Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Ending Helena


__ADS_3

Hidup ibarat sebuah buku; Tuhan yang menyediakan pena (takdir), tapi kita lah penulisnya (nasib).


------------------------------------------------------------


Senyum terus mengembang di bibir Tae Sang pagi itu. Wajahnya semakin cerah bersinar secerah mentari di luar sana. Bertolak belakang dengan seorang wanita yang juga duduk makan bersamanya di meja makan dalam kamar suite itu.


" Mommy, macih cakit (masih sakit)?" Tanya polos Mikha.


" Mommy cuma lelah, sayang." Jawab Tae Sang. Emy memelototi Tae Sang menahan emosi.


" Sayang, aku tahu matamu itu cantik banget..."


Cup


Mata Emy kian membulat. Mata si kembar pum melebar dan mulut menganga.


" Daddy! Itu mommy Mikha!"


" Itu juga mommy Micko!"


Si kembar segera berlari dan masuk di sela-sela kursi Tae Sang dan sebelah Emy lalu memeluk Emy posesif.


" Daddy! No no no!" Mikha mendongak melihat daddynya, mengangkat jari telunjuknya menggoyangkannya ke kanan kiri dan mata memicing. Emy tersenyum puas melihatnya.


Tae Sang menghela nafas. Ia harus mengalah kali ini. Sebelum si kembar benar-benar marah dan menghalanginya untuk bersama sang mommy.


" Ah, sayang. Kau sudah selesai? " Tanya Tae Sang selesai sarapan.


" Iya, sudah."


" Baiklah, ayo. Kita dapat waktu terbang cuma jam 2 siang nanti soalnya." Ujar Tae Sang.


" Tapi, aku..."


” Sayang, seperti yang aku ceritakan padamu. Masa kontrak kerjamu di Chicago sudah habis 5 tahun lalu. Apa kau mau berpisah lagi dengan anak-anak dan aku?" Wajah Tae Sang berubah memelas.


" Aku lama pergi dari sana, aku tidak mungkin bekerja di sana. Aku juga belum mengingat semuanya."


" Baiklah. Kalau begitu kita akan tinggal dimana yang kamu mau, hmm? " Ucap Tae Sang lembut.


Emy menunduk, matanya berkaca-kaca. " A-aku juga tak tahu, Tae Sang-ssi. Aku tak mengingat apa yang terjadi 6 tahun ini. Aku...a.."


Tae Sang menarik Emy dalam pelukannya. Memberi ciuman dipucuk kepala wanita itu dan menenangkannya.


" Sayang, jangan menangis. Kita bisa buat memori baru. Memori lama penuh kepahitan. Dan dimana kamu berada, aku dan anak-anak juga bersamamu. Jangan menangis, ya?"


Emy merasa nyaman bersandar di dada bidang laki-laki bermata coklat itu. Emy mendongak dan melepas pelukan Tae Sang.


" Baiklah, aku akan ikut denganmu."


Tae Sang tersenyum sumringah. Hatinya membuncah bahagia.


" Kalau gitu, aku gak jadi batalin ya, jadwal terbang kita?" Tanya Tae Sang mengkonfirmasi. Emy mengangguk dan tersenyum. Tae Sang menarik pinggang wanitanya itu dan menciumnya lembut.


" Baiklah, ayo!"


Emy mengangguk dan membiarkan tangan besar dan hangat itu menggenggam tangan kecilnya.


" Anak-anak! Kita ke rumah Grandpa Evan sekarang, oke?" Tae Sang menggendong Micko sementara Mikha dalam gendongan Emy.

__ADS_1


Byun Hyuk memandang bahagia keluarga kecil Tuan Mudanya.


" Tuan Muda, semoga terus bahagia." Gumamnya tersenyum. Air mata bahagia menetes. Tak lama, ia sudah kembali pada tugasnya, memerintahkan bawahannya untuk membawa koper dan semua barang Tuan Mudanya untuk dibawa langsung ke pesawat pribadi pimpinan Kimtae Group itu.


Sampai di apartemen Hannah, keceriaan Emy membuat semua tersenyum. Evan, Luther dan Tae Sang memandangnya bahagia.


" Tae Sang, bagaimana Helena?" Tanya Evan memecah keheningan.


" Dia sudah dapat karmanya, paman." Jawab Tae Sang.


" Maksudmu?"


Flashback on


Tok.. tok..


" Oh, Kalev. Masuk!" Emy mempersilahkan dokter tampan itu masuk dalam ruang rawatnya. Sementara Tae Sang, ia masih menata semua barang Emy dan si kembar dalam tas


" Emy, apa aku bisa minta tolong?" Tanya Kalev dengan wajah serius.


" Hmm, kalau aku bisa...hahaha.."


" Aku mau konsul sama kamu soal pasienku." Ucap Kalev.


" Hmm, oke. Rekam medis?"


Kalev segera menyodorkan Ipad rekam madis pasiennya pada Emy. Dibukanya setiap data medis yang tertulis disitu dan berjalan ke sofa.


" Hmm... Ini satu orang?" Tanya Emy. Kalev mengangguk.


