
" Baiklah. Tapi, tadi ada Code Blue." Kata Emy
" Oh, iya. Pasien dr. Han. Koma setelah melahirkan Caesar. Tiba-tiba saja, tadi dia mengalami gagal nafas," jelas perawat bernama Moon Ye Na itu
" Lalu sekarang? Apa semua sudah baik-baik saja?"
Perawat Moon menggelengkan kepalanya,
" Tidak, dok. Sudah 3 kali dr. Han mencoba dengan Defibrilasi (tindakan gawat darurat medis yang bertujuan mengatasi aritmia, yaitu kondisi irama atau denyut jantung yang tidak normal). Tapi gagal." Jelas perawat Moon
Emy mengangguk. Mereka berjalan menuju lift ke lantai dasar. Sampai di IGD, sebuah ambulans berhenti dan membawa masuk seorang pasien diikuti dr. Lee. Sepertinya, ia tak melihat Emy dan terus membantu paramedik mengangkat Yu Zhen ke atas bed IGD.
" Oh, dr. Lee!" Panggil Emy
Dr. Lee mengangkat kepalanya dan melihat Emy.
" Oh, Emy-a..." Dr. Lee melihat Emy yang sudah memakai jas dokter.
" Kamu mulai kerja hari ini?" Tanya dr. Lee dan diangguki Emy dengan senyumnya
" Tapi kamu sebentar lagi menikah. Kamu harus istirahat," protes dr. Lee
" Hahaha...aku mau nikah, Sunbae. Bukan mau perang." Jawab Emy santai
" Itu siapa? Kok, Sunbae yang antar?" Tanya Emy seraya melihat beberapa paramedik dan perawat yang membantu memindahkan Yu Zhen.
" Kamu lupa? Dia Yu Zhen!"
" Yu..Yu Zhen? Oh, Tuhan..."
__ADS_1
Emy segera menghampiri bed Yu Zhen. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi temannya itu.
" A Zhen...k-kau...apa yang terjadi?" Emy memeriksa tangan dan kaki lelaki yang tersenyum dengan wajah pucatnya.
" Aku gak papa. Kamu sungguh Emy?" Mata Yu Zhen juga berkaca-kaca. Ingin sekali ia memeluk wanita didepannya ini, tapi tak bisa. Lukanya akan terasa sangat sakit bila tergesek.
" Iya, aku Emy. Kamu...kenapa jadi seperti ini?" Tanya Emy sambil menghapus air matanya. " Perawat! Rekam medis!" Titah Emy selanjutnya.
Yu Zhen tersenyum. Tidak ada perubahan dalam diri wanita yang ia cintai itu. Ia semakin cantik dengan bertambahnya usianya.
Emy memeriksa setiap resep dan hasil lab. Tak lupa ia juga memeriksa hasil CT. Semua terlihat baik. Tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya saja, butuh waktu cukup lama bagi dokter yang bekerja di rumah sakit swasta di China itu untuk pulih. Luka yang cukup dalam akan meninggalkan bekas yang sulit dan bahkan tidak bisa dihilangkan
" A Zhen, aku akan membantumu. Aku akan cari dokter bedah plastik dan dokter kulit terbaik buatmu. Jangan kuatir, ya?" Hibur Emy yang walaupun ditujukan pada Yu Zhen, sebenarnya ia sedang menghibur dirinya sendiri. Ia tak kuasa melihat keadaan temannya itu dan meninggalkan mereka. Emy menangis tersedu di dalam kamar mandi.
" Yeol-a...susul dia. Aku gak mau lihat dia nangis lagi. Aku gak apa-apa..." Pinta Yu Zhen. Dr. Lee mengangguk dan mencari keberadaan Emy. Dari info seorang perawat ia menemukan Emy dan menunggunya di luar kamar mandi.
Tae Yang dibuat pusing dengan ulah 2 bocah yang terus menggangunya. Ruangan besar tempat ia mengumpulkan pundi-pundi, seakan menyempit dengan kehadiran mereka
Karena kesal, dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Micko mengejar kakak kembarnya. Mikha berlari dan mendekap mainan Micko. Mereka berputar-putar mengelilingi meja, tempat daddynya bekerja.
" Mikhaaaa....Daddyyy...huhhuhu..." Micko akhirnya minta bantuan sang ayah.
