Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Tersenyumlah - Season 2


__ADS_3

" Eomma, namanya ...." Eun Ha menggaruk kepalanya, ia merasa kesulitan menyebut nama si Paman ganteng. Karena tak bisa menjawab pertanyaan Eommanya, akhirnya ia menyerahkan ponsel pada Luther. Luther terkekeh dan menerimanya lalu berdiri dan mulai menyapa seseorang di seberang telepon.


" Hallo, Nyonya. Nama saya Luther Howland. Saya melihat anak Anda sendiri di pinggir jalan, jadi saya ...."


" ............"


" Oh ... hahaha ... jadi gadis cantik ini anak Anda, Nona Na?"


Mata Eun Ha berbinar dan tersenyum malu-malu ketika mendengar Luther menyebutnya gadis cantik.


" ............"


" Baiklah, saya akan membawanya ke Emerald,"


" ............"


" Sama-sama, Anda kan juga membantu menjaga keponakanku ..."


" ........."


" Ok. Baiklah"


Luther menutup ponselnya dan kembali berjongkok.


" Nah, Eun Ha. Sekarang ikut Paman ke Emerald, Ya? Paman ini temannya Appamu. Ayo!" Luther memegang tangan gadis kecil itu dan tersenyum menuntunnya ke mobil.


" Oh ... itu mobil Appa!" seru Eun Ha. Gadis itu mendongak melihat Luther.


" Iya, Paman tadi pinjam," jelas Luther dengan senyumnya.


Luther membuka pintu mobil lalu menggendong Eun Ha dan mendudukkannya di jok depan serta memasang sabuk pengamannya. Eun Ha tersenyum. Luther mengusap gemas kepala Eun Ha lalu berjalan menuju kursi kemudi.


" Nah, kita berangkat, ok?"


Eun Ha mengangguk mantap. Selama perjalanan, Eun Ha terus tersenyum dan menatap Luther. Merasa diperhatikan, Luther menoleh dan melihat gadis kecil di sebelahnya. Luther tersenyum dan kembali mengusap kepala Eun Ha sebelum kembali menatap ke depan kembali


" Paman!" panggil Eun Ha


" Ya?"


" Paman, kalau Eun Ha sudah besar, Eun Ha mau menikah sama Paman," ucap Eun Ha.


Luther menaikkan alisnya dan menoleh melihat Eun Ha yang menampilkan raut seriusnya. Luther kembali menatap ke depan dan terkekeh.


" Ya, baiklah. Cepat besar, ya?" jawab Luther dengan senyum..


" Paman, aku janji akan cepat besar!" jawab Eun Ha.


Luther kembali tertawa mendengar gadis 7 tahun di sebelahnya. Ia hanya menanggapinya biasa saja dan menganggapnya hanya sebuah celotehan anak kecil. Sebuah celotehan yang tak disangka olehnya akan benar-benar dipegang oleh gadis kecil di sebelahnya.

__ADS_1


Evan dan Jung Hyuk masih belum pulih dari rasa terkejutnya. Evan berjalan kembali ke ruang keluarga, dan menghempaskan tubuhnya si sofa diikuti Asisten Pribadi Tae Yang


" Hyuk! ... Paman Ji ... usahakan dia di penjara tersendiri. Ia sudah tua. Dia melakukannya karena kehilangan keluarga yang ia sayangi akibat orang-orang serakah. Aku tahu, hukumannya tak kan bisa dikurangi, tapi ... setidaknya, jangan sampai dia terluka di penjara." pinta Evan


" Tuan ... Anda berbadan kingkong tapi hati kelinci, hihihi ..." celetuk Hyuk tanpa melihat Evan


Buk


" Aah .... Tuan!" seru Jung Hyuk karena terkejut mendapat lemparan keras bantal sofa yang memang agak padat teksturnya seraya mengusap kepalanya


" Kerjakan saja yang aku minta. Banyak bicara sekali kamu,"


" Ah, Tuan! Anda ini sudah tua masih saja bikin dosa," omel Jung Hyuk dengan mengerucutkan bibirnya.


Mata Evan mendelik melihat Jung Hyuk.


" Hei! Enak saja kau bilang aku tua ..."


" Tuan ... Anda sudah 53 tahun. Masa bukan tua? Kalau muda itu saya, Tuan ..." ucap Jung Hyuk enteng. Evan mengeraskan rahangnya dengan kesal lalu berdiri dan melangkah pergi


" Tuan! ... kalau Anda marah jadi tambah cepat tua!" seru Jung Hyuk


Evan meraih buku di dekatnya dan melemparnya ke arah Jung Hyuk. Dan, ya ...


Bug


Tepat sasaran!


Emy sudah kembali tenang. Yu Zhen datang dan memberikan rekam medis Tae Yang dan si kembar.


