Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Malpraktek (4)


__ADS_3

Ia ingin menelepon dan bertanya tentang keadaannya, dan berkata, “ Aku ada dan siap membantumu.” Tapi, ia masih tak punya keberanian. Ia teringat akan kesalahannya di masa lalu. Akan sikapnya dan kata-katanya yang tak pantas untuk dikatakan.


Hanya karena emosi sesaat, ia harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia tak mengira, keangkuhan dan kebodohannya membuat hidupnya saat ini tersiksa. Butiran-butiran bening mulai menetes di pipinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Hanya desahan penyesalan dan tangis yang tertahan yang terus menghiasi kehidupannya sehari hari.


Seoul 


Brassss...


“ Ahh...segarnyaaa....” Setelah 3 jam bergelut dengan organ manusia, akhirnya Emy bisa merasakan segarnya guyuran air hangat. Tak seperti biasanya, kali ini ia menghabiskan 30 menit untuk menyegarkan diri di ruangan sempit itu. Puas dengan guyuran shower, Emy juga bersantai mengeringkan rambut dan badannya lalu keluar dengan memakai seragam scrub warna hijau dan memakai jas dokternya lagi. 


Triiingggg...


Notifikasi pesan singkat di hpnya kembali berbunyi. Emy merogoh saku jas dokternya dan melihat si pengirim pesan. Ahh.. ternyata dari Direktur Kang. Dikembalikannya benda pipih itu kedalam kantong dan segera menuju lift. Setelah menekan tombol lift,


Ting..


Pintu lift terbuka, disana sudah dr. Lee dan dr. Ma yang menyapanya dengan senyum mereka. Emy membungkuk dan masuk lift. 


“ Dokter Lee, dr. Ma... Kalian juga dipanggil Direktur?” Tanya Emy setelah menempatkan dirinya diantara kedua dokter yang berusia jauh diatasnya.


“ Hahaha... Iya, tak apa dr. Sie. Kau jangan kuatir. Kita tidak melakukan kesalahan. Kau sudah mengambil keputusan yang tepat!” Sahut dr. Ma dengan tawanya disambut anggukan dan tepukan di bahu Emy. Emy hanya tersenyum, ia tak pernah menyesal mengambil keputusan itu. Yang ia tahu, ia ingin menyelamatkan nyawa pasien. 


Ting....

__ADS_1


Pintu lift sudah terbuka, dr. Lee dan dr. Ma mempersilahkan Emy keluar lebih dulu. Sampai di ruangan Direktur, tanpa ragu dr. Lee mengetuk pintu berwarna putih itu. 


“ Masuk!” Terdengar suara dari dalam. Dokter Lee dan dr. Ma masuk dan diikuti Emy. Disana sudah ada dr. Cha yang memandang ketiganya dengan wajah garang. Emy melihat dr. Cha sekilas kemudian duduk di samping dr. Lee yang berhadapan dengan dr. Cha. Sedang dr. Ma berada disamping dr. Cha. 


“ Kalian tentu tahu apa maksud kalian dipanggil kemari, bukan?” Tanya Direktur Kang. Dokter Lee, dr. Ma dan Emy hanya mengangguk, tapi tak ada ekspresi cemas atau takut diantara ketiganya. Dokter Cha menyeringai dan memalingkan mukanya.


“ Sekarang, bisa kau jelaskan dr. Sie?” Direktur Kang menatap Emy dengan lembut dan mengangguk. Ia tahu bahwa dokter kecilnya sudah melakukan tindakan yang benar dan keputusan yang tepat.


“ Saya rasa, Anda sudah menerima rekam medis dari pasien Kim So Yin, Direktur. Saya hanya bertindak, karena dokter yang bersangkutan tidak ada ditempat untuk melakukan tindakan.” Jawab Emy datar.


Dokter Cha menatap Emy tajam. Wajahnya memerah lalu mengarahkan jari telunjuknya pada Emy.


“ Apa kau bilang?! Kau jelas-jelas sudah mengambil pasienku, dan sekarang kau melimpahkan kesalahan padaku?!” bentak dr. Cha.


Brakkk..


“ Ini kedua kalinya Anda terlambat di jam kerja, dr. Cha! Dan sekarang, anda menyalahkan dokter lain?” lanjut Direktur Kang dengan geram yang ditanggapi dr. Cha dengan menunduk.