" Haduh...Mikha, kasih mainan Micko. Mikha kan sudah punya sendiri." Seru Tae Yang
" Puna Mikha lusak kalna kemalin dilempal Micko, dad ( Punya Mikha rusak karna kemarin dilemoar Micko,dad)." Jawab Mikha dengan bibir yang sudah mulai melengkung kebawah dan bergetar.
' Aduh...mulai deh...' batin Tae Yang. Benar saja, tak lama suara tangis Mikha pecah. Micko yang merasa dibela ayahnya mendekat dan naik ke pangkuan Tae Yang lalu melihat ke arah Mikha dengan mata polosnya.
" Mikha, daddy gak marah, sayang. Sini..." Panggil Tae Yang lembut. Mikha berjalan mendekati ayahnya dengan bibir yang masih melengkung kebawah dan terisak.
__ADS_1
Tae Yang menaruh Micko di atas mejanya dan mengangkat Mikha ke pangkuannya. Ia menghadapkan Mikha agar ia bisa menatap mata putranya.
" Mikha, dengar daddy. Mikha tidak boleh suka ambil mainan adik atau teman-teman Mikha. Harus ijin dulu kalau mau pinjam." Tutur Tae Yang tak melepas tatapannya pada si kecil Mikha dan menghapus air mata putranya itu.
" Tapi, dad. Micko kemalin lebut-lebut tuga puna Mikha telus dibuang (tapi, dad. Micko kemarin rebut-rebut juga punya Mikha terus dibuang)," adu Mikha seraya menyedot ingusnya. Tae Yang mengambil tissue dan menutup bagian atas hidung Mikha.
" Ayo keluarkan," titah Tae Yang. Si kecil Mikha menuruti perkataan sang ayah.
Beberapa kali Mikha mengeluarkan lendir dari hidungnya. Tanpa jijik, bos besar Kimtae itu membersihkannya. Kalau dulu, jangan ditanya. Bahkan ingusnya sendiri, ia harus mengeluarkannya dengan saputangan yang sudah dilipat beberapa kali lalu membuang saputangan itu karena jijik dan mencuci tangan beberapa kali. Tapi kini, semua berbeda. Semua sifatnya yang dahulu telah berakhir. Sejak kehadiran 2 malaikat kecil itu.
Selesai dengan urusan ingus, Tae Yang menempatkan Mikha bersama Micko di depannya. Tepatnya, diatas meja kerjanya.
" Mikha, Micko anak-anak daddy yang pintar dan baik. Daddy selalu beli mainan buat anak-anak papa. Sama. Gak ada yang beda. Lalu, kenapa Mikha sama Micko suka berebut dan merusak? Daddy beli pakai uang. Papa kerja capek buat beli mainan Mikha sama Micko. Jadi, jangan suka dirusak mainannya. Kalo sama-sama rusak, gak bisa main lagi, kan?" Tutur Tae Yang
" Daddy tapek buat beli mainan ata? Tapi dulu daddy beli mecin bukan mainan (daddy capek buat beli mainan aja? Tapi dulu daddy beli mesin bukan mainan)." Kata Mikha. Ia ingat daddynya beli sesuatu dan menaruhnya di kamar rawat Micko saat adiknya itu sakit. Saat ia bertanya pada pelayan, mereka hanya menjawab itu mesin.
" Itu mesin, yang mama perlu buat rawat Micko yang sakit. Tapi, mesin itu juga buat siapa saja yang sakit di rumah kita," jelas Tae Yang
" Kemalin Ryu tuga akit, kok gak dilawat pake mecin itu, dad ( Kemarin Ryu juga sakit kok gak dirawat pake mesin itu, dad)?" Tanya Micko polos
Tae Yang menghela nafasnya. Sungguh lelah memang kalau sudah harus bicara dengan 2 bocah aktif itu.
" Sayang, Ryu kan anjing. Bukan manusia. Mesinnya cuma bisa buat manusia." Jawab Tae Yang. Keduanya mengangguk mengerti. Tae Yang tersenyum senang.
" Tapi kenapa, dad? " Tanya Mikha dengan matanya yang menatap polos sang daddy.
Senyum Tae Yang menghilang. Sepertinya ia tidak bisa mengerjakan tugasnya kali ini. Ia memejamkam matanya. Berusaha mencari kata-kata yang mudah di mengerti.
" Karna mesinnya cuma mau sama manusia aja," keluarlah jawaban konyol dari sang daddy yang dipercaya langsung oleh 2 manusia mini itu.
__ADS_1
" Mecinnya pintel kayak mommy ya, dad(mesinnya pinter kayak mommy ya, dad)?" Celetuk Micko