Emy terus menatap hasil MRI Tae Yang yang ada si Ipad si tangannya.


" Kadar timbal?"


" Ehm ... Hampir 13 µg/100 g (batas kadar timbal dalam darah orang dewasa 10 µg/100 g)" jawab Yu Zhen dan mendesah


Emy menutup matanya. Ipadpun ia letakkan begitu saja di pangkuannya.


" Lakukan X-ray dan pantau terus perubahan sel darah merahnya."


" Hm .. sudah kulakukan,"


Emy menatap Yu Zhen dan tersenyum kecil," Terima kasih,"


Yu Zhen mendekat dan memegang tangan Emy. Matanya menatap lekat bola mata Emy yang berkaca-kaca.


" Aku akan lakukan apapun agar kau terus tersenyum. Apapun itu ..."


Emy memeluk Yu Zhen dan kembali menangis. Hati Yu Zhen terasa pedih melihat betapa rapuhnya wanita yang ia cintai.

__ADS_1


" Emy-a ... ingatlah, jangan terlalu membebani pikiranmu, hmm? Ingat janinmu. Aku akan berusaha semampuku membantu Tae Yang dan juga Anak-anakmu. Jangan kuatir lagi, ya?" Ucap Yu Zhen seraya mengusap punggung Emy. Emy hanya mengangguk dan perlahan melepas pelukannya. Yu Zhen menghapus air mata Emy dan tersenyum.


" Tersenyumlah. Anakmu bisa jelek kalau kau menangis terus," goda Yu Zhen


Emy terkikik," Ada-ada saja kau itu ... hehehe ..."


" Nah ... kalau tersenyum kan cantik lagi ..."


Emy dan Yu Zhen tertawa bersama. Dokter Lee tersenyum melihat keduanya dari kaca kecil di pintu kamar rawat Emy


" Aku harap kau pun akan mendapat kebahagiaanmu, Yu Zhen, temanku." Ucap dr. Lee tulus.


2 bulan sudah Tae Yang terbaring. Tapi, tak ada tanda-tanda lelaki itu akan bangun. Mikha dan Micko ikut terapi untuk mengatasi trauma keduanya. Emy dengan setia menjaga suaminya dan menemani kedua Putranya terapi.


Berkat bantuan dr. Lee dan Evan, Emy dapat tinggal satu kamar dengan Tae Yang di Rumah Sakit Emerald. Ia ingin menjaga suami dan Anak-anakmya sendiri.


Perut Emy mulai sedikit menonjol. Wei Ming dan Xiao Chen belum tertangkap. Baek Dong Min, Cha Hyun Sik dan Ayahnya serta Paman Ji sudah mulai menjalani sidang.


Tok ... Tok ...


" Nona Muda," sapa Jung Hyuk di malam hari saat ia baru pulang dari kantor


" Hyuk! Masuklah," kata Emy dengan senyum seraya menyuapi kedua buah hatinya


" Nona Muda, ada yang mau saya bicarakan."


Emy melihat ke arah Jung Hyuk. Ada raut kecemasan di sana. Emy mengangguk lalu mengelap sisa-sisa makanan di bibir kedua Putranya


" Mikha, Micko, sekarang nonton Spongebob dulu, mau?" tanya Emy


Masih tanpa suara, keduanya mengangguk. Emy menyalakan TV lalu keluar menuju ruang tamu kamar VVIP itu.


" Ada apa, Hyuk?"


" Apa Tuan-Tuan kecil masih belum mau bicara?"


" Bukan belum mau, Hyuk. Tapi, itu memang karena terlalu shock dan stres yang mereka alami, jadi mereka menjadi trauma dan terkena Aphasia (gangguan berkomunikasi yang disebabkan oleh kerusakan pada otak akibat cedera otak, penyakit dsb.)"


Junh Hyuk mengangguk dan mendesah.


" Ada apa, Hyuk?"


Jung Hyuk menatap ragu pada Emy. Ia tak yakin dengan keputusannya.


" Eh ... Nona Muda. Perusahaan ... sedang mengalami masalah ..."


Emy mengangkat alisnya," Masalah?"


Jung Hyuk mengangguk," Begini, Anak angkat Tuan Kim Min Jae, adik Tuan Besar Kim, mulai menemui para pemegang saham dan eksekutif agar mendukungnya menjadi Chairman/Ketua Grup Kimtae, menggulingkan Tuan Muda."

__ADS_1


Inilah yang tak disukai Emy. Memimpin perusahaan lebih menyulitkan daripada berhadapan dengan pasien dan penyakitnya.


" Baiklah, kirim semua data yang harus aku pelajari ke E-mailku. Aku akan menelepon apa yang harus kau lakukan besok," jawab Emy dengan berat hati.


__ADS_2