapa”
“ Itu, itu hanya aku yang boleh disitu,” rajuk Tae Yang seraya menunjuk area terlarang Emy. Emy menipiskan bibirnya dan menatap jengah suaminya
“ Kau itu, dia anakmu, sayang.”
“ Iya, tapi kan itu ...”
“ Ck ... kau lupa janjimu, hmm?” ucap Emy dengan mata memicing. Tae Yang gelagapan dan akhirnya memalingkan wajahnya dengan cemberut. Emy menghela nafas dan menyentuh bahu suaminya.
“ Anakmu masih kecil, jangan seperti itu. Kalau dia sudah dewasa, mereka tak kan seperti itu, sayang,” tutur Emy.
Perlahan, Emy mendekatkan bibirnya di telinga suaminya.
“ Malam ini kau bisa melakukannya sepuasmu, “ bisik Emy di telinga suaminya dengan suara mendesah, dan sedikit menjilatnya. Tae Yang serasa disengat listrik. Ia menahan senyumnya dengan melipat bibir. Ia menoleh dan melihat istrinya.
“ Kau sendiri yang mengatakannya, ya ... jangan menyesal,” balas Tae Yang dengan berbisik dan sedikit mengigit daun telinga Emy, membuat wajah dan telinga emy seketika memerah.
__ADS_1
Tae Yang tersenyum melihatnya. Hatinya berbunga-bunga. Biasanya Emy hanya mengijinkannya hingga 2 kali saja, padahal ia masih belum puas. Malam ini, ia berjanji akan membuat istrinya tak bisa bangun esok hari. Sekaligus hukuman karena wanitanya selalu membuatnya cemburu.
Tae Yang kembali mendekatkan bibirnya di telinga istrinya,
" Persiapkan dirimu, sayang. Pakai lingerie merah itu, ya." goda Tae Yang dan membasahi bibir atasnya dengan lidahnya perlahan dan sensual.
Glek
‘ Sepertinya aku salah bicara,’ batin Emy ketika ia melihat senyuman licik di bibir suaminya.
Sampai di Mansion, Tae Yang segera membawa Mikha ke dalam kamarnya dan meminta sopir menggendong Micko. Selesai membaringkan Micko dan menyelimuti kedua putranya, Tae Yang segera keluar dari kamar si kembar dan di sambut Evan dan Luther yang menatapnya geram.
“ Ikut aku!” titah Evan, lalu berbalik diikuti Luther yang juga memberikan tatapan tajam padanya. Tae Yang mendongak dan mengusap wajahnya dengan kasar
“ Uffff .... sepertinya impianku akan musnah malam ini,” gumam Tae Yang lalu berjalan gontai mengikuti Evan dan Luther ke halaman belakang
Sampai di sana, kedua laki-laki kaukasia itu sudah berdiri menunggunya. Tae Yang menelan salivanya, ketika ia melihat Evan melilitkan kain di tangannya dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
Evan mendekati Tae Yang, yang hanya bisa pasrah jika Evan akan memukulnya, karena walaupun ia juga bisa bela diri dan tak kalah dengan Evan, tapi ia tak mungkin melawan Paman kesayangan istrinya. Yang ada, jika sampai Evan terluka karena pukulannya, istrinya pasti akan mengulitinya hidup-hidup.
Bugh .. Bugh ... Bugh
“ Itu adalah hukuman karena kau berani membuat putriku malu,” kata Evan sembari melihat hasil karyanya yang tercetak di mata dan ujung bibir Tae Yang.
Tae Yang memegangi wajah dan perutnya.
‘ Kalau wajahnya jelek, kasihan putriku,’ pikir Evan ketika ia melihat bibir dan mata Tae Yang lebam
Bugh .. Bugh .. Bugh ...
Kali ini Evan menarget perut Tae Yang saja
“ Itu untuk rasa sakit yang kau torehkan di hati putriku,” lanjutnya
" Ufff ..." rintih Tae Yang menahan sakit
Bugh .. bugh .. Bugh ..