“ Dokter Sie, sekarang jelaskan pada saya kronologisnya.” Direktur Kang mengalihkan perhatiannya pada Emy. Mendengar itu, Emy mengangguk dan mengambil rekam medis yang disodorkan dr. Lee dan tersenyum.


“ Ini adalah rekam medis Nona Kim. Kurang lebih 5 bulan lalu, Nona Kim mengalami kecelakaan yang menyebabkannya menderita Hematoma dan Hemothorax. Karena waktu itu terjadi pendarahan Epidural, saya lebih memilih untuk menanganinya lebih dulu setelah caesaren berhasil, sedang...,” belum selesai Emy menjelaskan, Direktur Kang mengangkat telapaknya kearah Emy dan menatap Emy sembari mengangkat alisnya.


“ Dokter Sie, katakan padaku. Apa kau dokter yang melakukan pertolongan pertama pada Nona Kim, saat ia mengalami kecelakaan? “ 

__ADS_1


Emy tersenyum dan mengangguk, “ waktu itu saya sedang dalam perjalanan ke tempat ini, Direktur. Saya melihat ada kecelakaan, dan korban sedang hamil...,” kembali Direktur menghentikannya dengan mengambil tangan Emy dan menepuk nepuk lembut sambil tersenyum, yang membuat Emy dan ketiga dokter diruangan itu tak mengerti. Bahkan


dr. Cha menyatukan alisnya dan menatap Emy dengan marah.


“ Terima kasih.. Terima kasih Emy...karena kau, Kim Myung Ki sekarang baik-baik saja! Terima kasih.” Emy hanya mengangguk walau ia tak mengerti, “ lanjutkan!” kata Direktur Kang.


“ Baik Direktur, pendarahan berhasil tertangani. Kemudian, saya memberi informasi pada pihak keluarga bahwa Nona Kim masih harus menjalani pembedahan untuk Hemothorax-nya, tapi mereka meminta dokter pengganti.” Lanjut Emy sambil menunjuk dr. Cha, dan yang ditunjuk tersenyum sinis penuh kemenangan.


“ Jelas..siapa yang mau ditangani dokter ingusan sepertimu?” sindir dr. Cha


Direktur menatap tajam dr. Cha dan menghentikan dr. Cha melanjutkan sindirannya. 


“ Dan hari ini, saya memeriksa Nona Kim. Ternyata ia mengalami Syok Hipovolemik berat (pendarahan dalam) yang disebabkan oleh...kesalahan prosedur saat pembedahan awal...” Emy begitu ragu menjelaskan yang terjadi.


Dokter Cha merebut hasil USG dari tangan Emy. Ia melihat dan membolak balik serta melihat hasil tes darah dan foto-foto yang diambil saat pembedahan siang ini. Tampak jelas apa kesalahan yang tertera disana. Bagaimana ia begitu salah dalam memilih benang jahit jaringan, yang menyebabkan pasiennya menderita. 


“ Saya juga heran, Nona Kim dapat bertahan sekian lama, ” ujar dr. Lee. Emy dan dr. Ma juga hanya bisa mengangguk. 


“ Maafkan saya, karena saya harus segera bertindak tadi pagi, karena darah pasien yang semakin drop. Dan, dokter Cha tidak bisa dihubungi.” Perkataan Emy ditanggapi anggukan mengerti Direktur Kang. Sementara dr. Cha sendiri masih tak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.


“ Dokter Sie, dr. Lee dan dr. Ma silahkan kembali. Dokter Cha, silahkan keluar dan segera buat surat permohonan maaf pada keluarga Nona Kim.” Ucap Direktur Kang lalu berdiri dan kembali kemejanya dengan wajah frustasi. Bagaimana jika hal ini diketahui media? Bukan hanya karir dr. Cha yang hancur tapi juga reputasi Rumah Sakit. 


Dokter Cha berjalan keluar dengan lesu. Pikirannya berkecamuk memikirkan bagaimana ia bisa melakukan kesalahan itu dan bagaimana ia dapat lolos karena itu. Ia kembali melihat rekam medis itu, meremasnya dan menggeram hingga otot otot lehernya tampak menonjol. Wajahnya memerah, rambut acak-acakan. Ia berlari dan mengunci diri dalam ruangannya.

__ADS_1


hai readers...mana Like n Komen nya? hiks hiks...


ditunggu ya say...😘😘😘


__ADS_2