" Ini saat dia check up di sini. Ini saat dia tiba-tiba pingsan sehari kemudian dan ini saat ia sadar kemarin, "jelas Kalev


Kalev melihat Tae Sang. Tae Sang mengeryit curiga. " Ini saat ia koma, kan?" Lagi Kalev mengangguk.


" Sama denganku saat koma. Iya, dia dihipnotis. Tapi, tunggu. Yang ini, hasil dia kemarin saat sadar? Ada yang tidak beres dengan aktivitas otaknya. Bisakah kau bawa dia untuk MRI sekali lagi? Aku mau memastikan lagi." Pinta Emy.


" Baiklah!" Kalev segera pergi dan menyiapkan pasiennya untuk MRI ulang.


" Sayang, jangan terlalu capek. Kamu masih baru sembuh." Ucap Tae Sang.


" Gak kok, dia cuma konsul. Bukan operasi..." Jawab Emy tersenyum. Hati Tae Sang tercubit mendengar kata operasi. Hingga saat ini, ia belum mampu mengatakan pada dokter wanita itu, kalau ia sudah tak bisa lagi menjadi dokter bedah.


" Emy! Sudah siap." Kata Kalev. Emy mengangguk dan mengikuti Kalev.


" Tunggu di sini aja." Suruh Emy pada Tae Sang ketika laki-laki itu berjalan mengikutinya. Dengan berat hati Tae Sang menuruti ratunya.


Sampai di ruang MRI, pasien sudah ada di dalam mesin kapsul itu.


" Hmm... Pindai bagian Hipokampus (bagian otak yang memproses penyimpanan memori)."


" Lanjut!" Perintah Emy.


" Oke, terima kasih!"


Kalev mendekati Emy ketika wanita itu mulai menganalisa hasil yang ia dapat.


" Kalev, dia terkena Alzheimer (penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap)! " Ucap Emy beberapa saat kemudian. Kalev tertegun.


" Oh, Tuhan. Aku kira dia terkena Ensefalopati (penyakit yang mengganggu fungsi atau struktur otak). " Ujar Kalev.

__ADS_1


" Sebaiknya kau segera beritahu keluarganya. Kerusakan sel otaknya sangat cepat. Beri dia rivastigmine dan ritalin secara terpisah." Saran Emy.


" Baiklah. Terima kasih, ya."


Emy mengangguk dan melangkah keluar. Di sana ia bertemu Tae Sang yang sudah menunggunya.


" Sayang, sudah selesai?" Sambut Tae Sang.


" Kau disini?" Tanya Emy.


" Aku ada perlu sebentar dengan Kalev. Diluar ada anak-anak dan asistenku. Kesana dulu, ya?"


Emy mengangguk dan melangkah pergi. Di saat bersamaan Kalev keluar dari ruang radiologi.


" Kalev! " Panggil Tae Sang. " Apa itu tadi... Soal Eva?" Selidik Tae Sang tanpa basa basi. Kalev mengangguk.


" Dia sudah terima hukumannya, Tae Sang. Dia terkena Alzheimer dan waktu hidupnya hanya sekitar 1 tahun lagi." Jawab Kalev.


" Seserius itu?"


Kalev mengangguk. " Iya, Emy sendiri yang menganalisa. Itu tak bisa disembuhkan. Tak ada obatnya. Obat yang ada hanya membantunya untuk sekedar menjalani hidup." Jelas Kalev.


" Baiklah, terima kasih."


Tae Sang melangkah pergi. Sungguh tak habis pikir nasib wanita yang pernah hadir dalam hidupnya itu.


Takdir selalu memiliki jalannya, entah berakhir tawa atau berderai air mata.


Flashback off


" aku tak menyangka, Helena, seorang wanita yang dulunya anggun dan dikagumi, sekarang harus menjalani hidup seperti itu." Ucap Luther


" Kesulitan mempersiapkan orang-orang biasa untuk takdir yang luar biasa. Emy, putriku. Dia menjalani hidupnya biasa-biasa saja dan tak peduli kemewahan bahkan selalu dirundung masalah. Bersedia melakukan sesuatu demi orang lain tak peduli dirinya sendiri. Tapi takdir hidupnya akhirnya luar biasa. Tuhan memang adil." Sambung Evan.


" Dan aku orang yang beruntung mendapatkan berlian sepertinya..." celetuk Tae Sang yang akhirnya mendapat timpukan bantal dan popcorn dari kedua laki-laki di sebelahnya.




_


**END


💐💐💐💐**


Akhirnya Season 1 Selesaiiiii....


Terima kasih ya teman-teman, Ibu-ibu dan kakak-kakak cantik buat dukungannya...


Terus dukung Novel aku ya...


Season 2 akan segera upload. Sesuai permintaan pembaca setia Serpihan Hati: Cukuplah Sudah, Season 2 akan lanjut di sini.


Jangan bosan ya...hehehe....


Sampai jumpa di Season 2 😘😘🤗🤗🤗🤗


👯👯👯👯💐💐

__ADS_1


__ADS_2