__ADS_1
“ Dan itu, karena kau membuatku kehilangan uang untuk membeli semua tiket itu ... ck ...”
ujar Evan dan beranjak dari situ lalu duduk dekat kolam.
Tae Yang dan Luther terbengong mendengar alasan Evan kali ini.
Luther kemudian maju dan mendekati Tae Yang, ia juga sudah menyiapkan diri untuk menghadiahi suami Emy itu bogeman mentahnya.
Luther mengambil ancang-ancang dan Tae Yang memejamkan matanya.
“Aaarrrghhhhh!!” seru Luther, “ Aduh, aduh ...sakiitt ...aaahhhhh, lepas lepas ...” teriak Luther.
Tae Yang membuka matanya perlahan. Bibir seksi Tae Yang terukir tersenyum senang. Evan menahan senyumnya. Sebenarnya ia sudah tahu saat Emy mendekat dengan membawa mainan sekop yang lumayan keras kelihatannya, ketika Luther juga sudah berjalan mendekati Tae Yang dengan tangannya sudah ia lilit kain seperti Evan., tapi ia sengaja diam saja dan tak memberitahu Luther
“ Berani sekali kau membuat suamiku bonyok seperti itu! Kau memang harus dihukum! “ teriak Emy dan masih terus menarik telinga Luther
“ Itu, itu bu ...”
“ Iya, Nak. Lihatlah hasil perbuatan Luther. Suamimu sampai biru-biru wajahnya. Perutnya juga pasti sakit, benarkan, Tae Yang?” serobot Evan dengan cepat dan menatap tajam pada Tae Yang
“ Luther, KAU!!” teriak Emy semakin menarik telinga Luther
“ Aaaaaa ....” teriak Luther
Tae Yang masih melongo sejak Evan berbohong tadi dan kembali melihat Emy dan tersenyum seperti orang bodoh lalu mengangguk.
Emy mendorong tubuh Luther ke tanah setelah ia melihat anggukan suaminya atas pertanyaan Evan. Emy menduduki tubuh Luther yang jatuh tertelungkup di tanah, dan menggunakan mainan sekop Anak-anaknya lalu memukul punggung Luther dengan keras. Ia juga dengan sengaja duduk dengan keras diatas bokong Luther dan membuat Luther junior menempel keras ubin dibawahnya.
“ Auww ... eeerghhh ... ju ...nior ... ku ...” rintih Luther
Emy tak menggubrisnya dan terus memukul punggung Luther tanpa ampun. Evan berjalan melenggang tanpa dosa, masuk ke dalam Mansion dan duduk serta meminta kopi dan camilan pada pelayan.
Tae Yang yang masih terkejut melihat istrinya menjadi bar-bar, mendekati Emy dan mengambil sekop dari tangan istrinya, “Sayang, sudahlah. Aku tak mau kau duduk di situ. Tolong obati aku saja, ya?” ucap Tae Yang dengan lemah
“ Oh ... iya, sayang. Maaf, maaf. Aku hanya kesal sampai lupa padamu,” kata Emy seraya berdiri dan menakup wajah suaminya. Jemarinya menyentuh lebam Tae Yang dan membuat suaminya meringis
“ Oh, Maaf, maaf sayang. Ayo, aku akan menggobatimu,” kata Emy lembut. Keduanya masuk berjalan masuk ke dalam Mansion dengan Emy memapah suaminya, meninggalkan Luther yang duduk dan menggeliat sakit.
__ADS_1
“ Kalian memang cocok, pasangan kejam! ...Paman Evan ... aku balas nanti ... auww .. hufff ...” rintih Luther
“ Badannya kecil, tapi kekuatannya seperti wanita 100 kg, ... Ufff ... sakit sekali. Juniorku ... aauwww ... apa masih bisa berdiri, ya? Ahh ... aku mau coba nanti. Untung bawa laptop. Kalau tak berdiri, sia-sia ketampananku ...” gumam Luther